Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 129 Season 2


__ADS_3

"Eh pengantin baru ngapain jalan-jalan ke rumah sakit ?" Tanya Kean saat melihat adik sepupunya sudah masuk ke dalam ruangannya.


"Hay Zyana." Sapa Kean.


"Hai Kak." Yana menjabat tangan yang sedang terulur ke arahnya.


"Sudah jangan lama-lama, Kak Kean ini juga duda." Ujar Alfaraz lalu melepaskan tangan istrinya dari genggaman dokter tampan yang tidak lain adalah kakak sepupunya.


"Ayo silahkan duduk Yana. Ga apa-apa kan aku panggil Yana ?"


Alfaraz mendengus kesal, ia menarik tangan istrinya dan duduk di sofa yang ada di ruangan mewah pimpinan rumah sakit.


Kean hanya tertawa geli melihat tingkah Alfaraz.


Pintu ruangan terbuka perlahan. Yana menoleh, tatapannya tertuju pada wanita cantik yang mengenakan snelly yang sama seperti yang di kenakan Kean.


"El Alfaraz, maaf aku ga bisa hadir di pernikahan kalian." Ujar Friska saat memasuki ruangan Kean. "So, kata Kean lagi butuh keahlian aku ya ?" Tanya Friska lagi. Ia lantas duduk di sofa panjang di samping Kean.


"Kami mau berkonsultasi mengenai pemakaian alat kontrasepsi."


Kean menatap heran ke arah adiknya.


"Kamu ngga mau punya anak ?" Tanya Kean.


"Enggak, saya mau melepas alat kontrasepsi." Ucap Yana.


Friska menatap Yana lalu beralih pada Alfaraz.


"Ke ruangan ku aja, biar lebih enak ngomong nya." Ujarnya.


Yana mengangguk. Setelah berpamitan pada suami dan pimpinan Rumah Sakit, ia melangkah keluar dari ruangan mewah menuju ruangan lain.


Friska memintanya untuk berbaring di atas bed pasien, lalu ia mulai mengeluarkan alat kontrasepsi yang tertanam di lengannya.


"Sudah lama mengenal keluarganya Om Zidan ?" Tanya Friska.


Yana menggelang.


"Enak ya jadi bagian dari keluarga mereka ?" Tanya Friska lagi. Ia kembali membalut luka bekas di gunakan untuk mengeluarkan alat kontrasepsi dengan kain kasa yang steril.


"Alhamdulillah Kak, mereka orang yang sangat baik." Jawab Yana jujur.


"Do'akan saya juga agar cepat nyusul kamu." Ujar Friska setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Yana hanya tersenyum menanggapi, ia turun dari bed tempat ia berbaring lalu melangkah mengikuti dokter wanita menuju meja kerja.


"Ini aku resepkan obat anti nyeri. Minum saat reaksi obat bius nya mulai hilang." Ujar Friska sambil menyodorkan kertas ke arah Yana.

__ADS_1


"Begini Dok, sebenarnya kami ingin ikut program kehamilan. Apa memasang alat kontrasepsi seperti ini tidak berpengaruh dengan kesuburan kandungan saya ?" Tanya Yana.


"Sebelumnya sudah pernah melahirkan ?"


Yana menggelang.


"Dalam ilmu kami, jika wanita yang belum memiliki keturunan itu, sangat tidak di sarankan untuk menggunakan alat kontrasepsi dulu." Ujar Friska. "Tapi jangan khawatir, ada sebagian wania justru menggunakan alat kontrasepsi sebagai alat untuk memancung kesuburan. Nanti akan aku resep kan vitamin dan obat penyubur kandungan yang paling bagus. Dan setelah itu, kamu cukup menjaga pola makan sehat saja." Sambungnya. Ia lantas kembali meraih satu lembar kertas itu, dan menuliskan beberapa merek obat dan vitamin untuk Yana.


"Terimakasih Dokter,


"Panggil Kak Friska aja seperti Alfaraz." Ujar Friska.


Yana mengangguk, lalu mereka keluar dari ruangan Friska dan kembali menuju ruangan Kean di mana Alfaraz sedang menunggu.


***


Mobil yang di kendarai Alfaraz sudah kembali melaju di jalanan Jakarta.


"Jangan liatin aku terus, nanti nabrak Al." Ujar Yana saat mendapati suaminya lebih banyak menatapnya dari pada jalanan yang ada di hadapan mereka.


"Itu sakit ga Yang ?" Tanya Alfaraz.


Yana menggeleng, ia ikut melihat lengannya yang terbalut kain kasa.


"Ini hanya luka kecil kok, Dokter tadi juga sudah memberinya obat bius." Jawabnya.


Yana hanya tersenyum menanggapi.


"Dokter Friska itu pacarnya Kak Kean ya ?" Tanya Yana pada Alfaraz.


Alfaraz menggelang.


"Kak Kean Bru saja di tinggal pergi istrinya dua tahun yang lalu." Jawab Alfaraz.


Innalilahi..


"Nanti kapan-kapan kita jalan-jalan ke rumah Tante Zia, biar aku kenalin sama Kak El dan Abang Ken."


Eliana tersenyum lalu mengangguk.


"Al kita mau kemana ?"


"Kejutan." Jawab Alfaraz.


Sampai di pos penjaga, Alfaraz menyerahkan kartu identitasnya untuk di periksa oleh petugas keamanan. Setelah di persilahkan untuk masuk, ia kembali melajukan mobilnya masuk ke dalam.


Yana mengedarkan pandangannya. Ia menatap setiap bangunan mewah yang di lewati mobil Alfaraz sambil bergumam kagum. Hingga mobil yang membawanya sudah memasuki pelataran rumah yang terlihat mewah dengan dua lantai.

__ADS_1


"Kita ke rumah Tante kamu ?" Tanya Yana.


Alfaraz tersenyum, lalu menggelang.


"Ayo turun." Ajaknya setelah membual pintu mobil yang ada di samping istrinya.


Alfaraz meraih tangan Yana dan menggenggamnya dengan begitu erat. Keduanya melangkah masuk ke dalam rumah yang lumayan besar, dan terlihat sangat mewah itu.


Saat memasuki rumah, Yana masih terus bertanya di dalam hatinya siapa gerangan pemilik rumah ini. Apakah salah satu kelurga Alfaraz yang tidak ia ketahui ? Namun, saat langkahnya sudah masuk ke dalam salah satu ruangan, ia terdiam. Tatapannya tertuju pada satu pigura dengan wajah mereka berdua terpampang di sana.


"Ini rumah siapa Al ? Kok ada foto pernikahan kita ?" Tanya Yana.


"Rumah kita." Jawab Alfaraz.


"Kamu menyiapkan ini ?" Tanya Yana.


"Bukan, tapi Bunda dan Papa. Rumah ini dekat dengan rumah Ibu kok, jadi kapan saja kita bisa pergi dan melihatnya."


"Bukan itu Al, ibu pasti ngerti kok kalau aku tidak akan tinggal lagi di rumahnya.".


"Tapi aku yang tidak ingin meninggalkan Ibu sendirian." Jawab Alfaraz.


Yana terdiam setelah mendengar kalimat suaminya. Tanpa lagi bertanya, ia menghambur memeluk tubuh suaminya dengan begitu erat.


"Terimakasih Al.. Terimakasih karena sudah menyayangi Ibuku." Ucap Yana.


"Dia juga Ibuku." Alfaraz ikut memeluk erat tubuh istrinya. "Papa dan Bunda sudah memintanya agar tinggal bersama kita di sini, tapi Ibu tidak ingin meninggalkan rumah pemberian Kakek." Ucapnya lagi.


Yana mengurai pelukannya, lalu menatap wajah suaminya sambil tersenyum manis.


"Rumah ini terlalu berlebihan untuk kita berdua Al. Apa tidak sebaiknya rumah yang lebih kecil saja ?" Tanya Yana.


"Tidak, ini sudah yang paling sederhana tapi paling aman juga. Tidak semua orang bisa memasuki lingkungan ini, jadi Papa menyarankan kita untuk tinggal di sini, agar tidak ada yang mengganggu ketentraman rumah tangga kita." Ujar Alfaraz.


"Tapi Al.. Hmppp


Kalimatnya terhenti saat bibir Alfaraz sudah membungkam mulutnya.


"Aduh.." Keluh Yana saya tubuhnya sudah terduduk di atas sofa. Lengannya yang masih terluka terbentur entah di mana, dan terasa begit nyeri.


"Maafkan aku." Ucap Alfaraz merasa bersalah. Ia segera beranjak dari tubuh Yana, lalu segera memeriksa lengan istrinya dengan hati-hati.


"Ngga sabar banget sih, ini bukan di kamar loh." Ujar Yana jail.


"Cih..." Wajah bersalah Alfaraz berganti kesal.


Yana hanya tertawa geli, ia lantas membawa tubuhnya dan masuk ke dalam pelukan suaminya sembari mengucapkan banyak terimakasih atas semua bahagia yang ia rasakan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2