
Nasib menyedihkan yang entah kapan berujung. Begitulah yang ada di pikiran Nira saat ini. Cinta bertepuk sebelah tangan, dan kini ia kembali di tinggalkan oleh laki-laki yang katanya mencintai dirinya dengan tulus.
Malam yang seharusnya akan memberinya secercah harapan untuk kehidupan baru yang lebih bahagia, kembali berakhir dengan perpisahan.
Nira menatap laki-laki yang kini menatapnya penuh permohonan bercampur rasa bersalah.
"Pergilah." Ujarnya dengan senyum penuh ketulusan di wajahnya.
"Maafkan aku." Ujar Feri lagi.
Kata yang entah sudah berapa kali ia ucapkan malam ini kembali terdengar di telinga Danira. Gadis itu kembali tersenyum pada sahabatnya.
"Ngga apa-apa Fer. Pergilah dan temui dia." Ujarnya masih memasang senyum tulus di wajah cantiknya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Feri segera berlalu dari restoran itu.
Danira masih berdiri di depan restoran sambil menatap kepergian sahabatnya untuk menemui cinta yang seharusnya. Senyum penuh ketulusan di wajahnya, kini berganti dengan senyum miris. Mengasihani diri sendiri, itulah yang sedang ia lakukan saat ini.
Lagi dan lagi, dua lelaki yang ia percaya bisa membuatnya bahagia, kembali melangkah pergi dan memilih wanita lain.
Setelah laki-laki yang mengajaknya bertemu dengan calon ibu mertua sudah berlalu dari depan restoran itu dengan penuh kekhawatiran bercampur rasa bersalah, dengan langkah gontai, Nira kembali melangkah menuju ruang private tempat di mana calon ibu mertuanya berada. Calon ibu mertua ? Yah, itu sebelum Feri pergi dengan tergesa malam ini, dan sekarang ia kembali mengubur dalam-dalam semua keinginannya untuk melepaskan diri dari rasa yang rumit di dalam dadanya.
Malam ini seharusnya ia sudah bisa menggantungkan asa pada laki-laki yang katanya akan menikahinya, karena di ajak untuk bertemu dengan calon ibu mertuanya. Namun, sepertinya takdir baik masih belum berpihak padanya saat ini.
"Maafkan dia."
Wanita paruh baya yang terlihat begitu anggun menyentuh punggung tangannya dengan lembut, saat ia sudah kembali duduk dengan tenang di depan wanita anggun itu.
"Tidak masalah Tante Rima. Sepertinya kami memang belum di takdirkan bersama." Jawab Nira.
"Maaf kan anak Tante." Ucap wanita itu lagi.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, seorang pelayan restoran datang membawakan makan malam yang sudah di pesan oleh Feri.
"Anak itu bahkan belum sempat memakan makanan yang ia pesan." Omel wanita yang terlihat begitu anggun itu dengan kesal.
"Dia sahabat yang baik Tan." Ujar Nira saat mulai memakan makan malamnya. "Dia menyayangi saya seperti Ayah menyayangi saya." Sambungnya memuji Feri.
"Dia akan menyesal karena sudah melakukan hal ini pada gadis sebaik kamu." Balas Wanita paruh baya yang bernama Rima itu.
Nira menggeleng.
"Justru dia akan menyesal jika menyia-nyiakan kesempatan yang Allah beri malam ini dan memaksakan diri melanjutkan rencana kami." Jawabnya dengan yakin.
"Sungguh, Tante berharap kamu bertemu denan laki-laki baik yang akan mencintaimu dengan tulus."
"Aamiin Tante." Nira tersenyum setelah mengaminkan do'a kebaikan yang baru saja terucap dari wanita paruh baya di hadapannya.
Setelah makan malam bersama wanita yang gagal menjadi ibu mertuanya, Nira mengantar wanita itu menuju depan, karena sopir yang datang menjemput wanita itu sudah menunggu di depan restoran.
"Senang bertemu dengan mu Nak." Ucap Tante Rima saat sudah masuk ke dalam mobil.
"Senang bertemu dengan Tante juga." Jawab Nira sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
Senyum manis di wajah cantiknya, juga lambaian tangannya mengiringi kepergian mobil mewah itu dari depan restoran. Setelah mobil yang membawa wanita paruh baya itu berlalu dari sana, Nira kembali melangkah menuju mobilnya, lalu ikut meninggalkan restoran itu.
Semua berakhir di sini, dan mungkin Allah masih ingin dirinya menikmati kesendirian.
Air mata, sepertinya itu tidak perlu lagi menetes. Mungkin Allah tahu apa yang sedang ada di dalam hatinya saat ini, sehingga rencana yang sudah tersusun rapi tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.
Nira menarik nafasnya dalam-dalam, sambil tetap fokus pada kemudi yang ada di tangannya. Ia terus meyakinkan dirinya, jika apa yang sedang terjadi padanya saat ini, itu karena Allah sedang menyiapkan sesuatu yang sangat baik untuknya.
Malam Minggu, jangan di tanya lagi seberapa macet Jakarta. Namun, walaupun begitu mobilnya kini mulai memasuki kawasan perumahan elit milik orang tuanya.
__ADS_1
Dari kemacetan ini ia belajar tentang sabar. Yah, tetap sabar menikmati setiap proses yang sedang berjalan. Begitulah yang ada di dalam benaknya saat ini.
Danira terus memacu mobilnya sembari menguatkan dirinya sendiri. Sekalipun tidak ada cinta yang menggebu di dalam hatinya untuk Feri, tetap saja ada rasa tidak nyaman terasa di dalam dada.
Senyum manis kembali menghiasi wajah Danira, saat mobilnya sudah berada di dalam pelataran rumah. Ia tidak ingin menambah daftar kesedihan sang ibu dengan berita yang ia bawa hari ini.
"Menjaga orang-orang yang ada di dalam keluarga agar tidak sedih, adalah bagian dari tanggung jawab anak tertua dalam keluarga. Jangan khawatir, Allah akan menghadiahkan orang terbaik dari semua pengorbanan yang akan kamu lakukan."
Kalimat dari Oma Zia masih terngiang dalam benaknya.
"Apa yang baik-baik kita lakukan, pasti akan di ganti dengan yang baik pula oleh Allah. Jangan khawatir." Ucapnya alam hati, lalu turun dari dalam mobil kemudian melangkah menuju pintu rumah.
Saat pintu rumah di bukakan oleh asisten rumah tangga, Danira kembali memasang senyum terbaiknya. Terlebih dua orang paruh baya yang terlihat sedang menunggu kedatangannya, masih berada di ruang keluarga dan bersiap menanti cerita dari pertemuannya dengan keluarga Feri malam ini..
"Bagaimana Nak ?" Tanya Zyana antusias. Wanita itu lantas membawa putri sulungnya menuju sofa di ruang keluarga.
Nira tersenyum melihat wajah antusias sang Ibu. Tapi di dalam hatinya sedang di landa kegundahan yang luar biasa.
****
Di dalam sebuah mobil yang sedang membawa wanita paruh baya cantik, seseorang yang juga ada di sana masih terus berpikir siapa wanita yang baru saja bertemu dengan sang Mama. Pasalnya wajah gadis itu begitu familiar di dalam ingatannya.
"Mam apa dia seorang dokter ?" Tanya Arion pada ibunya saat pikirannya telah tertuju pada seseorang yang baru dua kali bertemu dengannya.
"Bukan, dia pengusaha muda yang meneruskan usaha keluarga. Duh, Mama jadi pengen pencet anak itu. bisa-bisanya dia pergi dan meninggalkan gadis sebaik Nira." Jawab Rima pada Putranya.
"Namanya siapa ?" Tanya Arion lagi seakan tidak memperdulikan kemarahan sang Mama pada adiknya.
"Nira. Kenapa kamu kenal ?" Tanya Rima pada putranya.
Arion menggeleng.
__ADS_1
"Hanya mirip dengan seseorang." Jawabnya lalu kembali mengalihkan fokusnya pada deretan angka yang ada di layar dengan lebar beberapa inci di atas pangkuannya.