
Sore yang indah. Pohon-pohon yang sudah jarang di temui di tengah kota Jakarta, tumbuh dengan subur di pinggiran jalan yang di lewati oleh Ayiman. Tidak sulit mencari alamat daerah di mana Tania tinggal. Berbekal arahan dari Mbah gugil maps paling seluruh dunia yang terpasang di ponselnya, ia berhasil tiba dengan selamat di tempat tujuan.
Melihat beberapa pemuda sedang duduk berbincang di pos penjagaan, Ayiman menepikan mobilnya lalu turun menemui orang-orang itu untuk menanyakan rumah dari Tania, calon istrinya yang kabur.
"Owalah, ini Mbak Rana, Mas." Ujar laki-laki yang mungkin baru berusia tujuh belas tahun itu.
"Apa rumah nya masih jauh dari sini ?" Tanya Ayiman.
"Tidak kok, Mas. Tinggal lurus aja. Empat rumah dari sini, rumah ke lima itu rumah nya." Jelas pemuda itu.
"Terimakasih ya, ini buat beli jajanan. Ingat jangan buat beli rokok !" Ayiman mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan meletakkannya di atas lantai papan yang menjadi tempat duduk para pemuda itu.
"Mari kami antar ke sana, Mas." Ujar salah satu dari mereka dengan bersemangat.
Ayiman tersenyum, kemudian mengangguk.
Hanya empat rumah, itu berarti rumah Tania tidak jauh dari tempat ia berada saat ini. Untuk itu, ia memutuskan untuk meninggalkan mobil mewahnya di depan pos yang menjadi tempat perkumpulan para pemuda itu.
"Masih jauh ?" Tanya Ayiman heran karena sejak tadi berjalan kaki, belum juga sampai ke tempat tujuan.
"Itu di sana." Tunjuk salah satu pemuda yang ada di sana.
Ayiman menarik nafasnya dalam-dalam. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak karuan, padahal baru dua hari yang lalu mereka menghabiskan waktu bersama hingga ia melupakan pekerjaan di kantor dan membuat Ayura mengamuk.
Langkah kaki Ayiman dan tiga orang pemuda yang merupakan warga di sana, semakin mendekati rumah milik Tania. Laki-laki itu mengepalkan tangannya erat, guna mengurangi rasa gugup yang melandanya.
Ketukan di pintu rumah sederhana terdengar. Tentu saja bukan Ayiman yang melakukan hal itu, tetapi salah satu pemuda yang berdiri di hadapan Ayiman.
"Mbak Rana.." Panggil pemuda tersebut.
Ketukan di pintu kembali terdengar saat panggilan tadi masih belum juga mendapat jawaban dari dalam rumah sederhana itu.
"Mbak ada tamu." Ucap salah satu pemuda yang kini berdiri di depan pintu rumah.
"Kalian itu kalau mau bertamu di rumah orang jangan ketuk sama teriak-teriak nama pemilik rumah. Tapi salam, ucapkan salam.."
Suara wanita yang sedang mengomel dari dalam rumah, semakin membuat Ayiman berdebar. Apakah dia telah jatuh cinta pada gadis yang sedang berada di dalam rumah ini ?
__ADS_1
"Ada apa ? Kenapa...
Suara Tania terhenti ketika membuka pintu rumah sederhana miliknya, dan mendapati orang yang nyaris membuatnya gila seharian ini, sudah berdiri di depan pintu rumah bersama pemuda yang sudah ia kenali sejak dulu.
"Ini ada tamu." Jawab pemuda itu.
Tania mengangguk. Tatapannya masih tertuju pada laki-laki yang juga sedang menatap lekat ke arahnya.
"Ini Mbak Rana nya, Mas. Kami tinggal ya, terimakasih untuk upahnya."
Ayiman tersenyum, kemudian mengangguk.
Setelah berpamitan pada Tania, tiga pemuda itu meninggalkan halaman rumah Tania, dan kembali ke pos tempat mereka nongkrong tadi.
"Apa aku ga di suruh masuk ?" Tanya Ayiman.
"Mari silahkan masuk, Ayi." Tania mempersilahkan.
Ayiman akhirnya melangkah mendekati pintu yang sudah di buka lebar, dan masuk ke dalam rumah.
"Apa kamu hanya akan berdiri di sana ?" Tanya nya ketus karena Tania masih berdiri di pintu rumah yang baru saja ia lewati.
Ayiman hanya bisa menatap kepergian Tania sambil merutuki dirinya sendiri yang tidak berani menahan gadis itu agar tetap di sana.
Beberapa saat kemudian, Tania kembali ke dalam ruangan di mana Ayiman berada sambil membawa nampan berisi satu cangkir teh.
"Minum dulu, Ayi." Ujar Tania mempersilahkan.
Ayiman menarik nafasnya sambil menatap gadis yang sedang tertunduk di hadapannya.
"Kenapa pergi ga pamit-pamit sama aku ?" Tanya Ayiman lembut.
"Maafkan aku." Ucap Tania.
"Aku tanya alasan kamu pergi, bukan ingin mendengar permintaan maaf." Ujar Ayiman.
"Aku ingin mengakhiri hubungan pura-pura itu Ayi. Maafkan aku, sungguh aku minta maaf." Mohon Tania.
__ADS_1
Ayiman tersenyum sinis.
"Tidak ada yang pura-pura di antara kita. Jika kamu merasa seperti itu, itu urusan kamu sendiri. Yang pasti aku menjalani hubungan itu, dengan sungguh-sungguh." Tegas Ayiman.
Tania menatap Ayiman dengan lekat. Bukankah laki-laki ini memang tidak mencintainya ? Lalu mengapa sekarang ingin menahannya pergi.
"Kamu kan ga mencintai aku ? Jadi aku membuat semaunya menjadi lebih mudah untuk kamu." Ujar Tania.
Ayiman mendengus kesal. Gadis ini benar-benar sedang menguji kesabarannya. Lihat saja nanti, ia pasti akan menyeret gadis ini dan langsung menikahinya malam ini juga.
"Kamu pikir saat aku mempertemukan kamu dengan Daniza, aku tidak serius ingin memulai semuanya dengan kamu dari awal. Kamu pikir aku hanya ingin memperalat hubungan kita agar bisa melupakan Daniza, begitu ?"
Suara Ayiman semakin meninggi, membuat Tania terdiam.
"Aku serius, Tan. Mungkin memang tidak mudah melupakan seseorang yang pernah mengisi hati, tapi bukan berarti aku tidak bisa, kan ? Beberapa bulan saat aku belum memberi kepastian, kamu tetap menunggu dengan sabar. Lalu mengapa saat semuanya sudah berjalan, kamu memilih mengakhiri semuanya ?"
Pertanyaan beruntun dengan suara yang meninggi semakin membuat nyali Tania menciut.
"Maafkan aku, Ayi. Maafkan aku karena sudah mempermainkan semua ini." Sesal Tania. Seharusnya ia jujur lebih awal dengan Ayiman, sebelum semua menjadi serumit ini. Ah, sungguh bodoh dirinya, benar-benar bodoh.
"Kita tetap nikah !" Tegas Ayiman.
"Ayi, Tante Aira dan Om Abi pasti sudah sangat kecewa pada ku. Dan kamu juga pasti sama kecewanya dengan mereka. Aku ga bisa jalanin hal seperti itu, Ayi." Ujar Tania memelas. "Aku rasa, orang seperti kalian ga akan butuh waktu lama untuk mengetahui siapa aku sebenarnya." Sambungnya sambil tertunduk dalam.
Ayiman menarik nafasnya dalam-dalam, sambil menatap lekat wajah Tania. Sungguh ia tidak perduli dengan semua yang terjadi dua hari ini. Ia hanya ingin menarik Tania dan kembali ke Jakarta. Yang ia inginkan saat ini, hanya Tania.
"Kita tetap pulang ke Jakarta. Ayah dan Ibu belum mengetahui siapa kamu, dan kamu wajib menjelaskan pada mereka."
"Ayi, aku ga bisa. Aku takut, jangan lakukan ini aku mohon. Tolong maafkan aku." Mohon Tania. Sumpah demi apapun, ia tidak ingin di cap sebagai wanita yang tergila-gila dengan harta orang. Meskipun niatnya mendekati Ayiman adalah tentang harta, tapi bukan harta milik Ayiman yang ia inginkan.
"Aku ga perduli, Tania. Lakukan apa yang aku inginkan, atau tidak kamu akan membayar kompensasi untuk waktu yang aku buang percuma selama beberapa Minggu ini." Ujar Ayiman tegas.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku ? Apa terlalu berat memaafkan kesalahan ku ?" Tanya Tania lirih.
"Itu kamu tahu. Aku berat melepaskan kamu begitu saja." Jawab Ayiman.
"Tapi mengapa ?" Tania kembali bertanya. Dulu saja, Ayiman meminta dirinya untuk melepaskan diri, dan tidak mengharap apapun dari rencana kedua orang tua mereka, karena laki-laki yang ada di hadapannya ini mencintai gadis lain.
__ADS_1
"Karena aku sudah mencintai mu." Ayiman masih menatap Tania yang nampak begitu terkejut karena kalimat singkatnya.