Berbagi Cinta "Wanita Kedua"

Berbagi Cinta "Wanita Kedua"
Bab 281 Season 4


__ADS_3

Malam semakin larut. Mobil milik Aidar masih terus melaju di jalanan menuju apartemen tempat Tiara tinggal saat ini. Senyum jail yang selalu mengundang tawa dan kekesalan Tiara secara bersamaan, masih terlihat di bibir laki-laki itu.


Namun, kali ini Tiara lebih banyak diam. Tatapannya hanya terus tertuju pada lampu-lampu jalanan yang seakan ikut bergerak saat mobil yang di kendarai Aidar, melewatinya.


"Ai..." Panggil Tiara lirih saat mobil sudah berhenti di sisi jalan tepat di depan apartemen mewah pemberian Aidar untuk nya.


"Hm, ada apa ?" Tanya Aidar heran. Senyum jenaka yang sejak tadi terlihat di wajahnya, berganti wajah serius penuh tanya. "Hei.." Panggilnya lagi karena Tiara masih menatap keluar jendela mobil.


"Kamu benar-benar mencintai ku ?" Tanya Tiara dengan wajah sendu.


"Kok nanya gitu sih ?" Aidar menatap wajah sendu itu dengan perasaan tidak enak.


"Aku takut jika kita melangkah lebih dari sahabat, kamu tidak akan lagi sama." Ujar Tiara.


Aidar tersenyum, lalu menarik tubuh sahabatnya itu dan memeluknya dengan sangat erat.


"Tidak akan ada yang berubah. Kamu pasti akan bosan karena aku akan semakin menempel padamu." Ujar Aidar, lalu melepaskan pelukannya di tubuh Tiara. "Percaya padaku." Sambungnya berusaha meyakinkan Tiara.


"Aku masuk ya, sampai ketemu di tempat kerja." Ujar Tiara, lalu membuka pintu mobil


"Tia.." Tahan Aidar di tangan Tiara saat gadis itu hendak membuka pintu mobilnya. "Aku mencintaimu." Cicitnya pelan.


Tiara hanya tersenyum, lalu mengangguk.


"Malam ini pulang ke rumah ya. Sampai ketemu di tempat kerja." Ujar Tiara sambil menutup kembali pintu mobil Aidar.


"Nginap di apartemen kamu boleh nggak ?" Tanya Aidar jail.


"Pulang, AI !" Tegas Tiara.


Aidar tertawa keras. Tiara pun tak bisa menahan senyum di bibirnya saat melihat wajah jenaka Aidar.


"Aku pulang, kamu masuk gih." Pinta Aidar lembut.

__ADS_1


Tiara mengangguk. Ia melambaikan tangan, sebelum kemudian melangkah masuk ke dalam pelataran apartemen.


Aidar masih menatap kepergian Tiara dengan hati yang semakin bahagia. Kalian tahu bagaimana rasanya mencintai wanita yang sama sekian tahun, dan sebentar lagi akan benar-benar memiliki wanita itu ? Sungguh, rasanya tidak bisa di lukis kan dengan kata-kata.


Setelah tubuh Tiara tidak lagi terlihat, Aidar kembali melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


****


Tiara menekan kombinasi angka dari tahun lahirnya dan Aidar. Senyum manis di bibirnya kembali terlihat saat menekan passcode yang di atur oleh Aidar itu.


Masih dengan perasaan yang membuncah, Tiara membawa tubuhnya dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu apartemen miliknya.


Benarkah ia akan ia akan menjadi bagian dari keluarga itu. Keluarga yang di idamkan banyak wanita di dunia itu, akan menjadi bagan dari kisah hidupnya.


"Terimakasih, Ibu, Bapak." Gumamnya sambil menutup mata. Kepala mendongak, rambut panjangnya di biarkan tergerai di sandaran sofa yang ia duduki.


Entah kebaikan apa yang di lakukan oleh kedua orang tuanya di masa lalu, hingga ia dan adiknya di hadiahi oleh sang maha kuasa, orang-orang baik ini.


"Benar-benar tukang bikin sensasi. Berulang kali di lamar sama Aidar, nolak. Eh, malam ini langsung di terima."


Tiara membaca pesan singkat itu sambil tersenyum geli.


"Semangat cetak keponakan buat aku ya, Dek. Yang banyak, jangan lupa." Tulis Tiara disertai emot tertawa.


Setelah mengaminkan doa kebaikan yang di kirim kan adiknya melalui pesan singkat, Tiara beranjak dari atas sofa itu dan melangkah menuju kamar tidurnya untuk beristirahat.


"Dasar." Gumamnya saat menoleh ada pigura kecil yang berisi gambar Aidar di atas nakas samping tempat tidurnya.


"Untuk sementara, kamu akan di temani tidur oleh gambar wajah ku yang tampan ini. Nanti setelah kamu sudah siap menerima lamaran ku, baru deh aku temani tidur." Kalimat Aidar saat mereka membereskan kamar ini, kembali terngiang dan membuat Tiara tersenyum.


Bukan hanya Aidar yang jatuh cinta, tetapi dirinya sudah jatuh cinta pada sahabatnya itu sejak lama. Hanya saja, strata sosial yang membentang di antara mereka, membuat Tiara agar tetap di tempatnya. Tidak ingin melangkah lebih jauh, bahkan saat Aidar berulang kali meminta hal itu padanya.


Dan malam ini ia telah memutuskan untuk melangkah melewati batas yang selama ini ia jadikan alasan agar bisa tetap bersama Aidar. Semoga keputusannya malam ini, tidak akan mengecewakan nanti. Semoga setelah ini, Aidar tida hanya menjadi pendamping hidup untuknya, namun. tetap menjadi seorang sahabat yang bisa selalu ia andalkan dalam segala hal.

__ADS_1


****


Di dalam kamar hotel, Trias yang sedang mengeringkan rambut panjangnya yang basah, menghentikan aktivitasnya itu. Ia membaca balasan pesan singkat yang ia kirimkan pada Tiara, dengan senyum malu.


Cetak ponakan ? Iya kah ? Trias menoleh ke arah ranjang di mana Azam sedang terlelap.


"Semoga semuanya lancar ya, Mbak. Aku titip doa terbaik buat segalanya." Balasnya lagi.


Trias kembali meletakkan ponselnya ke atas meja rias lalu melanjutkan acara mengeringkan rambut panjangnya yang basah.


Trias menatap tubuh yang sesekali menggeliat di atas ranjang. Tangan yang sedang sibuk mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil, seketika mengusap lembut perutnya yang rata.


Semoga, hanya kata itu yang bisa ia gumam kan. Dadanya berdebar saat menunggu tamu bulanan yang tak kunjung datang.


Setelah rambut panjangnya sudah agak mengering, Trias kembali melangkah menuju ranjang di mana Azam sedang terlelap. Hari semakin larut, dan ia harus beristirahat.


"Terimakasih untuk kebahagiaan ini, Mas." Ucap Trias pelan. Tangannya terulur ingin menyentuh pipi Azam, namun, kembali ia urungkan takut mengganggu lelap suaminya dan berakhir dengan keramas yang kedua kalinya di malam ini.


"Selamat tidur suami." Ucapnya terkekeh. Ah, bahagianya. Jantungnya bahkan tidak pernah berhenti berdebar saat bersama Azam. Jatuh cinta yang pertama kalinya, dan semoga yang terakhir. Mata Trias mulai terpejam bersama dengan bayangan wajah tampan Azam yang bersiap datang menemaninya di dalam mimpi.


"Mas.." Trias terkejut saat tubuhnya di tarik dan masuk ke dalam pelukan Azam.


"Wangi banget sih, mau lanjut lagi yaa." Goda Azam sambil menutup matanya.


"Jangan ih, aku sudah membersihkan diri." Jawab Trias.


Azam hanya tersenyum sambil menutup matanya. Ciuman berulang kali ia darat kan di puncak kepala Trias yang masih sedikit lembab.


"Tidur, kalau ga aku buat kamu keramas dua kali malam ini." Ancamnya masih terus mendekap tubuh mungil Trias dengan erat.


Trias tidak lagi menimpali. Jika ia masih akan melanjutkan perdebatan ini, maka ia akan kembali berakhir di dalam kamar mandi untuk yang kedua kalinya malam ini. Wanita cantik itu hanya menikmati pelukan hangat dari suaminya. Indera penciumannya Menghirup dalam-dalam wangi tubuh Azam yang sudah sangat hafal.


Kecupan hangat di kepala di sertai usapan lembut di punggungnya, membuat Trias mulai menjelajah alam bawa sadar di temani wajah tampan Azam.

__ADS_1


__ADS_2