
Daniza terus mengikuti langkah kecil Fatih dari belakang. Bocah laki-laki yang selalu di titipkan di apartemennya itu terus berpindah dari sat rak ke rak yang lain untuk mengisi trolley yang sedang di dorong olehnya.
Berbagai macam merk makanan ringan sudah mengisi troli besi itu, namun, sepertinya kaki kecil Fatih tidak lelah menyusuri setiap lorong supermarket.
"Sudah cukup." Perintah Daniza.
Bocah laki-laki itu menatap wajah Aunty kesayangannya dengan wajah menggemaskan. Biasanya jurus andalannya ini mampu membuat Aunty cantik nya ini berubah pikiran.
"Ngga ngaruh ya Al. Mau kamu taruh di mana lagi, perut kamu masih kecil loh itu." Omel Daniza agar keponakan tampannya ini berhenti mengambil snack dari rak supermarket.
"Taruh di kulkas Aunty lah, Al kan besok ke sini lagi." Jawab Fatih santai. Tangan mungilnya kembali mengambil beberapa bungkus makanan ringan, dan menaruhnya di dalam trolley.
"Terserah, bukan duit aku juga." Gumam Daniza lalu kembali melangkah mengikuti Al Fatih dari belakang.
Setelah semua yang dia inginkan sudah masuk ke dalam trolley, bocah laki-laki itu melangkah menuju kasir. Daniza pun ikut melangkah menuju kasir untuk mengantar belanjaan keponakannya ini.
"Kamu dapat dari mana ?" Tanya Daniza heran saat Fatih mengulurkan kartu kepada penjaga kasir.
"Dari Paman Alfan." Jawab Fatih santai.
Daniza tidak lagi bertanya, ia mulai meletakan satu persatu bungkusan makana ringan itu ke atas meja meja kasir dan membiarkan bocah yang kelewat pintar itu membayar semua belanjaan mereka.
Setelah menyelesaikan urusan bayar membayar, dan semua bungkusan makanan ringan sudah berpindah ke dalam tas, Daniza segera mengajak bocah yang sok dewasa itu keluar dari supermarket menuju mobilnya.
Dalam mobil yang terus melaju di jalanan, Daniza sesekali melirik bocah yang terlihat sedang memikirkan sesuatu di sampingnya. Al Fatih, anak yang saat masih berada di dalam kandungan membuat seluruh keluarga kecewa.
Bagaimana tidak ?
Dalam sejarah keluarga Prasetyo, tidak pernah sekalipun terdengar berita hamil di luar nikah. Meskipun kisah cinta yang selalu di awali dengan hubungan yang rumit, tetap saja tidak ada hubungan yang melewati batas seperti yang di lakukan Daren beberapa tahun lalu.
Namun, saat Daren meminta izin untuk menikahi Ibu dari Fatih yang saat itu sedang hamil besar, membuat semua keluarga marah besar.
Dan kini, seluruh keluarga tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dalam rumah tangga Daren dan di mana keberadaan Maya saat ini. Pernikahan yang begitu tiba--tiba, juga wanita yang harusnya di panggil ibu oleh bocah laki-laki di sampingnya ini, ikut tiba-tiba menghilang dari keluarga mereka.
__ADS_1
Setelah mobil mewah yang di kendarai ia sudah berhenti di dalam basemen apartemen, Daniza mengajak keponakannya keluar dari dalam mobil dan melangkah menuju lift.
Fatih masih menutup mulutnya rapat-rapat, dan ikut melangkah masuk kedalam lift. Bocah laki-laki itu hanya terus menggenggam jemari Daniza dengan tangan mungilnya.
"Aunty.." Panggil Fatih saat Niza suah membuka pintu apartemennya. Gadis yang sedang menjinjing sebuah tas besar berisi aneka makanan ringan itu menoleh, dan menatap keponakannya dengan kening yang berkerut.
"Ga jadi deh, ayo masuk." Ajak bocah yang sebentar lagi akan berusia enam tahun itu sambil menarik tangan aunty kesayangannya.
"Aunty.." Panggilnya lagi.
Daniza menggeram kesal, terlebih melihat Aidar yang sudah tidak bisa menahan tawa karena ulah keponakan mereka.
"Kamu kenapa sih ?" Tanya Daniza kesal.
"Tungguin Al yaa." Pinta bocah itu.
"Tungguin kemana ? Aku ga akan ke mana-mana loh ini." Jawab Daniza.
Semua laki-laki dewasa yang ada di sana menatap wanita dewasa dengan anak kecil yang terlihat begitu serius ingin mengutarakan sesuatu kepada Daniza.
Daren yang sudah beberapa menit lalu tiba di apartemen Daniza pun ikut memperhatikan putranya yang terlihat begitu serius.
"Lalu apa ?" Tanya Daniza kesal.
"Tungguin Al dewasa yaa, biar Al yang jagain Aunty." Jawab Fatih dengan tatapan yang begitu serius ke arah Daniza.
Daniza melotot, tidak lama kemudian sentilan di kepala keponakannya berhasil mendarat dengan sempurna dari jemari lentik nya.
Azam kembali menghembuskan nafas frustasi. Mungkin sudah takdir adiknya akan di cintai oleh laki-laki yang masih menjadi bagian dari keluarga besar mereka.
Di atas lantai, Aidar terus tertawa geli sambil meremas perutnya yang sudah mulai terasa sakit karena terlalu banyak tertawa. Mendengar kalimat serius dari keponakan mereka satu-satunya, seakan menjadi gelitik geli di perutnya.
Daniza melangkah mendekati Alfan dan langsung memukul-mukul Abangnya itu.
__ADS_1
"Abang yang ngajarin dia." Omel Daniza masih ters memukul bahu Alfan.
"Sakit Dek. Bukan aku yang ngajarin, tapi Bang Aidar." Tuduh Alfan sambil menahan tangan Daniza agar berhenti memukul tubuhnya.
"Bohong Niz." Sela Aidar cepat, karena tatapan horor Daniza sudah tertuju ke arahnya. "Fatih kan temanan sama kamu terus." Sambung Aidar kesal.
"Nggak kok Aunty, ini bukan di ajarin sama Paman Alfan, tapi emang kemauan Al sendiri. Kata Oma Nira, Al harus jagain Aunty." Ujar bocah yang sebentar lagi akan berusia delapan tahun itu.
Aidar hanya terus tertawa lucu dengn kelakuan Fatih, sedangkan Daren dan Azam hanya bisa menghembuskan nafas berat sambil bertatapan.
"Dek, buatkan makan siang dong.." Pinta Alfan.
"Iya Niz, aku juga lapar nih." Aidar menimpali. Lelaki tampan yang terenal dengan kejahilannya itu ikut menimpali.
"Ogah ! Pulang ke rumah Mami sana. Aku mau ke rumah sakit." Daniza melangkah menuju kamarnya untuk bersiap, namun, beberapa saat kemudian langkah kakinya kembali terhenti karena suara Daren.
"Bukannya ini hari minggu ? Kok ke rumah sakit ?"
Daniza menatap kakak sepupunya yang masih saja mampu membuat dadanya berdebar itu sejenak.
"Om Riyan minta aku ke sana." Jawab nya bohong. Hari ini ia hanya ingin pergi dari kerumunan para bodyguard nya ini.
"Mas antar, sekalian mau pulang ke rumah juga." Tawar Daren.
Daniza menggeleng tegas. Daren pun tidak lagi meminta apalagi memaksa Daniza agar mau di antar kan oleh nya.
Karena tidak lagi mendengar kalimat yang keluar dari bibir Daren, Daniza kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar tidurnya.
Beberapa saat kemudian, ia keluar dari dalam kamar dengan pakaian yang rapi. Para laki-laki yang sejak pagi berada di apartemennya, masih berada di sana. Daniza hanya berpamitan, lalu keluar dari apartemennya itu.
Tidak lupa ia meminta orang-orang yang ada di sana untuk membereskan apartemennya sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Berada di ruangan yang sama dengan orang yang ingin ia lupakan sepenuhnya memang hanya akan semakin membuat usaha untuk melupakan sulit.
__ADS_1
Daniza masuk ke dalam lift, dan turun menuju basemen. Sesekali nafas berat, berhembus dari mulutnya.
h sungguh rumit hidupnya. Tapi memang seperti inilah hidup. Selama masih bisa menghirup udara di bumi, selama itu pula masalah tidak akan pernah berhenti datang menyapa.