Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 253 Season 4


__ADS_3

Kamu adalah doa yang pernah sampai tapi memilih selesai. Kamu adalah ingatan yang tak saling lupa tapi memilih berduka. Kamu adalah tatapan yang pernah begitu manis tapi memilih menangis. Dan kamu adalah takdir yang sempat berencana tapi aku gagal untuk mengubah rencana-Nya, karena memang tidak ada satu manusia pun yang mampu mengubah rencana-Nya.


Ayiman menatap gadis yang masih bertahta di dalam hati terdalamnya, dengan hangat. Gadis yang pernah ia gumamkan namanya hampir di setiap sujud nya. Gadis yang selalu sebut namanya di ujung malam, kala lelap akan menyapanya, kini akan memulai hidup barunya dengan orang lain.


Laki-laki yang terlihat tampan dengan stelan jas mahal itu, masih berdiri di ambang pintu kamar, sambil menatap gadis cantik yang sedang duduk manis di depan cermin. Kebaya putih dengan taburan mutiara, juga hijab dengan warna senada, sudah terbalut indah di tubuh gadis yang masih tersimpan rapi di dalam hatinya.


Daniza Akila Arion, tidak akan pernah lagi ia sebut sebagai wanita di setiap malam nya. Daniza, gadis manis yang tidak akan pernah lagi ia pinta di setiap sujud nya.


Mengikhlaskan, tidak harus melupakan. Sejatinya, seseorang yang pernah singgah di hati, tidak akan semudah itu di lupakan begitu saja. Akan tetapi, kita wajib mengikhlaskan, karena memang takdir yang sudah di tetapkan oleh Nya tidak akan pernah kita rubah.


"Masuk yuk." Ajak Tania.


Ayiman menoleh pada gadis penyabar yang kini sedang berdiri di sampingnya. Lihatlah betapa jahatnya ia. Ketika melihat Daniza, ia bahkan melupakan gadis cantik yang kini siap menggenggam tangannya.


"Ayo masuk. Kamu butuh untuk mengikhlaskan segalanya." Ujar Tania lagi.


Ayiman mengangguk. keduanya lantas masuk lebih dalam dan membiarkan pintu kamar pengantin itu tetap terbuka lebar.


Tania melangkah menuju ranjang pengantin yang sudah di dekorasi dengan begitu indahnya. Mata indah gadis dengan hati seluas samudra itu mengitari ruangan yang ia tebak adalah kamar masa kecil milik gadis yang masih di cintai oleh calon suaminya itu. Beberapa saat kemudian tatapannya tertuju pada dua orang yang berada tidak jauh dari tempatnya.


"Aku ikut bahagia." Tiga kata yang di ucapkan Ayiman, membuat satu tetes air mata lolos dari pelupuk mata Daniza. "Jangan nangis, nanti cantiknya hilang. Ga enak kalo Mas Daren ngamuk sama aku." Tangan Ayiman terangkat lalu mengusap lembut pipi Daniza.


Air mata semakin banyak lolos dari manik yang sudah di rias dengan begitu indah oleh penata rias. Gadis yang sebentar lagi akan resmi menyandang status sebagai seorang istri itu, terus sesegukan sembari meminta maaf.


Mata Ayiman tidak kala berkaca.


"Maafkan aku Bang." Lirih Daniza.


"Kok minta maaf.." Ucap Ayiman tidak kalah lirih. "Aku bahagia kok. Mas Daren orang yang baik, dan aku akan jauh lebih tenang karena yang akan menjaga mu nanti adalah Mas Daren." Ujarnya lagi.

__ADS_1


Daniza tidak lagi menimpali. Ia hanya membawa tubuh mungilnya dan terbenam dalam pelukan Ayiman. Kata maaf terus ia gumamkan di dalam hatinya, sedangkan Ayiman menatap Tania yang juga sedang menatapnya dengan mata yang berkaca.


"Aku ikut bahagia, dan doakan aku juga agar bisa meraih bahagia dengan nya." Ucap Ayiman lagi masih sambil menatap Tania yang ikut berkaca menyaksikan pemandangan di dalam ruangan itu.


"Calon istri orang woy." Ucap laki-laki yang juga mengenakkan jas serupa dengan Ayiman, sambil berdiri di ambang pintu kamar pengantin.


"Janur kuning belum melengkung ya ?" Alfan menimpali.


"Di sini tidak ada janur kuning, bodoh. Kmu ga liat dekorasinya warna putih." Aidar melangkah mendekati adik kesayangan mereka yang baru saja melepaskan pelukan dari Ayiman.


Tanpa berkata-kata, laki-laki yang terkenal tengil itu langsung membawa tubuh adiknya dan masuk ke dalam pelukannya.


"Bang Ai jangan keras-keras, nanti riasan aku rusak." Protes Daniza saat Aidar memeluknya dengan sangat erat.


"Setelah ini Mas Daren ga akan izinkan siapapun memelukmu." Kekeh Aidar, tapi matanya berkaca kala membayangkan tidak akan bisa lagi membuat Daniza menangis seperti dulu.


"Aku sesak Bang." Protes Daniza karena sudah di peluk dua abangnya.


Plak... Plak...


Pukulan di punggung dua jomblo abadi, akhirnya berhasil mengurai pelukan itu.


Danira sudah berdiri dengan garang. Matanya melotot saat melihat penampilan putrinya sudah berantakan karena ulah dua putra nya.


"Kamu yaa." Pukul Danira lagi di bahu Aidar.


"Bukan Ai aja Mi, Bang Ayiman dan Alfan juga dong." Protes Aidar.


"Tapi kamu yang paling banyak membuat riasannya rusak." Tuduh Nira. Wanita dengan kecantikan yang tak termakan usia itu melangkah cepat keluar dari dalam kamar untuk memanggil penata rias.

__ADS_1


Kesempatan itu kembali di gunakan Aidar. laki-laki yang selalu saja membuat adiknya kesal itu, kembali memeluk tubuh Daniza dengan begitu eratnya.


"Aku mau puas-puasin." Gumamnya sontak membuat orang yang ada di dalam kamar itu tertawa, termasuk Tania.


"Kamu gadis yang beruntung Niz. Beruntung karena memiliki banyak cinta dari mereka semua." Ujar Tania.


"Sudah sana turun, ijab kabul nya sebentar lagi di mulai." Pukul Daniza lagi di punggung Aidar yang selalu saja membuatnya kesal.


Ayiman dan Tania sudah lebih dulu keluar dari dalam kamar, lalu di ikuti Aidar dan juga Alfan.


"Mi, Bang Azam di mana ? Kok ga keliatan ?" Tanya Daniza saat penata rias mulai merapikan riasannya yang sudah rusak karena perbuatan ketiga abangnya.


"Ada kok di lantai bawah, lagi temanin Papi." Jawab Danira.


Wanita itu meletakan ponselnya di atas meja rias, agar putrinya bisa melihat proses ijab kabul yang sedang berlangsung di lantai bawah.


****


Di ruangan lain yang ada di rumah itu, Daren sudah duduk dengan tenang di depan Arion, Papi dari calon istrinya. Ini pernikahan kedua, tapi ini adalah cinta pertama baginya.


Arion masih terus tersenyum hangat pada calon menantu sekaligus keponakannya. Setelah ini akan ada dua orang yang siap memastikan kebahagiaan putrinya. Daniza, putri kecilnya akan mendapatkan suami sebaik Daren, di tambah bonus bocah laki-laki setampan Al Fatih.


Tangan dua laki-laki yang menjadi cinta pertama dan terakhir Daniza saling menggenggam. Kalimat sakral mulai terdengar dari bibir Arion, Daren pun mendengarkan kalimat itu dengan seksama dan bersiap menyambut kalimat sakral itu dengan tegas.


Proses menerima dan menyerahkan itu berjalan dengan lancar tanpa kendala. Dalam pernikahan seorang Ayah akan menyerahkan tanggung jawabnya kepada seorang suami. Ijab kabul di ibaratkan dengan dua kata itu. Seorang Ayah akan menyerahkan tanggung jawabnya, dan seorang suami bersiap menerima tanggung jawab itu.


Meskipun pernikahan itu hanya di saksikan oleh kerabat terdekat, namun tidak mengurangi kebahagiaan bagi seluruh keluarga. Tida ada resepsi dan tamu undangan seperti kebanyakan pernikahan putra putri konglomerat lainnya. Keputusan ini di ambil untuk menghindari banyak hal.


Dira yang sedang memangku Al Fatih, beranjak dari tempat duduknya saat melihat kakak kembarnya turun dari tangga sambil mengapit keponakan yang baru saja resmi menjadi menantunya, lalu menuntun gadis itu menuju kursi yang ada di samping Daren, putranya.

__ADS_1


__ADS_2