
Azam masih menutup mulutnya rapat-rapat. Netra nya hanya terus memperhatikan Aidar yang sedang membantu laki-laki yang beberapa saat yang lalu berlutut di hadapannya.
"Maafkan Bapak Nak Aidar. Maaf Bapak harus mencari laki-laki lain yang jauh lebih baik untuk Tiara." Ujar laki-laki itu merasa bersalah.
Aidar tersenyum, lalu mengangguk. Ia tetap melakukan pekerjaannya dengan hati-hati, membantu laki-laki paruh baya itu berbaring di atas ranjang dengan nayaman, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh yang terlihat lemah itu.
"Kamu sudah makan ?" Tanya Aidar pada gadis yang sedang berdiri di belakangnya.
Trias mengangguk.
"bapak istirahat aja, Ai mau beli makan buat Trias dulu." Pamit Aidar.
"Nak, maafkan Bapak." Ucap lelaki itu lagi.
Aidar tersenyum, lalu mengangguk.
"Mas ga usah, aku ga lapar." Ujar Trias saat Aidar hendak melangkah keluar dari ruangan itu.
Aidar mengusap kepala Trias lalu melangkah keluar dari dalam ruangan. Azam pun ikut melangkah keluar dari dalam ruangan itu.
Setelah Aidar dan Azam keluar dari ruangan itu, Trias kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang.
"Bapak, jangan seperti ini. Mas Aidar sangat mencintai Mabk Tia. Ia akan sangat kecewa jika Bapak bersikap seperti ini. Walaupun pekerjaan Mas Aidar hanya seorang reporter, tapi kan dia sangat menyayangi kita." Ujar Trias lembut sambil mengusap punggung tangan Bapaknya.
"Tapi dia tidak akan mampu membiayai kuliah mu, Tri." Lirih lelaki paruh baya itu.
Pengacara perusahaan milik Azam masih setia berada di dalam ruangan itu. Tadinya ia kebingungan mengapa kedua putra bos nya tidak saling tegur sapa, ternyata inilah jawabannya. Dua orang yang ada di dalam ruangan ini, ternyata tidak mengetahui siapa Aidar.
__ADS_1
"Tri ga apa-apa Pa, yang penting Mbak Tia bahagia." Jawab gadis itu.
Lelaki paruh baya itu tidak lagi menjawab. Tangannya terulur lalu mengusap lembut pipi putri bungsunya.
"Apa yang harus Bapak katakan jika bertemu dengan ibu mu di sana, Nak. Bapak pergi, karena belum memastikan kalian bahagia. Bapak takut bertemu ibu mu di sana, karena belum menunaikan janji Bapak."
Trias mulai terisak mendengar kalimat menyedihkan yang entah sudah keberapa kalinya terdengar dari bibir satu-satunya cinta dalam hidupnya ini.
"Tri dan Mbak Tia bahagia kok Pa. Mas Aidar orang yang baik, jangan ragu untuk mempercayakan kami padanya. Kasian Mas Aidar kalau Bapak meminta orang lain menikahi Mbak Tia." Mohon gadis itu sembari terisak.
Ruangan menjadi hening. Hanya suara isakan kecil dari bibir Trias yang terdengar di sana. Apakah hidupnya malang ? Tidak ! Ia sangat bahagia menikmati hidupnya. Kuliah sambil kerja di sebuah butik bukanlah hal yang berat baginya. Tapi, yang membuatnya sedih adalah keadaan sang Bapak. Dan karena keadaan Bapak nya yang seperti ini, membuat cinta sang kakak terhalang.
****
Aidar berhenti melangkah setelah memastikan ia dan sang Abang sudah jauh dari ruang perawatan Ayah dari Tiara.
"Siapa mereka ?" Tanya Azam pada adiknya.
"Aidar ! Papi dan Mami tidak pernah mengajari kita untuk tidak sopan dengan orang yang lebih tua." Tegas Azam.
"Lalu bagaimana dengan Abang ? Kenapa membiarkan orang tua yang serapuh itu, berlutut di kaki Abang ?" Aidar menatap Azam, kecewa.
"Yang kamu lihat tidak seperti yang terjadi. Beliau meminta ku untuk menikahi Tiara ? Apakah Tiara sahabat kamu itu adalah Tiara yang sama ?" Tanya Azam.
"jangan macam-macam ya Bang. Aku ga akan mau mentolerir soal apapun jika itu tentan Tia !" Tegas Aidar.
Azam terbahak. Tangannya lalu terangkat dan menepuk pelan bahu adiknya. lalu di susul tangannya yang lain, lalu memegang bahu Aidar. Senyum geli masih terlihat di bibir Azam karena Aidar mencemburui dirinya.
__ADS_1
"Lelaki paruh baya itu khawatir, takut kamu tidak bisa membahagiakan putrinya karena kamu hanya seorang reporter yang tidak handal, makanya beliau meminta ku untuk menikah dan menjaga putrinya." Kekeh Azam meledek. Melihat wajah yang biasanya tengil, kini berganti wajah serius menakutkan membuatnya ingin tertawa lucu. "Ayo katakan pada laki-laki itu siapa dirimu sebenarnya, agar dia percaya kamu bisa menjaga putrinya." Imbuhnya.
"Tiara tidak akan suka Bang. Dia menolak ku karena itu Bang." jawab Aidar lirih.
"Rumit banget sih." Ujar Azam. "Kamu urus aja deh, nanti masukin ke tagihan perusahaan. Abang harus pulang, bisa-bisa Niza ngamuk." Sambung Azam, dan Aidar mengangguk.
Namun baru saja hendak pergi meninggalkan koridor rumah sakit itu, Trias berlari dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi mendekati dua laki-laki yang sudah berjarak cukup jauh dari ruangan tempat Bapak nya di rawat.
"Ada apa ?" Tanya Aidar khawatir.
"Bapak, Mas. Bapak kritis."
Tanpa menghiraukan Azam yang masih berdiri di sana, Aidar segera berlari menuju ruang perawatan. Trias pun melakukan hal yang sama. Sayang keduanya tidak di perbolehkan untuk masuk ke dalam karena para team medis sedang menangani pasien.
Aidar membawa tubuh Trias, dan terus memeluknya erat. Gadis yang juga sudah lama mengenal Aidar itu, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Aidar, sambil terus tersisak.
"Aku bilang pulang sekarang !" Bentak Aidar saat ponselnya sudah terhubung dengan seseorang di sebrang sana. Setelah mengatakan kalimat singkat itu, Aidar segera mengakhiri panggilan.
Di tempat yang sama, Azam mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah, dan ikut berdiri di depan ruang perawatan yang di jaga oleh suster yang bertugas. Tidak lupa juga ia mengabari keluarga, terutama Niza tentang semua hal yang terjadi hari ini, termasuk tentang Aidar.
"Bapak..." Trias melepaskan diri dari pelukan Aidar, dan melangkah cepat mendekati ranjang yang sudah di dorong keluar dari dalam ruang perawatan menuju ruangan yang lain.
Aidar berusaha untuk menenangkan gadis yang sudah ia anggap seperti Niza, agar berhenti menangis.
"Jangan khawatir, aku ada di sini. Aku akan selalu ada untuk kamu dan Tia." Bujuknya.
"Maafkan Bapak, Mas. Maafkan beliau yang terus saja menjodohkan Mbak Tia dengan orang lain." Mohon Trias saat ranjang pasien yang terus ia ikuti sudah di bawa masuk ke dalam ruang operasi.
__ADS_1
Aidar mengangguk. Sungguh, ia sama sekali tidak perduli dengan penolakan laki-laki yang menjadi cinta pertama sahabatnya itu. Semua orang tua hanya ingin memastikan anaknya bahagia.
"Jangan menangis, kalau kamu sibuk nangis dan Tia sibuk kerja siapa yang akan mendoakan kesembuhan Bapak." Ucapnya sambil menghapus air mata di pipi Trias.