Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 83 Season 2


__ADS_3

Yana menatap tubuhnya di depan cermin. Dress selutut berwarna maroon sudah melekat indah di tubuh rampingnya. Rambut panjang lurus di biarkan tergerai di punggung, dan semakin menambah cantik penampilannya malam ini.


Bunyi asscode yang di tekan di pintu apartemen sudah terdengar. Yana bergegas melangkah keluar dari dalam kamar tidur, menuju ruang depan untuk menyambut suaminya.


Dan benar saja, itu dia lelaki yang masih saja terlihat tampan walau tak serapi saat berangkat kerja pagi tadi, sudah berdiri dengan senyum hangat di pintu apartemen yang sudah kembali tertutup rapat.


Yana melangkah cepat, lalu menghambur memeluk tubuh gagah suaminya. Kecupan lembut seperti biasanya, terasa berulang kali di puncak kepalanya. Yana semakin mengeratkan pelukannya, menghirup bau maskulin yang selalu saja membuat ia rindu dari tubuh Reno.


"Aku rindu." Ujarnya pelan.


Wajah yang beberapa menit lalu terbenam di dada bidang Reno, kini sudah mendongak menatap lekat wajah lelah milik laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Laki-laki pertama yang datang memberikan kasih sayang dengan tulus itu, kembali mengecup kening Yana berulang kali.


"Aku juga." Balas Reno.


"Makan dulu, apa mandi dulu ?" Tanya Yana.


"Makan dulu deh, aku lapar." Jawab Reno.


Yana mengangguk, ia melepaskan pelukannya dari tubuh Reno, lalu melangkah bersama menuju dapur sederhana tempat ia dan sang suami biasa menikmati sarapan dan makan malam bersama.


"Besok aku ada dinas keluar kota lagi Na, tapi kemungkinan langsung pulang." Ujar Reno sembari menunggu piring yang sedang di isi dengan makanan oleh istrinya.


"Ke Lampung lagi ?" Tanya Yana menebak.


Reno mengangguk.


"Itu kejauhan kalau dipaksa bolak balik Mas, nginap aja ga apa-apa." Ucap Yana memberi saran.


"Aku khawatir selalu meninggalkan kamu sendirian." Ucap Reno.


"Ga apa-apa, kan hanya semalam. Takutnya kamu kenapa-kenapa di jalan kalau maksain pulang."


"Baiklah, nanti aku kabari." Putus Reno.


Yana tersenyum kemudian mengangguk.


"Ayo makan." Ajaknya sembari mengulurkan satu piring yang sudah terisi nasi dan lauk ke arah sang suami, kemudian mengisi satu piring untuk dirinya sendiri dan mulai memakannya.

__ADS_1


Menit demi menit telah berlalu, keduanya masih menikmati makan malam yang hangat di iringi percakapan ringan mengenai pekerjaan mereka masing-masing.


"Aku yang akan membereskan semuanya, kamu kan sudah masak tadi, jadi biar aku yang cuci piring." Ujar Reno setelah mereka berdua selesai menyantap makan malam.


Yana mengangguk, dan membiarkan lelaki itu membersihkan semua peralatan bekas makan malam mereka. Wanita cantik itu hanya duduk diam di kursinya, sembari memperhatikan suaminya yang begitu telaten dengan pekerjaan rumah tangga.


"Kok makin tampan aja sih kalau lagi nyuci piring." Yana masih menatap lekat lelaki yang begitu ia cintai.


"Jangan godain aku Na, aku ga tanggung jawab kalau pelukan yang aku janjikan siang tadi akan berubah lebih."


Yana terbahak mendengar kalimat ancaman dari mulut suaminya.


"Siapa takut." Ujarnya tersenyum jail.


Reno membilas tangannya lalu segera melangkah menuju sang istri yang sedang tersenyum jail ke arahnya.


"Mas.." Teriak Yana saat tangan kokoh laki-laki itu berhasil mengangkat tubuhnya ke atas meja makan. Bibirnya yang baru saja berteriak segera di bungkam oleh suaminya dengan lembut.


Yana mengalungkan tangannya di leher Reno, ia membiarkan lelaki itu mencium bibirnya semakin dalam.


"Kita pindah ke kamar." Ajak Reno.


"Mas, aku bercanda." Jerit Yana saat tubuhnya sudah di angkat oleh kedua tangan suaminya.


"Tutup pintunya dulu Mas." Ujarnya lagi.


"Ga ada yang bakalan ngintip kita di rumah ini." Ucap Reno lalu masuk ke dalam kamar dengan pintu yang di biarkan terbuka.


Dress maroon yang melekat di tubuhnya sudah teronggok mengenaskan di atas lantai, di susul dengan pakaian kerja yang melekat di tubuh Reno. Yana membiarkan apa saja yang sedang di lakukan oleh suaminya. Tangan dan bibir milik Reno, seakan tidak pernah puas mengabsen setiap inci tubuhnya, dan membuat Yana selalu terbuai dengan aktivitas menyenangkan itu.


***


Yana masih tergeletak lemas di atas ranjang yang sudah acak-acakan. Ia menatap sosok laki-laki yang kini berdiri di pintu kamar mandi dengan handuk putih yang menutupi tubuh bagian bawahnya.


"Kenapa ? Masih kurang ?" Tanya Reno dengan senyum jail.


"Gila ya, tubuhku sudah remuk gini." Kesal Yana.

__ADS_1


Reno hanya menanggapi kekesalan istrinya dengan tawa terbahak. Lelaki itu kembali melanjutkan langkahnya menuju lemari pakaian dan mengambil sepasang piyama dari dalam lemari itu.


"Mandi sana, aku mau ganti sepreinya." Perintah Reno pada istrinya yang masih setia membungkus tubuh polos dengan selimut di atas ranjang.


"Malas ah Mas, aku sudah mandi tadi. Salah sendiri kamu buat kotor lagi." Rengek Yana.


Reno tersenyum, lalu mendekati ranjang tempat istrinya berada. Dengan sigap ia membawa tubuh polos itu ke dalam kamar mandi.


***


Di sisi jalan, Alfaraz masih duduk di dalam mobilnya. Hari ini ia meminta izin pada sang Bunda untuk menyelesaikan apa yang belum selesai selama bertahun-tahun ini. Anggap saja ia jahat, namun, sepertinya hubungan yang ia paksakan beberapa tahun lalu memang salah.


Alfaraz menatap keluar jendela mobil sambil menatap bangunan dengan puluhan lantai di hadapannya. Ada banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan Nara, namun, ia masih harus mengumpulkan keberanian untuk melakukannya. Mengakhiri kisah yang terjalin sekian tahun lamanya, memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Di depan sana, tidak jauh dari tempat mobilnya terparkir, sebuah mobil mewah berhenti. Wanita yang masih tersimpan rapi di hatinya terlihat keluar dari dalam mobil itu, lalu melambaikan tangan. Tidak terlihat sedih seperti saat berbicara di ponsel dengannya siang tadi.


Nara tersenyum dan beberapa kali menimpali entah pembahasan apa ia tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Pandangan Alfaraz masih mengikuti langkah kaki wanita yang ia nikahi itu, hingga berlalu masuk ke dalam gedung.


Karena tidak memiliki urusan lagi di tempat ini, Alfaraz kembali melajukan mobilnya. Mungkin malam ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyelesaikan semuanya, begitu pikir Alfaraz.


***


Mobil yang tadinya melaju di jalanan Jakarta, sudah terparkir di pelataran rumah mewah milik orang tuanya. Alfaraz keluar dari dalam mobil, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Dek Bunda di mana ?" Tanya Alfaraz ketika langkah kakinya sudah berada di ruang tamu.


Adelia yang sedang membahas pekerjaan dengan seseorang berhenti sejenak, lalu menatap wajah sang Kakak yang sudah berdiri di hadapannya.


"Ada di kamar mungkin." Jawab Adelia lalu kembali memeriksa tumpukan dokumen yang ada di atas meja.


"Siapa ?" Tanya Alfaraz lagi.


Adelia menghembuskan nafasnya, lalu menatap kesal laki-laki yang entah sejak kapan berubah menjadi SE kepo ini dengan kehidupannya.


"Saya rekan kerja Adel di kantor." Ujar laki-laki itu menimpali.


"Aku Rei Bang." Ujarnya lagi.

__ADS_1


Melihat Adel yang terlihat jengah, membuat Rei segera mengambil inisiatif untuk memperkenalkan diri pada sosok laki-laki yang selalu menjadi topik pembahasan pacarannya ini.


"Oh begitu. Kalau begitu lanjutkan pekerjaan kalian Rei." Jawab Alfaraz, kemudian berlalu dari sana usai bersalam dengan lelaki yang bernama Rei itu.


__ADS_2