Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 227 Season 3


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Dua bulan yang penuh dengan keposesifan Arga akhirnya bisa di lewati oleh Dira. Kini sepasang sumi istri itu sudah berada di Bandara Internasional Ibu kota, untuk bersiap berangkat lebih dulu.


Semua keluarga nampak terlihat di sana, termasuk Abimanyu Ayah dari Arion. Lelaki paruh baya itu sudah menghubungi mantan istrinya, dan memberitahu perihal kedatangan putri dari besan mereka ini.


"Semoga semua berjalan lancar ya Nak." Rara memeluk tubuh menantunya.


"Terimakasih Ma. Cepat menyusul ke sana yaa." Ujar Dira dan di angguki oleh wanita paruh baya itu.


"Tentu, dua minggu sebelum pernikahan, Mama dan Papa sudah tiba di sana." Jawab Rara.


Setelah mendengar pengumuman dari petugas Bandara, Dira dan Arga kembali berpamitan pada seluruh keluarga. Peringatan untuk berhati-hati dan doa-doa kebaikan mengiringi kepergian mereka berdua menuju negara yang terkenal dengan medisnya itu.


****


Pesawat yang membawa Dira dan Arga sudah lepas landas. Lelaki yang terus bersikap posesif itu, tidak mau melepaskan tangan Dira dari genggamannya. Wanita hamil yang sudah dua bulan ini di perlakukan berlebihan, tidak lagi merasa risih dengan perlakuan suaminya itu.


Arga bahkan tidak segan mencium punggung tangan Dira di dalam pesawat yang terdapat beberapa penumpang lain di sana. Meskipun tidak seramai kabin kelas ekonomi, tetap saja ada orang lain selain mereka yang ada di sana.


Dira tidak lagi mempermasalahkan hal-hal seperti itu. Entah karena sudah lelah, ataukah memang sudah terbiasa dengan tingkah menyebalkan suaminya.


"Mau beristirahat sebentar ?" Tanya Arga.


Dira mengerutkan keningnya.


"Ini tidak akan lama. Kita akan sampai di Bandara berikutnya kurang dari dua jam, nanti aja sekalian aku beristirahat di rumah Ferri." Jawab Dira.


"Satu jam bukan waktu yang singkat Dira. Ayo sini istirahat !" Tegas Arga tidak ingin di bantah.


Dira hanya menghembuskan nafas berat. Namun, wanita hamil itu tetap melakukan apa yang di perintahkan oleh suaminya.


"Anak kamu pasti setampan kamu." Ucap Dira setelah beberapa menit hening. Kepalanya bersandar di bahu Arga.


"Aku mau yang secantik kamu juga." Ujar Arga.

__ADS_1


"Ga, kita kan sudah membahas tentang ini. Maafkan aku ya." Ucap Dira merasa bersalah.


"Hei ga apa-apa kok. Nanti kita cari menantu yang cantik, secantik kamu." Ucap Arga cepat.


Dia tersenyum mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Arga.


"Lahir aja belum sudah mau di carikan istri. Tapi baiklah, aku akan cari gadis yang mirip dengan ku nanti." Jawabnya.


Arga menyetujui ide itu.


*****


Waktu terus beranjak pergi. Tidak terasa pemandangan awan putih, perlahan berganti. Bangunan-bangunan kecil mulai nampak terlihat di bawa sana. Itu menandakan beberapa saat lagi, pesawat yang membawa mereka akan mendarat sebentar lagi.


"Aku mau lihat reaksi Evelyn nanti saat mengetahui siapa Kak Danira." Ujar Dira.


Arga yang sedang membantu memasang sabuk pengaman di tubuh istrinya karena pesawat sebentar lagi akan mendarat, hanya diam dan tak berniat menanggapi kalimat itu. Meskipun sekarang Danira sudah bahagia, ia masih sedikit kecewa dengan keputusan Feri beberapa saat yang lalu.


Bukan merasa orang paling benar, sejatinya ia pun menjadi bagian dari orang yang melukai Danira. Tapi kasusnya berbeda, sejak awal ia menegaskan jika yang ia inginkan adalah Dira, bukan Nira.


Dira mengangguk dan tidak lagi membahas lebih lanjut mengenai pernikahan sahabatnya. Ia mengerti, hubungan rumit di antara mereka dulu.


Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat. Dira dan Arga ikut melangkah keluar ari burung besi itu dengan hati-hati. Setelah berembuk dengan keluarga di rumah sakit dua bulan yang lalu, untuk menjalani operasi caesar di salah satu rumah sakit terbaik di Singapura, kini Dira dan Arga sudah mendarat dengan selamat di salah satu Bandara yang ada di Negara dengan ikon kepala singa itu.


Senyum masih terukir di bibir Dira, sambil melangkah menuju terminal kedatangan. Ia sudah menghubungi Evelyn mengenai kedatangannya hari ini. Tak lupa pula ia menjelaskan perihal kedatangannya lebih awal dari hari yang sudah di tentukan oleh keluarga untuk menghadiri pernikahan sahabatnya itu.


Dira masih merahasiakan pada seluruh keluarga siapa Evelyn, calon istri Ferri. Wanita yang pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya selama di Berlin itu, akan menikah dan memulai kisah perjalanan hidupnya dengan Ferri, yang tidak lain adalah orang terdekat dengan Nira, kakak kembarnya.


Salah satu Bandara yang ada di Singapura nampak begitu ramai oleh pengunjung. Entah orang-orang yang datang berkunjung seperti dirinya, ataukah orang yang memang datang untuk menjemput sanak saudara mereka yang berkunjung.


Dira tersenyum saat melihat gadis cantik dengan rambut terurai sedang melambaikan tangan kearahnya. Masih dengan senyum manis di bibirnya, Dira melangkah perlahan melangkah ke arah wanita yang begtu antusias menanti kedatangannya, sambil terus memeluk lengan Arga.


"Aku kangen banget Beb." Peluk Evelyn di tubuh gendut Dira. "Hai ponakan, ini Aunty Ev." Sambungnya sambil membungkuk dan mengusap lembut perut buncit Dira.

__ADS_1


"Aku turut berduka cita Ev." Lirih Dira.


"Terima kasih Dira. Mama pergi dalam keadaan bahagia, karena Ferri berjanji akan menjagaku." Ujar Evelyn.


Ferri tersenyum mendengar kalimat yang membuatnya tega membuat seorang sahabat kecewa.


"Pantes aja.." Kekeh Dira sambil menatap wajah Ferri yang terlihat tidak enak saat bertemu dengannya.


"Ada apa ?" Tanya Evelyn heran.


"Ngga apa-apa kok, ayo kita pulang kasian Dira terus berdiri sambil membawa perut buncitnya itu." Ujar Ferri salah tingkah.


Dira tertawa geli, terlebih melihat suaminya yang berpura-pura tidak mengenal Ferri padahal keduanya adalah sahabat.


"Aku kesal padamu !" Ujar Arga akhirnya.


Ferri menghentikan langkahnya. Sejujurnya ia pun merasa bersalah atas keputusan yang ia ambil beberapa bulan yang lalu. Namun, melihat kesungguhan Arion ingin melamar Danira membuatnya sedikit lega.


Kedua sahabat yang suah berbulan-bulan tidak bertemu itu akhirnya berpelukan.


"Dia bahagia, dan sedang hamil juga." Ujar Arga memberi tahu.


Evelyn melihat Ferri dan suami sahabatnya dengan tatapan heran. Dira langsung meraih lengan sahabatnya, lalu mengajak gadis itu untuk melangkah lebih dulu menuju mobil.


"Mereka saling kenal ya Dir ?" Tanya Evelyn.


Dira mengangguk membenarkan.


"Berarti kamu kenal gadis yang bernama Danira ?" Tanya Evelyn lagi.


Dira mengangguk, namun belum menjelaskan siapa Danira.


"Kita makan di rumah, Mama dan Papa sudah menunggu kedatangan kalian." Ajak Ferri.

__ADS_1


"Terimakasih." Ucap Arga.


Feri mengangguk. Setelah memilih membatalkan keinginannya untuk menikahi Danira beberapa bulan yang lalu, hubungannya dengan Arga memang sedikit merenggang. Sejujurnya ia pun merasa bersalah karena sudah menjadi orang pengecut seperti hari ini.


__ADS_2