Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 98 Season 2


__ADS_3

Mentari pagi yang begitu menyegarkan, sudah mulai beranjak dan berganti terik yang membakar.


Yana baru saja menyelesaikan pemeriksaan laporan keuangan seperti biasanya, dan meminta Gerald untuk segera membuat print out nya. Sementara Vivi bertugas untuk membawa laporan itu ke ruangan direktur. Ia memang tidak membuat, karena itu tugas dari rekan-rekannya yang lain. Tugasnya hanya memeriksa jika ada digit angka yang salah dan memperbaikinya.


Setelah kembali memasuki ruangannya, Yana berdiri sejenak di samping tempat sampah. Ia menatap pigura itu dengan hati yang kembali berdenyut sakit. Foto kenangan saat mereka baru menikmati masa-masa indah sebagai pengantin baru.


Reno tidak pernah sekalipun berlaku buruk terhadapnya, lelaki itu selalu memastikan dirinya bahagia. Namun kini, luka yang ia rasakan, tidak lain adalah pemberian laki-laki itu.


"Bu." Panggil Vivi pelan.


"Iya ada apa Vi ?" Tanya Yana.


"Mau makan siang bareng di luar ga ? Gerald yang traktir." Ujar Vivi.


"Ga usah Vi, saya harus pulang sebentar dan makan siang di rumah." Jawab Yana.


"Baiklah kalau begitu." Vivi hendak menutup pintu, namun, gadis itu mengurungkan niatnya.


"Bu,


Yana menatap heran pada gadis yang kini berdiri sambil menahan pintu ruangannya agar tidak tertutup.


"Jika butuh seseorang yang ingin di ajak bicara, saya bisa kok Bu." Ujar Vivi.


"Saya baik-baik saja Vi."


"Tidak ada satu wanita di dunia ini yang akan baik-baik saja setelah bercerai. Mama saya sering menangis di dalam kamar, beliau menyembunyikan luka sekian tahun hingga akhirnya luka itu berhasil membawanya pergi dari hidup saya." Jelas Vivi. Gadis dengan rambut sebahu itu masih menatap lekat atasannya yang sudah terdiam.


"Berbagilah dengan seseorang Bu, meskipun luka itu masih akan tetap ada, tapi rasa sakitnya pasti akan berkurang setelah kita mencurahkan segalanya." Ujar Vivi lagi.


"Saya ikut makan siang." Ujar Yana.


Vivi tersenyum mendengar Yana menyetujui permintaannya untuk makan siang bersama.


"Sebentar saya menelpon ibu saya dulu." Izin Yana.


Vivi mengangguk, kemudian memutuskan untuk menunggu Yana di depan saja.


***


"Kalian di mana sih ?" Tanya Yana.

__ADS_1


Wanita itu melangkah keluar dari dalam lift, dan terus berjalan menuju lobi dimana rekan-rekannya berada.


Disaat yang sama, Alfaraz dan Mia, baru saja melangkah masuk ke alam kantor. Yana terdiam sejenak, ia melihat rekan-rekannya sedang menyapa orang yang terlihat tidak asing di matanya.


"Si tukang selingkuh." Gumamnya saat ingatannya sudah mampu mengingat siapa lelaki sok cool di ujung sana.


"Selamat siang Pak." Sapa Vivi dan kawan-kawannya.


Alfaraz mengangguk membalas sapaan dari para karyawan, lalu terus melanjutkan langkah menuju lift khusus direktur.


Yana terus melanjutkan langkahnya menuju teman-teman yang lain, tanpa menghiraukan Alfaraz yang sudah menghentikan langkah dan menatap tubuhnya berlalu dari sana.


"Itu Ibu Yana Pak, penanggung jawab divisi keuangan." ucap Mia menjelaskan.


Alfaraz mengangguk, lalu kembali melangkah masuk ke dalam lift saat Yana dan karyawan yang sempat menyapa dirinya tadi sudah keluar dari gedung perusahaan.


"Mia." Panggil Alfaraz.


Wanita berhijab itu menghentikan langkahnya yang hendak kembali menutup pintu ruangan Direktur.


"Apa Ibu Yana itu sudah menikah ?" Tanya Alfaraz.


"Iya, sepertinya sudah sangat lama." Jawab Mia.


"Sama-sama Pak, kalau begitu saya permisi." Pamit Mia.


Alfaraz mengangguk, lalu melangkah menuju meja kerjanya.


"Permisi Pak." Suara Mia dari pintu balik pintu ruangan membuat Alfaraz kembali mengalihkan tatapannya dari benda lipat yang ada di atas meja kerjanya. Lelaki itu masih diam, dan menunggu apa yang ingin di sampaikan oleh wanita yang masih berdiri di ambang pintu ruangannya.


"Mbak Yana, eh maksud saya Bu Yana baru saja bercerai dari suaminya., dan mengganti statusnya di bagian personalia hari ini." Ujar Mia.


Alfaraz masih diam, ia masih menunggu cerita selanjutnya yang akan di jelaskan oleh sekretaris nya ini.


"Suaminya menikah lagi, dan Bu Yana memilih untuk bercerai." Sambung Mia.


"Pantas saja.." Gumam Alfaraz.


"Ada apa Pak ?" Tanya Mia.


Alfaraz menggeleng, lalu meminta sekretarisnya itu utntuk kembali bekerja.

__ADS_1


***


Waktu pulang adalah waktu yang paling di tunggu oleh semua karyawan. Yana sudah berdiri di samping mobilnya yang masih terparkir, menunggu lelaki paruh baya yang menyelesaikan pekerjaannya.


"Sudah Pak ?" Tanya Yana saat melihat petugas kemanan yang bernama Pak Amin itu sudah melangkah mendekati mobilnya.


"Sudah Bu." Jawab Pak Amin sopan.


"Ayo kita berangkat sekarang." Ajak Yana. Lelaki paruh baya itu mengangguk patuh, lalu ikut masuk ke dalam mobil.


Di tempat yang sama, Alfaraz yang hendak melajukan mobilnya, masih terhenti di pelataran kantor. Ia ingin meminta maaf soal kejadian di restoran dua hari yang lalu, namun, melihat banyak karyawan lain yang juga berada di sana, membuat Alfaraz kembali mengurungkan niatnya. Biarlah, toh setelah ini mereka masih punya banyak waktu.


Alfaraz masih diam di dalam mobil, menatap Yana yang sudah masuk ke dalam mobil dan keluar dari pelataran bersama petugas keamanan. Setelah mobil Yana tidak lagi terlihat, barulah ia melajukan mobil mewahnya menuju rumah.


Yana, entah mengapa wanita itu membuat dirinya terpengaruh. Sejak pertama kali melihat wanita itu di depan ruangan sang Papa hampir satu bulan yang lalu, sudah membuat sedikit terganggu.


Jalanan padat saat jam pulang kerja sudah tidak asing lagi di kota metropolitan ini. Alfaraz masih melajukan mobilnya perlahan, menuju rumah. Waktu yang lumayan banyak hanya di habiskan di tengah jalan, tapi memang seperti inilah kenyataannya.


Pintu gerbang kediaman Prasetyo terbuka perlahan, lalu di iringi kalimat mempersilahkan dari lelaki yang tidak lagi semuda dulu, dan tidak lupa pula Alfaraz menjawab dengan kata terimakasih seperti biasnya.


Baru saja hendak melangkah masuk ke dalam rumah, Alfaraz sudah di hadang oleh wanita yang masih mengenakkan stelan formal khas pengacara, dengan tatapan tajam mengintimidasi.


"Ada apa lagi Dek ?" Tanyanya pada gadis cantik berhijab di hadapannya.


"Kak Al bisa ga sih jangan nambah-nambah kerjaan aku dulu." Ucap Adelia dengan tangannya yang terlipat di dada sembari menatap tajam sosok tampan yang juga sedang menatapnya tidak mengerti.


"Ada apa lagi ?" Tanya Alfaraz lalu menarik tangan adiknya masuk ke dalam rumah.


Saat langkahnya memasuki ruangan keluarga, ia sudah di hadapkan dengan wanita cantik lainnya dan tatapan masih saja setajam pisau di dapur.


"Ada apa sih Bun ?" Tanya Al. Ia membawa tubuhnya dan duduk di samping wanita paruh baya yang masih saja cantik dan manja pada sang Papa itu.


"Kamu tuh kalau mau menyelesaikan masalah dengan Nara, jangan membawa-bawa wanita lain." Omel Farah.


"Maksud Bunda apa sih ? Al ga ngerti." Tanya Alfaraz.


"Nih."


Adelia menyodorkan tab nya pada sang Kakak.


"Kok bisa ?" Tanya Alfaraz tidak percaya.

__ADS_1


"Wanita ini kliennya Rey, dan dia baru saja bercerai dengan suaminya. Kakak nambah-nambah masalahnya aja tahu nggak." Omel Adelia.


"Kan sudah bercerai, cocok tuh kalau di jadikan istri." Celetuk Alfaraz dan langsung mendapat tabokan dari sang Bunda.


__ADS_2