
Di sebuah Bandara yang ada di Jakarta, Adelia terdiam dengan tatapan penuh kecewa. Kebaya yang seharusnya ia gunakan untuk menyaksikan sang Kakak mengucapkan ijab kabul, kini harus ia gunakan untuk menyaksikan kepergian kekasih hatinya.
"Sumpah kamu tega banget Rey." Ujar Adelia sambil menatap laki-laki yang sudah bersamanya sekian tahun dengan tatapan penuh kecewa.
"Del, kamu tahu ini penting banget buat kita."
"Bukan buat kita, tapi hanya buat kamu." Jawab Adelia.
"Maaf." Rey mengusap lembut pipi Adelia.
"Apa yang harus aku jelaskan pada Bunda dan Papa Rey ? Mereka tahu kamu akan datang dan melamar ku." Adelia masih berusaha untuk tetap menahan Rey agar tidak pergi.
"Del, aku harus pergi, pesawatnya akan lepas landas sebentar lagi." Ujar Rey masih dengan tatapan penuh permohonan.
Adelia tidak lagi bersuara, karena semuanya terasa percuma. Ia tahu ini adalah hal yang paling di inginkan Rey, tapi ia juga punya harapan lain untuk mereka.
"Aku pergi, jaga dirimu baik-baik di sini. Aku akan mengabari mu jika sudah sampai di sana." Rey memeluk tubuh mungil itu dengan erat, lalu mengecup kepala milik Adelia berulang kali.
Rey melambaikan tangannya, Adelia masih berdiri kaku di tempatnya. Seharusnya ia tidak datang. Seharusnya ia tetap berada di hotel dan menyaksikan pernikahan Kakaknya.
Tubuh Rey masih terlihat, beberapa kali lelaki itu masih melambaikan tangan ke arahnya, namun, Adelia segera membalik tubuhnya dan keluar dari Bandara.
Beberapa tetes air mata jatuh begitu saja dari sudut matanya. Bukan kepergian Rey yang ia sesalkan, hanya saja ia sudah terlalu berharap jika setelah ini hubungan yang mereka bangun sejak masuk di universitas, akan melangkah ke jenjang pernikahan.
Sambil melangkah menuju mobil, Adelia mengusap lembut pipinya agar riasan di wajah cantiknya tidak akan rusak. Ia memeriksa ponselnya yang sejak tadi terus saja bergetar. Ada beberapa panggilan yang tidak terjawab dari sang Bunda tertera di layar ponsel. Sampai di area parkir Bandara, Adelia bergegas masuk ke dalam mobil, lalu memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Meninggalkan Bandara menuju hotel tempat acara keluarganya berlangsung, sambil berharap di dalam hati jika masih di beri kesempatan untuk menyaksikan pernikahan yang di impikan oleh seluruh keluarganya itu.
***
Di dalam kamar hotel, Zyana masih membersihkan riasan di wajahnya dengan perlahan. Lalu mulai melepaskan satu persatu hiasan-hiasan yang ada di atas kepalanya dengan hati-hati.
"Perlu bantuan ?" Tanya Alfaraz. Ia berdiri di pintu kamar mandi yang baru saja ia gunakan sambil menatap istrinya yang masih sibuk dengan pernak pernik di atas kepala.
"Tidak perlu, ini mau selesai kok. Kamu duluan aja, Bunda dan yang lainnya pasti sudah menunggu. Aku nyusul nanti." Jawab Yana.
"Cepat, kamu belum makan siang." Perintah Alfaraz.
Yana mengangguk patuh. Setelah semua pernak pernik yang ada di atas kepalanya berhasil ia lepaskan, dan hanya tersisa kebaya putih yang masih melekat di tubuh, Yana bergegas melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan satu buah dress di tangannya.
__ADS_1
Alfaraz tidak keluar dari dalam kamar, ia melangkah menuju telepon yang berada di dalam kamar itu, dan menghubungi petugas hotel untuk mengantarkan makan siang ke dalam kamar mereka.
Sudah beberapa puluh menit berlalu, bahkan gemercik air tidak lagi terdengar dari dalam sana. Namun, wanita yang ada di dalam kamar mandi itu masih belum menampakkan diri. Beberapa kali ia melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, berharap wanita yang ia tunggu akan keluar dari bilik kecil itu. Karena mulai khawatir, Alfaraz akhirnya membawa kakinya melangkah mendekati pintu kecil itu dan mengetuknya.
"Ngapain ?" Mata Yana terbelalak saat melihat lelaki yang ia pikir sudah keluar dari dalam kamar, kini berdiri tepat di depan pintu kamar mandi yang baru saja ia buka dengan tangan tergantung di udara.
"Nggak, aku pikir kamu kenapa-kenapa karena terlalu lama berada di dalam sana." Jawab Alfaraz.
Yana tidak lagi menanggapi, dadanya berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia segera melangkah kembali menuju meja rias dan mengeringkan rambutnya yang masih terbungkus handuk kecil.
"Makan dulu." Ajak Alfaraz.
"Kita tidak makan bareng Bunda dan yang lainnya ?" Tanya Zyana sambil melangkah menuju sofa di mana suaminya berada.
"Kita makan di dalam kamar saja." Jawab Alfaraz.
"Aku panggil kamu apa ? ga enak jika panggil nama terus." Tanya Yana sambil menyiapkan makanan untuk Alfaraz.
"Senyaman kamu aja."
"Mas bagus nggak ?"
Yana tertawa.
"Tadi dia datang menemui aku." Ucapnya.
Alfaraz segera menatap wajah istrinya dengan begitu lekat. Menanti penjelasan lebih dari apa yang baru saja ia dengar.
"Dia ngga masuk kamar ini kok, hanya berdiri di ambang pintu." Jelas Yana, namun, masih terasa kurang bagi Alfaraz.
"Dia berani menemui mu di dalam kamar ini ?" Tanya Alfaraz.
"Hei, wajah serius kamu bikin aku berdebar." Yana memeluk lengan Alfaraz lalu bersandar di bahu kokoh itu. "Dia hanya datang mengucapkan selamat berbahagia untuk kita." Sambungnya.
"Jangan buat aku takut. Sudah cukup si Gerald yang membuat aku resah, jangan di tambah lagi."
Kalimat Alfaraz kembali membuat Yana terkekeh lucu. Hingga kecupan berulang di puncak kepalanya membuat Yana terdiam. Detak jantungnya semakin menggila, saat hembusan nafas hangat Alfaraz terasa di puncak kepalanya.
__ADS_1
"Makan dulu, lalu istirahat." Ujar Alfaraz.
Yana melepaskan pelukannya di lengan kokoh Alfaraz, lalu mulai memakan makanan yang ada di atas meja.
"Oh iya Al, kok aku ngga liat Adelia di acara akad nikah tadi ?" Tanya Yana setelah satu suapan berhasil masuk ke dalam perutnya.
"Dia pergi, entah apa yang sedang terjadi dengannya dan Rey."
"Maksud kamu ?" Yana sudah meletakkan makanan kembali ke atas meja.
"Papa dan Bunda masih sedang berusaha mencarinya." Jawab Alfaraz.
"Lalu kenapa kamu masih di sini Al, ya Allah ayo kita keluar dari kamar ini dan ikut mencarinya."
"Makan dulu, kamu perlu istirahat sebentar malam masih ada acara lagi. Nanti aku yang akan pergi membantu Papa dan Bunda mencari Adel."
"Al, ga apa-apa kok kalau acaranya di batalkan. Kita sudah menikah, itu sudah cukup." Ujar Yana.
Alfaraz tersenyum, lalu mengusap lembut pipi istrinya kemudian menggeleng.
"Tidak ada yang perlu di batalkan, mungkin dia hanya sedang ada sesuatu yang mendesak. Tidak apa-apa, jangan berpikir macam-macam. Lanjutkan makan kamu." Perintahnya.
"Aku sudah ngga lapar, sebentar aku mau ambil tas dan ponsel ku dulu kita nyusul Bunda dan Papa." Ucap Yana.
"Hei, ngga apa-apa. Kamu di sini saja, istirahat." Cegah Alfaraz. Namun, Yana tetap beranjak dari sofa lalu melangkah menuju meja rias untuk mengambil ponsel dan tas kecilnya.
Baru saja ia melangkah kembali menuju suaminya, ketukan di pintu kamar disertai kalimat meminta izin untuk masuk terdengar dari luar kamar.
Alfaraz melangkah cepat menuju pintu kamar, lelaki itu bernafas lega saat melihat gadis yang kini berdiri di ambang pintu kamarnya sambil tersenyum jail seperti bisanya, dan segera ber hambur memeluk tubuhnya dengan begitu erat.
***
*Note Author
Hai Kka, maaf yaa mungkin part sebelumnya agak mengecewakan. Sejujurnya aku tuh membuat karakter Nadia adalah wanita yang baik, tapi mungkin saja ga berhasil. π₯Ίπ₯Ίπ₯π₯
Satu Bab lagi entar malam yaa ππ
__ADS_1
Ga enak malam pertamanya siang hari π€π€
Tapi jangan berharap hot, aku ga bisa buat adegan ranjang yang panas. Takut ngga akan dapat izin suami buat nulis lagi. ππ