
"Ayo turun.." Ajak Yana.
Alfaraz hanya menatap kesal wajah cantik calon istrinya, lalu kembali beralih pada bangunan berlantai yang ada di depannya. Baru saja beberapa saat yang lalu Yana membuatnya frustasi, sekarang bundanya pun semakin menambah kekesalannya. Ada apa dengan hidupnya, kenapa tiga wanita yang kini mengisi kesehariannya seakan punya hobi yang sama, dan membuatnya terus menderita karena kesal.
"Kita pulang aja." Ujar Alfaraz masih belum ingin keluar dari dalam mobilnya.
"Kenapa ?" Yana menatap heran.
Alfaraz masih terlihat cemberut.
"Bunda kenapa sih harus memilih hotel ini untuk acara sakral kita." Ujarnya masih dengan nada kesal.
"Loh emangnya kenapa dengan hotelnya ? bagus kok, aku suka." Jawab Yana lalu melihat bangunan mewah di depannya.
"Ini tuh milik Tante Regina."
"Wah aku ngga tahu Gerald sekaya ini." Gumam Yana masih terus menatap bangunan berlantai di depan sana.
"Kita pulang." Putus Alfaraz lalu kembali menghidupkan mobilnya.
"Tapi masih kamu kok yang kaya, ayo turun. Gerald ga ada apa-apanya di banding kamu." Ujar Yana. "Kamu tampan, kaya dan aku cinta sama kamu." Sambungnya sambil mengedipkan mata menggoda Alfaraz.
"Benar kan, aku masih jauh lebih baik dari dia."
Yana mengangguk sambil menahan tawa.
"Tentu saja, ayo turun." Ajaknya lagi.
Alfaraz mengangguk, lalu kaluar dari alam mobilnya.
"Mana tangan kamu."
Yana menatap tangan yang sedang terulur ke arahnya, lalu kembali menatap wajah tampan si pemilik tangan.
"Ngga boleh pegang-pegang mulu, nanti kamu khilaf, kita belum halal." Yana melangkah masuk ke dalam lobi hotel, tanpa menyambut tangan yang sedang terulur ke arahnya.
"Hai...
Seseorang melambaikan tangan pada Yana.
Yana tersenyum, lalu membalas lambaian tangan itu.
Melihat saingannya ada di depan sana, Alfaraz mempercepat langkahnya, lalu membawa tangan Yana masuk ke dalam genggamannya.
"Hai Yana.." Sapa Gerald.
Yana tersenyum.
"Dimana ruangan yang akan di pakai untuk acara pernikahan kami ?" Tanya Alfaraz.
__ADS_1
Gerald tersenyum, lalu menunjuk satu ruangan yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Ayo." Alfaraz menarik tangan Yana agar segera meninggalkan laki-laki sok tampan di hadapan mereka.
"Yana..
"Ada apa lagi sih !" Alfaraz menatap wajah Gerald dengan kesal. Sedangkan Zyana masih terus menahan tawanya.
"Bukan kamu, aku mau bicara dengan Yana." Jawab Gerald. "Maaf aku masih harus mempekerjakan dia, karena perusahaan ku membutuhkan keahliannya. Mama sebenarnya ga mau, tapi aku beri pengertian jika pekerjaan Reno tidak ada hubungannya dengan perceraian kalian."
Yana tersenyum lalu mengangguk.
"Kami tidak lagi memiliki hubungan apapun. Jadi di manapun dia bekerja, itu bukan lagi urusanku. Tidak masalah Gerald santai aja." Jawab Yana.
"Aku masih bisa kirim bunga buat kamu kan ?" Tanya Gerald.
"Coba aja, akan aku pastikan kerja sama kita batal." Ujar Alfaraz kesal, lalu ia segera menraik tangan Yana dan meninggalkan Gerald di sana.
Gerald menatap kepergian wanita yang membuatnya patah hati dengan tatapan nanar. Tapi seorang Alfaraz bukanlah tandingannya, terlebih jika Yana memang benar-benar telah membuka hati untuk laki-laki sebaik itu.
"Emang harus ya kamu tersenyum manis seperti itu di depan laki-laki gila itu ?"
Alfaraz mengomel sambil menarik tangan Yana menuju Ballroom dimana bunda Farah berada.
"Aku tersenyum manis padamu, bukan untuk dia." Jawab Yana.
"Aku ngga lagi bercanda ya."
"Ada apa ?" Farah melangkah mendekati calon menantunya yang sedang tersenyum.
"Ngga apa-apa kok Bun." Jawab Yana.
"Si pemarah ini kenapa lagi ?" Tanya Farah lagi sambil menunjuk Alfaraz menggunakan bibirnya.
"Ngga marah kok Bun, dia ga sabar aja pengen duduk di sana." Yana menunjuk kursi pelaminan yang terlihat begitu cantik.
"Kamu suka ?" Tanya Farah sambil menarik tangan Yana menuju kursi pelaminan yang akan di pakai resepsi nanti.
"Ini sangat istimewa Bun." Jawab Yana. Ia menatap dekorasi Ballroom itu dengan mata penuh binar, lalu melangkah menuju meja tempat yang akan di pakai untuk acara akad. Yana menyentuh kursi yang sudah di hias sedemikian rupa itu dengan jemarinya. Sungguh ini sangat jauh dari ekspektasi nya saat pertama kali ia memutuskan menerima permintaan Alfaraz beberapa bulan yang lalu.
"Kamu suka ?" Tanya Alfaraz.
Yana membalik tubuhnya, lalu menatap wajah tampan Alfaraz.
"Ada apa ?" Tanya Alfaraz.
Yana tersenyum lalu menggeleng, kemudian kembali membalik tubuhnya dan melangkah menyusuri ballroom yang akan menjadi tempat pertama kali ia gunakan untuk memulai kehidupannya yang baru.
"Jika kamu tidak menyukainya, aku masih bisa meminta yang baru kok. Kita masih punya waktu dua hari untuk merubah dekorasi." Ujar Alfaraz ikut melangkah bersama Yana.
__ADS_1
"Aku suka. Suka banget malah." Jawab Yana. "Hanya masih tidak percaya kalian menyiapkan sesuatu yang sangat istimewa seperti ini untuk wanita seperti ku." Sambungnya.
"Wanita seperti mu pantas di perlakukan istimewa." Ujar Alfaraz.
"Al..." Yana berhenti melangkah, ia membalik tubuhnya lalu menatap mata yang entah kapan mulai menatapnya berbeda. Tatapan itu sama seperti saat Reno melamarnya di apartemen dulu.
"Aku..
"Nak sini.." Panggil Farah sambil melambaikan tangannya.
Yana tidak melanjutkan kalimatnya, ia hanya tersenyum lalu melangkah meninggalkan Alfaraz menuju calon ibu mertuanya.
"Ada apa Bun ?" Tanya Zyana.
"Kenalin ini Tante Regina, dan ini putranya Gerald." Ucap Farah memperkenalkan.
"Regina ini Farah calon istrinya Alfaraz." Ucap Farah lagi.
"Loh ini kan Zyana."
"Iya Bu Gina, ini saya Zyana." Yana menjabat tangan yang terulur ke arahnya sambil tersenyum hangat.
"Rumah yang kamu jual sudah di tempati Gerald."
"Iya interiornya aku suka." Ucap Gerald.
"Alhamdulillah kalau kamu menyukainya." Jawab Zyana.
"Aku sudah kenal dia Ra. Zyana ini yang aku ceritakan padamu. Terlambat kita melamar, Alfaraz lebih cepat bertindak." Ibu Regina tertawa, sedangkan Gerald hanya tersenyum kaku.
"Gimana Nak, kamu suka dekorasinya ?" Tanya Gina lagi.
"Sangat suka Bu, ini sangat cantik." Jawab Yana.
"Bunda datang sama siapa ?" Tanya Alfaraz saat sudah ikut bergabung bersama Yana.
"Sama Papa kamu." Jawab Farah.
"Kalau gitu Al sama Yana pulang duluan ya Bun, mau sekalian mampir cek gaun pengantin sudah siap atau belum." Ucap Alfaraz. Alasan, dia hanya tidak ingin berlama-lama di tempat ini, dan mati perlahan karena kesal.
"Ngga makan malam bersama di hotel Tante dulu Al ?" Tanya Regina.
"Lain kali aja Tante, waktu kami tidak banyak. Masih ada beberapa hal yang harus Al periksa, karena waktu hanya tersisa dua hari lagi." Tolak Alfaraz.
"Ya sudah, nanti langsung antar Yana pulang agar ibu Dinda ngga nungguin." Perintah Farah.
Alfaraz mengangguk.
Setalah berpamitan pada tiga orang yang ada di sana, Alfaraz kembali meraih tangan Yana lalu membawa calon istrinya keluar dari tempat buaya darat berada, menuju mobilnya.
__ADS_1
Yana tersenyum, ia tidak lagi menolak saat Alfaraz menautkan jemari mereka. Ini sangat menyenangkan. Sikap Alfaraz yang selalu melarang ini dan itu, membuat Yana merasa menjadi wanita yang begitu berharga. Saat bersama Alfaraz seperti ini, ia merasa menjadi wanita yang sangat istimewa. Sifat posesif dan menggemaskan Alfaraz, selalu berhasil membuat dadanya berdebar.