Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
100. Mak Comblang


__ADS_3

Sekitar pukul 5 sore. Mira, Anya, Dinda dan Gery janjian menjenguk Alya. Dinda sangat syok saat diberi tahu Anya kalau Alya sedang hamil dan sudah menikah. Sementara Mira hanya tersenyum karena Mira yakin Ardi dan Alya bukan sepupu. Sangat tidak wajar mencium bibir sepupu lawan jenisnya.


"Thok thok" Anya mengetuk pintu sambil menenteng bunga. Sementara Dinda dan Dokter Mira berdiri di belakang membawa parcel. Gery berdiri memasukan tanganya ke celana tanpa ekspresi tidak membawa apapun. Dia hanya ingin memastikan Alya baik-baik saja.


"Nggak dijawab" ujar Anya tidak ada jawaban dari dalam. Anya mendorong pintu ternyata tidak dikunci. Mereka berempat pun masuk tanpa permisi.


"Ups!" spontan Anya menutup mulutnya dan berhenti melihat pemandangan romantis di depanya. Di atas bed rumah sakit yang sempit, sepasang suami istri terlihat saling memeluk berhimpitan dan terlelap. Alya terlihat sangat nyaman tidur dalam dekapan suaminya. Dinda dan Mira pun iri dan malu melihatnya.


Sementara Gery menatapnya dengan nanar. Untuk kedua kalinya Gery melihat adegan mesra gadis yang dia kejar bersama sahabatnya. Meski dia berusaha ikhlas, tetap saja ada bara panas menjalar ditubuhnya.


Menyadari salah waktu masuk, Mira hendak berbalik arah. Tapi berbeda dengan teman di belakangnya, Gery tetap ingin masuk dan membangunkan sahabatnya. Mereka berduapun bertabrakan.


"Auw" pekik Mira dan membuat kegaduhan.


Karena tidurnya sudah lama dan mendengar kasak kusuk Alya terbangun dan menggeliat. Matanya terbuka perlahan.


"Kalian? He... aduh malunya" ucap Alya kaget lalu segera mengambil jilbab dan menyingkirkan tangan dan kaki suaminya.


"Mas bangun" ucap Alya lirih. Lalu Ardi menggeliat bangun dan hampir jatuh karena bednya sempit.


"Maaf ganggu kalian" tutur Anya sambil nyengir.


"Nggak kok. Malah makasih udah dibangunin, silahkan masuk, duduk sini" tutur Alya malu karena teman-temanya memergoki dia tidak memakai jilbab dan bermesraan dengan suaminya.


Ardi bangun dan turun dari bed sambil mengucek matanya. Anya dan rombongan tampak kikuk karena sudah membangunkan dua sejoli itu. Dinda menelan salivanya ketika melihat wajah suami Alya.


"Ini kan abang ganteng yang mengantarkan ponsel Alya waktu itu? Pantes mobilnya nggak asing. Beruntungnya Alya punya suami ganteng" batin Dinda iri, lalu melirik Gery. Dan lebih tidak menyangka lagi suami Alya terlihat akrab dengan Gery.


"Sory Bro ganggu" ucap Gery menyapa Ardi sedikit canggung.


"Nggak kok. Gue belum sholat asar, untung kalian datang. Makasih udah bangunin. Dilanjut dulu ya ngobrolnya, gue tinggal dulu" ucap Ardi pamitan meninggalkan tamu istrinya dengan muka datar tanpa melihat melihat teman-teman Alya.


"Sweet banget sih?" ceplos Mira setelah Ardi pergi.


"Iya, bikin iri, pasti nyaman banget ya? Tidur dipeluk suami gitu?" ucap Dinda meledek.


"Iya, yang abis ngambek. Sekarang nempel kaya perangko" cibir Anya menimpali.


"Ehm" Gery berdehem tidak nyaman, Mira di sampingnya menatap Gery penuh arti sehingga Gery dan Mira sempat saling tatap. Lalu Gery mengalihkan pandanganya salah tingkah.


"Apa sih kalian? Teman-teman, Dokter Mira, Dinda, dan Dokter Gery, Alya minta maaf. Selama ini Alya udah bohong dan menyembunyikan pernikahan Alya. Sampai Alya hamil baru kasih tau" ucap Alya malu dan menunduk.


Mira tersenyum mengangguk. "Nggak apa-apa. Selamat yah atas kehamilanya, semoga sehat ibu dan bayinya" jawab Mira ramah.


"Jahat Lo Al. Gue kan pengen kondangan, nikah nggak ngabarin tau-tau hami" sahut Dinda.

__ADS_1


"Kita cuma akad doang kok, itu juga cuma keluarga inti, nggak ada ngundang siapapun" jawab Alya menjelaskan.


"Tapi lo nggak istri sirih kan?" ceplos Dinda membuat Gery dan Mira melotot.


Alya tersenyum dan mengambil ponsel suaminya. Ternyata walpaper handphone Ardi foto dirinya saat memegang buku nikah sewaktu akad. Dengan hanya memencet tombol menu foto mereka terlihat.


"Ini, aku punya buku nikah. Hanya saja pernikahanku mendadak. Aku bingung gimana sampaiinya, aku malu. Karena aku kenal suamiku baru sekitar seminggu. Tiba-tiba nikah aja!" jawab Alya berterus terang.


"What?" tanya semua teman Alya heran. Termasuk Gery. "1 minggu?"


"Ardi gila yah?" ucap Mira spontan.


"Dokter Mira kenal suami Alya?" tanya Dinda dan Anya berbarengan.


"Ardi, gue dan Gery kita satu SMA" jawab Mira menerangkan sementara Gery yang laki-laki sendiri hanya diam. "Gue salut sama Ardi" imbuh Mira lagi melirik ke Gery.


"Ooh gitu, jadi suami Alya dan dokter berteman? Dunia sempit ya?" sambung Anya.


"Al, Kok lo mau nikah padahal baru kenal? Karena ganteng ya? Dokter Gery juga ganteng tapi lo tolak?" tanya Dinda penasaran membuat Gery, Mira dan Alya terhenyak.


Alya menatap Gery dan Mira tidak nyaman. Alya baru tau kalau Dokter Mira juga teman suaminya saat SMA. Alya bingung menjelaskan ke teman-temanya kenapa dia menikah dengan orang yang baru dikenal. Tidak mungkin kan Alya cerita kalau dia nikah karena digerebek orang tuanya sendiri, dikira berzinah.


"Ibuku dan Tante Rita sahabatan" jawab Alya singkat, membuat teman-teman menyimpulkan Alya dijodohkan.


"Jadi lo dijodohin?" tanya Dinda lagi. Dan Alya hanya tersenyum.


"Alhamdulillah baik Dok. Semoga besok boleh pulang"


"Syukurlah harus dijaga ya. Aku udah nggak sabar jadi aunty" tutur Anya ramah ikut nimbrung.


"Syukurlah kalau udah baikan. Gue pulang dulu" pamit Gery tidak nyaman laki-laki sendiri.


Lalu dia berdiri, tapi saat Gery berdiri Ardi kembali dari masjid dan membawa beberapa minuman kaleng dan camilan.


"Mau kemana?" tanya Ardi berpapasan dengan Gery.


"Bete gue bareng ibu-ibu, lo pergi sih" jawab Gery dingin.


"Bentar!" jawab Ardi memberikan minuman dan camilan ke istri dan rekanya. Ardi membiarkan istrinya tertawa dan mengobrol dengan teman-temanya.


Kemudian Ardi dan Gery pergi keluar untuk mengobrol. Ardi memberikan minuman bersoda. Lalu mereka berdua mengobrol di taman rumah sakit dekat jalan raya.


****


"Ger, gue mau balikin duit Lo" ucap Ardi membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Lo nggak pernah ngutang sama gue" jawab Gery datar.


"Hp lo gue banting" jawab Ardi membuka aibnya sendiri, dan merasa sudah merugikan Gery.


Gery hanya tersenyum mengingat kebodohanya. Padahal mereka dulu membeli hp untuk Alya bersama-sama. Bahkan Ardi yang menceramahi Gery. Gery tidak menjawab perkataan Ardi karena menurutnya tidak penting. Lalu Gery meneguk minumanya.


"Kapan rencana lo kasih tau ke Farid?" tanya Gery setelah meneguk minuman. Mengalihkan pembicaraan.


"Gue ragu Ger, apa Farid maafin gue? Apa responya kalau tau Alya udah gue nikahin bahkan udah hamil"


"Lo cemen banget si Ar? Lo aja berani terang-terangan mesra sama istri lo di depan gue. Kenapa sama Farid nggak?"


"Lo beda sama Farid. Cewek lo banyak, Mira juga selalu ada di samping lo? Kalau Farid? Gue denger dia suka sama cewek juga baru ke istri gue. Dia juga udah baik banget sama keluarga gue. Gue nggak tega bilangnya"


"Haha" Gery tertawa mengejek.


"Ah lo. Lo mikir gitu di mulut doang, nyatanya lo buntingin si Alya? Waktu lo nidurin Alya lo kebayang Farid nggak?" jawab Gery jujur.


Ardi hanya diam. Menyadari dirinya memang tidak peduli siapapun saat bersama istrinya. Yang Ardi tau dirinya merasa hidupnya sempurna saat berada di dekat Alya. Bahkan Ardi merasa Alya membawanya ke kenikmatan surga yang tidak bisa diberikan siapapun.


"Lo nikahin Alya emang lo ngrasa bersalah? Nggak kan? Lo happy kan? Ya udahlah lo jujur. Semakin lama lo bohongin Farid, lo semakin brengsek Ar. Lo harus kasih tau dia biar dia nggak berharap lagi. Lo udah mau jadi ayah Bro" lanjut Gery lagi menasehati Ardi.


"Alya udah nolak dia" jawab Ardi merasa masalahnya sudah selesai, seharusnya Farid tidak berharap lagi.


"Alya juga udah nolak gue, tapi kalau lo nggak jujur tentang status kalian, gue tetep berharap. Soalnya gue tau Alya masih sendiri. Beda Ar. Lo nggak boleh egois dong! Lo harus kasih tau Farid kenyataanya" tegur Gery lagi ingin menonjok Ardi, karena Gery merasa tega dengan sahabatnya.


Ardi hanya diam memikirkan sesuatu.


"2 hari lagi launching kafe gue. Gue akan bilang setelah acara itu selesai" jawab Ardi mantap setelah berfikir.


"Kalau emang lo dan Alya bahagia, kalian ngomong baik-baik pasti Farid ngerti kok. Dia jauh lebih dewasa daripada lo" ejek Gery lagi. Karena memang di antara mereka bertiga, dari dulu Ardi paling egois, mengingat dia anak tunggal dari keluarga kaya.


"Lo gimana sama Mira? Gue liat Mira banyak berubah?" tanya Ardi mengalihkan pembicaraan.


"Gue nggak punya perasaan ke dia" jawab Gery mantap.


"Umur kita udah tua Bro! Percayalah nikah itu enak. Mira cantik, dia juga selalu setia sama lo. Jarang nemuin perempuan kaya dia di jaman sekarang. Dia juga perempuan baik-baik. Cobalah buka hati lo buat dia" tutur Ardi dia ingin sahabatnya move on dari istrinya.


Gery hanya diam tidak menjawab. Lalu terdengar adzan maghrib. Ardi dan Gery pun bangun. Ardi mau sekalian sholat maghrib, Ardi juga mengajak Gery sholat bersama.


Saat mereka berjalan menuju masjid Ardi melihat Mira sudah duduk di tepi jalan.


"Ger" panggil Ardi.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Tuh Mira sendiri, kayanya dia butuh tumpangan deh. Buru sana ajak sholat terus lo anterin" ucap Ardi memberitahu Gery. Gery pun ikut memperhatikan Mira.


__ADS_2