
Ruang khusus persalinan yang di siapkan Zia, sudah bierisik dengan sepasang suami istri yang sejak tadi terus berdebat. Sesekali Zidan mengusap wajahnya kasar, karena kalimat penuh kekahawatiran yang keluar dari bibirnya, hanya di tanggapi dengan senyum manis oleh istrinya.
"Kamu kelihatan banget lagi nahan sakit Ra." Ucapnya lagi. Memohon agar istrinya yang terus mondar mandir di samping ranjang persalinan, segera berbaring saja.
"Aku sudah pernah lahiran Mas, ini baik untuk kelancaran proses persalinan nanti." Jawab Farah. Bibir pucatnya yang sesekli bergetar karena kontraksi di perutnya, tersenyum manis ke arah sang suami. "Jangan terlalu khawatir Mas, aku kan udah pengalaman lahiran Al, jadi ga apa-apa kok." Sambungnya berusaha menenangkan suaminya yang terus saja mengoceh.
"Maaf aku ga bisa nemenin kamu." Lirih Zidan merasa bersalah.
Ia terlalu pengecut waktu itu, melihat Farah terus merintih kesakitan saat melahirkan putranya, membuat ia takut tidak bisa menahan diri dan menyakiti perasaan Nadia karena ketahuan mengkhawatirkan Farah.
"Aku ngerti, udah diam aja. Ga usah ungkit-ungkit masa lalu lagi, aku kesal." Ujarnya.
Bisa ga sih ia tampal saja mulut suaminya ini, ga ngerti banget. Perutnya lagi berkontraksi, eh dia malah ngomongin mantan.
Zidan sudah menutup mulutnya rapat-rapat, agar wanita yang semakin hari semakin jahat ini tidak akan bertambah jahat lagi.
Seorang dokter wanita dan beberapa suster masuk ke dalam ruangan. Zidan segera membantu Farah berbaring di atas ranjang, dan membiarkan dokter tersebut memeriksa istrinya.
"Ini bagus sekali, pembukaannya sudah lengkap." Ucap Dokter tersebut.
Farah mengangguk, ia tidak lagi bersuara perih di perutnya bagian bawah semakin terasa.
Zidan mengusap lembut butiran keringat di dahi Farah, sesekali ia ikut meringis saat melihat Farah yang sedang berjuang membawa anak mereka menuju dunia.
"Sedikit lagi Bu." Ujar sang dokter.
Zidan frustasi, sejak tadi dokter ini mengatakan sedikit lagi, sedikit lagi namun, sudah hampir satu jam lamanya, yang membuat istrinya kesakitan masih belum juga selesai.
"Sakit banget ya Ra ?" Tanyanya. Sungguh ia tidak tahan lagi melihat istrinya yang terus merintih.
Farah masih terus berkonsentrasi dengan sesuatu di bawah sana.
"Oke sekarang Bu." Pinta Dokter tersebut.
Dengan sekali mengedan, suara tangisan bayi di bawah sana akhirnya terdengar, membuat Farah bisa bernafas lega. Begitupun Zidan, lelaki itu segera mengucapkan kata Alhamdulillah, lalu mencium wajah Farah berulang kali. Tidak lupa pula ia mengucapkan banyak terimakasih untuk perjuangan Farah yang kedua kalinya untuk memberi kebahagiaan padanya.
"Selamat bayinya sangat cantik." Ujar Dokter tersebut lalu menyerahkan bayi mungil itu kepada bidan yang ikut menangani Farah hari ini.
__ADS_1
Mata Farah berkaca, melihat bayi mungil yang kini tengkurap di atas dadanya. Mulut kecil itu terus mencari tempat makanan untuknya mulai hari ini.
"Hai Adelia." Ucap Zidan.
Lelaki yang kini sudah resmi memiliki dua malaikat kecil itu, mengusap lembut pipi memerah putri keduanya. Matanya tidak kalah berkaca dari Farah, dengan semua yang terjadi beberapa bulan ini, kesedihan dan semua luka, kini mereka bisa menikmati bahagia yang semakin hari semakin bertambah.
"Hai Papa." Farah menjawab.
Senyum manis masih terukir di bibir tipisnya, apalagi kini bibir Zidan begitu terasa hangat mengecup dahinya. Ucapan terimakasih yang ke sekian kalinya, kembali terdengar dari bibir suaminya.
Setelah memastikan bayi mungil itu sudah meminum ASI colestrum yang pertama kalinya, perawat kembali mengangkat untuk segera di siapkan.
Begitupun Farah, Zidan begitu telaten membantu beberapa perawat yang ada di sana untuk membersihkan istrinya.
Setelah semua siap, Farah dan bayi cantiknya yang kini sudah berada di dalam kotak kaca, di dorong keluar dari ruang persalinan menuju ruang perawatan yang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit.
Semua keluarga sudah menunggu di depan ruangan, termasuk Alfaraz putra mereka. Zidan segera berlutut, laku membawa putra pertamanya ke dalam gendongan agar bocah laki-laki yang dihadiahkan oleh sang istri empat tahun lalu itu, bisa melihat adiknya yang baru beberapa puluh menit yang lalu melihat dunia.
"Ih cantik banget cucu Eyang." Ujar Anisa. Jemarinya mengusap kaca yang menutupi tubuh mungil cucunya.
"Makin tua kita Yah." Ujarnya pada sang suami.
"Selamat datang di keluarga, Adelia." Ujar Zia.
"Siapa namanya ?" Tanya Anisa pada putri sulungnya.
"Adelia Prasetyo. Zia yang memberi nama itu." Ujar Zia pada Ibunya.
Farah tersenyum, ia membiarkan kotak kaca yang tadinya di dorong oleh perawat, kini sudah berpindah tangan pada dua wanita yang tidak kalah antusias menanti kehadiran buah putri kecilnya. Sedangkan bed tempat ia terbaring, sudah di dorang lebih dulu oleh perawat dan bergerak menuju ruangan perawatan bersama suami dan putra sulungnya..
"Mas Andra dan Ibu pasti sangat bahagia melihat keadaanku hari ini." Ucap Farah.
Sepasang suami istri sudah berada di ruangan yang begitu luas. Ranjang yang lumayan besar sudah di siapkan Zia untuk di gunakan Farah selama masa pemulihan.
"Jika Adelia sudah bisa di ajak bepergian, kita akan ke Jogja." Ujar Zidan. Ia menatap lekat manik yang menyimpan begitu banyak kerinduan, lalu mengusap lembut pipi istrinya itu.
Melihat sang Papa yang mulai memonopoli Bundanya, Alfaraz segera membawa tubuh kecilnya, dan berbaring di samping Farah.
__ADS_1
Farah dan Zidan sama-sama tertawa geli melihat kelakuan putra mereka yang begitu menggemaskan.
"Ambil aja, Papa sudah punya pengganti Bunda." Ujar Zidan. Lelaki itu semakin tertawa geli melihat Alfaraz yang semakin mengeratkan pelukan di tubuh istrinya. Tidak lama, box kaca yang sedang membawa putrinya akhirnya sampai juga. Dua wanita uang tidak kalah berharga dalam hidupnya, ikut masuk dan mendorong box itu sampai di dekat ranjang Farah.
Lengkap sudah hidupnya, semakin banyak orang-orang yang kita cintai di sekeliling kita, semakin banyak pula kebahagiaan yang akan kita rasakan. Meski tidak bisa di pungkiri, jalan menuju bahagia itu tidak selalu mudah, namun pasti akan sampai juga pada akhirnya.
Zidan meraih tubuh mungil yang berada di dalam box kaca itu kedalam pelukannya. Mengecup pipi kemerahan putrinya perlahan.
"Nih Papa sudah punya pengganti Bunda, jadi ngga akan rebutan lagi dengan Al." Ujarnya.
Bayi kecil itu menggeliat, Alfaraz masih acuh. Bocah laki-laki itu membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan Farah yang masih terbaring di atas ranjang.
"Ayo lihat sini, aku mau ambil buat kenangan." Ujar Zia.
Zidan mengambil posisi yang baik agar tidak menghalangi istrinya yang masih terbaring di atas ranjang.
"Al lihat Aunty sayang." Pinta Zia pada keponakannya.
Farah tertawa melihat tingkah putranya yang hanya menoleh ke arah kamera ponsel, namun pelukan erat tangan mungil masih belum terlepas dari tubuhnya.
"Ayah sama Ibu juga sana, biar punya kenangan nanti." Pinta Zia pada Ayah dan Ibunya yang juga berada di ruangan itu.
Benar kata orang, jika harta yang paling berharga adalah keluarga. Sesuatu yang paling mudah menghasilkan kebahagiaan adalah kasih sayang keluarga. Meski tidak bisa di pungkiri, jika luka juga kebanyakan berasal dari keluarga.
Tidak ada luka yang tidak memiliki obatnya, dan salah satu obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka, adalah cinta dan kasih sayang dari keluarga.
***
*Note Author
Sebenarnya aku mau buat seperti novel ku biasanya, hanya akan ada chapter bonus lalu untuk season duanya akan ada di novel berikutnya.
Tapi untuk novel Wanita Kedua ini pengecualian, karena lomba yang di ikuti novel ini baru akan selesai Januari nanti, jadi aku mau lanjut di sini aja ga apa-apa kan ?
Jangan lupa berikan dukungan ya kakak, berikan kritik dan saran yang membangun, karena aku juga masih remahan dalam hal menulis.
Banyak typo yang berhamburan, dan tanda baca yang mungkin belum sesuai dengan tempatnya. Maaf jika belum sesuai ekspektasi, hanya sebatas inilah yang aku bisa.
__ADS_1
Love banyak2 untuk kalian semuanya. 🥰🥰
Semoga selalu dalam lindungan yang maha kuasa 😇😇