Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 89 Season 2


__ADS_3

Mentari senja mulai terlihat mulai tenggelam di ujung sana. Sangat indah di pandang mata, namun, sebentar lagi akan menghilang menuju ke peraduan.


Sama dengan kisah indahnya bersama Reno. Enam tahun meneguk nikmatnya rumah tangga yang bahagia, tidak sekalipun Reno berbuat hal yang menyakiti. Lelaki itu menjadi sosok sumai idaman, akan tetapi semuanya juga akan segera menghilang setelah Reno menandatangani berkas yang ia bawa hari ini.


Yana masih duduk diam di dalam mobilnya. Menatap lekat bangunan berlantai yang menyimpan sejuta kenangan kisah cintanya bersama dengan Reno. Berkas yang ada di dalam map berwarna cokelat itu, masih berada di atas pangkuannya. Tidak ragu, hanya saja ia masih belum percaya jika kini dirinya sudah terjaga dari mimpi indahnya bersama Reno.


Ternyata, menciptakan banyak kenangan indah lalu berakhir luka itu lebih menyakitkan. Jika saja pernikahan yang ia jalani selama lebih dari enam tahu lamanya tidak seindah yang ia rasakan selama ini, mungkin saat ia mendapati kenyataan, bahwa Reno memiliki wanita lain, tidak akan sesakit ini.


"Ini tidak terlalu mendesak Pak Rei, jika suami saya mempersulit perceraian nanti, barulah saya akan membutuhkan jasa anda."


Kalimatnya yang ia utarakan pada pengacara yang akan membantunya dalam kasus perceraian ini, kembali terngiang. Sakit, tentu saja. Hatinya bagai di hujam banyak paku karena pernikahan yang begitu harmonis harus berakhir di ketukan palu hakim.


Yana keluar dari dalam mobil, lalu masuk ke dalam bangunan berlantai menuju unit apartemennya. Stelan kerja masih melekat di tubuhnya. Yana mengitari kotak besi yang sering ia dan Reno gunakan itu dengan pandangannya.


Tarikan nafas yang begitu berat, kembali terdengar di dada. Yana masih berdiri di depan pintu apartemen yang sekian tahun ia tempati bersama cinta pertama yang ia harap akan menjadi cinta terakhirnya juga. Dengan sedikit ragu, ia mulai meneken setiap angka passcode di pintu apartemen. Masih belum berubah, beberapa digit angka yang menjadi momen sakral sekaligus hari paling bahagia untuknya itu masih menjadi code untuk membuka pintu apartemen.


Perlahan ia mendorong pintu itu, lalu kembali menutupnya. Ia kembali mengitari ruangan sederhana dengan satu set sofa dan TV plat yang sering ia dan Reno jadikan bioskop kala hari libur, dengan pandangannya. Apartemen terlihat sangat bersih dan rapi, tidak heran karena Reno lelaki yang bersih dan telaten dalam hal pekerjaan rumah tangga.


Yana melangkah masuk menuju pintu kamar tidurnya. Pintu kamar tidur yang menjadi saksi pergulatan panjang mereka selama enam tahun, di tatapnya lekat.


"Kenapa sesulit ini ?" Gumamnya di dalam hati.


Dengan hati-hati ia menekan handel pintu itu, lalu membukanya perlahan.


Deg...


"Astagfirullah." Lirihnya dan segera berbalik badan meninggalkan dua orang yang sedang memadu kasih di atas ranjangnya.


Ranjang yang selalu ia gunakan untuk melepas penat, kini sudah berubah pemiliknya. Ranjang yang dulu hanyalah miliknya, kini sudah menjadi milik orang lain.


Tetesan air mata kembali meluncur tanpa bisa di tahan dari pelupuk mata. Dadanya bergemuruh, sakit sekali. Kakinya yang bergetar, ia usahakan untuk tetap bisa menopang tubuh yang sedang berusaha tenang. Suara panik sambil memanggil namanya dari dalam kamar, membuat hatinya semakin sakit.


"Astagfirullah ya Allah." Ujar Yana lagi sembari mengelus dadanya yang terasa terhimpit.


Ia ingin terlihat baik-baik saja, namun, melihat langsung Reno yang begitu menikmati tubuh wanita lain masih saja membuat hatinya berdenyut sakit.


Yana memilih duduk dengan tenang di atas sofa. Ia berulang kali mengusap lembut pipinya yang sudah basah dengan air mata. Dadanya masih berdegup kencang, kakinya gemetar, tapi inilah kenyataan yang harus ia hadapi.


Beberapa menit kemudian, lelaki yang tadi polos tanpa busana sudah melangkah cepat menuju sofa tempat ia berada.


Yana tersenyum miris, entah mengapa ia begitu mencintai laki-laki sebrengsek ini selama bertahun-tahun lamanya.

__ADS_1


"Na..


Yana menoleh, wajahnya masih terlihat tenang. Ia menatap datar laki-laki tidak tahu malu di hadapannya. Selang beberapa menit kemudian, wanita berhijab yang terlihat seperti wanita baik-baik itu pun ikut keluar dari dalam kamar.


"Maaf mengganggu kesenangan kalian. Aku mampir hanya ingin menyerahkan ini Ren, tolong tanda tangani biar prosesnya lebih mudah." Ujar Yana sembari mengulurkan satu map cokelat ke arah laki-laki yang tidak lagi ingin ia sebut dengan embel-embel Mas sebagai rasa hormat seorang istri terhdap suaminya.


"Na..


"Singkirkan tangan kotor mu itu !" Bentak Yana membuat dua orang yang ada di dalam ruangan yang sama terkejut. "Beraninya kamu masih menyentuh bagian tubuhku, saat baru saja menyentuh wanita lain." Sambung Yana dengan nada menusuk.


Reno tertunduk dalam, gairah yang meledak-ledak dan tidak tersalurkan selama tiga hari ini tak mampu lagi membendung hasratnya, dan saat melihat wanita lain yang juga halal untuknya, ia tidak lagi menahan diri.


"Aku terpaksa melakukan


Plakk


Tamparan keras mendarat di pipi Reno. Jangan tanya lagi siapa pelakunya.


"Aku benar-benar terpaksa menyentuh


Plakk..


"Sekali lagi kamu bilang terpaksa di depanku, aku pastikan bogem mentah ini akan menghancurkan bibir busuk mu itu."


Suara menusuk dari bibir Yana, di sertai tatapan tajam tertuju pada Reno.


"Tanda tangani ini, lalu setelah itu kita tidak lagi memiliki hubungan apapun." Tegasnya sembari meletakan map cokelat yang masih belum di raih oleh Reno dan satu buah pena ke atas meja.


Reno masih tertunduk, dan itu semakin membuat Yana kesal.


"Cepat tanda tangan, aku ingin segera terbebas dari laki-laki brengsek dan pengecut seperti dirimu." Ujarnya lagi.


"Mbak pikirkanlah lagi. Kita bisa hidup bertiga kok Mbak."


Suara wanita yang sejak tadi bungkam, sontak membuat Yana tertawa terbahak.


"Maksud kamu threesome gitu ?" Yana sudah melipat tangannya di atas dada. Menatap jijik wanita murahan yang kini sudah berani mengangkat wajahnya.


"Bukan begitu Mbak. Mas Reno bisa bergantian tidur di kamar kita dengan adil." Jelas wanita mudah itu lagi.


Yana kembali tertawa. Kali ini ia sudah menahan perutnya yang terasa di gelitik karena kalimat lucu yang baru saja meluncur dari wanita yang masih berstatus sebagai madunya ini.

__ADS_1


"Ambil aja. Aku ga biasa memakai sesuatu yang sudah menjadi bekas orang lain." Ujarnya remeh.


"Mbak kita akan bahagia hingga ke syurgaNya nanti jika mengikuti sunah dengan baik."


"Loh barusan kan kalian baru merasakan Syurga dunia. Aku sudah puas kok ngerasain Syurga bareng Reno. Ambil aja aku sudah bosan mau cari yang lain." Jawab Yana acuh.


"Mbak


"Hentikan. Jangan memanggilku Mbak, aku bukan kakak kamu. Aku ngga suka punya adik ngga tahu diri seperti kamu." Kesal Yana.


"Cepat tanda tangan, biar kamu bisa ngelanjutin ronde berikutnya." Kali ini Yana sudah mengambil pena dari atas meja, lalu menyodorkan benda itu kepada Reno.


"Aku ngga mau, aku ngga akan pernah tanda tangan." Reno menatap Yana lekat. Ia tidak akan melepaskan Yana apapun yang terjadi.


"Baiklah, ceraikan wanita ini sekarang juga." Tunjuk Yana pada wanita yang masih berdiri di belakang Reno menggunakan pena yang ada dalam genggamannya. Mata wanita itu terbelalak mendengar permintaan Yana.


"Dia sedang hamil Yana."


"Aku tidak perduli !" Ujar Yana.


"Mas jangan lakukan." Pinta wanita itu.


"Aku akan menceraikan dia setelah melahirkan Yana." Bujuk Reno.


"Tapi aku maunya sekarang."


Reno berbalik, ia menatap wanita yang sudah berderai air mata di belakangnya.


"Rara Nadira, mulai hari ini saya bebas engkau


Hahahaha


Suara tawa yang menggema di dalam ruangan menghentikan kalimat Reno.


"Aku benar-benar ngga nyangka kamu sedurjana ini. Laki-laki yang aku puja sekian tahun, ternyata tidak lebih dari iblis. Ren kamu baru saja ngajak di enak-enak loh, masa iya mau kamu ceraiin. Ya Allah terbuat dari apa otak dan hati kamu."


Yana kembali tertawa, menghina wanita bodoh yang sedang menangis pilu di ruangan yang sama dengannya.


"Ngga usahlah, aku hanya ingin bercerai dari kamu. Dan siapa nama kamu tadi Rara ya ? Rara, Setelah ini berpikirlah dengan baik." Ujar Yana menatap bergantian dua orang yang ada di sana.


"Kita bertemu di pengadilan. Karena kamu tidak ingin menandatangani ini, maka pengacaraku akan segera melayangkan gugatan." Sambungnya, lalu beranjak dan keluar dari apartemen yang mulai malam ini, tidak akan pernah ia datangi lagi selama sisa hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2