
Yana meletakkan satu lembar kertas ke atas meja dengan beberapa poin yang sudah ia cantumkan.
"Kamu boleh menambahkan jika ingin." Ujar Yana.
Alfaraz menatap atau lembar kertas itu sejenak, lalu kembali beralih pada wajah cantik yang selalu terlihat datar dan serius di hadapannya.
"Belum boleh mengunjungi rumah ini sebelum lamaran."
Alfaraz mengerutkan dahinya saat membaca poin pertama yang tentu saja tidak ia sukai.
"Beli bunga di toko Ibu untuk Bunda kamu boleh, tapi tidak boleh mengajak aku berbicara. Akan lebih baik kamu datang saat aku sedang tidak berada di toko." Ujar Yana menjelaskan.
"Apaan sih, ajak ngomong aja ngga boleh." Jawab Alfaraz tidak terima.
"Ya habisnya kamu makin hari makin aneh aja. Kaya anak ABG yang lagi pacaran." Seru Yana.
"Oke." Alfaraz mengalah sebelum berbagai macam aturan yang tidak ia inginkan akan bertambah banyak.
"Di kantor di larang memanggil ku ke dalam ruangan jika bukan urusan pekerjaan."
Alfaraz kembali membaca poin ke dua.
"Untuk poin ke dua akan terus berlaku sampai kita sudah menikah." Jelas Yana sambil menunjuk satu catatan yang ia tulis di bawah poin ke dua.
"Apa-apaan, kamu istri aku dan itu perusahaan aku jadi terserah aku mau ngapain aja di sana. Ngga aku ngga mau." Tolak Alfaraz.
"Kalau ngga mau ya udah, pembicaraan kita batal." Ucap Yana santai.
Sungguh kepalanya mau pecah karena terus meladeni sikap seenaknya Alfaraz. Apa wajar jika seseorang yang masih belum menjadi siapa-siapa harus bersikap se gila ini.
"Jahat banget sih." Kesal Alfaraz tidak terima dengan ancaman Yana.
"Iya aku jahat, pikirkanlah lagi kalau mau menikah sama aku." Jawab Yana acuh.
Alfaraz membaca lima poin yang tertulis di atas kertas sambil mengajukan protes tidak terima, akan tetapi ancaman pembatalan pernikahan tetap saja membuat ia bertekuk lutut.
"Kamu boleh menambahkan jika kamu mau." Ujar Yana setelah Alfaraz meletakkan kembali satu lembar kertas itu di atas meja.
Alfaraz masih cemberut, lalu menggeleng.
"Yakin ga mau ?" Tanya Yana.
"Toh setelah nikah tetap aku yang jadi pemimpin, dan kamu harus patuh sama apa yang aku katakan." Jawab Alfaraz acuh.
"Iya kalau jadi nikah." Ledek Yana.
__ADS_1
"Maksud kamu ngomong gitu apaan ?"
"Cih benar-benar seperti anak SMA." Ujar Yana. "Kalau kamu bisa nahan untuk tidak melakukan apa yang ada di dalam surat perjanjian itu." Sambungnya.
"Ingat jangan lakukan itu atau aku tidak akan mau menikah." Ancam Yana lagi.
"Aku masih bisa menelepon kan ?"
"Poin nomor empat, menelpon jika itu hak yang penting dan mendesak." Ucap Yana mengingatkan.
Alfaraz kembali berdecak kesal.
"Tanda tangan di sini biar sah." Perintah Yana sambil menunjuk bagian yang bertuliskan nama Alfaraz.
Di ruangan sebelah, Dinda terus tersenyum geli mendengar perdebatan putrinya dengan pemuda yang baru beberapa hari ini ia kenal.
Setelah tidak lagi mendengar perdebatan yang menurutnya sangat aneh itu, ia melangkah keluar dari ruang keluarga dan menghampiri putrinya kemudian ikut duduk di sana.
"Begini Nak Al, jika memang serius untuk menikahi Yana Ibu tidak masalah. Hanya saja saat ini keadaan Yana masih belum pantas bergaul terlalu dekat dengan lelaki manapun. Kamu tahu kan putri Ibu ini baru saja bercerai, datanglah lagi setelah tiga bulan Ibu pasti akan dengan senang hati menerima selama niat kamu baik." Jelas Dinda.
Alfaraz mengangguk mengerti. Sejujurnya ia pun bingung dengan perasaannya saat ini. Setiap kali ada sesuatu yang menyangkut Yana, selalu saja membuatnya merasa terganggu.
"Wanita sangat mudah mendapatkan fitnah, terlebih saat ini Yana baru saja bercerai dengan suaminya. Mata orang tidak akan mampu melihat kedalam masalah, mereka hanya akan menilai sesuatu yang bisa dilihat dari luar saja." Dinda kembali memperingati.
Alfaraz tersenyum salah tingkah. Ia benar-benar harus membenturkan kepalanya setelah ini karena harus di nasehati oleh orang lain mengenai hal hang seharusnya ia ketahui. Jika saja sang Bunda mengetahui hal ini, pasti kepalanya akan kena pukul.
Yana pun ikut tertawa geli.
"Makanya apa-apa itu di pikirkan dulu, malu sama umur." Ledeknya.
"Ya udah Bu, Al pamit pulang dulu malam semakin larut." Pamit Alfaraz sambil menahan malu.
Ibu Dinda mengangguk, sedangkan Yana ikut beranjak dari atas sofa dan keluar dari rumah untuk memasukkan mobilnya.
"Kamu nganterin aku sampai depan rumah ?" Tanya Alfaraz.
"Jangan kegeeran. Aku mau masukin mobil aku ke dalam." Jawab Yana.
"Iya, santai aja ga usah ngegas." Ujar Alfaraz. "Aku pulang ya, nanti aku chat kalau sudah tiba." Pamit nya saat mereka sudah berada di depan mobil. "Eits, dalam perjanjian tidak ada larangan untuk mengirim pesan, dan kamu wajib membalasnya." Sambungnya memperingati sebelum Yana memprotes.
"Kalau aku ngga balas ?" Tanya Yana menantang.
"Aku akan datang ke rumah kamu setiap hari." Jawab Alfaraz sambil tertawa puas.
"Sana pulang." Usir Yana lalu melangkah masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Alfaraz pun masuk ke dalam mobilnya, lalu memberikan jalan agar Yana bisa memasukkan mobilnya ke dalam pelataran rumah.
"Masuk sana." Ucapnya saat melihat Yana kembali melangkah menuju pagar setelah turun dari mobil.
"Aku mau tutup pintu pagar Bambang, kamu pikir aku mau nungguin kamu gitu, sori aku ga se alay itu." Ledek Yana sembari menjulurkan lidahnya. Dia lantas membalik tubuhnya sambil tertawa puas setalah berhasil membalas kekesalnnya tadi.
"Jangan lupa chat aku kalau sudah sampe rumah." Teriak Yana lagi masih terus melangkahkan kakinya menuju rumah.
Alfaraz tersenyum, setelah memastikan wanita itu sudah menghilang di balik pintu rumah yang sudah tertutup, ia segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Dadanya berdebar, senyum masih terlihat di bibir tipisnya. Zyana, secepat inikah ia jatuh cinta dengan wanita lain setelah sekian tahun terperangkap dengan perasaan tanpa restu. Entahlah, yang jelas saat ini ia benar-benar ingin membawa Yana masuk ke dalam hidupnya.
Mobil mewah berwarna hitam itu terus melaju di jalanan Jakarta. Tiba di pemberhentian lampu lalu lintas yang kini berubah warna, tatapannya menangkap satu banner yang memperlihatkan wajah cantik yang tidak asing di matanya. Yah,, artis dan model terkenal yang tidak lain adalah mantan istrinya.
"Benar kata Bunda, setelah kepergian ku kamu hidup dengan sangat baik dan memiliki banyak teman di sekeliling mu. Sedangkan aku bahkan masih harus berjuang keras untuk mendapatkan maaf dari Papa yang sudah aku kecewakan. Jadi, aku ingin memulai kembali hidupku dan menjalaninya dengan baik bersama orang lain, sama seperti dirimu."
Alfaraz mengalihkan tatapannya dari wajah cantik dengan senyum yang selalu di nikmati banyak orang di berbagai layar kaca, lalu kembali melajukan mobilnya menuju rumah.
*****
*Note Author
Otak dan jariku hancur 😂 awas aja kalo ga ninggalin like dan komentar aku kutuk jadi cantik 😘😘
Eits, dapat salam dari Eliana katanya di suruh mampir di kisahnya yang berjudul Promise.
kepoin profilku yaa kakak2 sayang...
- Everything About You ( Anisa & Dimas )
- Eliziane ( Zia dan Alard )
- Wanita Kedua ( Zidan dan Farah next season 2)
- Promise ( Eliana, Kenan, Kean, Riana dan Rianti )
Untuk kisah Kean dan Rianti harusnya punya novel sendiri yang berjudul Ibu Untuk Nana tapi kayaknya reader lebih nyaman di gabung, ya udah aku gabung di Promise aja.
- Gadis Satu Malam ( Keyla dan Gery ) Novelnya masih banyak typo berhamburan 😁
- Emergency Love, Flora ( Flora dan Kevin )
- Gadis satu malam Season 2 ( Gama dan Briana ) Sayang masih slow jariku ga mampu lagi.
Setelah ini akan ada lagi satu sinopsis My Doctors My Sunshine belum tahu kapan bisa publish. Kisah Gama dan Briana aja belum selesai 😭
__ADS_1
Saranghae banyak2 buat kalian semua 🥰🥰😘😘❤️❤️