
Di sebuah rumah mewah di tengah kota Jakarta, seorang gadis yang baru saja di tampar oleh Ayahnya sedang tertunduk dalam di tengah ruangan sambil mendengarkan kalimat-kalimat penuh kemarahan yang terus meluncur dari bibir laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.
"Apa kamu begitu bodoh ha ! Papa sudah mengingatkan kamu berulang kali, untuk menjauhi anak laki-laki keluarga Prasetyo, agar tidak ikut-ikutan menjadi wanita murahan seperti Nara, tapi kamu terus saja menggilainya."
Melisa bergeming. Kepalanya semakin tertunduk dalam, hingga beberapa saat kemudian wanita paruh baya datang bersama satu buah koper di tangannya.
"Kamu harus berangkat malam ini juga. Jika mereka mengetahui kamu terlibat dalam insiden itu, maka ceritanya akan semakin panjang. Kasus kematian seseorang di masa lalu akan kembali mencuat kepermukaan." Tegas lelaki paruh baya itu lagi.
Melisa hanya mengangguk patuh. Ia lalu meraih koper itu dari tangan ibunya dan bersiap pergi dari kota tempat tinggalnya selama puluhan tahun ini. Sungguh, ia tidak menyangka jika cintanya terhadap Abizar mampu membuat hatinya buta, hingga menghalalkan segala cara untuk memisahkan lelaki yang ia cintai dengan gadis yatim piatu itu.
"Papa tolong urus anak dari penata rias itu." Pintanya sebelum keluar dari rumah mewah milik orang tuanya.
"Dasar bodoh !" Kesal lelaki tua itu dengan wajah memerah penuh amarah.
Kejadian yang merenggut nyawa wanita paruh baya beberapa puluh tahun silam kembali terbayang.
"Pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali. Dasar anak bodoh ! Bisanya kamu meninggalkan masalah besar dalam hidupku."
"Pa..
"Diam kamu ! Inilah hasil didikan kamu selama ini. Lihatlah putri mu ini. Yah dia benar-benar mirip dengan wanita murahan itu. Kelakuan murahannya ini mengingatkan aku pada Papa yang sudah berani menanam benih di rahim wanita lain dan melukai ibu ku."
Melisa tidak lagi mendengarkan segala caci maki yang terus keluar dari bibir sang Papa. Ia mengayunkan langkah kakinya menuju pintu utama dan bersiap keluar dari rumah itu, agar bisa memulai hidupnya uang bari di tempat lain.
Tapi sayang, semua tidak semulus seperti yang ada di dalam pikirannya. Sepasang suami istri yang memang sudah menjalankan penelusuran mereka lebih jauh tentang keluarganya, kini sudah berdiri di depan rumah dengan beberapa orang dari petugas kepolisian.
Melisa hanya bisa berdiri dengan wajah pucat pasih. Tangannya yang sedang menggenggam koper, terlepas perlahan. Kini ia tidak lagi bisa melakukan apapun, terlebih seoang anak kecil yang ia jadikan alat untuk mengancam sudah berada dalam pelukan seseorang yang tidak ia kenal. Itu berarti, orang-orang suruhannya sudah ikut tertangkap, dan bersiap memberikan kesaksian terhadap dirinya.
Sepasang suami istri paruh baya ikut melangkah menuju pintu utama. Sama seperti Melisa, dua orang itu seketika memucat saat melihat orang-orang yang kini berdiri di hadapan mereka.
__ADS_1
Yah,,, riwayatnya tamat. Kini tinggal menunggu bom waktu yang ia sembunyikan puluhan tahun lamanya, akan meledakkan dirinya sendiri.
Seorang petugas kepolisian membacakan surat penangkapan terhadap Melisa. Sedangkan untuk sepasang suami istri paruh baya, untuk sementara waktu di larang bepergian hingga penyelidikan selesai di lakukan.
Melisa tidak lagi menghindar, bahkan saat salah satu petugas kepolisian memakaikan borgol di kedua belah pergelangan tangannya, ia hanya tertunduk pasrah.
Sejujurnya, ia menyesal telah melakukan semua ini, dan membawanya pada kehidupan yang mengenaskan nanti. Semua cita-cita dan impiannya terkubur bersama dengan vonis nanti.
"Jangan bawa putriku, aku bersedia menggantikannya." Ujar lelaki paruh baya itu tiba-tiba.
Sudut bibir Danira tertarik sinis.
"Setiap orang yang bersalah, wajib mempertanggung jawabkan kesalahannya Pak. Dan sepertinya bapak pun harus mempersiapkan diri secepat mungkin." Ujarnya.
"Seorang Ayah wajib melindungi keluarganya." Ucap lelaki itu tegas.
"Nanti anda akan mendapat giliran untuk mempertanggung jawabkan sesuatu yang belum usai di masa lalu. Jangan khawatir, jika anda memang sangat ingin menikmati hotel prodeo, saya pasti akan segera mengabulkannya." Ujar Danira.
Danira dan Arion masuk ke dalam mobil, lalu meninggalkan rumah mewah itu. Sedangkan anak kecil yang baru saja mereka selamatkan, sudah di bawa pergi oleh petugas kepolisian menuju klinik di mana ibunya berada.
"Sudah lega ?" Tanya Arion.
"Sedikit." Jawab Danira. " Tapi belum puas sebelum memastikan lelaki itu ikut menemani putrinya di dalam penjara, agar mereka sadar jika tempat bagi orang-orang seperti mereka memang di sana." Imbuhnya sambil menatap kerlap-kerlip lampu-lampu yang berasal dari kenderaan yang ada di jalanan yang sama di mana mobil mereka sedang melaju.
"Aku punya kejutan, tapi izin ke Ayah dan Ibu dulu jika malam ini, kita tidak akan menginap di rumah." Ujar Arion.
"Apa kita akan menghabiskan waktu berkualitas di hotel ?" Tanya Danira antusias.
"Dasar mesum." Arion terkekeh mendengar kalimat penuh semangat dari bibir menggoda istrinya.
__ADS_1
"Tapi kamu suka kan ?" Danira mengedipkan mata berulang kali.
Arion semakin tertawa lebar.
"Istri idaman." Ucapnya.
Danira tersenyum, lalu segera merogoh ponselnya dari dalam tas dan bergegas menghubungi orang-orang yang memang tidak butuh izinnya.
"Jika Abi tahu akan hal ini, dia pasti akan sangat marah." Ucap Danira setelah memutuskan sambungan telepon dengan orang rumah.
"Kenapa Abi marah ?" Tanya Arion tidak mengerti.
"Tentu saja dia marah, masa iya dia yang pengantin baru tapi malah kita yang melakukan ritual malam pengantin." Jawab Danira sambil tertawa lebar.
"Kamu yakin kita bakal begituan" Ledek Arion.
"Yakinlah, mana tahan kamu menolak santapan lezat yang aku suguhkan nanti." Jawab Danira penuh percaya diri.
"Dasar." Arion tidak bisa membantah, karena semua yang di ucapakan istrinya memang benar adanya. Wanita yang sudah mememuhi seluruh hatinya ini, memang tidak mampu ia tolak ketika sudah berada di atas ranjang.
Setelah beberapa saat berkendara, Arion memasukan mobilnya ke dalam area parkir hotel berbintang yang Danira tahu adalah milik dari suaminya ini.
"Aku bosan main di hotel." Danira melipat tangannya di dada. Bibirnya manyun dan langsung mendapat ciuman panjang dari suaminya itu.
"Apa di dalam mobil saja ? Aku ga tahan lagi nih." Tawar Arion dengan wajah mesumnya.
"Maaf aku masih belum ingin di tangkap oleh petugas keamanan hotel milik suamiku." Jawab Danira lalu melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya, kemudian keluar dari dalam mobil itu dan masuk kedalam lobi hotel.
Sepertinya malam yang panjang akan mereka habiskan di sini malam ini. Kesuksesan nya dalam memecahkan kasus memang perlu di rayakan bukan ?
__ADS_1
Dan sepertinya merayakan keberhasilan, sambil berbagi selimut dan peluh di atas ranjang sangat menyenangkan.