Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 144 Season 2


__ADS_3

"Bunda benar-benar mengusirku." Lirih Adelia sambil menatap satu buah koper yang sedang di siapkan oleh sang Bunda di dalam kamar yang sejak kecil sudah ia tempati.


Farah tertawa mendengar kalimat menyedihkan dari bibir putrinya.


Setelah selesai makan siang, ia membantu putrinya untuk membereskan beberapa barang penting yang harus di bawa putrinya ke rumah milik orang tua Gerald.


"Kamu bisa datang kapan saja kamu mau sayang, tapi untuk sementara kamu tinggal di sana dulu. Kasian Mama mertua kamu yang terus saja memohon. Mereka akan kesepian tanpa Gerald, lagi pula di sini kan ada Yana dan Kak Al. Ga apa-apa kan ?." Ucapnya menjelaskan.


"Tetap saja Adel sedih banget ninggalin kamar ini Bund." Ucap Adel sedih.


"Sini peluk Bunda dulu." Pinta Farah pada putrinya. "Nanti jika kamu rindu, datang aja tapi harus minta izin Gerald ya." Sambungnya memperingati. Adelia mengangguk dalam dekapan sang Bunda.


Adelia masih duduk di atas ranjang kesayangannya, sambil menatap sang Bunda yang kembali sibuk merapikan beberapa dokumen miliknya.


Setelah memastikan semua sudah tertata rapi di dalam koer, kedua wanita itu lantas melangkah keluar dari dalam kamar, menuju orang-orang yang sedang menunggu mereka di ruang keluarga.


Gerald menatap bingung koper kecil yang ada di tangan istrinya. Pasalnya ia sudah menyiapkan semua keperluan Adelia di rumahnya, agar tidak perlu membawa barang-barang yang ada di rumah ini.


"Jangan senang dulu, ini bukan baju, hanya dokumen-dokumen penting mengenai pekerjaanku." Ujar Adelia. " Aku masih tetap akan pulang ke rumah ini." Sambungnya, sontak membuat orang-orang yang ada di ruangan itu tertawa.


Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Papa dan Bunda, Gerald segera mengajak istrinya untuk pulang ke rumah Mama dan Papanya.


***


Tidak semewah dengan rumah peninggalan kakek dan neneknya. Namun, rumah ini tetap terlihat sangat indah dengan pekarangan yang terlihat luas dan tertata dengan sangat baik.


"Ini rumah Yana sebenarnya, tapi sudah di jual." Ucap Gerald.


Adelia menoleh, ia menanti penjelasan selanjutnya dari bibir suaminya.


"Ini bukan rumah Mama, tapi rumah aku. Hanya saja Mama dan Papa sering datang ke sini karena rindu katanya." Ujar Gerald terkekeh.


"Berapa lama Mbak Yana ngumpulin uang buat bikin rumah sebesar ini ?" Gumam Adelia sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


"Dia wanita yang hebat Del. Terserah kalau kamu cemburu, tapi itulah kenyataannya." Ujar Gerald.


"Idiihh, jangan terlalu percaya diri. Kamar aku di mana ?" Tanya Adelia kesal. Ah sial, hatinya tidak terima jika Gerald memuji kakak iparnya itu.


"Kamar kita Dek, bukan kamar kamu aja." Kecup Gerald di pipi Adelia. Ia menggenggam tangan istrinya, lalu menaiki anak tangga menuju lantai dua.

__ADS_1


"Ini siapa yang nyiapin ?" Tanya Adel saat langkahnya sudah memasuki kamar. Gadis itu menelusuri kamar itu dengan tatapannya. Sangat indah dan mendetail, itulah yang ada di benaknya.


"Ini kamar utama. Kata Mama saat ketemu Yana untuk ngecek rumah. Ini kamar impiannya dengan si bego itu, tapi belum sempat mereka tempati sudah di jual."


Adelia menghentikan langkahnya, lalu menatap suaminya yang terlihat kesal membahas kisah kakak iparnya.


"Mau dengar sesuatu ?" Tanya Gerald.


"Setelah ini ga akan ada yang tersisa lagi kan ?" Tanya Adelia.


"Tentu, ayo kita akhiri semuanya sebelum membuka lembaran baru hanya ada kita berdua di dalamnya.


Adelia tersenyum, gadis itu melangkah mendekati suaminya.


"Aku tidak ingin mendengarkan apapun, dan jangan ceritakan bagaimana besarnya perasaan kamu ke Mbak Yana dulu. Yang aku ingin, setelah kejadian hari ini, perasaan itu menghilang, dan terganti."


Gerald terkejut saat kecupan mesra mendarat tiba-tiba mendarat di atas bibirnya.


Adelia melepaskan diri, namun sayang, tangan kokoh milik suaminya tidak lagi membiarkan hal itu terjadi.


"Aku belum bilang siap ya.." Protes Adelia.


"Aku harus mandi dan mempersiapkan diri terlebih dahulu." Ucap Adelia sambil menahan tubuh kekar yang kini menindihnya di atas ranjang dengan banyak kelopak mawar.


"Aku tidak butuh itu, nanti juga akan kotor lagi. Nanti aja, sekalian mandi wajib." Jawab Gerald sambil tersenyum.


Adelia menutup matanya, menikmati debaran jantung yang semakin menggila di dalam dada. Ini pertama kalinya seseorang menyentuh bagian-bagian sensitif di tubuhnya.


Bibir laki-laki baru sehari yang lalu resmi menjadi suaminya, seakan tidak membiarkan bagian tubuhnya terlewati begitu saja.


"Ngga mau bilang pelan-pelan ?" Tanya Gerald sambil tersenyum menyebalkan.


Adelia memukul bahu kokoh tanpa penghalang itu dengan sekuat tenaga.


"Bikin kesal aja, aaaa sakit..." Rintihnya saat sesuatu tiba-tiba menerobos masuk ke dalam inti tubuhnya. "Gila ya pelan-pelan dong." Sambungnya kesal dengan mata yang berembun.


"Ini hanya sebentar, nanti juga kamu ketagihan." Jawab Gerald masih terus melanjutkan pekerjaan yang begitu menyenangkan menurutnya. Tidak, ini akan menjadi pekerjaan kesukaannya nanti.


"Kamu sudah pernah ngelakuin ini ? Sama siapa ? Bangkit ga dari tubuh aku."

__ADS_1


Gerald tidak mengindahkan permintaan istrinya, ia semakin mendekap tubuh mungil itu erat. Ia menghirup dalam-dalam aroma wangi yang menguar dari tubuh istrinya, aroma yang akan menjadi candunya setelah ini.


"Love you.." Bisik nya masih terus terbenam di cerucuk leher istrinnya.


Adelia tidak lagi meronta, ia membiarkan suaminya mengambil hak yang tidak sempat ia berikan di malam pengantin mereka.


Ah padahal ini masih siang bolong, masa iya namanya siang pertama. Ga afdol Bambang...


***


"Mau sampai kapan kamu di dalam kamar mandi ?" Gerald terus menggedor pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Gadis yang baru saja ia ganti status menjadi wanita itu, masih setia mengurung diri di dalam sana.


"Aku dobrak yaa." Ancamnya karena istrinya yang tiba-tiba berubah menggemaskan setelah siang pertama mereka masih belum juga mengeluarkan suara.


"Iya bentar, ini masih sakit. Kamu sih, di bilangin pelan-pelan tetap aja kayak orang gila.


"Sini aku lihat, atau kita langsung ke dokter aja." Ujar Gerald khawatir.


"Gila ya, tutup aja tuh mulut kamu, bikin tambah perih aja. Kalau masih ngomong ga akan mau aku kamu ajak begituan lagi." Adelia balik mengancam.


"Apaan sih, ancamannya mengerikan banget. Ya udah buka, aku juga mau mandi lengket banget nih, peluh kamu juga masih nempel di tubuh aku..


"Diam ga, apes banget sih punya suami mulutnya kayak ibu-ibu."


Ceklek...


Pintu kamar mandi terbuka, wajah cemberut sekaligus merona langsung terpampang nyata di depan Gerald.


"Ish menggemaskan, rasanya pengen aku makan lagi." Ujar Gerald sambil mengecup pipi istrinya lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.


Adelia menatap pintu yang baru saja tertutup itu dengan perasaan yang berbeda. Entahlah Bahakan hanya sebuah ciuman di pipi saja, sudah mampu membuat dadanya berdebar. Okelah, hari ini bukan hanya inti tubuhnya yang sakit, tapi juga jantungnya. Ia kembali melangkah hati-hati menuju ranjang, sambil menekan dadanya yang terus saja berdebar tidak karuan.


***


*Note Author


Siang bolong belah duren, tolong ya Allah ini permintaan reader. Dosaku biarlah di tanggung mereka. 🤧🥺


Aku cuma nyari duit di sini, udah itu aja 🙈🙈

__ADS_1


__ADS_2