Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 134 Season 2


__ADS_3

Reno duduk termenung di atas ranjang, di dalam kamar salah satu hotel di kota Bandar Lampung. Ia memberanikan diri menghubungi nomor yang sudah beberapa bulan ini tidak pernah lagi ia hubungi, tapi nomor itu sudah tidak lagi di gunakan oleh pemiliknya.


Lelaki itu kembali mematut dirinya di depan cermin. Memastikan jika penampilannya benar-benar sudah seperti saat duku sebelum hidupnya hancur karena kebodohannya sendiri. Setelah memastikan semuanya sudah rapi, Reno melangkah keluar dari dalam kamar hotel yang ia sewa, menuju lift untuk turun menuju lobi.


Yah, hari ini ia memutuskan untuk mendatangi kediaman mantan istri keduanya. Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, ia memutuskan untuk datang meminta Rara langsung kepada mantan mertua nya secara baik-baik.


Ting...


Pintu lift terbuka.


Deg...


Kaki Reno mamaku di atas lantai, tatapannya tertuju pada wanita yang tertunduk sembari meriksa lembaran-lembaran yang sedang di buka oleh lelaki yang entah siapa..


Dua orang yang berada di dalam lift seketika mendongak, saat pintu lift masih saja terbuka, dan orang yang hendak menggunakan lift tak kunjung masuk.


Rara ikut terkejut melihat Reno sudah berada di hadapannya.


"Maaf Pak, apa Bapak tidak ikut masuk ?" Lelaki yang mengenakan stelan jas itu bertanya dengan ramah pada pengunjung hotel mereka.


"Ah iya maaf." Ucap Reno, lalu melangkah masuk ke dalam lift.


Akmal segera berganti posisi, lelaki yang terlihat sangat dekat dengan Rara itu, berpindah tempat.


"Terimakasih Akmal." Ucap Rara.


"Sama-sama Bu." Jawab Akmal.


Interaksi itu terdengar jelas di telinga Reno, dan membuat laki-laki itu tidak lagi menahan diri.


"Ra.." Panggil Reno.


Akmal segera berbalik, dan dengan sigap melindungi Rara.


"Anda siapa ?" Tanya Akmal cepat.


"Dia mantan suamiku Akmal. Tidak apa-apa." Jawab Rara.


Akmal menatap Reno dan Rara bergantian.


"Apa aku bisa minta waktu kamu sebentar Ra ?" Tanya Reno.

__ADS_1


Rara menatap heran mantan suaminya. Sejak kapan lelaki ini berubah menjadi selembut ini saat berbicara dengannya ?


"Ra beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semua yang sudah hancur." Ujar Reno tanpa basa basi.


Rara semakin terbelalak.


"Maaf saya tidak bisa membicarakan masalah pribadi di tempat kerja." Jawab Rara.


"Kalau begitu saya ingin bertemu sebagai seorang pengunjung hotel. Apa bisa ?" Tanya Reno lagi.


"Jika ada keluhan tentang pelayanan hotel kami, silahkan Bapak hubungi petugas yang bersangkutan." Ujar Akmal menimpali.


"Ra,


Ting...


Bunyi lift berhenti terdengar..


"Maafkan aku." Lirih Reno.


Rara mengepalkan tangannya mendengar kata maaf yang pertama kali dari bibir Reno. Namun, ia tetap melangkah keluar lebih dulu dari dalam kotak besi itu menuju lobi hotel.


Reno ikut melangkah keluar sambil menatap punggung wanita yang sudah berlalu keluar dari dalam hotel menuju parkiran. Wanita yang sempat membuatnya lupa akan perjuangannya dengan Yana. Gadis dari masa lalu, yang berkali-kali ia tolak dengan kata-kata, tetapi masih saja tidak mampu ia tolak sentuhannya.


***


Di sebuah bangunan mewah dengan banyak gaun berjejer, Adelia masih diam di dalam ruangan sambil menatap pantulan tubuhnya yang sudah berbalut gaun yang sudah ia pesan beberapa hari yang lalu.


Suara yang terus saja meminta dirinya keluar, sama sekali tidak ia hiraukan. Ah kesal, sungguh sangat mengesalkan jika sikap jail yang selama ini tertanam di dalam jiwa, harus terkalahkan oleh orang asing yang sebentar lagi akan berstatus sebagai suaminya.


"Del, aku wajib lihat yaa.. Cepat keluar atau aku hubungi Tante Farah." Suara mengancam Gerald kembali terdengar. Sejak tadi lelaki itu meminta calon istrinya agar keluar dari ruang ganti.


"Ah dasar sial." Adelia berdecak kesal, namun tetap melangkah keluar dari dalam ruangan. Sumpah demi apapun, dia belum ingin mendengar ceramah sang Bunda hari ini.


"Nah kalau nurut gini kan semuanya jadi lancar. Meskipun masih kecil, harus tetap bersikap dewasa Del, sebentar lagi kamu akan jadi Ibu dari anak-anak aku." Ledek Gerald.


"Sudah puas !" Tanya Adelia selama tidak terpengaruh dengan kalimat meledek dari calon suaminya.


Masih pengen lihat wajah cantik kamu sih, tapi ya sudah lah. Hari ini sudah cukup, dan kebaya ini sangat cantik aku suka." Jawab Gerald.


Adelia menghentakkan kakinya kesal, lalu melangkah masuk ke dalam ruang ganti.

__ADS_1


"Ah menggemaskan." Ucap Gerald setelah Adelia menghilang di balik tirai yang menjadi pembatas ruangan.


Petugas butik terlihat melangkah masuk ke dalam ruangan, dan membawa kebaya yang baru saja di lepaskan Adelia, dan beberapa saat kemudian gadis itu ikut keluar dari dalam ruangan.


"Nanti kirimkan ke alamat yang ini." Ujar Gerald pada petugas butik.


"Kenapa ngga kita bawa saja sekalian." Ucap Adelia menimpali.


"Kita masih harus ke toko perhiasan."


"Ya sekalian aja, kan bisa di tinggal di dalam mobil." Ujar Adelia. "Ga usah negerepotin orang jika kita mampu melakukannya." Sambungnya.


"Kan...


"Siapkan saja dengan rapi Mbak, saya akan membawa pulang hari ini." Ujar Adelia cepat tanpa memberi kesempatan laki-laki yang bermulut ibu-ibu itu kembali bertingkah. Ia lantas melangkah menuju kursi tunggu, dan duduk di sana.


"Kamu ini kenapa sih, aku kan mau di perlakukan seperti tuan muda yang ada di novel-novel." Gerald masih tidak terima.


Adelia hanya memutar bola matanya malas tanpa berniat menanggapi ocehan calon suaminya.


Satu pesan chat kembali masuk ke dalam ponselnya, namun ia segera menghapus pesan itu tanpa ingin membacanya terlebih dahulu.


"Kamu lagi selingkuh dari aku ya." Gerald merampas ponsel Adelia.


"Berani kamu lihat isi ponselku, aku pastikan hari ini juga kamu akan masuk penjara." Ancam Adelia.


"Ih serem banget sih." Gerald segera mengembalikan ponsel ke pemiliknya yang terlihat tidak bersahabat.


"Kamu tahu aku punya seseorang, dan kamu tetap ingin melanjutkan pernikahan ini. Jadi ini bukan salahku." Ujar Adelia.


Gerald terdiam mendengar kalimat yang pertama kalinya ia dengar setelah lebih dari seminggu mereka sering menghabiskan waktu bersama seperti ini.


"Tidak masalah, kita hanya membutuhkan waktu untuk sama-sama meyakinkan hati. Bukan hanya kamu yang masih menyimpan nama seseorang, aku pun sama. Untuk itu aku maklum." Jawab Gerald, dan berhasil membuat Adelia menoleh.


"Kamu masih menyimpan rasa untuk Kakak Ipar ku ?" Tanya Adelia.


"Aku dan Yana memang tidak pernah menjalin hubungan sama seperti kamu dengan Rey, tapi aku tulus mencintainya dan itu sudah sangat lama. Tapi aku mencintainya dengan tulus tanpa obsesi, untuk itu aku selalu siap jika memang dia bukanlah takdirku." Jawab Gerald.


"Maafkan aku." Lirih Adelia. "Tidak ada apapun di ponsel ini, tadi aku memang hanya ingin menghapus pesan dari Rey tanpa ingin membaca pesan itu lebih dulu." Jelasnya.


Gerald mengangguk, lalu mengusap kepala Adelia.

__ADS_1


"Belum halal woi." Ujar Adelia memperingati, tapi ia tidak menepis tangan yang terasa hangat menyentuh puncak kepalanya yang tertutup hijab.


__ADS_2