
"Ini gimana Mas ? Maksud aku..
"Tunggu di sini." Azam meraih paper bag yang ada di genggaman Trias, lalu melangkah keluar dari dalam ruangannya menuju meja sekretaris.
Trias hanya mengangguk dan menatap punggung Azam yang baru saja menghilang di pintu ruangan tempat ia berada.
Beberapa saat kemudian, Azam sudah kembali lagi ke dalam ruangan di mana Trias berada.
"Kenapa masih berdiri di situ ?" Tanya Azam saat melihat Trias masih berdiri di tempat yang sama. "Ayo duduk." Ajaknya sambil menarik tangan Trias menuju sofa yang ada di dalam ruangan itu.
Keduanya sama-sama sedang menahan debaran jantung yang menggila. Azam tidak mengetahui jika saat ini Trias terasa sulit bernafas karena genggaman hangat di jemari nya. Trias pun sama, gadis itu tidak tahu ada sesuatu yang aneh sedang menggelitik di hati Azam karena kedatangannya siang ini.
Jatuh cinta adalah dua kata yang sama sekali belum pernah terbayang di benak Azam selama tiga puluh tiga tahun usianya. Percaya atau tidak, sampai saat ini ia belum pernah merasakan bagaiman memiliki seorang wanita dalam hidupnya, selain Daniza dan sang Mami.
Berbeda dengan Alfan dan Aidar, meskipun keduanya sama seperti dirinya yang tidak suka mengumbar kata cinta, namun, dua adiknya itu memiliki sahabat wanita.
"Tadi Mami membawa masuk meja rias di dalam kamar kamu Mas." Ujar Trias memecah keheningan.
"Itu aku yang minta." Jawab Azam. "Aku ga tahu kesukaan kamu seperti apa, nanti kita kalau ga sesuai sama selera kamu." Sambungnya.
Trias segera menggeleng.
"Meja riasnya bagus kok." Sela Trias.
"Kamu suka ?" Tanya Azam cepat. Memiliki seseorang yang ingin di buat bahagia, ternyata semenyenangkan ini.
"Suka, karena aku ga akan pernah bisa membeli nya." Kekeh Trias.
Azam terdiam sambil menikmati senyum manis di bibir istrinya. Sungguh, ini pertama kalinya ada orang asing yang berhasil menerobos masuk ke dalam relung hati nya. Selama ini, hanya Daniza dan sang Mami, wanita yang menempati hatinya. Dan mungkin mulai saat ini, akan ada wanita baru yang akan menempati ruang spesial yang selama ini kosong.
"Aku senang kamu menyukainya." Ucap Azam dengan hati yang berdesir. Wajah cantik tanpa polesan yang sejak pagi terus mengisi kepala, kini sedang tersenyum di hadapannya.
Beberapa saat kemudian, seorang gadis yang menjabat sebagai sekretaris pribadi Azam meminta izin masuk ke dalam ruangan untuk menghidangkan makan siang yang di bawa oleh Trias tadi.
"Terimakasih." Ujar Azam.
__ADS_1
Gadis cantik berhijab itu mengangguk, kemudian berpamitan keluar dari dalam ruangan itu.
****
Di sebuah kamar hotel milik keluarga Daren, Daniza berdiri di ambang pintu sembari menatap garang ke arah suaminya yang terus memasang senyum mesum mengesalkan.
"Aku ke sini mau makan siang ya, bukan yang lain." Tegas wanita yang masih mengenakan snelly dokter itu. Tatapannya mengitari ruangan kamar hotel mewah milik suaminya. Lihatlah, laki-laki yang membuat tulang belulangnya hancur dalam semalam, sudah mempersiapkan kamar hotel dengan begitu sempurna, dasar mesum.
"Semalam kamu udah tidur Niz, aku kan masih pengen." Ujar Daren semakin membuat mata Daniza melotot ingin keluar dari tempatnya.
"Kamu ga waras yaa ? Aku tertidur karena sudah sangat kelelahan, dan itu ulah kamu." Kesal Daniza.
Oh ayolah, inti tubuhnya bahkan masih terasa perih, dan kini suami gilanya ini sedang merengek meminta jatah di siang bolong.
"Hari ini Fatih akan kembali ke rumah Niz, aku ga akan punya kesempatan tidur berdua sama kamu." Rengek Daren lagi.
"Ga, masih perih." Tolak Daniza. Gadis itu melangkah masuk ke dalam kamar hotel sambil melepaskan snelly yang menutupi terusan panjangnya.
"Masa sih ?" Tanya Daren tidak percaya. Bukan tidak percaya, tapi ia tidak mau keinginannya siang ini tidak tercapai. Mengurung Daniza di dalam kamar hotel sampai sore nanti adalah tujuan penting nya hari ini.
"Mas aku ga bohong, ini masih perih loh." Kali ini Daniza sudah memohon agar Daren melepaskan dirinya siang ini. Tubuhnya yang sedang duduk di sofa, sudah berpindah ke atas ranjang mewah yang ada di dalam kamar itu.
"Menolak suami dosa loh Niz." Daren memperingati. Ia menatap wajah cantik berbalut hijab itu dengan tatapan memohon.
"Malam nanti ya." Bujuk Daniza. Tangan lentiknya terulur, dan mengusap lembut pipi Daren.
Daren menutup mata, menikmati sentuhan lembut di wajahnya dengan hati yang membuncah. Ia belum beranjak dari atas tubuh mungil Daniza.
"Janji yaa." Daren memastikan.
Daniza tersenyum, lalu mengangguk.
"Kita makan siang yuk, aku lapar." Ajak Daniza.
"Aku mencintaimu Niz." Ucap Daren.
__ADS_1
"Aku lapar." Jawab Daniza cemberut.
Daren terbahak, lalu segera beranjak dari atas tubuh istrinya.
"Aku juga mencintai mu Mas." Kecup Daniza di pipi Daren.
"Mas..." Teriak Daniza saat tubuhnya sudah kembali ke posisi semula.
"Kamu yang memulai." Bisik Daren serak. Hijab yang menutupi kepala Daniza sudah terlepas.
Daniza pasrah, dan membiarkan Daren melakukan apapun yang di inginkan oleh suaminya itu. Jika ia masih terus menolak, maka waktu akan semakin banyak terbang, dan akhirnya akan selalu sama.
Tidak ada lagi penolakan. Daniza membiarkan tangan nakal daren menjelajah apapun yang memang sudah menjadi milik suaminya itu.
Ciuman panjang yang sudah membuat daren candu dalam semalam itu, terus berlangsung di dalam kamar hotel miliknya.
Siang yang panjang, dan mungkin akan berlanjut hingga sore nanti. Rencana indah yang sudah tersusun di otak tentang bulan madu dadakan dalam setengah hari, ia mulai.
Leher jenjang yang selalu saja tertutup dari tatapan orang-orang itu, mulai ia jelajahi dengan bibirnya. Bahu mulus yang semalam hanya bisa ia nikmati di dalam kamar yang temaram, kini terlihat jelas di pandangannya. Bahkan beberapa tanda kepemilikan yang ia tinggalkan semalam, masih terlihat dengan jelas di atas kulit putih mulus Daniza.
Suara yang semakin membuatnya bersemangat, mulai terdengar keluar dari mulur Daniza. Bebas, yah di sini sangat bebas. Ia bebas melakukan apa saja di sini, tanpa takut terdengar oleh penghuni lain seperti di rumah mertuanya. Meskipun kamar yang mereka tempati di rumah mertuanya memiliki peredam suara, tetap saja rasa khawatir terus saja menyelimutinya semalam saat memberikan nafkah batin untuk Daniza.
"Mas hati-hati, ini masih perih." Pinta Daniza memohon.
Daren mengangguk.
Siang yang panjang di mulai. Salah satu kamar mewah di hotel milik keluarga Daren itu sudah di isi dengan suara yang semakin menambah semangat sepasang suami istri meraih puncak yang pertama kalinya mereka raih semalam.
Jangan ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Ibadah yang paling panjang adalah pernikahan. Bahkan sedang menikmati, kenikmatan di atas ranjang bersama pasangan pun, bernilai ibadah.
****
*NoteAuthor.
Jangan lupa ibadah di malam jumat ya guys 🤭😅
__ADS_1