
Tidak ada suara isakan yang terdengar, namun, cairan bening terus merembet keluar dari pelupuk mata Farah. Zidan segera membawa tubuh dua orang berharga itu ke dalam dekapannya sembari menggumamkan kata maaf berulang kali.
Setelah merasa Farah sudah jauh lebih tenang, Zidan kembali mengurai pelukannya. Mengusap lembut pipi dan mata Farah yang terlihat sembab.
"Aku tidak akan berjanji lagi, namun setelah ini kita akan benar-benar menjalani pernikahan yang sama-sama kita impikan. Aku, kamu dan anak-anak kita. Terimakasih untuk hadiah hari ini." Ucap Zidan sembari mengusap lembut perut Farah yang masih rata.
Farah menarik dirinya, memberi jarak di antara keduanya.
Zidan tersenyum hangat menanggapi wajah penuh tanya sang istri.
"Aku sudah tahu, Kak Zia sudah memberitahu padaku." Ujarnya. "Terimakasih." Sambungnya dengan mata penuh binar.
Katakanlah hatinya bodoh jika itu menyangkut Zidan. Berdebar, yah hatinya yang bodoh berdebar bahkan hanya melihat wajah penuh binar dari suaminya kala mengetahui kehamilannya saat ini. Ah dasar bucin ! Begitulah ia merutuki dirinya yang bodoh.
"Ini kesempatan terakhir Mas, jika malam-malam yang aku benci itu kembali terulang. Tidak hanya diriku, tapi juga Al dan calon anak kita yang masih di dalam rahimku. Akan aku pastikan kamu tidak akan bisa menggapainya." Ancam Farah.
"Ra...
"Aku serius Mas. Kamu tahu kan cinta dan benci itu hanya di pisahkan oleh sehelai benang yang tipis, jadi jangan buat cintaku ini berubah menjadi kebencian." Sambung Farah menyela.
Zidan tertunduk lemas, meskipun ia akan memastikan malam-malam bodoh itu tidak akan terulang kembali, tetap saja ancaman Farah ini membuat ia takut.
"Aku akan gila." Ujar Zidan.
"Yah akan aku pastikan kamu gila karena kehilangan kami." Jawabnya.
Zidan menatap tidak percaya wanita yang sejak dulu selalu menunduk dan membungkam mulut ketika bersamanya.
"Jangan berubah menjadi Kak Zia. Sudah cukup ada satu wanita cerewet dalam hidupku, jangan di tambah lagi." Ujar Zidan. Ia lalu kembali melajukan mobilnya, usia memastikan istri dan putranya yang masih terlelap kembali nyaman di dalam mobil.
Sedangkan Farah segera mengalihkan wajahnya menghadap keluar jendela mobil. Seutas senyum manis tercetak di bibir tipisnya, dan tidak ingin objek yang membuat ia tersenyum siang ini, akan melihat hal itu. Biarlah Zidan mengira dirinya belum benar-benar memaafkan, agar lelaki yang masih bertahta di dalam hatinya itu sadar, jika selama ini ia benar-benar terluka.
Memutuskan untuk memaafkan bukan karena kita benar dalam segala hal, atau orang itu salah. Namun, memilih berdamai dengan keadaan, berdamai dengan hati jauh lebih baik dari pada terus menerus menyimpan luka yang semakin lama semakin menggerogoti jiwa.
Kita berhak untuk bahagia, dan jika bahagia itu bisa di raih dengan cara memaafkan dan berdamai dengan keadaan, makan lakukanlah. Jangan menundanya selagi masih di beri kesempatan akan hal itu.
Hati kita berhak mendapatkan kedamaian, dan itu hanya bisa di dapatkan jika kita benar-benar memaafkan segala khilaf dan salah.
__ADS_1
***
"Ini sepertinya bagus Mas, aku suka yang ini." Ucap Farah.
Zidan terkejut, ini rumah pertama yang mereka datangi. Masih ada satu rumah lagi yang harus mereka lihat, dan Farah sudah langsung memilih rumah ini.
"Masih ada satu lagi Ra." Ucap Zidan agar istrinya ini masih harus melihat rumah lain yang sudah Ayahnya siapkan.
Farah menggeleng, rumah ini seperti yang ia mau. Tidak terlihat mewah, namun pekarangannya sangat luas.
"Aku mau yang ini."
Zidan mengangguk mengiyakan.
Al mulai berlarian di dalam rumah yang masih kosong itu, di temani Zidan. Sedangkan Farah masih melihat-lihat sekeliling. Semuanya nampak bagus dan detail. Rumah yang indah, begitu pikirnya. Dapur yang luas, sangat cocok untuk dirinya yang begitu gemar memasak.
"Kapan kita bisa pindah ?" Tanya Farah.
"Kapanpun kamu mau, Ayah akan segera mengurusnya." Jawab Zidan yakin..
Zidan melotot mendengar keinginan sang istri.
"Tapi belum ada apapun di rumah ini." Ujarnya sembari mengitari ruangan kosong itu dengan tatapannya.
"Hari ini kita bisa menyiapkannya." Ucap Farah enteng.
"Kamu akan lelah Ra, tapi baiklah dua hari lagi kita pindah. Biar aku akan kabari Ayah agar segera mengurus semu persiapannya hari ini." Putus Zidan.
Farah mengalihkan wajahnya, lalu tersenyum.
Ia ingin segera memulai semuanya dari awal lagi di tempat ini. Mengukir kisah yang baru penuh bahagia dengan orang-orang yang ia cintai di rumah ini.
"Mas, aku mau...
"Jangan banyak berpikir Ra, biar aku yang akan mengurusnya. Dua hari lagi kita pindah ke rumah ini. Aku akan buat ruang ini sesuai keinginan kamu." Sela Zidan.
"Baiklah, dua hari lagi ya." Ucap Farah memastikan.
__ADS_1
Zidan tertawa melihat sikap Farah yang terlihat tidak sabaran untuk segera pindah.
"Iya dua hari lagi." Jawabnya.
"Ayo pulang." Ajak Zidan. Laki-laki itu segera menangkap Alfaraz yang terus berlarian di dalam ruangan, kemudian membawa bocah itu ke dalam pelukannya. Sedangkan jemari Farah, sudah kembali terbenam dalam genggamannya lalu membawa dua orang itu keluar dari rumah baru yang akan segera mereka temoati menuju mobil.
Senyum di wajah Zidan masih belum pergi, melihat tingkah putranya yang begitu penasaran setiap melihat sesuatu yang baru. Telunjuk kecil itu seakan tidak pernah lelah menunjuk semua yang ingin ia tanyakan pada sang Bunda.
Farah pun sama antusias nya, wanita itu seakan tidak pernah lelah menjawab apapun yang ingin di ketahui oleh putranya.
"Ra kita makan siang di kantor ngga apa-apa kan ? Aku mau membicarakan hal ini dengan Ayah biar segera di urus." Ucap Zidan.
"Boleh." Jawab Farah singkat, ia terus mengajak Alfaraz bercerita banyak hal.
Zidan menghembuskan nafasnya, sumpah demi apapun di abaikan itu sangatlah tidak menyenangkan.
"Kamu mau makan apa ?" Tanya Zidan.
Farah berhenti sejenak dari kesibukannya dengan Alfaraz lalu menatap wajah yang terlihat kesal karena sikap abainya. Ia tertawa dalam hati, namun, tetap menatap datar wajah Zidan. Rasain ! Begitu pikirnya.
"Apa aja, ikut Papa aja. Ya kan Al." Ujar Farah, lalu kembali beralih ke tubuh menggemaskan Alfaraz yang ada di atas pangkuannya.
"Ngga enak Ra di cuekin." Ujar Zidan.
Farah tidak tahan lagi mendengar gumaman dari mulut suaminya. Ia tertawa mendengar kalimat kesal yang di buat merengek itu.
"Emang ngga enak Mas, aku dulu juga gitu." Ujarnya santai lalu kembali mengabaikan wajah terkejut yang tercetak di wajah suaminya.
"Jadi sekarang kamu balas aku gitu." Ucap Zidan tidak terima.
"Enggak sih, tapi kalau Mas merasa baguslah. Itu berarti Mas sadar kalau dulu sering mengabaikan aku." Jawab Farah santai.
Zidan semakin menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya. Sejak kapan istrinya ini berubah seperti orang jahat seperti ini.
"Fokus di kemudi Mas, aku belum ingin jadi janda." Ujar Farah lagi saat mendapati Zidan lebih banyak menatapnya dari pada jalanan yang ada di hadapan mereka.
Oke sudah, memang seperti ini jika sudah berubah jadi istri sepenuhnya. Sabar Zidan, sabar..
__ADS_1