Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 111 Season 2


__ADS_3

Yana berpamitan pada ibunya untuk masuk ke dalam kamar saat melihat nama Alfaraz kembali tertera di layar ponselnya. Setelah langkah kakinya semakin mendekati kamar, Yana segera mengusap layar ponselnya dan bersiap di marahi habis-habisan oleh laki-laki yang masih belum menjadi siapa-siapa dalam hidupnya ini.


"Kamu habis ngapain sih, pesan aku ga kamu balas. Lagi bernostalgia dengan mantan suami yaa."


Suara Alfaraz terdengar begitu menggelikan di telinga Yana. Eh, tunggu dulu dari mana lelaki ini tahu jika sang mantan baru saja pulang bertamu ke rumahnya.


Yana menatap wajah tampan yang terlihat kesal di layar ponselnya, masih dengan senyum manis namun, membuat orang di ujung sana semakin kesal.


"Kenapa diam saja, benarkan tebakan aku." Tuduh Alfaraz lagi.


"Tampan banget sih." Ucap Yana mengalihkan pembicaraan.


"Ngga mempan walaupun kamu puji-puji. aku lihat si brengsek itu baru saja pergi dari rumah Ibu."


Yana tertawa mendengar kalimat kesal dari ponselnya.


"Tapi tunggu dulu, kamu di mana sekarang ?" Tanya Yana.


" Di depan rumah." Jawab Alfaraz.


"Mau ngapain ? Pulang sana." Usir Yana.


"Oh gitu ya, mantan suami di izinkan masuk, tapi calon suami di anggurin."


Yana kembali tertawa geli.


"Ngomong aja calon suami, buktikan dong." Ucapnya menantang.


"Besok Papa dan Bunda mau datang ke sini, mau melamar kamu katanya."


"Jangan ngaco, aku ngga mempersiapkan apa-apa, sesuai perjanjian kan satu Minggu lagi." Tolak Yana tidak terima.


"Ya mau bagaimana lagi, Bunda mau cepat-cepat takut kamu keburu di lamar orang katanya."


"Kamu benaran lagi di depan rumah ?" Tanya Yana.


Lelaki itu terlihat mengangguk.


Yana melangkah menuju jendela kamarnya, memeriksa jika ada mobil lain yang terparkir di depan rumah.


"Mau ngapain kemari ?" Tanya Yana setelah memastikan jika mobil laki-laki yang ada di layar ponselnya ini memang sedang terparkir di sisi jalan depan rumah ibunya.


"Aku kan sudah bilang, balas chat aku, kalau ngga aku datang." Jawab Alfaraz.

__ADS_1


"Al...


Yana menatap lekat wajah Alfaraz yang ada di layar ponselnya.


"Ada apa ?"


"Enggak."


"Ada apa ?"


Alfaraz kembali bertanya.


Yana menggeleng, lalu tersenyum.


"Mau masuk dulu ?" Tanyanya mengalihkan.


"Ngga usah, besok juga aku akan datang bersama Bunda dan Papa, sama Adel juga."


"Mereka tahu tentang aku ?" Tanya Yana hati-hati.


Terlihat Alfaraz mengangguk.


"Semuanya ?" Tanya Yana lagi.


"Iya Bunda tahu, Papa juga tahu kalau kamu sudah menikah."


"Nggak usah berpikir aneh-aneh, Bunda bukanlah wanita yang ada di dalam drama. Semua orang pernah gagal agar bisa belajar lebih baik. Aku pun sama seperti kamu, kita sama-sama belajar." Ujar Alfaraz. "Aku pulang, kamu juga tidur, jangan berdiri di pinggir jendela." Sambungnya.


"Sampai ketemu besok Al." Ucap Yana. Sedikit rasa baru menyentuh hatinya. Apakah ini hadiah atas segala yang sudah ia lalui ? Entahlah, ia hanya ingin menikmatinya saja.


"Manis banget sih."


Tut... tut...


Yana memutuskan sambungan tanpa pamit, sebelum kalimat-kalimat aneh mulai meluncur dari bibir Alfaraz. Ia lalu melangkah meninggalkan jendela dengan dada yang berdebar, juga senyum yang mengembang.


Di dalam mobil yang sedang terparkir di depan rumah Yana, Alfaraz menatap layar ponselnya yang sudah berubah. Senyum kembali terlihat di bibirnya, sembari mengetik pesan singkat untuk wanita yang sudah mampu merubah dunia nya beberapa bulan ini. Sejak awal ia melihat Yana pertama kali di depan ruangan sang Ayah, semuanya mulai berubah. Hingga pertemuan-pertemuan berikutnya yang tidak terduga, semakin menguatkan rasa yang perlahan hinggap di hatinya. Namun, biarlah. Biarlah Yana berharap jika semua yang ia lakukan saat ini memang hanya ingin melupakan masa lalu.


Setelah pesan balasan berisi peringatan untuk berhati-hati di jalan, Alfaraz kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celama lalu segera turun dari mobil untuk masuk ke dalam rumah.


Di ambang pintu rumah, Dinda tersenyum ramah pada lelaki yang terus melangkah menuju rumahnya.


"Mari silahkan masuk Nak Al." Ajak Dinda.

__ADS_1


"Terimakasih Bu." Jawab Alfaraz lalu ikut masuk ke dalam rumah.


"Yana sudah tidur." Ucap Dinda memberitahu.


"Ngga apa-apa Bu, Al kemari memang hanya ingin bertemu Ibu."


"Duduk dulu." Dinda memeprsilahkan. "Tadi masih bada tamu." Sambungnya.


Alfaraz mengangguk, karena memang ia tahu lelaki yang tidak lain adalah mantan suami Yana, baru saja meninggalkan rumah ini.


"Bu, Al kemari hanya ingin memberitahu, jika besok Papa dan Bunda akan datang kemari."


Dinda masih diam, menunggu kalimat selanjutnya dari bibir Alfaraz..


"Bunda dan Papa mau melamar Yana." Ujar Alfaraz lagi.


"Begini Nak, bukannya Ibu tidak suka, tapi lebih ke khawatir. Yana sudah gagal membina rumah tangga nya, dan Ibu takut jika orang tua kamu mengetahui kebenaran itu, tidak menutup kemungkinan kejadian akan terulang kembali."


Alfaraz tersenyum mendengar kekhawatiran calon Ibu mertuanya.


"Jangan khawatir Bu, sama seperti Ibu yang sudah mengetahui tentang Al. Bunda dan Papa juga sudah mengetahui tentang Yana. Tidak ada yang di sembunyikan, dan Bunda tidak keberatan akan hal itu." Jawab Alfaraz.


Dinda bernafas lega.


"Jadi apa yang perlu Ibu siapkan ?" Tanyanya.


"Tidak perlu menyiapkan apa-apa, Al yang akan mengurusnya. Ibu hanya perlu membujuk Yana, karena putri Ibu itu tidak mau jika rencana yang kami susun seminggu lagi di undur menjadi besok."


"Oh begitu, jika hanya tentang si kepala batu itu serahkan semua pada Ibu." Jawab Dinda.


"Ya udah, Al pamit Bu. Untuk persiapan, akan ada orang yang datang besok ke rumah Ibu. Biarkan jika Yana masih ingin pergi bekerja, Al juga masih harus ke kantor."


"Ngga mau ketemu Yana dulu ?"


"Tidak usah Bu, besok aja ini sudah malam. Ibu juga harus beristirahat." Jawab Alfaraz lalu bangkit dari atas sofa tempat ia duduk.


Dinda pun ikut beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah menuju pintu rumah.


"Hati-hati di perjalanan Nak Al." Ucap Dinda.


Alfaraz mengangguk, lalu menyalami punggung tangan Dinda kemudian melangkah menuju mobilnya.


Setelah wanita paruh baya yang baru saja mengantarkan kepergiannya sudah tidak lagi terlihat, Alfaraz kemudian melajukan mobilnya menuju rumah.

__ADS_1


Satu pesan masuk ke dalam ponselnya, ia melirik sebentar lalu kembali mengabaikan pesan singkat itu. Sepertinya ia harus menggunakan cara Yana untuk terlepas dari masa lalu. Mengganti semua kontak yang masih bisa di akses oleh orang yang tidak lagi penting, mungkin di butuhkan agar ia tidak akan lagi merasa terganggu dan bisa menikmati hidupnya dengan tenang.


Mobil Alfaraz sudah masuk ke dalam Garasi, namun, lelaki itu masih duduk diam di atas mobil. Memeriksa pesan singkat yang ia tahu siapa pengirimnya, lalu menghapus pesan itu tanpa berniat untuk membalasnya.


__ADS_2