Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 67


__ADS_3

Farah mengelilingi rumah yang baru mulai mereka tempati hari ini dengan pandangannya. Senyum manis masih terukir di bibirnya, ini jauh dari lebih baik dari apa yang ia pikiran. Hanya dengan waktu satu hari, suaminya mampu menyiapkan semua ini dengan begitu baik.


Di awal kepindahan, mereka sudah menciptakan kenangan indah dan menyenangkan di dalam kamar yang akan menjadi tempat ternyamannya bersama Zidan.


Farah bersemu, ini pertama kalinya ia merasa sebahagia ini usai melakukan aktivitas di atas ranjang bersama suaminya itu. Biasanya, setelah melakukan hal menyenangkan untuk semua pasangan suami istri itu, ia akan menangis pilu karena di tinggalkan. Namun hari ini, Zidan memeluknya hingga terlelap di ranjang yang sama dengannya.


Farah menyudahi pikiran liar yang masih saja membuat pipinya bersemu malu, lalu melanjutkan langkah kakinya menuju dapur. Yah dapur, ini akan menjadi favoritnya mulai sekarang. Angan yang selama ini hanya tersimpan rapat di dalam pikirannya, akan ia wujudkan di rumah ini.


Menyiapkan makanan sehat untuk suami dan anak-anak nya tanpa terbebani dengan apapun. Karena mulai hari ini, dialah yang akan memiliki dapur ini sepenuhnya.


Tidak ada lagi kata milik kita, mulai sekarang hanya ada miliknya. Ah jahat sekali dirimu Farah, terserahlah. Yang jelas mulai hari ini semuanya adalah miliknya, hanya miliknya !


Farah kembali mengedarkan pandangannya, semua peralatan memasak sudah tertata rapi di tempatnya masing-masing. Detail dan sangat lengkap, begitulah yang ada di pikirannya saat ini.


Ini di luar ekspektasi nya, semua yang Zidan siapkan hari ini, lebih dari yang ia harapkan. Di waktu yang sesingkat ini, Zidan masih menyediakan yang terbaik untuknya.


Farah menyentuh meja makan dengan jemarinya. Lalu berpindah pada meja kecil yang berdekatan dengan tempat memasak. Alat pembuatan jus dan pemanggang roti lengkap tertata rapi di atas meja kecil itu.


Farah kembali melanjutkan langkahnya menuju satu buah kulkas dengan ukuran besar yang ada di sana. Dengan hati-hati ia membuka lemari pendingin itu, dan tebakannya kembali benar. Berbagai buah, sayuran segar serta daging dan bahan makanan lainnya sudah tertata rapi di dalam sana.


Farah berpikir sejenak ,menu apa yang akan ia masak hari ini. .


"Ini sangat menyenangkan." Gumamnya.


Dengan harti-hati, ia mulai mengeluarkan beberapa bahan makanan yang akan ia masak untuk makan siang hari ini. Satu kotak daging ayam, juga beberapa macam sayuran mulai ia keluarkan dari dalam kulkas, lalu membawanya ke wastafel untuk ia cuci bersih.


"Saya pikir Non Farah sedang tidur siang." Suara asisten rumah tangga, membuat Farah menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu membalik tubuhnya menatap wanita paruh baya yang sedang melangkah mendekat ke arahnya.


"Ngga ngantuk Mbok." Jawabnya.


"Ada yang perlu saya bantu ?"


"Tolong potong-potong wortel dan kentang ini seperti biasa ya Mbok, buat bikin sup untuk Al." Ujar Farah


Wanita yang sudah seumuran Ibu mertuanya itu mengangguk mengerti. Keduanya kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing Menyiapkan bahan makanan yang akan di masak untuk makan siang.

__ADS_1


***


Di dalam kamar, Zidan meraba-raba ranjang di sampingnya. Dan seketika matanya terbuka lebar, saat mendapati ranjang di sampingnya itu kosong tak berpenghuni. Lalu kemana wanita yang ia cintai itu.


"Ra.." Panggilnya. Namun, tidak ada sahutan dari istrinya.


Zidan bergegas turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak membutuhkan waktu lama, tubuh yang hanya terbungkus handuk itu keluar dari dalam kamar mandi lalu melangkah cepat menuju ruang ganti.


Zidan tidak bisa menahan senyum bahagianya, saat mendapati pakaian yang sudah siap tersedia di dalam ruang ganti. Ia meraih kaos rumahan dan celana pendek selutut itu, dan bergegas mengenakkannya.


Tentu saja harus cepat, tidak melihat Farah di dalam kamar ini saat ia bangun, sudah membuat ia rindu saja.


"Dasar." Pukul Zidan di kepalanya sendiri.


Dengan langkah cepat, Zidan menapaki satu per satu anak tangga menuju kamar tidur putranya. Farah pasti berada di kamar saingan kecilnya itu, begitulah yang bersarang di otaknya.


Sampai di depan kamar Al, Zidan membuka pintu kamar itu dengan hati-hati. Terlihat putranya sendirian, sambil mengerjap perlahan. Mungkin saja mata indah mirip Farah itu, terganggu karena suara pintu yang terbuka.


"Appa." Ucap Al dengan suara menggemaskan.


"Unda ?" Ucap Al lagi.


"Kita cari Bunda, tapi Al mandi dulu ya." Bujuk Zidan.


Bocah laki-laki itu mengangguk patuh.


Zidan segera membantu putranya bangun dari atas ranjang, lalu membawa tubuh menggemaskan itu ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.


Tidak lama, biarlah mandi bebek namanya. Zidan ingin segera menemukan wanita yang kini bersarang di otaknya.


Al sudah rapi, Zidan masih menyisir rambut putranya dengan hati-hati agar tidak menyakiti kepala mungil itu.


"Tampan sih, tapi masih lebih tampan Papa." Ujarnya.


Alfaraz hanya menatap wajah sang Papa dengan mata polosnya yang sesekali berkedip menggemaskan.

__ADS_1


"Let's go kita cari Bunda." Ucap Zidan lagi


Ia membawa putranya ke dalam pelukan, kemudian keluar dari kamar itu dengan penuh semangat. Semangat untuk mencari wanita yang mungkin sedang membalas dendam dan meninggalkan dirinya sendiri di dalam kamar usai melakukan aktivitas panas yang akan menjadi kesukaannya.


Tidak ada ruangan lain yang ingin ia tuju, hanya dapur. Wanita yang tidak hanya memenuhi hati tetapi juga otak nya itu pasti sedang berada di sana.


Dan yah, benar saja. Itu dia, wanita yang masih mengenakkan apron untuk menutupi tubuh bagian depannya itu, sedang mengitari tempat alat-alat tempur dapur dengan seksama.


"Aku cariin kirain kemana." Ujar Zidan.


Lelaki itu sudah berdiri di dapur bersama Al dalam pelukannya.


"Kamu suka ?" Tanyanya lagi


Farah mengangguk


"Aku sangat menyukainya Mas. Terimakasih." Ucap Farah. Ia menatap lekat wajah sang suami yang sedang tersenyum hangat padanya.


"Sini." Pinta Zidan sembari merentangkan sebelah tangannya.


Farah melepaskan apron yang terpasang di tubuhnya, lalu melangkah mendekati dua lelaki yang paling berharga dalam hidupnya. Mengecup pipi Alfaraz dengan sayang, lalu masuk kedalam dekapan hangat suaminya.


Zidan mencium kepala Farah berulang kali.


"Aku senang kamu menyukainya." Ucap Zidan


Farah semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Nyaman, ini sangat nyaman. Hanya saja dulu ia begitu sulit merasakan dekapan nyaman ini.


"Aku akan menyediakan rumah yang baru nanti, yang jauh lebih nyaman dari ini. Untuk kamu dan anak-anak kita." Ucap Zidan.


Farah menggeleng


"Aku ingin yang ini Mas. Tidak perlu menyiapkan apapun lagi. Aku hanya ingin di rumah ini bersama kamu dan anak-anak kita." Jawabnya.


Zidan mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Tidak perlu mewah, yang terpenting hangat dan nyaman. Rumah yang mewah tidak selamanya nyaman, kerena pernikahan tidak selamanya tentang materi, meskipun terkadang materi adalah salah satu hal yang paling penting dalam pernikahan.


__ADS_2