Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 174 Season 3


__ADS_3

Senin pagi yang menguji kesabaran para pengguna jalan. Akan tetapi tidak bagi gadis cantik yang sudah terlihat rapi dengan setelan formal di padukan dengan hijab andalannya. Ia seakan memiliki stok sabar yang sangat banyak di dalam dadanya, saat menghadapi kemacetan Jakarta.


Bahkan saat mobilnya hanya bergerak lambat di tengah kerumunan kenderaan lain, ia masih bisa menampilkan senyum manis di wajah cantiknya, saat wanita paruh baya datang menawarkan jualannya ketika mobil-mobil berhenti di persimpangan lampu merah.


"Terima kasi Neng, semoga Allah selalu memberkati setiap langkahmu." Ucapan yang entah sudah ke berapa ratus kali selama hidupnya, saat ia membayar jualan pedagang kecil di pinggir jalan dengan uang lebih tanpa meminta kembaliannya lagi.


Ah mungkin saja Allah sedang menabung do'a-do'a itu, dan kelak akan melimpahi nya dengan keberkahan yang luar biasa dalam hidupnya. Semoga !!


Mentari semakin merangkak naik menyinari alam semesta tempat di mana para ciptaan Allah mulai mengadu nasib masing-masing.


Mobil Danira masih terus bergerak lambat di jalanan, menuju perusahaan yang sudah sekian tahun menjalin kerja sama dengan perusahaan keluarganya. Dan yah, benar kata orang, meskipun lama pasti akan sampai juga di tempat tujuan. Kini mobil kesayangannya sudah terparkir rapi di pelataran gedung dengan puluhan lantai.


"Senyum." Gumamnya pada diri sendiri sebelum keluar dari mobilnya.


Anggun dan cantik, mata lelaki mana yang bisa mengabaikan pemandangan indah itu. Tidak hanya itu, Danira Florens Prasetyo memang sudah terkenal sebagai gadis yang memiliki keberuntungan dalam hidup karena terlahir dari keluarga yang sangat luar biasa.


Diusianya yang masih sangat mudah, ia kera memenangkan tender dengan keuntungan miliaran.


"Selamat pagi." Sapa Danira pada gadis yang sudah bersiap menyambutnya di meja resepsionis.


"Selamat pagi Mbak Nira. Mari Pak Abimanyu sudah menunggu." Ajak gadis cantik itu yang tidak lain adalah sekretaris handal dari pemilik perusahaan ini.


"Terimakasih Lastri." Jawab Danira lantas ikut melangkah masuk ke dalam lift, menuju lantai paling atas dari gedung mewah ini.


"Macet ya Mbak ?" Tanya Lastri.


"Iya Tri, lama-lama aku pengen pindah ke Manado aja" Jawab Danira.


Gadis cantik dengan rok selutut tersenyum saat melihat wajah cemberut Danira.


"Manado ? Di mana itu ?" Tanya Lastri.


"Bunaken, indah banget. Aku pernah studi banding di salah satu Universitas yang ada di sana." Jawab Danira.


"Sepertinya bisa jadi destinasi berikutnya." Ucap Lastri lalu mempersilahkan Danira masuk ke dalam ruangan direktur utama yang sudah sekian tahun ia layani.


"Kamu harus mencobanya." Ucap Danira lalu melangkah masuk ke dalam ruangan laki-laki paruh baya yang selalu saja dengan senyum ramah menanti kedatangannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum Pak Abi." Sapa Danira lantas melangkah menuju laki-laki paruh baya yang seumuruan ayahnya, kemudian menyalami punggung tangan lelaki itu takzim.


"Waalikumsalam Nak. Mari kita duduk di sofa." Ajak Pak Abimanyu.


Danira terkejut saat menapati ada orang lain di dalam ruangan itu. Bukan karena orang lain tapi ada satu wanita paruh baya yang sedang tersenyum mans le arahnya.


"Kita bertemu lagi Nak Nira." Sapa wanita paruh baya itu.


"Senang bertemu dengan Tante lagi." Nira kembali menyalami punggung tangan wanita paruh baya itu sama seperti yang ia lakukan pada pemilik perusahaan.


"Dan ini Putra Saya, Arion." Ucap Pak Abimanyu memperkenalkan laki-laki yang sedang duduk di kursi roda.


"Senang bertemu dengan mu Pak Arion." Ucap Nira sopan sembari mengulurkan tangannya ke arah laki-laki yang terlihat sedang memperhatikan dirinya dengan begitu lekat.


"Saya Nira, Danira Florens Prasetyo." Ucap Danira lagi karena uluran tangannya masih belum tersambut.


"Oh, hai Danira. Saya Arion." Jawab lelaki itu terbata sambil meraih tangan lentik yang sedang terulur ke arahnya.


"Danira ini gadis yang aku ceritakan padamu Mas. Ferri membatalkan pernikahan mereka." Ujar wanita paruh baya yang sedang duduk di samping Danira.


"Kenapa tidak kamu pukul saja kepalanya." Ujar lelaki paruh baya itu kesal. "Sejak dulu dia selalu saja berbuat ulah seperti itu." Sambungnya.


"Feri adalah adik saya." Ujar Arion menjawab wajah bingung Danira.


"Tapi saya tidak menegetahui tentang itu, padahal saya sudah cukup dekat dengan Pak Abi, dan Feri juga." Ujar Nira dengan raut wajah yang masih terlihat bingung.


"Feri adalah putra saya dari suami kedua." Rima menjawab.


Danira mengangguk mengerti, dan tidak berniat bertanya lebih lagi, karena menrutnya itu sudah di luar batas. Terlebih pernikahan yang ia rencanakan bersama Feri sudah berakhir, jadi ia tiak lagi berniat bertanya tentang kehdupan sahabatnya itu.


Danira mulai mengeluarkan dokumen resmi yng ia bawah dari rumah. Sebenarnya hal ini tidak terlalu di perlukan, karena pasti lelaki paruh baya yang kini sedang membuka lembar demi lembar kertas darinya pasti akan langsung menyetujui perpanjanagan kontrak kerja sama dengan perusahaan keluarganya seperti biasa.


Dan benar saja, tanpa bertanya atau mengajukan syarat apapun, Pak Abimanyu mulai menandatangani setiap lembaran kertas itu dengan yaikin.


Di sisi lain, Arion masih terus memperhtikan wajah yang begitu mirip dengan seseorang yang pernah membuka hatinya setelah sekian tahun ia tutup rapat-rapat.


"Ada apa ?" Tanya Danira heran. Karena tidak hanya sekali ia mendapati lelaki yang menurutya cukup tampan ini memperhatikan dirinya dengan begitu lekat.

__ADS_1


"Apa kamu unya saudari kembar di Berlin ?" Tanya Arion.


Danira tersenyum, dan itu membuat Arion semakin terhenyak.


"Sungguh wajah kalian sangat mirip." Ujar Arion lagi sambil terus menatap lekat wajah cantik Danira.


"Nadira Agata Prasetyo." Ujar Nira menyebukan nama panjang adiknya.


"Jadi benar ?" Tanya Arion antusias.


"Dia Dokter Ortopedi yang menggantikan Dokter Fram waktu itu Pa." Ujarnya pada sang Ayah. "Tolong lamar dia untuk Arion." Sambungnya kemudian.


Danira hanya tersenyum mendengar kalimat blak-blakan dari lelaki yang baru ia kenal hari ini. Ia ikut bahagia karena begitu banyak orang yang mecintai adik dinginnya itu.


"Nanti Papa akan mendatangi kediaman keluarga Prasetyo." Ujar Abimanyu tidak kalah antusias. Ini kali pertama putranya meminta seorang gadis setelah kecelakaan yang merenggut calon menantunya beberapa tahun silam.


"Sayang sekali, anda terlambat Pak Arion. Adik saya baru menikah kurang lebih satu bulan yang lalu." Ucap Danira.


"Kok bisa ? Satu bulan yang lalu kami masih menaiki pesawat yang sama saat kembali ke Indonesia. Dan saat itu Dira mengatakan bahawa kepulangannya ke indonesia untuk menghadri pernkahan kakaknya." Ujar Arion tidak percaya sekaligus kecewa.


"Ceritanya sangat panjang." Jawab Danira tidak ingin membeberkan setiap detail jalan cerita dari kehidupannya dengan sang adik.


"Sepertinya saya harus mengakhiri pertemuan ini Pak Abi." Sabungnya sembari melirik jam kecil yang melingkar di pergelanagan tangannya.


Setelah mencim punggung tangan dua orang paruh baya yang ada di dalam ruangan itu, Danira kembali menatap kearah laki-laki yang terliat kecewa, kemudian mengangguk sebentar sebagai tanda hormat lalu melangkah keluar dari ruangan itu.


*****


*Note Author


Maafkan aku ya readers ku tersayang.. Dua hari ini aku tepar, sakit sampe di infus.. Maaf jika mengecewakan..


Ini aja aku paksain nulis dua Bab, semoga bis nambah lagi..


Maaf jika sudah mengecewakan kalian semua 🥺🥺


Oh iya ini ada novel karya seorang teman, sambil nunggu update terbaru bisa deh mampir, pasti ga akan kecewa..

__ADS_1


Aku sayang kalian semua 🥰🥰🥰



__ADS_2