Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 148 Season 2


__ADS_3

Nara meremas tangannya kuat. Ketukan palu hakim dengan vonis seumur hidup, sungguh sudah sangat keterlaluan. Di kejadian itu ia tidak sampai melukai Yana, dan bahkan ia pun ikut terluka karena ulah Adelia, namun, sepertinya tidak ada satu orang pun yang bersedia membantunya membela diri. Dia akan membusuk di penjara, sementara orang-orang itu akan menikmati bahagia di atas penderitaannya.


Beberapa orang dengan stelan jas mahal datang mendekati Nara. Senyum smirik di wajah laki-laki yang begitu mirip dengan wajahnya terlihat begitu menjijikan.


"Selamat menikmati kehidupan baru adikku tersayang." Ledek lelaki itu.


Nara tersenyum


"Terimakasih. Apa ini perpisahan ?" Tanya Nara.


"Sepertinya begitu, agar aku dan Mama bisa menikmati hidup dengan tenang tanpa bayangan wanita murahan seperti dirimu." Ujar lelaki itu dingin.


"Aku lupa Kak, flash disk saat Papa kamu mencicipi ibuku masih tersimpan rapi loh di brangkas aku. Video dengan durasi yang begitu panjang, empat puluh delapan jam dan kira-kira gimana jika musuh kalian menemukan flash disk itu. Oh tidak, mungkin lebih baik aku meminta seseorang untuk mempublikasikan ke media." Yana bercerita dengan ekspresi berpikir.


"Brengsek.." Beberapa orang berjas langsung menahan atasan mereka yang ingin menyakiti wanita gila di hadapan mereka.


Nara tertawa, lalu wajahnya kembali dingin. Benar-benar seorang aktris yang profesional.


"Aku punya banyak uang, tapi kamu menuduh seolah-olah aku ingin merampas harta kalian. Aku bahkan bisa memberi seluruh uangku pada mu jika kamu mau.." Ujar Nara. "Bersiaplah, karena aku tidak akan membiarkan diriku hancur seorang diri." Ancamnya lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Apa yang kau inginkan ?" Tanya lelaki itu. "Jika ingin keluar dari tempat ini, itu tidak akan pernah bisa." Sambung lelaki itu lagi.


Nara tersenyum licik, ia tidak jadi melangkah, dan hanya berdiri di depan laki-laki yang sudah takluk di hadapannya..


"Aku tidak pernah berniat keluar dari sini. Dua bulan lagi datang dan temui aku di sini." Ujar Nara, lalu melanjutkan langkahnya menuju sel tahanan..


Saat melewati orang-orang yang ada di ruangan sidang, Nara tersenyum saat mendapati seseorang yang masih bertahta di hatinya, juga ikut hadir di sidang putusan hari ini. Senyum manis di wajahnya kembali berganti wajah penuh kebencian, saat lelaki yang ia berikan senyum termanisnya sama sekali tidak membalasnya.


"Jika bukan aku, maka tidak ada yang bisa benar-benar membuatmu bahagia. Jika ada, maka akan ku pastikan itu akan menghilang dari hidupmu." Nara bergumam sambil melangkah menuju ruangan gelap yang akan menjadi tempat tinggalnya, tidak hanya sementara tapi seumur hidupnya.


Alfaraz melangkah keluar dari ruang pengadilan. Hari ini ia datang, bukan untuk melihat Nara, tapi ia ingin memastikan jika hidupnya dan Yana akan tenang setelah ini. Hukuman seumur hidup jauh lebih baik, setidaknya Nara masih di beri kesempatan untuk merenungi segala kesalahan.


***


Mobil mewah miliknya mulai melaju di jalanan menuju perusahaan. Ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum wanita kesayangannya akan merengek dan memintanya untuk pulang.


Saat mobilnya sudah terparkir di depan gedung perusahaan, ia bergegas keluar dari dalam mobil itu dan masuk ke dalam bangunan dengan puluhan lantai di hadapannya.


"Ada Mbak Yana di dalam." Ucap Mia.

__ADS_1


Langkah Alfaraz terhenti, menatap sekretarisnya sebentar.


"Mbak Yana sudah menunggu sejak satu jam yang lalu." Ujar Mia lagi.


"Mati aku.." Alfaraz mempercepat langkahnya, dan benar saja wanita cantik dengan wajah menantikan kini sedang menatapnya dari kursi kebesaran miliknya.


"Dari mana ?" Tanya Yana.


Alfaraz tersenyum, ia melangkah menuju Yana m sambil tersenyum.


"Aku tanya dari mana ?" Tanya Yana lagi.


Cup..


"Aku dari pengadilan." Jawab Alfaraz setelah mengecup lembut bibir istrinya.


"Ngapain ke sana ?" Tanya Yana pelan.


"Jangan mikir yang aneh-aneh, sini aku peluk. Ga rindu ?"


"Makanya jawab, kamu ngapain ke sana." Yana masih belum ingin beranjak, meskipun ia sangat ingin masuk ke dalam pelukan suaminya.


"Kamu masih mencintainya ?" Tanya Yana.


"Mana ada. Aku hanya datang dan memastikan jika setelah hari ini kita benar-benar akan hidup dengan tenang. Dia di jatuhi hukuman seumur hidup." Jawab Alfaraz.


"Kamu ngga bohong kan ?" Tanya Yana lagi. Ia melepaskan diri dari pelukan Alfaraz, lalu menatap wajah tampan suaminya itu dengan lekat.


"Tentu saja. Buat apa lagi sih aku masih menyimpan sesuatu yang tidak berguna untuk nya. Aku akan punya tiga wanita hebat dalam hidupku. Percaya padaku, setelah ini tidak akan ada lagi masalah. Kita akan hidup tenang dan bahagia, bersama si kembar ini." Ujar Alfaraz. Ia berlutut di depan perut buncit Yana dan menempelkan pipinya di sana. Gerakan yang selalu ia nantikan begitu terasa di kulitnya.


"Dia bergerak sayang." Alfaraz mendongak sebentar, lalu kembali beralih pada perut membuncit yang ada di hadapannya.


"Kamu udah makan ?" Tanya Yana.


Alfaraz menggeleng


"Belum." Jawabnya.


"Aku bawain makanan, kita makan yuk." Ajak Yana.

__ADS_1


"Makan kamu boleh nggak ?" Alfaraz berdiri, laku menatap jail ke arah istrinya.


"Jangan mulai, lepas ! Dasar mesum." Yana melangkah menuju sofa lalu menyiapkan makanan yang ia bawa dari rumah.


"Ayolah, sudah lama sekali kita tidak menggunakan sofa ini. Kapan ya yang terakhir ?"


Yana tidak menghiraukan, ia tetap sibuk menyiapkan makanan untuk Alfaraz di atas meja.


"Aku lagi ngomong, jangan di cuekin dapat dosa kamu nanti."..


"Ngga usah aneh-aneh, ini di kantor."


"Di rumah boleh yaa.."


Yana memutar bola matanya malas, lalu menyerahkan piring yang sudah ia isi dengan makanan kepada Alfaraz.


"Makan, nanti kamu ngga kuat nahan beban kami bertiga." Ucapnya sambil tersenyum nakal.


Alfaraz terbahak mendengar kalimat yang selalu saja melancarkan niat jahatnya.


"Okeh, habis makan kita langsung pulang."


Yana tidak lagi menimpali, ia hanya menatap lelaki yang kini sedang fokus dengan makanan yang ada di tangannya, sambil berdo'a di dalam hati, jika semua yang Alfaraz ucapkan beberapa saat yang lalu memang benar adanya.


Di dunia ini tidak ada alat yang bisa di gunakan untuk mengukur kedalaman hati seseorang. Dan tidak ada satu manusia pun yang mampu menebak, apa isi hati seseorang, termasuk dirinya. Untuk itu, biarlah ia serahkan semuanya pada Allah.


"Kenapa liatin aku terus ?" Tanya Alfaraz setelah meletakkan piring yang sudah kosong ke atas meja.


Yana mengambil air minum, lalu kembali mengulurkannya pada Alfaraz.


"Aku rindu, habisnya kamu terlalu tampan. Sayang di lewatkan." Jawabnya.


"Sepertinya kita benar-benar harus mencoba sofa ini sekarang, apa masih senyaman dulu saat di awal-awal pernikahan kita." Senyum jail kembali terlihat di sudut bibir Alfaraz.


"Sepertinya bukan ide yang buruk. Bentar aku tutup pintunya dulu, biar Mia ga akan bisa masuk." Jawabnya sambil tersenyum geli. Ia beranjak dari sofa lalu melangkah menuju pintu ruangan.


"Sampai ketemu di rumah, aku pulang yaa.." Pamitnya.


Alfaraz tertawa, lelaki itu melangkah cepat menuju pintu ruangan agar istrinya itu tidak akan berhasil kabur siang ini.

__ADS_1


Dan akhirnya, sofa di dalam ruangan berhasil di buat berdecit oleh Alfaraz.


__ADS_2