Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 121 Season 2


__ADS_3

Di pelataran hotel yang baru saja di tinggalkan Yana dan Alfaraz, Reno masih termenung di dalam mobilnya. Malam ini mantan bos-nya memintanya untuk datang ke hotel ini, guna membicarakan perihal pekerjaan yang dulu sempat ia tinggalkan.


Melihat Yana yang tersenyum bahagia dalam genggaman laki-laki lain, membuat dadanya kembali berdenyut sakit. Wanita yang dulu selalu menatapnya hangat penuh cinta, dan selalu menanti kepulangannya dengan senyum manis, kini sudah berada di dalam genggaman orang lain.


Jangankan untuk meminta Yana kembali dalam hidupnya yang seperti ini, bahkan untuk menyapa saja rasanya ia tidak lagi memiliki kepercayaan diri. Alfaraz dan Gerald, hanya sekedar membayangkan dua nama itu, sudah membuatnya merasa sangat rendah.


Reno terkekeh miris, ia menertawai dirinya sendiri. Ia tahu Yana adalah wanita istimewa dan berharga dalam hidupnya. Tapi dengan begitu bodoh ia menorehkan luka pada wanita yang sangat berharga itu. Kini Yana semakin sulit untuk ia raih. Hidupnya terlalu rendah jika di bandingkan dengan dua sosok lelaki yang saat ini berusaha merebut hati mantan istrinya itu.


Getaran ponsel di saku celananya, menyadarkan Reno dari lamunan. Ia segera merogoh benda pipih itu, lalu menjawabnya.


"Saya di depan Pak." Jawabnya.


"Kita ketemu di kantor besok."


Gerald mengakhiri panggilan, namun, ia masih menatap mobil Reno yang sedang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia memang sengaja meminta Reno untuk datang malam ini, agar lelaki itu sadar, jika wanita yang ia sia-siakan, adalah wanita yang sangat berharga untuk orang lain.


Setelah mobil Reno pergi dari sana, Gerald kembali masuk kedalam dan bergabung dengan dua wanita yang masih terus membicarakan banyak hal tentang Yana.


"Bagaimana ?" Tanya Gina saat melihat putranya sudah duduk di sampingnya.


"Dia sudah pergi." Jawab Gerald.


"Semoga setelah ini, mantan suaminya itu tidak akan lagi mengganggu Yana." Ucap Farah.


"Cukup lama kami menjadi rekan kerja, dan Tante Farah akan beruntung karena Yana memilih Alfaraz." Ujar Gerald.


Farah mengangguk membenarkan.


"Bagaimana dengan Nara Tante ?" Tanya Gerald.


"Entahlah, Tante masih belum bertanya tentang wanita itu. bukan belum, tapi memang tidak ingin." Jawab Farah.


"Dia wanita yang cantik." Ujar Regina.


Farah hanya menanggapi kalimat rekan bisnis suaminya dengan senyum, karena ia tidak lagi ingin membahas apapun mengenai orang-orang yang meninggalkan kenangan buruk dalam hidupnya. Rita wanita yang penuh obsesi dan dendam, dan ia tidak lagi ingin membahas apapun mengenai wanita itu.


Nara mungkin berbeda, tapi saat Alfaraz dengan begitu tega meninggalkan keluarga hanya untuk hidup dengan gadis itu, membuat Farah semakin tidak suka dengan kelurga itu.

__ADS_1


Entahlah, setelah puluhan tahun telah berlalu, ia masih belum bisa menerima alasan mengapa wanita itu membencinya.


***


Di dalam mobil yang sedang melaju sedang, Yana masih menikmati keterdiamannya. Mobil yang tidak asing di pelataran hotel tadi sedikit mengganggu pikirannya. Lelaki yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya sedang berada di tempat yang sama, dan itu sedikit membuatnya khawatir.


"Semua akan baik-baik saja." Gumamnya dalam hati.


Yana mengerinyit, lalu memperhatikan jalan yang mereka lewati dengan seksama dan ini memang jalan menuju ke rumah ibunya.


"Loh kenapa pulang ? bukannya kita mau lihat gaun pengantin ?" Tanyanya.


Alfaraz masih melajukan mobil menuju rumah calon ibu mertuanya.


"Semuanya sudah siap kok. Besok gaunnya akan mereka bawa ke hotel. Aku hanya ingin makan malam bersama Ibu di rumah." Jawabnya.


Yana menatap wajah samping Alfaraz, lalu tersenyum.


"Kamu bangga kan sama aku ?" Tanya Alfaraz.


"Jangan mulai." Ujar Alfaraz membuat Yana terbahak.


"Kamu mau rumah yang seperti apa ?" Tanya Alfaraz setelah hening beberapa saat.


"Aku tinggal dimana saja mau, asal sama kamu." Jawab Yana lalu tertawa.


"Aku sedang serius, bisa ngga sehari saja jangan buat aku kesal."


"Aku serius kok, di mana saja asal sama kamu." Ucap Yana lagi sambil tersenyum jail.


Alfaraz melengos kesal.


"Terserah kamu Al, aku ikut aja. Tinggal di rumah Bunda atau di rumah Ibu juga ngga apa-apa. Di apartemen kamu yang lama juga boleh. Asal sama kamu di mana aja aku mau." Jawab Yana sambil beberapa kali mengedipkan matanya.


"Cih, dasar !" Ujar Alfaraz. Tapi senyum terlihat jelas di bibir tipisnya. Bahkan kalimat gombal yang hanya ingin menjailinya saja, mampu membuat dadanya berdebar.


Tidak ada yang bersuara, Alfaraz kembali fokus dengan kemudi di tangannya. Yana memang tidak bisa di ajak berbicara serius. Wanita yang kini duduk dengan tenang di sampingnya, selalu mampu bersikap jail dan mengesalkan namun, itu terasa sangat menyenangkan.

__ADS_1


Nara dan Yana memang dua wanita yang memiliki kepribadian berbeda. Yana wanita yang humoris namun tegas dan selalu bisa menghargai pendapatnya. Sedangkan Nara selalu bersikap serius dalam berbagai hal dan ingin kemauannya selalu di turuti, tanpa memperdulikan bagaiman keadaan orang lain.


"Ah mengapa dua hari terasa begitu lama di lewati." Batinnya.


***


Jalanan masih sangat padat, mobil yang di kendarai Alfaraz masih melaju pelan. Yana sudah diam, sifat usilnya pergi entah kemana. Ia hanya menikmati udara malam yang masuk melalu jendela mobil yang di biarkan sedikit terbuka. Tatapannya tertuju pada kerlap-kerlip lampu di jalanan ibu kota Jakarta, sambil berusaha menenangkan debaran jantung yang semakin menggila.


Yana menutup matanya, dan wajah tampan Alfaraz kembali melintas. Ah, sebentar lagi dia akan benar-benar menjadi gila. Kata semoga, berulang kali ia gumam kan di dalam hatinya. Meminta pada sang pemilik kehidupan, untuk selalu menjaga rasa yang membuatnya bahagia ini, agar kelak tidak kembali berakhir dengan deraian air mata.


Tidak lagi ingin mengulang kesalahan yang sama. Setelah seluruh harapan di patahkan oleh laki-laki yang ia gantungkan segala asa, kini ia bersikap lebih hati-hati lagi. Karena sejatinya tidak ada bisa di jadikan pengharapan selain Allah.


Pada dasarnya, rasa cinta terhadap sesama manusia sulit untuk bisa selamanya. Dan tidak ada satu manusia pun yang bisa memastikan, kapan rasa itu akan pergi dari dalam hati. Untuk itu, tidak ada tempat yang paling aman untuk menitipkan rasa, selain kepada sang pencipta. Serahkan semua pada Nya, biarkan Dia yang menjaga semuanya. Dengan begitu, apapun yang akan terjadi di kemudian hari, akan jauh lebih mudah untuk di hadapi.


"Aku langsung pulang." Ucap Alfaraz setelah memarkirkan mobilnya di sisi jalan depan rumah Yana.


"Ngga makan malam dulu ?" Tanya Yana.


"Tidak usah, lain kali saja." Jawab Alfaraz.


Yana mengangguk, ia lalu melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya.


"Aku masuk, kamu hati-hati di jalan." Ujar Yana lalu membuka pintu mobil di sampingnya. "Ada apa ?" Tanyanya saat tangan Alfaraz menahan lengannya.


"Sampai ketemu dua hari lagi. Besok ga usah ke kantor." Alfaraz merapikan rambut yang terlihat menutupi sebagian pipi Yana ke belakang telinga.


Yana terdiam, ini pertama kalinya Alfaraz menyentuh bagian tubuhnya selain tangan.


"Maaf." Ucap Alfaraz merasa bersalah saat melihat Yana seperti tidak nyaman dengan sentuhannya.


"Ngga sabar yaa, makanya cepat nikahin aku." Ujar Yana dengan senyum jailnya.


Alfaraz hanya melongo takjub, jelas sekali ia melihat wajah terkejut Yana beberapa saat yang lalu, dan hanya dengan hitungan menit wajah wanitanya ini kembali berubah jail.


"Aku masuk, sampai ketemu di pelaminan. Eh, sampai ketemu di kamar pengantin dua hari lagi." Ucap Yana sambil tertawa geli, lalu keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah.


***

__ADS_1


__ADS_2