Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 27


__ADS_3

Tiga buah paper bag sudah berada di dalam genggaman Zidan. Langkah kakinya terhenti saat melihat laki-laki yang begitu ia kenali sedang melangkah menuju ruangan tempat Farah berada.


"Kak Alard." Tegur Zidan.


Alard menoleh, lalu tersenyum hangat pada adik iparnya. Tepukan pelan bersaman dengan kalimat menyemangati terlontar dari mulutnya, untuk adik iparnya yang dua kali berduka dalam kurun waktu yang tidak berjauhan.


"Semua milik Allah Kak, dan akan kembali pada NYA." Ucap Zidan menanggapi.


Alard mengangguk pelan, ia sudah begitu hafal dengan karakter Zia dan Zidan, yang selalu memasrahkan segalanya.


"Hanya saja aku sudah terlalu banyak melukainya." Ucap Zidan.


Alard yang hendak masuk ke dalam ruangan di mana istrinya berada kembali berhenti melangkah. Ia menatap lekat wajah laki-laki yang dulu berulang kali mengancamnya agar tidak melukai Zia.


"Kita hanya manusia biasa Zi, wajar jika melakukan kesalahan. Yang tidak wajar itu, jika kita sudah merasa bersalah namun enggan untuk meminta maaf. Pada dasarnya, kita paling banyak belajar dari kesalahan." Ujar Alard. "Minta maaflah, meskipun kata maaf tidak akan mampu mengobati luka pada orang yang sudah kita sakiti, namun setidaknya sedikit beban akan berkurang." Sambungnya.


Zidan mengangguk mengerti, yah seperti inilah yang ia rasakan. Setelah memohon maaf, sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya sedikit berkurang. Awalnya ia tidak terlalu berharap Farah menerima permohonan maafnya, karena ia sadar berapa banyak luka dan air mata yang ia beri selama empat tahun ini.


Namun, Allah memanglah maha baik, Allah tahu seberapa besar rasa sesal yang ia rasakan bertahun-tahun ini karena sudah melukai wanita yang ia cintai. Allah menjadi saksi bagaimana tersiksanya dia, saat melihat air mata Farah akibat perbuatannya. Dan hari ini, lagi-lagi rasa kagum terhadap sosok istri keduanya semakin menggunung. Bahkan dengan luka yang begitu banyak yang sudah ia torehkan, Farah masih begitu mudah menerima maafnya tanpa syarat apapun.


"Kamu dari mana ?" Tanya Alard menyadarkan Zidan dari lamunan.


"Tadi keluar sebentar, cari baju ganti sama makan malam." Jawab Zidan. "Kak Alard datang kesini mau melihat Farah juga ?" Tanyanya.


Alard mengangguk


"Sekalian jemput kakak kamu." Jawab Alard.

__ADS_1


Zidan mengangguk, ia tahu Zia berada di sini, karena saat ia keluar dari lobi rumah sakit tadi, ia sempat bertemu dengan salah satu wanita terbaik dalam hidupnya itu.


"Ayo masuk Kak." Ajaknya sambil membuka pintu ruangan perawatan Farah.


Dua wanita yang terlihat asik mengobrol di dalam ruangan, seketika menoleh. Alard mendekati Zia, lalu mengecup puncak kepala istrinya lembut.


"Mau kemana ?" Tanya Zia saat melihat adik iparnya perlahan turun dari ranjang.


"Duduk bersama di sofa aja Kak, biar lebih nyaman." Jawab Farah.


Zia mengangguk lalu membantu Farah turun dari atas bed pasien, sedangkan Zian sudah meraih botol infus Farah dan mengikuti dua wanita yang sama berharganya, menuju sofa yang ada di dalam ruangan.


Farah berulang kali menggumamkan rasa syukur di dalam hatinya, karena di takdirkan masuk ke dalam keluarga sebaik ini. Entahlah, rasanya luka yang empat tahun ini ia menggerogoti hatinya, menguap entah kemana dalam waktu sehari.


Bahkan keguguran hari ini tidak lagi di bahas, padahal Zidan berhak marah padanya karena sudah menyembunyikan janin yang seharusnya Zidan ketahui keberadaannya.


"Klian masih bisa membuatnya lagi, jangan terlalu bersedih." Ucap Alard.


Zian mendengus mendengar kalimat yang begitu mudah keluar dari mulut kakak iparnya. Entahlah setelah ini apa dia masih begitu tidak punya hati, setelah empat tahun lamanya selalu membuat Farah terluka usai ia tiduri.


"Kak Zia gak niat lagi buat nambah ? El masih wajar kok buat dapat adik lagi." Tanya Farah.


"Alard ga izinin Ra." Jawab Zia.


"Kenapa ?" Tanya Zidan begitu penasaran. Ia curiga jika kakak iparnya ini menyakiti Kakak kesayangannya.


"Aku ga bis lihat Zia kesakitan saat lahiran, cukup El aja udah." Jawab Alard acuh.

__ADS_1


Zidan berdecih, sedangkan Farah menatap kagum pada sosok suami dari kakak iparnya.


Zia terkekeh melihat sepasang suami istri berbeda ekspresi di hadapannya.


"Kak apa boleh aku pulang hari ini ? Aku teringat Al." Tanya Farah. Sejujurnya ia sudah merasa baik-baik saja. Hanya sedikit lemas saja.


"Besok aja pulangnya, setelah dokter memeriksa mu. Tadi Kak mampir ke rumah kalian, Al ga rewel kok sama Ibu, jadi jangan terlalu khawatir dan fokus saja pada kesembuhanmu" Ujar Zia.


Farah mengangguk patuh.


Setelah selesai makan malam, empat orang yang berada di dalam ruangan itu kembali membahas bnyak hal. Termasuk keputusan Farah, yang memilih tidak lagi melanjutkan perceraian.


Namun meskipun Farah sudah memaafkan adiknya, Zia masih saja mengomeli Zidan. Memperingati Zidan tentang banyak hal, karena rasa cinta yang menggebu akan percuma jika tidak memperlakukan orang yang kita cintai dengan baik.


Berkaca dari pernikahannya dengan Alard yang begitu mendadak. Tidak ada rasa cinta menggebu dari keduanya, hanya saling mengagumi kepribadian masing-masing, namun Alard maupun Zia sama-sama memperlakukan satu sama lain dengan sangat baik.


"Menikahi orang yang kita cintai adalah pilihan, namun mencintai orang yang kita nikahi adalah kewajiban. Apalagi saat menikahi kalian berdua sama-sama saling mencintai. Oke Kakak memaklumi mungkin karena keadaan, namun Kakak sama sekali tidak membenarkan sikapmu selama ini. Berterimakasih lah karena wanita itu adalah Farah, jika itu wanita lain, Kakak yakin tidak akan mau untuk menerima maaf semudah itu setelah pengabaian sekian tahun lamanya Zi, termasuk Kakak. Kakak akan memperlakukan siapapun dengan baik, untuk itu kakak akan memilih menjauh dari orang-orang yang tidak bisa memperlakukan kakak dengan baik." Ujar Zia panjang lebar.


Zidan menatap ngeri pada wanita yang begitu mirip dengan sang Ayah ini. Sikap tegas Zia memang menurun langsung dari sang Ayah, jadi tidak lagi mengherankan jika kata-kata seperti ini akan keluar dari mulutnya.


Alard menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, jurus mengomel Zia keluar. Namun beruntung kali ini bukan tertuju padanya, tapi pada adik iparnya.


"Salah dan manusia ibarat satu buah paket sayang, tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang tidak memiliki kesalahan. Dan karena manusia tidak akan luput dari salah, makanya maaf itu tercipta. Yah tergantung siapa orangnya, dan seberapa besar salahnya. Jika menurut Farah sikap Zidan selama ini masih bisa ia maafkan, itu satu nilai plus buat wanita hebat seperti dia." Ucap Alard mencoba membela Zidan yang sudah membisu karena omelan istrinya.


"Iya beginilah laki-laki Ra, kalau Kakak sih, kamu kasih pelajaran dulu biar rasain tuh gimana rasanya di abaikan." Ucap Zia tidak mau kalah dari sang suami yang terlihat sedang berusaha membela adiknya.


"Laki-laki emang semuanya sama Ra, Kak Alard juga gitu nyebelin." Ujarnya lagi sambil menatap tajam wajah tampan suaminya.

__ADS_1


Alard menatap tidak percaya pada wanita yang ia cintai ini, selalu saja dirinya yang salah. Bahkan Zia yang memang tidurnya seperti orang pingsan dan selalu melewatkan waktu subuh pun, yang salah tetaplah dirinya. Biarlah, wanita selalu benar dan laki-laki akan selalu salah. Udah itu aja.


__ADS_2