Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 131 Season 2


__ADS_3

Pagi yang begitu menyenangkan setelah beberapa bulan di penuhi air mata, kini senyum bahagia seakan tidak mau pergi dari wajahnya.


Zyana kembali menatap sarapan pagi yang sudah ia siapkan di atas meja makan. Hanya menu sederhana, karena memang ia belum sempat berbelanja untuk kebutuhan mereka di rumah baru ini.


Yana menatap penampilannya sebentar. Stelan kantor yang begitu pas di tubuhnya, terlihat begitu cantik. Entah bagaimana cara Alfaraz menyiapkan semuanya sebaik ini, yang pasti ucapan penuh syukur tak pernah lupa ia gumamkan di dalam hati, karena Allah sudah memberinya laki-laki sebaik Alfaraz. Senyum manis masih terlihat di bibirnya. Ia lantas membawa langkah kakinya menuju kamar tempat suaminya berada.


Setelah memasuki kamar, lelaki yang ia tinggal masih terlelap di atas ranjang sudah tidak lagi berada di sana. Hanya suara gemercik air yang terdengar jelas dari dalam kamar mandi.


Zyana melangkah mendekati ranjang, lalu menarik bedcover yang sudah tidak berbentuk karena habis di gunakan semalaman, dan berniat menggantinya dengan yang baru.


"Ah dasar otak mesum." Rutuk nya pada diri sendiri, saat kegiatan panas mereka semalam kembali menghiasi otaknya.


"Kamu mau kerja ?" Tanya Alfaraz dari ambang pintu yang sudah terbuka. Lelaki itu menatap heran tubuh istrinya yang sudah terlihat rapi dan menggoda pagi ini. Ah, sial sesuatu di bawa sana kembali membuatnya tidak nyaman. Ini bukan pertama kalinya ia melihat Yana berpakaian seperti ini, selama beberapa bulan di kantor, penampilan Yana memang seperti ini. Tapi mengapa pagi ini begitu mengganggu. Ingin rasanya ia kembali menggulung istrinya didalam bedcover yang sudah tidak berbentuk itu.


Yana menghentikan kegiatannya, lalu menolah pada tubuh kekar yang hanya terbalut handuk putih milik Alfaraz, dan itu berhasil membuat pipinya semakin memerah. Ia segera mengalihkan tatapannya, lalu mengangguk mengiyakan pertanyaan dari suaminya.


Setelah melepaskan kain tebal berwarna putih dari ranjang, ia melangkah masuk menuju ruang ganti untuk menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya serta mengambil bedcover baru dari dalam sana.


"Kita masih punya waktu empat hari lagi Sayang." ujar Alfaraz ikut melangkah masuk ke dalam ruang ganti.


"Aku tidak akan lama kok di kantor, kamu di rumah aja. Ada sesuatu yang penting yang harus aku selesaikan." Ujar Yana.


Ia memilih pakaian rumahan yang akan di kenakan oleh Alfaraz. lalu melangkah menuju lemari penyimpanan selimut dan lain sebagainya.


"Al.." Teriak Yana saat tubuhnya sudah terduduk di atas meja yang ada di dalam ruang ganti.


"Al sudah dong, semalam kan udah, aku harus pergi kasian Vivi menunggu." Sambungnya masih dengan nada memelas.


Namun, tangan nakal suaminya seakan tidak perduli dengan rengekannya itu, dan justru semakin jail. Beberapa kancing kemeja berhasil terlepas, menampakkan kulit mulus berbalut kain berenda, dan semakin membuat Alfaraz tidak bisa menahan diri.


"Sayang.." Yana kembali merengek saat bibir suaminya sudah mulai menelusuri tubuh bagain depan miliknya.


Alfaraz melepaskan istrinya setelah berhasil meninggalkan jejak keunguan di sana.


"Jangan pakai baju yang seperti ini di kantor." Perintahnya.


Yana menatap heran laki-laki yang masih memeluk pinggangnya erat.


"Terus aku pakai baju yang seperti apa ? ga mungkin kan aku pakai lingerie ke kantor." Ujar Yana tidak terima. Suaminya mulai menerapkan peraturan aneh, dan itu membuat kepalanya pusing.


"Tunggu sini sebentar, ingat jangan kemana-mana." Perinta Alfaraz tanpa memperdulikan kalimat protes dari istrinya. Ia melangkah keluar dari ruang ganti, menuju ranjang.


"Mia tolong temui Vivi, dan selesaikan permasalahan yang harus membuat istriku keluar rumah hari ini." Perintahnya pada seseorang yang sudah terhubung di ponselnya.

__ADS_1


Setalah mendapatkan jawaban Iya dari sekretarisnya, Alfaraz kembali melangkah masuk ke dalam ruang ganti.


Alfaraz berdecak kesal saat melihat istrinya sudah turun dari atas meja, dan sedang bersiap melangkah keluar dari ruang ganti sambil memeluk kain tebal berwarna abu-abu.


"Sini ngga." Ujar Alfaraz kesal.


Yana masih memeluk bedcover dan menjauh mengelilingi meja yang ada di dalam ruangan itu.


"Sudah dong sayang, kamu ngga capek apa ?" Pinta Yana masih terus melangkah menjauh dari Alfaraz.


Alfaraz melangkah menuju pintu ruang ganti, lalu menutupnya. Ia berdiri di depan pintu itu menunggu istrinya datang mendekat dengan sendirinya.


"Sayang kan semalam sudah. Kita harus sarapan dulu, kamu ngga lapar ?" Rengek Yana. Ia masih memeluk bedcover sambil menjaga jarak dari Alfaraz.


"Aku mau sarapannya kamu." Jawab Alfaraz acuh.


Yana melotot tajam


"Ngga mempan, sudah ku bilang. Setelah menikah, aku pemimpin dan kamu harus patuh." Ujar Alfaraz.


"Kamu menipuku ya." Tuduh Yana.


Alfaraz tertawa lucu.


"Gila ya. Mesum banget sih pagi-pagi." Kesal Yana.


Alfaraz melipat tangannya di dada, ia yakin sebentar lagi istrinya pasti akan mengalah dan dia yang akan memenangkan peperangan pagi ini.


"Sayang..." Yana melangkah perlahan, masih dengan jurus membujuk agar dirinya bisa keluar dari ruangan ini dengan pakaian lengkap tanpa kurang sehelai pun.


Alfaraz masih bergeming, di sertai senyum licik di bibirnya.


"Al..."


Kancing kemeja yang melekat di tubuh Yana, jatuh berhamburan di atas lantai. Tubuhnya sudah kembali terduduk di atas meja, dengan rok selutut yang sudah tidak berbentuk lagi.


"Sayang kita belum sarapan." Yana masih mencoba mencari peruntungan.


"Makanan bisa menunggu, aku ngga bisa. Salah sendiri kamu terlihat menggoda." Jawab Alfaraz. Tangan dan bibirnya sama-sama bekerja dengan baik.


Yana tidak lagi berusaha membuat aktivitas panas ini berhenti, karena itu sangatlah percuma.


"Jangan lama-lama." Ucapnya memperingati. Ah sensai yang selalu saja tidak mampu ia tolak, mulai terasa. Dan ia memilih untuk menikmatinya.

__ADS_1


Alfaraz tidak mengindahkan, ia hanya terus melakukan apa yang ingin dia lakukan. Menikmati tubuh yang sudah membuatnya candu, sesuka hatinya di dalam ruang ganti.


***


Bedrobe putih masih membungkus di tubuh Yana dan handuk kecil berwarna putih, membalut rambut panjangnya. Ia berdiri sambil berkacak pinggang, dan menatap tajam Alfaraz yang sedang merapikan ranjang mereka.


"Itu masih kusut." Tujuk Yana pada sudut ranjang yang menurutnya tidak rapi.


"Aku ngga bisa melakukannya sayang." Bujuk Alfaraz.


"Bodoh amat. Cepat pasangkan dengan rapi." Perintah Yana masih dengan wajah kesal.


"Jatah malam ini sudah kamu ambil ya. Tubuhku mau remuk ini, sebentar lagi aku pasti akan terkena osteoporosis." Omel nya masih dengan wajah kesal.


"Makanya jangan godain aku terus." Jawab Alfaraz setelah berhasil merapikan tempat tidur yang sudah ia acak-acak semalam.


"Mata kamu aja yang nakal, jelalatan. Awas aja nakal juga sama wanita lain." Yana melangkah menuju ruang ganti.


Kepalanya menggeleng tidak percaya saat melihat stelan kerjanya sudah berserakan di atas lantai.


Ia melangkah keluar dari ruang ganti.


"Ada apa lagi ?" Tanya Alfaraz frustasi.


"Beresin itu." Perintah Yana.


"Itu apa ?" Alfaraz melangkah mendekati istrinya, lalu menggaruk tengkuknya saat melihat pakaian kerja yang tadi melekat di tubuh Yana sudah berhamburan di atas lantai.


"Jangan mau enaknya aja kamu, beresin sampai rapi." Ujar Yana, lalu kembali melangkah menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian ganti untuknya.


****.


*Note Author


Hai para pembacaku yang tersayang 🥰🥰


Menggenggam Janji sudah publish yaa 😊 Silahkan mampir, jangan lupa tekan ❤️


Dan jangan lupa meninggalkan jejak, like dan komentarnya yaa 🙏🥰


Jika ada yang bermurah hati memberikan bunga atau kopi aku akan sangat berterimakasih lagi.


Love kalian semuanya ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2