Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 160 Season 2 Bonus Chapter End


__ADS_3

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Setelah beberapa hari semua orang berusaha membujuk Dira untuk tetap tinggal dan melanjutkan studi di Indonesia, termasuk Arga. Kini gadis cantik berhijab itu sudah siap melangkahkan kaki pergi dari tanah kelahirannya.


Tidak, bukan pergi untuk selamanya. Tapi mencari bagian penting dari hidupnya, yaitu rasa nyaman. Entahlah, ia masih belum tahu bagaimana kehidupan tanpa orang-orang yang kini memasang wajah sedih karena kepergiannya hari ini, tapi dia pun ingin mencoba mencari tahu.


Dan yah, kita tidak akan tahu sesuatu itu baik untuk hidup kita, sebelum mencobanya bukan ?


Lalu lalang manusia di salah satu Bandara Internasional di Jakarta, terlihat memadati terminal keberangkatan. Zyana masih belum melepaskan tubuh mungil putrinya dari dalam dekapan.


Entahlah, setelah sekian banyak drama yang terjadi selama delapan belas tahun bersama putri kecilnya ini, kini ia benar-benar merasa berat melepaskan.


Tidak, bahkan hanya di saat Dira meminta izin menginap di rumah adik iparnya saja, ia begitu berat melepaskan. Dan kini, ia harus menerima kenyataan jika putri cantiknya akan berada di benua yang berbeda dengannya.


"Udah dong sayang." Bujuk Alfaraz pada istrinya yang masih terus sesegukan sambil merangkul putri kedua mereka.


"Enggak, aku ngga bisa izinkan dia pergi." Rengek Yana.


Dira tertawa dalam dekapan sang Ibu. Ini pertama kalinya ia merasakan sesuatu yang lain di dalam hati mengenai wanita yang selalu ia tuduh pilih kasih ini.


"Dira pasti akan pulang kok." Bujuk Alfaraz lagi. "Nanti ketinggalan pesawat, rugi dong tiketnya." Sambungnya memberi pengertian pada sang istri yang semakin tua semakin manja.


Di ruangan yang sama, Nira berdecak kesal dengan drama kedua orang tuanya.


"Udah dong Bu, nanti Nira ga kebagian peluk Dira." Ujarnya memperingati sang ibu yang belum juga melepaskan adiknya.


Dira kembali tertawa dalam pelukan ibunya.


Yana melepaskan pelukannya yang begitu erat, lalu membiarkan kedua putri kembarnya berpelukan.


"Ngga mau peluk ?" Tanya Dira pada bocah tampan yang masih saja memasang wajah sedih semenjak malam tadi.


"Enggak, aku sebel." Jawab Abizar.


Dira tersenyum, lalu segera menarik bocah yang selalu mengikutinya kemana-mana itu agar masuk dalam pelukannya.


"Nanti kalau udah lulus, kamu susul aku ke Berlin." Ucap Dira masih sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Abizar.

__ADS_1


"Nggak mau peluk aku ?" Arga tersenyum sambil merentangkan tangannya.


"Bukan muhrim." Ujar Nira.


Namun, Dira tetap masuk ke dalam pelukan laki-laki itu.


Tidak lama, tapi mampu membuat jantungnya seakan copot dari tempatnya.


"Dira pamit." Ucap Dira kembali memeluk tubuh sang Ibu dengan begitu erat.


Alfaraz mengusap lembut kepala putrinya yang tertutup hijab, lalu gadis yang selalu membuatnya khawatir setiap hari itu, mulai melangkahkan kakinya menjauh. Lambaian tangan, juga senyum dari wajah cantik yang begitu mirip dengan istrinya terus melintas di dalam benaknya.


Setelah Dira tidak lagi terlihat, keluarga kecil itu berbalik dan meninggalkan bandara dengan perasaan yang begitu sulit di jelaskan.


Bahkan gadis yang selalu menampakkan wajah riangnya, kini tertunduk dalam. Baru beberapa menit yang lalu adiknya itu pergi, namun, rasa rindu di hatinya terasa begitu mengganggu.


"Sayang, aku sudah rindu padanya." Lirih Yana.


Alfaraz terkekeh mendengar kalimat menyedihkan yang keluar dari bibir istrinya.


"Baru saja beberapa menit yang lalu. Bahkan mungkin sekarang Dira masih berada di Bandra, kamu sudah rindu aja." Ujar Alfaraz.


Alfaraz tidak menimpali, ia pun rindu, sangat rindu. Namun, semuanya memang harus seperti ini. Keinginan gadis kecilnya itu setinggi langit, dan ia tidak sampai hati mematahkannya.


Dengan perlahan, Alfaraz memasangkan sabuk pengaman di tubuh istrinya, lalu meminta putranya untuk melakukan hal yang sama di bangku penumpang.


"Ngga enak Yah duduk di belakang sendirian." Ucap Abizar pelan. Bocah laki-laki yang kini berusia tiga belas tahun itu mengusap lembut tempat duduk di sampingnya, yang biasa di gunakan Dita jika bepergian.


Alfaraz kembali menarik nafasnya yang terasa begitu berat. Gadis dingin dan selalu membuat dirinya tidak terlihat itu, begitu berpengaruh besar jika tidak lagi ada di sini.


"Aku benar-benar rindu sayang." Ucap Yana lagi. "Ayo kita pindah ke Berlin aja." Sambungnya memberi ide.


Alfaraz terbahak, ia tidak tahan lagi dengan sikap istrinya. Lelaki yang selalu saja tidak memikirkan tempat itu, segera meraih tubuh istrinya, lalu memeluknya erat. Kecupan berulang kali ia daratakan di puncak kepala istrinya yang tertutup hijab.


"Aku juga merindukannya sayang, tapi jangan seperti ini. Jika kita terus saja memikirkan dia, nanti langkahnya akan semakin berat. Ayolah, kita akan punya banyak waktu untuk kembali berjumpa dengannya, jadi biarkan dia pergi dan meraih semua impiannya. Berlin sangat biak, aku pernah tinggal di sana selama sekian tahun, jadi jangan terlalu khawatir. Hm..." Bujuk Alfaraz masih terus mendekap tubuh Yana.

__ADS_1


"Aku benar-benar merasa bersalah padanya Al.." Tangisan Yana terdengar. Alfaraz semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh wanita yang selalu ia cintai itu.


"Tidak, kamu adalah ibu yang hebat untuk anak-anak kita. Jangan seperti ini, aku jadi ikut sedih." Balas Alfaraz. "Mau jalan-jalan ke rumah ibu, membeli sebuket bunga mungkin." Sambungnya menawarkan sesuatu yang paling di sukai istrinya.


"Boleh..." Yana mendongak dengan mata berair.


"Tentu, ayo kita antar lelaki mudah ke rumah Bunda dan habiskan waktu berdua aja." Ujarnya.


Di bangku bagian belakang, Abizar memberengut kesal karena ide jahat sang Ayah yang ingin membuangnya.


Hana mengangguk antusias, dan kecupan berulang kali mendarat di matanya yang berkaca.


"Cih dasar." Kesal Abizar.


***


Selamat tinggal Indonesia. Selamat tinggal rumah, selamat tinggal untuk semuanya. Begitulah yang ada di pikiran Dira saat ini. Gadis berhijab itu menempelkan tangannya di jendela pesawat. Bangunan-bangunan kokoh yang menjulang tinggi, mulai terlihat mengecil, itu pertanda burung besi yang di tumpangi nya mulai berada pada ketinggian.


"Rindu ?" Seseorang yang berada di sampingnya bersuara. Dira mengangguk membenarkan, karena memang itulah yang ia rasakan saat ini.


"Nanti juga akan terasa biasa-biasa saja. Aku pertama kali meninggalkan rumah juga seperti ini, rindu. Rindu dengan semua hal yang ada di rumah, meski ada banyak hal yang terjadi di rumah itu, yang membuat aku sedih." Ujar Rayan. "Kita memiliki kisah hidup yang sama, menyedihkan. Melihat orang kita cintai lebih menyayangi saudara kembar kita, memang terasa sangat mengesalkan. Tapi jangan jadikan itu alasan untuk membenci mereka, karena mereka pun menyayangi kita, hanya saja itu tidak nampak jelas terlihat." Ujar Rayan.


Dira mendengarkan petuah dari kakak sepupunya, tanpa mengalihkan tatapannya dari awan-awan tebal yang mulai terlihat menutupi pemandangan di bawah sana.


"Aku sama sekali tidak pernah bisa membenci mereka, tapi justru membenci diriku sendiri yang begitu mudah di kuasai oleh rasa iri." Jawab Dira.


Rayan mengusap kepala Dira.


"Itu berarti kamu masih manusia biasa." Jawabnya.


****


*Note Author


Mulai Bab ini aku akan menggunakan Dira aja, biar kalian ga bingung..

__ADS_1


Nikmati kebucinan Arga ya guys ❤️ ❤️


Simak usaha Arga untuk melelehkan hati Dira yang sedingin Es Batu di Season 3 🥰😘


__ADS_2