
Jika di hotel hampir saja terjadi perang dunia ketiga, berbeda di ruang kerja Azam. Lelaki tampan itu sedang menikmati makan siang dengan perasaan yang berbeda. Bahagia ? Sepertinya lebih dari itu. Ini pertama kalinya ia merasakan hal seperti ini dengan seorang wanita. Bahkan ia sama sekali tidak merasa bosan menatap wajah cantik berbalut hijab di sampingnya.
Yang tidak Azam ketahui, wanita yang sedang menikmati makan siang di dalam ruang yang sama dengannya ini, ingin sekali menenggelamkan wajahnya di lantai ruangan karena sejak tadi di pandangi oleh suaminya.
"Kapan mulai masuk kuliah ?" Tanya Azam.
Trias menghentikan mulutnya yang sedang mengunyah makanan, dan langsung meneguk air putih yang sudah tersedia di atas meja.
"Aku kuliah online, Mas." Jawabnya.
"Kamu mau kerja di kantor ini ga ? Aku ingin setiap hari kita sama-sama kayak gini." Ujar Azam.
Trias menatap wajah yang begitu serius ingin memintanya bekerja di sini. Beberapa saat kemudian kepalanya menggeleng, menolak permintaan dari suaminya.
"Kenapa ?" Tanya Azam heran. Pasalnya ini kaili pertama ada wanita yang menolak bekerja di perusahaannya. Dan yang lebih mengherankan, Trias menolak permintaan yang di ajukan langsung olehnya.
"Aku mau seperti Mami. Hidup bahagia di rumah bersama anak-anak dan menunggu kamu pulang setiap hari. Kamu lihat ga, senyum di wajah Mami ga pernah surut dari wajah beliau, aku sampai berpikir apa Papi terlalu mencintai Mami hingga membuat Mami nampak selalu bahagia." Jawab Trias. Wanita yang masih terbilang muda untuk menyandang status sebagai seorang istri itu, kembali melanjutkan makan siang yang ia bawa siang ini.
"Lalu bagaiman dengan kuliah kamu ?" Tanya Azam menantang.
"Kata Mami seorang ibu wajib punya pendidikan untuk mendidik anak-anaknya kelak. Mas pernah dengar ga, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ga mungkin kan jika jadi madrasah yang ga memiliki pengetahuan apapun."
Azam tersenyum mendengar kalimat panjang lebar yang keluar dari bibir istrinya. Baru semalam merea menjalani hubungan sepasang suami istri yang sebenarnya, dan wanita yang terbilang terlalu muda untuknya ini, sudah berpikir sejauh itu dalam hal berumah tangga.
Anak ? Ah, belum terbesit di benak Azam mengenai makhluk kecil itu. Bukan tidak ingin, tapi ia masih ingin memliki Trias seorang diri. Punya saingan kecil yang pasti tidak akan pernah ia kalahkan dalam memperebutkan perhatian Trias, masih belum terpikir olehnya.
"Ga makan lagi, Mas ?" Tanya Trias saat melihat Azam sudah meletakkan piring ke atas meja.
Azam menggeleng.
"Kamu lanjutkan aja makannya, aku mau menelepon sebentar." Sebelum beranjak dari sofa itu, Azam mengusap kepala Trias lebih dulu.
Trias hanya diam, kebiasaan Azam yang membuatnya candu. Entah mengapa ada rasa hangat yang menjalar di dalam hatinya saat Azam mengusap lembut kepalanya.
Setelah Azam kembali ke meja kerjanya, Trias kembali melanjutkan makan siang nya yang tertunda karena pembicaraannya dengan Azam beberapa saat yang lalu.
Setelah membicarakan entah apa dengan orang di ujung telepon, Azam kembali melangkah menuju sofa di mana Trias sedang merapikan bekas makan siang mereka.
"Tri.." Panggil Azam ragu-ragu.
__ADS_1
Trias menoleh.
"Kalau Aidar mau menikahi Tiara, kamu ga apa-apa kan ?" Tanya Azam.
"Emangnya ga apa-apa, Mas ?" Tanya Trias acuh lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Karena tidak tahan lagi dengan sikap Trias yang hanya fokus membereskan bekas makan siang mereka yang seharusnya di bereskan oleh sekretarisnya, Azam segera menarik tubuh mungil itu hingga terjatuh tepat di sampingnya.
"Kalau suami lagi ngomong itu, di dengarin. Jangan di cuekin aja." Protes Azam tepat di depan wajah Trias.
Trias hanya bisa terdiam dengan wajah merona karena Azam menatap nya dari jarak sedekat ini.
"Yah, maksud aku. Kita kan udah nikah, Mas. Otomatis Mbak Tia juga sudah jadi bagaian dari keluarga kamu. Masa iya nikah sama keluarga sendiri. Kayak ga ada orang lain aja." Jawab Trias membuat Azam terkejut.
"Jadi kamu ga suka ?" Tanya Azam memastikan.
"Lepaskan aku dulu, aku susah bernafas." Pinta Trias.
Azam tida mendengarkan hal itu, dan justru semakin mendekatkan tubuhnya dengan tubuh mungil Trias.
"Aku ga suka di sofa ya, Mas." Ujar Trias tegas.
"Kata Mami dan Mbok, kamu bakal nidurin aku di sofa." Jawab Trias polos, sontak membuat Azam tertawa keras.
Liat aja,setelah pulang nanti ia akan menceramahi Maminya yang sudah berani meracuni otak polos istrinya ini.
"Aku juga ga suka, aku lebih suka di ranjang kita." Goda Azam, semakin membuat Trias merona menahan malu. Otak polosnya yang mulai terkontaminasi dengan kalimat Mami mertuanya, kembali terbayang-bayang malam panas yang mereka lewati semalam.
"Ya udah, minggir. Tubuh aku bisa hancur kalau Mas kayak gitu terus." Ujar Trias sembari mendorong tubuh kekar Azam agar beranjak dari atas tubuh kecilnya.
Azam tertawa geli. Rona malu bercampur khawatir yang terlihat jelas di wajah cantik istrinya, terlihat begitu menggemaskan.
"Mas..." Protes Trias dengan mata terbelalak setelah bibir nakal yang semalam membuatnya terbang kembali mendarat dengan sempurna di atas bibirnya.
"Pertanyaan aku belum kamu jawab." Ujar Azam masih terus mendekatkan wajahnya di wajah istrinya.
"Ya udah, minggir dulu." Trias mendorong tubuh Azam frustasi. Tidak di rumah, tidak di sini ia benar-benar di kerjai habis-habisan oleh seluruh keluarga.
Azam beranjak dari tubuh Trias yang sudah terjebak di sandaran sofa, lalu membantu istrinya itu duduk dengan nyaman di atas sofa.
__ADS_1
"Jadi gini, tadi Aidar menelepon, dan meminta bantuan kamu untuk membujuk Tiara agar mau menerima lamarannya." Jelas Azam.
"Di tegasin aja. AKU GA BUTUH PERSETUJUAN KAMU." Trias mencontoh gaya bicara Azam yang membuat dirinya tidak memiliki pilihan lain selain setuju menikah.
Azam terbahak melihat wajah tegas yang di buat-buat oleh istrinya.
"Sakit.." Teriak Trias saat jari telunjuknya yang tengah mengacung di depan wajah Azam, di gigit oleh laki-laki itu.
"Ah bahas Aidar nanti aja, aku mau makan kamu dulu. Sepertinya kata Mami benar aku harus mencoba sofa bersejarah ini. Kamu mau punya anak kan ? Sofa ini sangat mujarab buat mencetak anak, karena aku di cetak di sofa ini." Ujar Azam panjang lebar membuat Trias ingin sekali pura-pura pingsan.
Ah pasti setelah ini ia akan pingsan karena kelelahan. Salahnya sendiri harus berdandan, padahal asisten rumah tangga Mami mertuanya sudah memperingati jika ia berdandan maka tidak akan bisa berjalan lagi.
"Kata Mami Mas harus menggendong aku pulang." Tegas Trias saat Azam berhasil melepaskan hijab yang menutup kepalanya.
"Boleh tuh, biar ada alasan buat ngelakuin itu lama-lama. Tenang aja, aku huat kamu tidak bisa jalan, biar kemana-mana sama aku." Jawab azam acuh.
Kalimat menakutkan macam apa itu, Trias melotot tajam.
"Awas aja kalau benar-benar buat aku ga bisa jalan !" Tegasnya mengancam.
"Mau apa memangnya ?" Azam menantang sembari mengecup wajah cantik Trias.
"Ga akan aku kasih jatah lagi."Jawab Trias seketika membuat Azam tertawa keras.
"Kamu dengar kata menakutkan itu dari mana, hm ?" Tanya Azam. Tangannya terus melakukan apapun yang ia mau di tubuh mungil yang baru semalam ia eksploitasi. Eh, eksploitasi ? Terserahlah, tangan nakalnya hanya ingin mengambil haknya bukan ?
"Aku baca di novel-novel dewasa." Jawab Trias.
"Pantes aja kamu udah pintar ya, ternyata hobi baca novel dewasa."
"Ayo cepat, jangan lama-lama di sana. Ngajak ngomong mulu dari tadi." Kesal Trias.
"Aku mau buat anak aku di sofa." Azam mengangkat tubuh setengah terbuka yang terlentang di atas sofa, lalu membawa nya masuk ke dalam ruangan lain yang ada di dalam ruangan itu.
"Kok bisa ada ranjang di sini ?" Tanya Trias sembari mengedarkan pandangan takjubnya di sekeliling ruangan yang terbilang mewah untuk ukuran sekecil ini.
"Ga usah banyak bicara. Tadi di suruh cepat-cepat."
****
__ADS_1