
Aira sudah rapi dengan dress selutut yang juga tas kecil yang melingkar di bahunya. Satu buah buku juga notebook yang berisi materi kuliah, sudah ia siapkan di atas meja rias. Kini ia sedang membantu mengancingkan kemeja Abizar, lalu dilanjutkan dengan mengikat dasi yang sudah menjadi kebiasaanya di pagi hari.
Kecupan-kecupan kecil yang terus mendarat di dahinya, tidak mampu membuat bibirnya untuk berhenti tersenyum. Sikap manis yang selalu sukses membuatnya baper, selalu saja di tunjukan oleh laki-laki tampan yang kini melingkarkan tangan di pinggangnya.
"Cantik banget sih, aku jadi ga pengen kamu keluar dari dalam kamar kita ini Ra." Ujar Abizar dengan wajah serius.
"Jangan aneh-aneh Mas. Aku hanya kuliah paling dua jam di kampus lalu pulang ke rumah seperti yang kamu mau." Jawab Aira. Wanita cantik itu meraih jas yang sudah ia siapkan di atas ranjang, lalu membantu memakaikan jas dengan harga lumayan itu di tubuh suaminya.
"Aku malah takut nanti ada gadis cantik di kantor yang menggoda mu." Ucap Aira lagi dengan bibir cemberut.
"Aku ga akan tergoda. Tidak ada wanita yang lebih menggoda dari kamu." Kekeh Abizar.
"Kalian hanya akan terus berpelukan di sana ? Tahu ngga asam lambung Ayah sudah umat loh."
Aira terkejut dan segera melepaskan diri dari pelukan Abizar, saat pintu kamar mereka tiba-tiba terbuka dan langsung di susul dengan kalimat yang yang memalukan dari ibu mertuanya. Dengan cepat, ia meraih buku dan notebook yang ada di atas meja rias, dan bergegas melangkah menuju pintu di mana ibu mertuanya berada.
Ini adalah kesempatan, agar tidak terus terjebak di dalam kamar mewah itu, hingga berakhir di atas ranjang dengan tubuh polos tanpa busana.
"Maaf Bu." Mohon nya, lalu menggandeng lengan ibu mertuanya dan turun menuju lantai bawah.
Abizar tersenyum, terlebih melihat ibunya mengusap lembut puncak kepala istrinya. Ia pun segera meraih tas yang bersisi beberapa berkas dan laptop yang sudah di siapkan Aira di atas meja sofa, kemudian melangkah keluar dari dalam kamar yang selalu membuatnya lupa dunia luar terlebih jika sedang bersama istri kecilnya itu.
"Eh akhirnya pengantin baru keluar juga dari dalam kamar, Ayah sampai mau pingsan loh ini." Sindir Alfaraz saat melihat istri dan menantunya memasuki ruang makan dan d susul oleh putranya.
"Dulu Ayah begitu juga kan ?" Abizar tidak mau kalah, karena ia tahu kelakuan nakalnya ini menurun langsung dari Ayahnya.
__ADS_1
"Ayah ngga kayak kamu yaa." Alfaraz tidak terima di tuduh nakal oleh putranya.
"Ngga usah ngeles Yah. Ga mungkin jika pohon kelapa, berbuah nanas." Ujar Abizar sontak membuat dua wanita berbeda usia yang ada di sana tertawa keras.
"Ayo cepat makan, Ayah lapar." Ajak Alfaraz kesal karena selalu kalah jika beradu argumen dengan lelaki muda yang begitu mirip dengan istrinya ini. "Kamu tuh mirip Ibu, bukan Ayah." Sambungnya masih belum mau mengalah.
"Jangan mengada-ada Yah. Mau Ibu bongkar bagaimana bucin nya Ayah dulu." Zyana menimpali.
Alfaraz tidak lagi menjawab, ia hanya menatap wajah cantik istrinya dengan nanar.
"Ayo makan." Ajaknya dengan nada suara yang di buat kesal.
Di tempat duduk yang ada di samping Abizar, Aira hanya bisa tersenyum. Pemandangan yang selalu saja mampu membuatnya bahagia, kembali terlihat di ruang makan itu.
Harmonis, rukun dan bahagia. Hidup bergelimang harta, tidak membuat keluarga itu lupa, jika bahagia tidak selalu bisa di ukur dengan harta benda. Namun, terkadang rasa bahagia hanya tercipta dari hal-hal sederhana yang ada di sekeliling kita.
****
Mobil mewah milik Alfaraz mulai melaju di jalanan Jakarta yang selalu penuh dengan lalu lalang kenderaan. Usai sarapan pagi yang terus di isi dengan canda dan tawa, kini ia dan Aira sudah meninggalkan rumah mewah milik orang tuanya, menuju ke tempat mereka beraktivitas. Abizar lebih dulu mengantar istrinya ke kampus, lalu melanjutkan perjalanannya menuju perusahaan.
"Nanti saat makan siang nanti, kamu langsung ke kantor aja. Ga apa-apa kan kalau aku ga jemput ?" Tanya Abizar.
"Tentu saja, ada banyak taksi kok. Kamu kerja aja, nanti aku mampir ke restoran dan membawakan makan siang untuk kita makan di kantor kamu nanti." Jawab Aira.
Abizar tersenyum. Tangannya lalu terangkat dan mengusap lembut puncak kepala istrinya.
__ADS_1
"Hati-hati." Ujarnya dengan tatapan hangat yang selalu saja membuat Aira menghangat.
"Kamu juga." Jawab Aira setelah mencium punggung tangan suaminya.. "Aku pergi ya." Pamitnya kemudian, dan di angguki oleh Abizar.
Aira masih berdiri di sisi jalan depan kampus, sambil melihat mobil yang di kendarai suaminya berlalu dari sana. Tangannya terus melambai, hingga mobil itu menghilang di ujung persimpangan jalan.
"Ikut ke kantor aja Ra."
Suara dengan nada meledek yang sudah ia kenal siapa pemiliknya terdengar. Aira mengalihkan pandangannya dari jalanan yang baru saja di lewati oleh mobil Abizar, dan beralih pada gadis cantik yang sedang menatapnya sambil tersenyum jail.
"Seandainya hari ini ga kuliah, aku pasti sudah mengurungnya di dalam kamar." Jawabnya dengan nada menggoda.
"Nakal ya kamu sekarang." Gea melingkarkan tangannya di lengan Aira, lalu mengajak sahabatnya itu masuk ke dalam pelataran kampus.
****
Di depan sebuah gedung dengan puluhan lantai. Abizar baru saja memarkirkan mobilnya lalu melangkah masuk ke dalam lobi perusahaan yang kini sudah beralih tanggung jawab. Jika sebelumnya yang menjadi pimpinan adalah Danira, kini sudah berganti menjadi dirinya sendiri, sedangkan kakak cantiknya itu sudah memilih berhenti dan fokus mengurus suami di rumah.
Abizar terus melangkah menuju lift khusus direktur, dan nak menuju lantai di mana ruangan yang sudah ia tempat beberapa minggu ini, berada.
Seperti hari-hari biasa, gadis yang sudah menjadi sekretaris dari sang kakak selama beberapa tahun, sudah menantinya di depan ruangan sambil menahan pintu yang terbuat dari kayu itu agar tetap terbuka lebar.
Senyum menggoda yang terus saja di tampilkan oleh gadis itu, ia abaikan begitu saja, dan terus melangkah masuk ke dalam ruangan.
Sejujurnya ia mulai risih dengan sikap yang sudah mulai melewati batas dari sekretarisnya ini, namun, ia berusaha untuk tidak terlalu memusingkan hal itu selama pekerjaan yang ia berikan selalu di selesaikan tepat pada waktunya. Terlebih, ia hanya tinggal menunggu kabar dari HRD atas permintaanya mengenai sekretaris yang baru.
__ADS_1