
Restoran yang menyajikan hidangan laut menjadi pilihan merek untuk menikmati makan siang yang sudah lewat. Rehan segera membawa putrinya ke dalam restoran, sedangkan Farah berjalan bersama Diana, dan ikut masuk ke dalam.
Terlihat ramai, tentu saja. Restoran yang menyajikan berbagai jenis lobster ini paling banyak di mintai oleh berbagai kalangan. Belum lagi tempatnya memang berada di kawasan wisata pantai Kidul yang begitu terkenal di Jogjakarta.
"Mau Kakak kenalin dengan seorang laki-laki tampan ? ya meskipun tidak sekaya Zidan." Ucap Diana setelah pelayan yang menerima pesanan berlalu dari meja tempat mereka berada.
"Gila ya." Ujar Farah kesal, dan sontak membuat sepasang suami istri itu terbahak.
"Dia cinta banget sama Zidan sayang, ga akan mau dia sama laki-laki lain." Ejek Rehan.
Rehan tahu apa yang berhasil menahan Farah selama empat tahun di dalam luka, tidak lain karena memang Farah begitu mencintai Zidan. Wanita ini memutuskan menjadi wanita kedua, karena memang hatinya masih begitu mencintai Zidan.
"Sembarangan." Kesal Farah.
Diana kembali terbahak melihat wajah kesal Farah.
"Jangan terburu-biru Mencari pengganti walau niatnya untuk menghapus luka. Menerima orang baru hanya karna takut akan kesepian, itu sangat salah. Rawatlah lukamu agar bisa sembuh dengan sempurnah, sebab, tidak semua orang baru yang hadir bisa menjadi penawar. Yah, tidak menutup kemungkinan mereka hanya singgah dan mungkin akan kembali memberi luka yang baru. Bukan memberi luka yang baru, tetapi menambah luka yang mungkin belum sepenuhnya sembuh. Selama ini kamu hanya selalu mengandalkan hatimu saat memilih, kamu tidak tahu jika hati bisa saja salah dalam menentukan pilihan." Ucapnya.
"Kamu tahu Ra, jika saja Kakak hanya mengandalkan hati, mungkin saat ini Kakak masih terus berkubang dalam duka karena kepergian Mas mu. Hati Kakak sepenuhnya masih milik Andra, saat Rehan datang menawarkan sebuah kebahagiaan. Dan jika saat itu, Kakak hanya mengikuti kata hati, maka saat ini Kakak tidak memiliki gadis kecil yang cantik seperti Liana." Ujar Diana lagi.
Cinta akan datang kapan saja, yang terpenting dalam sebuah pernikahan adalah saling memperlakukan dengan baik. Lakukan tugasmu sebagai seorang istri dengan ikhlas, utarakan semua apa yang mengganjal di dalam hatimu. Tidak apa-apa sekali-kali, seorang istri mengamuk karena ingin meluapkan kekesalan. Mengomel di pagi hari saat bangun tidur pun, bukanlah masalah. Itu adalah hal yang lumrah bagi seorang wanita yang sudah memiliki keluarga.
__ADS_1
Banyak waktu yang mereka habiskan di dalam restoran tersebut. Kini mereka sedang menikmati senja di pinggiran pantai. Warna kekuningan yang sedikit tertutup oleh awan itu masih saja terlihat indah di pandang mata.
Rehan sedang mengajak putrinya membuat istana dari pasir pantai, sedangkan Farah dan Diana duduk di atas pasir tidak jauh dari di orang yang begitu antusias membuat bangunan.
"Kamu paling tahu, bagaimana Andra begitu khawatir terhadap kamu. Kamu selalu menjadi prioritasnya Ra, bahkan sering kali aku ngambek sama dia Krena cemburu padamu. Jadi Kakak harap, setelah kepergian kamu hari ini akan mampu membuat kamu sedikit lebih baik, agar Andra bahagia di sana." Ujar Diana.
Farah hanya menunduk dalam, sembari menyimak dengan baik setiap kata yang meluncur dari bibir Diana.
"Zidan di jebak oleh kliennya, dan kamu tahu jika hasrat itu tidak di salurkan maka akan sangat berbahaya. Kakak justru sedikit bersyukur, di memilih pulang dan memintanya padamu. Jika lelaki lain, mungkin di sudah melakukannya dengan orang lain. Banyak wanita yang siap membuka pakaian mereka untuk Zidan Ra, tapi suamimu itu memilih untuk pulang ke rumah dan meminta bantuan padamu." Ucap Diana memberi penjelasan.
"Dia tidak meminta bantuan ku Kak, dia selalu saja datang di tengah malam tanpa permisi. Dia selalu saja memperlakukan aku..
Kalimat Farah tertahan, ia tidak lagi ingin mengingat kembali malam-malam yang begitu menyesakkan dada Selma empat tahun pernikahan mereka.
Farah semakin tertunduk, apa iya dirinya yang tidak bisa memahami. Namun, hatinya terluka di perlakukan seperti itu. Yah terlepas itu memanglah kewajibannya, bukankah Zidan pun wajib bertanya lebih dulu tentang kesiapannya.
"Ra, setiap rumah tangga punya masalahnya masing-masing. Kakak dan Kak Rehan sering bertengkar kok. Kamu tahu kan Kak Rehan selalu saja marah, karena Kakak yang sering lupa dengan keperluan Liana, namun, sampai saat ini kami masih baik-baik saja."
"Masalahku dan Mas Zidan tidak sesederhana itu."
"Sederhana dan rumitnya suatu masalah, tergantung kitanya Ra. Jika kita ingin membuat masalah yang rumit menjadi sederhana boleh kok. Begitupun sebaliknya, meskipun itu hanyalah masalah sederhana, namun, kita ingin membuatnya jadi rumit, pasti akan terjadi juga." Jelas Diana.
__ADS_1
Farah kembali terdiam. Ia menyimak dengan seksama setiap penjelasan dari Diana.
"Kakak tidak memintamu untuk pulang hari ini juga. Sembuhkan lebih dulu, apa yang ingin kamu sembuhkan. Dan jika sudah merasa lebih baik, tentukan keputusanmu. Pulang dan bicaralah dengan Zidan."
Farah mengangguk, memang itulah yang ia rencanakan saat ini.
Langit senja mulai berubah gelap, Rehan dan Liana segera melangkah menuju dua wanita yang masih asyik membicarakan banyak hal.
Kini, ke tiga orang itu kembali melangkah meninggalkan pantai. Angin berhembus menerpa wajah ketiga orang dewasa itu, sedangkan Liana sudah memeluk erat leher sang Papa, lalu terlelap di sana.
Setelah mencapai mobil, Farah masuk lebih dulu untuk menerima tubuh mungil Liana, lalu mobil kembali melaju meninggalkan pantai indah itu dengan perlahan.
Rehan dan Diana memutuskan untuk menginap di rumah Farah malam ini, dan akan kembali ke Jakarta besok pagi.
Kerlap-kerlip lampu-lampu di pinggiran jalan kota Jogjakarta semakin menambah indah di pandang mata. Farah menikmati suasana malam di kota yang sudah lima tahun ini tidak lagi ia datangi.
Tidak seramai kota metropolitan, namun justru suasana inilah yang membuat Farah merasa sedikit lebih baik. Kota Budaya, Kota Sejarah dan masih banyak lagi yang selalu orang-orang sematkan di kota kelahirannya ini.
Angin yang masih sejuk, terlebih di akhir tahun seperti ini. Air yang turun dari langit, akan semakin menambah sejuknya udara di daerah istimewa ini.
Farah menarik nafasnya, dua hari ini ia semakin merasa lebih baik. Mungkin hanya rindu pada putranya dan juga pada laki-laki itu yang masih sedikit mengganggu, namun keadaan ini jauh lebih baik.
__ADS_1
Pinggiran pantai yang merek datangi siang tadi, memang agak jauh dari rumahnya, beruntung Jogjakarta tidak semacet Jakarta, jadi tidak terlalu memakan waktu berjam-jam di jalanan.
Setalah Rehan memakirkan mobilnya dengan rapi di depan Rumah, Farah mempersilahkan keluarga kecil itu masuk ke dalam rumah.