
"Mau berangkat bareng ?" Tawar Rio pada wanita yang kini berdiri tepat di sampingnya.
Keduanya baru saja keluar dari Bandara, dan kini sedang berada di area parkiran salah satu Bandara di Jogja. Seorang teman sudah menunggu Rio di parkiran tersebut, namun, tidak dengan Farah. Meskipun ini ada kota kelahirannya, gadis itu tidak lagi memiliki siapapun di sini untuk bisa di minta menjemput.
"Aku mau mampir ke pertokoan sebentar, kamu pulang aja. Sampaikan salam ku pada Ibu Mila, jika punya kesempatan aku akan mampir ke rumah nanti." Jawab Farah.
Rio mengangguk mengerti, lalu masuk ke dalam mobil sahabatnya yang entah sudah sejak kapan menunggu di sana.
Ada banyak pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya, mengenai hubungan bosnya dengan wanita yang pernah menyelamatkan ibunya dari pernikahan yang menyakitkan, namun, ia masih memiliki kesopanan untuk tidak bertanya hal yang tidak seharusnya ia tanyakan.
Ia masih di buat penasaran, saat menghubungi nomor wanita itu tadi, dan yang menjawabnya adalah laki-laki yang tidak lain adalah pemilik perusahaan tempat ia bekerja. Dan kini, berakhirlah ia di Jogjakarta dengan tugas penting yang tidak ada hubungannya dengan tugas dan tanggung jawabnya di perusahaan.
Mobil yang membawa Rio semakin menjauh dari area Bandara. Pikirannya masih terus menebak apa hubungan Farah dengan bosnya, hingga meminta dirinya untuk memastikan jika wanita itu akan sellau baik-baik saja dengan imbalan sebagai kenaikan jabatan.
Ah Farah, semakin sulit tergapai.
Bagaimana bisa ia hanya seperti debu ini bersaing dengan seorag Zidan. Oh ayolah, sadar kan dirimu. Begitulah kata hatinya menjerit saat ini.
****
Selang beberapa menit kepergian Rio, taksi yang di pesan Farah melalui aplikasi penyedia jasa akhirnya tiba. Wanita itu bergegas masuk, lalu meminta sang sopir untuk mengantarnya ke salah satu supermarket terdekat.
Sudah hampir lima tahun rumah milik Ibunya itu tidak ada penghuninya, jadi ada banyak hal yang harus ia beli lebih dulu sebelum pulang ke ruang itu.
Belum lagi pakaiannya di Jakarta tidak ia bawa pulang hari ini. Ah,. sungguh mirisnya hidup mu yang tak menentu ini Farah. Sebuah koper ada di apartemen pribadinya, sedangkan barang lainnya ada di rumah Zidan.
Farah menarik nafasnya dalam-dalam. Seharusnya ia tidak mengikuti kemauan hatinya saja dalam memutuskan untuk berumah tangga, dan mempertimbangkan logikanya yang selalu bertolak belang dengan apa yang hatinya inginkan.
"Jika terasa sulit mengambil keputusan, maka ikutilah kata hatimu.".
Begitulah kata orang-orang, ah dan sekarang ia baru tahu, jika tidak semua keputusan harus mengikuti kata hati. Terkadang logika harus perlu di gunakan juga, agar dapat menghindari sesuatu yang tidak di inginkan seperti ini.
__ADS_1
Farah menatap jalanan kota Jogjakarta yang begitu indah di pandang mata. Ia mengedarkan pandangannya di setiap sudut jalan yang dilewati oleh taksi yang sedang membawanya menuju tempat tujuan.
Memulai hidup yang baru, begitulah yang di pikirkan Farah saat ini. Entah masih akan kembali atau tidak, yang jelas saat ini ia masih ingin menyembuhkan luka. Benar-benar menyembuhkan, bukan berpura-pura telah sembuh karena keadaan.
"Kita sudah sampai Neng." Ujar sang Sopir taksi menyadarkan Farah dari lamunan.
Farah mengangguk lalu tidak lupa mengucapkan terimakasih, kemudian keluar dari dalam mobil tersebut usai membayar ongkos.
Sebelum masuk ke dalam bangunan yang ada di depannya, Farah kembali menarik nafasnya dalam-dalam. Ini pertama kalinya ia melakukan ini setelah empat tahun bersama Zidan.
Sebanyak apapun luka yang ia dapati di rumah mewah milik Zidan, tidak pernah sekalipun ia nekat pulang ke tanah kelahirannya ini. Selama ini, ia hanya terus memaksa dirinya untuk bisa memaklumi semua sikap seenaknya Zidan selama empat tahun pernikahan mereka, karena saat itu ada Nadia yang selalu mampu membuatnya luluh dengan keadaan.
Ia selalu membiarkan hatinya terluka berulang kali, saat melihat Zidan yang begitu menyayangi Nadia, dan menjadikan dirinya sebatas wanita yang akan di perlukan jika Nadi tidak mampu melakukan hal tersebut. Begitulah yang ada di pikirannya saat itu, hingga hari ini.
Meskipun berulang kali Zidan mengatakan jika dirinya sama berartinya seperti Nadia, dan laki-laki itu juga mencintai dirinya sama seperti Nadia, tetap saja kenyataan yang ia dapati selalu saja berbanding terbalik dengan apa yang laki-laki itu utarakan. Ah sudahlah, toh semua sudah ia tinggalkan, jadi tidak perlu lagi untuk mengingat lembaran luka itu.
Farah melanjutkan langkahnya masuk ke dalam supermarket. Ia mendorong troli yang tersedia di sana, lalu mulai mengisi keranjang besi itu dengan berbagai keperluan yang akan ia gunakan di rumah nanti.
Merasa tidak ada lagi yang perlu ia beli, Farah segera membawa troli itu menuju kasir dan membayar semua yang ada di dalam troli tersebut.
Farah melihat beberapa kresek besar yang sudah terisi penuh dengan bahan makanan dan brang-barang yang ia perlukan di rumah. Untung saja saat ini sudah banyak aplikasi yang memudahkan untuk mencari alat transportasi, agar tidak perlu menunggu dan mencari ke sana kemari.
"Harusnya aku belajar mengemudi sejak dlu, agar tidak Sukira bepergian ke sana kemari." Gumam Farah.
Ah sepertinya kursus mengemudi harus masuk dalam daftar rencana hidupnya, agar setalah ini ia bisa mengosongkan salah satu buku rekening pemberian Nadia.
Farah tersenyum miris, setiap bulan selama empat tahun pernikahannya dengan Zidan, laki-laki itu tidak pernah mengirimkan uang untuknya di rekening itu. Apalagi jika usai meminta nafkah batin, pasti keesokan harinya, Farah pasti akan mendapatkan notifikasi di salah satu mobile banking yang Nadia pasang di ponselnya.
Ah terserahlah, terus mengingat itu hanya akan membuat hatinya semakin sakit saja. Nanti ia akan gunakan untuk membeli mobil mewah, agar buku tabungan itu tidak membengkak.
"Mbak Farah ?" Tanya seorang sopir yang terlihat masih sangat mudah itu.
__ADS_1
Farah mengangguk, lalu masuk kedalam taksi yang berhenti di pelataran supermarket tempat ia berbelanja. Sedangkan sopir tersebut, sedang memasukkan satu demi satu kresek besar yang berisi belanjaannya ke dalam bagasi mobil.
"Ke butik X ya Mbak ?" Tanya Sopir tersebut memastikan alamat tujuan yang tertera di aplikasi.
Farah mengiyakan
"Bisa ngga Pak, aku minta di tungguin. Ngga akan lama kok, biar nanti aku bayar sesuai dengan waktu yang terpakai." Pinta Farah.
"Tentu Mbak." Jawab sopir tersebut dengan ramah.
Mobil itu mulai melaju di jalanan, Farah melihat ponselnya yang tidak lagi memiliki kartu SIM. Ah bodoh amatlah, lagi pula siapa juga yang akan menghubunginya.
"Kak Rehan.." Gumam nya.
Ia melupakan laki-laki itu.
"Pak boleh mampir ke counter terdekat ?" Tanya Farah.
Sopir taksi yang terlihat seperti seorang mahasiswa itu mengangguk lalu mencari di salah satu perangkat yang ada di ponselnya, apa yang di minta Farah.
"Sudah sampai Mbak, ngomong-ngomong jangan panggil saya Bapak, panggil Ian aja."
Farah yang hendak membuka pintu mobil, kembali berhenti.
"Maaf bukan maksud saya lancang, hanya saja saya baru berumur dua puluh dua tahun Mbak." Jelas Ian sebelum Farah salah paham.
Farah tertawa mendengar penjelasan laki-laki mudah di depannya, lalu mengiyakan.
"Terimakasih Ian, tunggu sebentar ya." Ucapnya lalu melanjutkan niatnya untuk keluar dari dalam mobil menuju sebuah counter kecil di depan sana.
Laki-laki mudah itu mengangguk.
__ADS_1