
"Kamu gila !" Teriak Adelia saat Nara memintanya untuk menggunakan taksi saja, karena Nara dan Alfaraz harus pergi ke suatu tempat. "Pergilah, dan akan aku pastikan Kakak ga akan di izinkan Papa untuk bawa mobil lagi ke kampus." Ancam Adelia. Kali ini gadis cantik itu sudah menatap tajam ke arah Kakaknya yang semakin hari semakin di buta kan oleh Nara.
"Kita antar Adelia dulu." Putus Alfaraz tanpa ingin di bantah.
"Terserah." Ujar Nara kesal. Gadis itu masuk ke dalam mobil, lalu membanting pintu mobil itu dengan keras.
"Ini bukan mobil Kakak ku, tapi milik orang tuaku. Dan yah kamu tahu, aku dan orang tuaku sangat tidak menyukaimu. Jadi jangan membanting pintu mobil semau kamu." Kesal Adelia."Hati-hati tuh tangan, rusak nanti kamu ngga akan mampu menggantinya." Ujarnya lagi.
"Dengarin tuh, adik kesayangan kamu ngomong." Ujar Nara.
"Udahlah Dek, ga usah ribut kenapa." Ucap Alfaraz pada adiknya.
Adelia mendengus kesal, ia merogoh ponselnya dari dalam kantong kemeja, lalu memainkannya. Menghindari tayangan live di depannya yang semakin membuat ia jengah.
"Siswa zaman sekarang, belajar enggak, pacaran iya." Gumam Adelia menyindir.
Terlebih melihat gadis yang kini sedang bergelayut manja di lengan sang Kakak, membuat Adelia jijik. Entah dari sudut mana hingga membuat Kakaknya jatuh cinta dengan gadis seburuk Nara.
***
"Pamit dulu sama Bunda." Ujar Adelia memperingati sang Kakak yang hendak kembali melanjutkan mobilnya, setelah berhenti di depan rumah.
Alfaraz membuka pintu mobil di sampingnya, lalu ikut masuk bersama Adelia menuju rumah mewah yang ada di hadapan mereka.
"Aku ga tahu apa yang membuat Kakak begitu menyukai Nara. Ada banyak gadis baik di sekolahku Kak, dan Nara bukanlah salah satunya." Ucap Adelia, setelah ia dan Alfaraz sudah menjauh dari mobil tempat Nara berada.
"Hati ga bisa di paksa harus menyukai siapa Dek. Jika tidak bisa membantu, setidaknya jangan memperumit." Ucap Alfaraz putus asa.
"Terserah deh, aku kenal Nara sejak pertama kali masuk ke sekolah itu. Dan aku yakin dia bukan gadis yang baik seperti yang Kakak pikirkan saat ini." Ujar Nara memperingati.
"Assalamualaikum Bun." Ucap keduanya saat memasuki rumah.
Adel segera mencium punggung tangan sang Bunda, begitupun Alfaraz.
"Papa mana Bun ?" Tanya Adelia.
"Hari ini pulang telat katanya, ada pekerjaan yang mendadak." Jawab Farah pada putrinya.
Adelia mengangguk, lalu pamit menuju kamar tidurnya.
"Bun, aku mau jalan sama teman. Boleh ya ?" Izin Alfaraz.
__ADS_1
"Teman siapa ?" Kali ini Farah sudah menatap lekat wajah putranya yang terlihat ingin mengutarakan sesuatu, tetapi ragu.
"Sama Nara." Jawab Alfaraz pelan.
Farah menarik nafasnya dalam-dalam.
"Gadis itu masih sangat mudah Al, apa ga ada gadis yang bisa kamu kencani di kampus ?"
"Tapi Al sukanya sama Nara Bun." Ucap Alfaraz memelas.
"Al Bunda khawatir terjadi apa-apa, sementara gadis itu masih sangat mudah."
"Bunda ga percaya m, Al bisa menempatkan diri kok Bun, ga akan sejauh itu." Mohon Alfaraz lagi.
"Baiklah, hati-hati. Jangan macam-macam, Papa akan marah nanti. Sebelum makan malam sudah harus kembali, jangan sampai Papa sudah pulang, dan kamu belum tiba di rumah. Bunda ga suka ribut-ribut." Ujar Farah memperingati. Anak lelakinya itu mengangguk mengiyakan, lalu keluar dari rumah, usai mengecup pipinya.
Farah ikut melangkah menuju depan, melihat gadis yang masih seumuran putrinya itu dengan seksama. Raut wajah yang tidak asing menurutnya, namun, ia kembali membuang segala pikiran buruk itu, pasalnya sudah belasan tahun mereka tidak lagi pernah bertemu.
Setelah mobil putranya tidak lagi terlihat, Farah kembali masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya.
***
"Kakak sudah pergi ya Bun ?" Tanya Adelia. Gadis itu melangkah mendekati Bundanya yang sedang memikih-milih sayuran yang tidak bisa lagi di masak dari dalam kulkas.
Gadis yang kini berusia delapan belas tahun itu, ikut duduk di atas lantai dan membantu memilih sayuran yang tidak lagi segar dan mengeluarkannya dari dalam lemari pendingin.
"Bunda, aku mau kuliah hukum nanti."
Farah menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menatap gadis yang begitu mirip dengan suaminya.
"Bagus kok, apa aja bagus sayang. Pendidikan semuanya bagus, yang paling penting itu kita bisa memilih pendidikan sesuai kemampuan otak kita." Jawab Farah.
"Bukan itu maksud Adel, Bunda kan dulu kuliahnya hukum, nah Adel juga mau "
Farah tertawa lucu melihat tampang horor putrinya.
"Ya iya, bagus. Adel bebas kok pilih kuliah apa aja. Bunda dan Papa siap dukung." Jawab Farah.
"Tapi kenapa Kakak harus di tentukan Bun ?" Tanya Adelia.
"Kakak kamu punya tanggung jawab yang besar sayang, Papa kan ngga bisa selamanya ngurus perusahaan. Dan yang bertanggung jawab mengurus selanjutnya, ya Kakak kamu." Jawab Farah menjelaskan. "Lagi pula Kakak kamu kan emang sukanya bisnis, Bunda dan Papa hanya menwarkan tapi tidak akan memaksa. Namun, karena Kakak Al bersedia, ya Alhamdulillah." Sambung Farah.
__ADS_1
***
Di pelataran apartemen, Alfaraz masih duduk diam di dalam mobil. Ia menunggu gadis yang sudah beberapa puluh menit yang lalu masuk ke alam bangunan, tapi belum juga menampakkan diri.
Baru saja ia hendak menghubungi nomor Nara, gadis itu sudah melangkah keluar dari dalam apartemen dan masuk ke dalam mobil.
"Kenapa pakai baju seperti ini ? Ada acara apa ?" Tanya Alfaraz.
"Loh tadi kan aku udah bilang, kita mau ke acara ulang tahun sahabatku." Jawab Nara.
"Kamu belum bilang. Terus ga apa-apa aku hanya pakai baju seperti ini ?" Tanya Alfaraz.
"Kak Al udah tampan kok, ayo let's go." Ajak Nara.
Alfaraz ikut tersenyum melihat gadis yang begitu ceria di sampingnya, lalu melajukan mobilnya menuju tempat yang akan menjadi tujuan mereka hari ini.
Tidak lama, mobil mewah yang di kendarai Alfaraz akhirnya tiba di salah satu restoran tempat di adakan nya acara. Terlihat seluruh restoran memang sudah di dekorasi sedemikian rupa.
Keduanya melangkah masuk, namun, Nara segera meminta izin untuk pergi ke toilet saat tidak sengaja melihat tubuh seseorang di ujung sana.
Alfaraz mengangguk mengiyakan, kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju salah satu meja yang kosong di ujung sana.
"Kamu ngapain di sini Al ?" Tanya seseorang.
Alfaraz mendongak, menatap wanita cantik yang begitu ia kenali kini duduk di meja yang sama dengannya.
"Oh aku sedang menemani pacarku." Jawabnya. "Mbak Liana sendiri ?"
"Oh ini acara ulang tahun adik teman aku di Firma Hukum Papa." Jawab Liana. "Bunda kabarnya gimana Al ?" Tanyanya.
"Bunda sehat, Alhamdulillah."
"Alhamdulillah. Kalau gitu Mbak ke sana ya Al, sudah mau pulang." Pamit Liana.
"Kok cepat pulangnya ?"
"Nanti si Om Rehan marah." Ujar Liana sontak membuat keduanya terbahak.
"Iya, cocok banget si Om Rehan sama Om Zidan, kebalikan sama istri-istrinya. Marah-marah mulu Mbak." Adu Alfaraz.
Liana mengusap kepala pemuda yang sudah seperti adiknya sendiri itu.
__ADS_1
"Mereka terlalu menyayangi kita Al." Ucapnya.
Alfaraz mengangguk mengerti, lalu membiarkan wanita yang selalu menempel dengan Bundanya itu berlalu dari meja tempat ia berada.