Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 25


__ADS_3

"Saat melihatmu di restoran waktu itu, perasan ingin memiliki kembali lagi. Perasaan yang sudah aku usahakan terkubur dalam-dalam, kembali tergali hanya karena melihat wajahmu. Bukan hanya karena aku tidak bisa menolak permintaan Nadia, Namun aku memang benar-benar menginginkan kamu juga." Ucap Zidan. "Aku terlalu serakah dan pengecut, hingga akhirnya memilih mengabaikan mu, dan memilih memprioritaskan Nadia di atas segalanya. Aku merasa bersalah padanya Ra, sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat, namun sampai di akhir hayatnya, rasaku masih saja milikmu sepenuhnya." Sambungnya.


Farah terdiam, ini pertama kalinya mereka berbicara sebanyak ini. Selama empat tahun bersama, jangankan hanya sekedar bicara berdua, untuk sekedar menyapa saja Zidan terlihat begitu enggan melakukannya. Namun hari ini, Farah melihat Zidan yang lain. Zidan yang tidak pernah ia lihat sepanjang mereka saling mengenal saat ia masih menjadi mahasiswi magang di kantor milik Ayah mertuanya.


"Kamu tahu Ra, aku pernah membuang cincin ini, saat aku menerima kabar dari Ayah jika kamu sudah pergi." Kali ini ibu jarinya mulai mengusap lembut cincin yang masih tersemat di jemari tangan Farah.


"Cincin ini aku beli sebelum menikah dengan Nadia. Aku berniat mengutarakan perasaanku, bukan hanya ingin menjadi seorang kekasih, tapi aku ingin menjadi seoeang suami. Aku ingin kamu menjadi istriku setelah kamu menyelesaikan kuliahmu. Namun semuanya kandas, saat aku mengetahui kamu sudah pergi bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal padaku."


Farah mengalihkan tatapannya dari wajah tampan Zidan, lalu menatap cincin emas putih dengan berlian di atasnya yang begitu berat ia lepaskan. Padahal gugatan cerai sudah ia ajukan ke pengadilan, namun cincin yang Zidan sematkan empat tahun lalu, masih terpasang indah di jari manisnya.


Zidan kembali melanjutkan cerita yang sekian tahun tertahan di dalam dada. Dia mengutarakan semu yang membuat dadanya sesak beberapa tahun ini.


"Aku benar-benar menginginkanmu Ra, bukan hanya sebagai wadah yang akan memberikan anak untukku dan Nadia, namun aku benar-benar ingin kamu. Bahkan di malam pertama kita, aku begitu menggebu untuk tetap melakukannya, padahal aku tahu akhir dari malam panjang itu akan menyisakan sakit untukmu." Ucapnya lagi. Pikirannya kembali melayang pada hari pernikahan mereka beberapa tahun silam.


*Flash back


Farah menatap dirinya di depan cermin. Wajah dengan riasan khas pengantin, juga kebaya berwarna putih dengan beberapa hiasan mutiara dan bunga melati yang menjuntai menghiasi hijab putih polos, terlihat begitu indah di pandang mata. Hatinya bergemuruh, menatap wajah laki-laki yang sedang mengikatnya dengan kalimat sakral di dalam ballroom salah satu hotel milik keluarga Prasetyo.


Ia menatap lekat ponsel yang sedang terhubung dengan wanita, yang tidak lain adalah istri pertama dari laki-laki yang sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya.

__ADS_1


Jas putih yang melekat di tubuh Zidan terlihat begitu pas, juga peci dengan warna senada semakin menambah teduh wajah tampan Zidan.


Farah masih memegang ponsel itu, hingga ucapan hamdalah ikut berhembus dari bibirnya kala orang-orang yang ikut menjadi saksi momen sakral hari ini berhasil mengucapkan kata sah. Ia ikut mengaminkan setiap do'a yang di ucapakan oleh pemuka agama untuk kelangsungan rumah tangga mereka. Di tariknya nafas dengan begitu dalam, lalu kembali menghembuskan nya dengan perlahan. Mengurangi rasa gugup yang kini melandanya.


Kini ia resmi menjadi seorang istri dari laki-laki yang juga memiliki istri. Sampai hari ini, otaknya masih belum juga di ajak bekerja sama, hanya hati yang begitu bahagia di hari ini. Hati yang sudah sejak dulu terpaut dengan laki-laki yang membuat ia tidak percaya diri. Tentu saja, bagaimana bisa ia jatuh cinta pada putra seorang direktur perusahaan besar, sementara dirinya hanyalah seorang mahasiswi dengan keluarga sederhana.


Suara lembut Nadia, kembali membawa Farah pada keadaan hari ini. Ia mengikuti langkah kaki wanita yang memiliki hati seluas samudra itu, menuju ruangan tempat di mana Zidan berada.


Seluruh keluarga hadir, bahkan keluarga dari pihak Nadia selaku istri pertama pun ikut hadir dan menyaksikan pernikahan menantu mereka.


Usai Zidan menyematkan cincin untuknya, Farah mencium punggung tangan yang tersemat cincin yang berbeda dengannya. Namun, ia tetao menguatkan hati, karena memang sudah seharusnya seperti itu. Cincin serupa dengan Nadia, memnag pantas untuk tetap berada di tempatnya bukan ?


Tidak ada resepsi mewah seperti pernikahan anak konglomerat lainnya, karena memang pernikahan in,i hanya di ketahui oleh keluarga inti saja. Para klien dan karyawan perusahaan milik keluarga Prasetyo, tidak di beritahu, untuk menjaga image dari perusahaan. Karena meskipun pernikahan poligami di halalkan, dalam hukum dan agama, tetap saja orang-orang akan memandang ini adalah sesuatu yang buruk dalam pernikahan.


Zidan masih berdiri di balkon kamar hotel, menatap langit malam yang gulita. Sedikit rintik hujan mulai berjatuhan dari langit malam di bulan Desember. Sarung juga kemeja kokoh berwarna putih masih melekat di tubuhnya.


Shalat sunat sudah ia tunaikan bersama istri keduanya, namun kini ia memilih menghabiskan waktu di balkon hotel, dan membiarkan Farah sendirian di dalam kamar pengantin mereka.


Tidak ada laki-laki yang tidak menginginkan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan dengan istri pertamanya. Terlebih lagi, wanita yang sedang berada di dalam kamar pengantin mewah itu, adalah wanita yang sangat ia inginkan dulu. Namun, entah mengapa ia harus berusaha mengumpulkan keberanian untuk melakukannya.

__ADS_1


Beberapa jam telah berlalu, Zidan memilih masuk kedalam kamar lalu menutup pintu balkon dengan perlahan. Wanita yang ia abaikan di malam pengantin mereka, sudah terlelap dengan begitu tenang di atas ranjang yang di penuhi kelopak mawar hasil kreasi istri pertamanya.


Dengan perlahan ia naik ke atas ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Farah yang tergganggu dengan gerakan selimut, seketika terjaga dari lelapnya.


"Maaf aku tertidur." Ucapnya merasa bersalah.


Zidan menatap wajah cantik itu dengan begitu lekat. Jemarinya terulur untuk mengusap bibir yang baru saja mengucapkan maaf. Tidak, bukan Farah yang bersalah, tapi dirinya. Namun entah mengapa kata maaf itu, begitu sulit terucap dari bibirnya, meskipun hatinya berulang kali mengucapkan kata itu.


Zidan mengecup lembut kening Farah. Awalnya hanya kening, namun akhirnya wajah cantik yang terpampang nyata di hadapannya tidak lagi bisa ia abaikan. Dikecupnya seluruh bagian wajah itu dengan lembut, dan berakhir di bibir tanpa polesan namun tetap saja begitu menggoda.


Entah siapa yang memulai, awalnya hanyalah kecupan kini semakin menuntut lebih dan lebih. Dan do'a yang tidak ingin ia lafadzkan malam ini, akhirnya tercetus juga dari bibirnya di puncak kepala sang istri.


Malam yang panjang akhirnya mereka lalui. Zidan mengecup lembut sudut mata Farah yang berair karena menahan perih ketika menyerahkan mahkota yang ia jaga selama dua puluh enam tahun hidupnya.


Setelah waktu mulai memasuki dini hari, barulah aktivitas panas itu berakhir. Farah terkapar kelelahan di atas ranjang yang sudah berantakan. Badcover putih dengan noda darah juga kelopak mawar sudah berhamburan hingga ke lantai kamar.


Namun akhir dari kenikmatan yang mereka teguk bersama selama puluhan bahkan mungkin ratusan menit tadi, kini menyisakan air mata. Tidak hanya air mata menahan perih di inti tubuhnya yang tumpah, tapi juga air mata menahan sakit di dalam hati ikut mengalir deras, saat Zidan memilih pergi meninggalkan dirinya sendirian di dalam kamar pengantin, setelah menuntaskan hasratnya.


Tidak hanya selaput darah yang terkoyak, tapi juga hati dan harga dirinya ikut tercabik saat menatap kepergian sang suami dari dalam kamar mewah tanpa membersihkan tubuh terlebih dahulu usai melakukan percintaan panjang yang begitu melelahkan.

__ADS_1


Farah mencoba memaklumi, karena ini malam pertama mereka. Mungkin saja Zidan tidak nyaman untuk tetap tinggal dan terlelap di ranjang yang sama dengannya.


Tapi, kejadian di malam pertama mereka selalu saja berulang, hingga berbulan-bulan kemudian. Bahkan hingga pernikahan mereka sudah melewati satu kalender, perlakuan yang sama masih terus terjadi, dan semakin membuat infeksi luka yang berawal di malam pertama mereka.


__ADS_2