
Ardi merogoh dompet dari celananya. Lalu mengeluarkan lembaran uang berwana merah.
"Sana kamu yang bayar. Malu gue" tutur Ardi menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan.
"Satu aja cukup, nggak usah banyak-banyak!" jawab Alya manyun mengambil selembar uang seratus ribu.
"Hah? 3 porsi, sebanyak itu? Bener cukup?" tanya Ardi lirih merasa heran. Karena Ardi biasanya makan di tempat makan kalangan atas, seporsi hampir selembar.
"Iyalah cukup, namanya juga pedagang kaki lima. Makanya aku suka makan disini, ramah di kantong" jawab Alya berdiri lalu ke mendekat ke penjual.
"Pak bayar" ucap Alya menyerahkan uang.
Setelah selesai membayar Alya ngerasa angin bertiup kencang, ada titik air turun dan terbawa angin. Alya melihat ke Ardi sedang menyeruput jeruk panas.
"Sepertinya mau hujan deh Mas. Buruan yuk, kita nggak bawa payung" ujar Alya mendekat ke Ardi.
"Iya bentar" Ardi menyelesaikan minumnya.
Beberapa pembeli lain bergegas meninggalkan warung tenda. Mereka yang memakai motor segera menyalakan motor dan pergi. Yang hanya jalan kaki juga langsung berlalu. Pak pedagang juga tampak memberesi karpet yang di sebelah pinggir. Sementara Alya berdiri menahan dingin menunggu Ardi bangkit di dekat pak pedagang.
"Akhir-akhir ini sering hujan dheras Dok" ujar pak lamongan sedih. Karena jika hujan harus segera bergegas mengamankan daganganya.
"Iya Pak, semoga nggak banjir ya" jawab Alya.
"Aamiin, daerah sini sering banjir" jawab pak pedagang mengamankan dagangan.
"Sial, basah ni sepatu gue" Ardi mengumpat berdiri di belakang Alya.
"Astaghfirulloh, dari tadi ditungguin. Makanya jangan lelet" jawab Alya ketus.
"Ya kan minum gue belon abis, gimana nih ujan dheres gini?" tanya Ardi melihat keluar tenda.
"Kita tunggu dulu sampai agak reda, baru balik ke apartemen" jawab Alya sambil melirik ke emperan toko di belakang warung tenda.
"Kita tunggu di situ yuk" ajak Alya menunjuk emperan toko.
"Oke" mereka berdua berlari ke emperen toko.
Alya memeluk tubuhnya sendiri berdiri di samping Ardi. Ardi berdiri memasukan tanganya di saku celana. Sesekali Ardi menatap Alya yang kedinginan.
"Sepertinya tambah dheras, disertai angin juga" ucap Ardi melihat air yang jatuh dari atap toko.
"Apa kita mau nekat lari hujan-hujanan?" tanya Alya ragu ke Ardi.
"Sebenarnya di mobilku ada payung" jawab Ardi.
"Yah, di apartemen juga ada payung, permasalahanya bagaimana kita ke sana?" jawab Alya kesal.
Ardi melihat jam tangan mahalnya, ternyata sudah jam setengah 9 malam. Ternyata lama juga mereka menghabiskan waktu berdua.
"Kita tunggu 30 menit lagi, kalau tidak reda juga, terpaksa kita terobos hujan" jawab Ardi menahan dingin.
"Baiklah" jawab Alya sambil menggosok-gosok tangannya.
Ardi pun memeluk tubuhnya sendiri menahan dingin. Kakinya digerak-gerakan sebagai usaha membakar kalori mengusir dingin. Tidak ada percakapan di antara mereka berdua. Hanya saling curi-curi pandang bergantian. Tapi lebih sering Ardi melihat Alya. Sementara Alya melihat dherasnya hujan yang tak kunjung reda.
"Sepertinya tambah deras. Kita lari aja yuk! Dekat ini" ajak Alya putus asa melihat hujan tambah deras.
"Sepatuku gimana?" tanya Ardi bodoh membuat Alya kesal.
"Ya ampun mas. Masih mikirin sepatu? Pikirin gimana caranya pulang"
"Berat tau buat jalan, kalau basah"
"Ya udah lepas aja!" jawab Alya kesal.
__ADS_1
"Yakin mau lari, aku nggak bawa ganti. Ogah ah. Sana kamu aja. Nanti bawain aku payung!" jawab Ardi tanpa dosa.
Mendengar perkataan Ardi yang tampak nyeplos tanpa berfikir, Alya berkacak pinggang dan berbalik Arah menatap Ardi. Ardi melihat Alya memasang mode garang sedikir bergidhig.
"Kenapa Lu? Natap gue gitu?" tanya Ardi heran.
"Heh, bujang tua!" bentak Alya sedikit membuat Ardi tersinggung. "Mikir nggak sih apa yang kamu bilang, Aku disuruh lari-lari hujan dheres begini buat ambilin payung? Sementara kamu enak-enakan liat aku ujan-ujanan. Nggak Sudi!"
"Hemmmm" Ardi berdehem menahan dingin melihat Alya. "Nggak usah bawa-bawa bujang tua kali, gue belum tua tua amat, gue juga masih ganteng" cibir Ardi.
"Iya ganteng, tapi suka nggak kepake tu otak" jawab Alya kasar.
"Gue alergi hujan" ceplos Ardi menatap Alya tajam.
"Alasan, mana ada alergi ujan" jawab Alya tidak percaya.
"Lo kan dokter, harusnya Lo tau"
"Nggak pernah tuh, nemuin pasien begitu" jawab Alya sinis menganggap Ardi bohong.
"Dasar Lo ya bikin gue pusing" Ardi mulai gemas melihat Alya ngeyel.
"Udahlah, mo sampai kapan kita di sini, aku mau nekat lari aja, terserah apa mau kamu, di sini atau ikut aku. Tapi aku nggak mau balik lagi cuma buat ambilin payung" tutur Alya siap-siap berlari
"Tunggu" Ardi meraih tangan Alya. Alya berhenti melihat tangan Ardi menggenggam tanganya. Perlahan Alya melepaskan genggaman Ardi.
"Kalau baju gue basah, gue ganti pake baju apa?" tanya Ardi.
"Meskipun belum disetrika, kemeja dan celana kamu kan di aku Mas" jawab Alya mengingatkan.
"Oh iya ya. Oke, ayok lari!"
Lalu mereka berdua sedikit berlari menuju ke apartemen. Memang tidak begitu jauh warung tenda dengan apartemen. Hanya sekitar 40 meter, tapi karena hujan dheras, Ardi dan Alya basah kuyup.
Tidak butuh waktu lama mereka sampai di apartemen.
"Mas Ardi, mau pulang?" tanya Alya.
"Hachiiim, hachiim" Ardi bersin-bersin hendak menjawab pertanyaan Alya.
"Mas sakit?" tanya Alya lembut, Alya memperhatikan wajah Ardi dengan seksama. Di bibir dan pipi Ardi nampak ruam merah.
"Hachiiim" Ardi bersin lagi.
"Astaghfirulloh, mas beneran alergi ujan?"
"Iyah, kapan gue bohong. Makanya dengerin kalau orang ngomong. Coba liat di dashboard mobil gue. Masih ada obat nggak?" perintah Ardi ke Alya setelah membuka kunci. Alya memeriksanya ternyata nggak ada obat. Hanya Ada bungkus obat.
"Nggak ada mas. Ya udah yuuk segera naik. Mas ganti baju dulu, aku punya sediaan obat kok" ajak Alya tidak memikirkan apapun kecuali keadaan Ardi. Padahal Alya sendiri merasa pusing dan dingin.
Lalu mereka masuk lift. Karena cuaca yang hujan deras, partemen sangat sepi, pengguna lift saat itu hanya Alya dan Ardi. Setelah Ardi memencet tombol angka 7. Tiba-tiba
"Nut Nut Nut" terdengar suara tombol-tombol mati. Lampu pun padam.
"Mas" panggil Alya masih di tempatnya. "Apa ini mati listrik?" tanya Alya mulai panik.
"Udah tau nanya" jawab Ardi cuek menahan pening di kepalanya.
"Terus kita kejebak di lift?" tanya Alya ke Ardi. Ardi mendekat ke Alya.
"Apartemen pasti punya genset, tenanglah, sebentar lagi nyala" jawab Ardi menenangkan.
"Tapi aku takut" jawab Alya membayangkan Alya akan terjebak lama di dalam lift.
"Lian," panggil Ardi yang sepengetahuanya nama Alya Berlian. "Mendekatlah" pinta Ardi di tengah kegelapan lift.
__ADS_1
"Jangan melewati batas mas!" jawab Alya salah paham.
Merasa disuudzoni, Ardi diam tidak berselera untuk bertengkar. Ardi kembali menahan dingin dan pening di kepalanya.
Suasana menjadi hening. Alya diam berdo'a listrik menyala. Entah bantuan genset atau apapun yang penting nyala. Sementata Ardi bersandar menahan serangan Alergi tubuhnya.
"Hachiiim" Ardi kembali bersin.
Alya yang sempat salah paham terhadap Ardi merasa tidak enak, karena Ardi berubah menjadi diam. Kemudian Alya kembali mencoba membuka pertanyaan lagi.
"Mas?" panggil Alya pelan. Tapi Ardi tetap diam.
"Mas Ardi" panggil Alya lagi. Tapi tetap tidak ada sahutan. Merasa bersalah dan khawatir Alya mendekat ke Ardi dengan meraba-raba dinding lift.
"Brug" Alya terhuyung hampir jatuh ke dinding lift. Merasa ada tubuh berat bersandar pada tubuhnya dan meraih tanganya. Reflek Alya ingin menepis tapi ternyata tubuh itu seperti benar-benar butuh sandaran. Tangan Ardi memegang tangan Alya kencang dan memintanya untuk bersandar karena kepalanya pusing.
"Bantu aku lian, aku benar-benar dingin, kepalaku pusing" bisik Ardi di telinga Alya menahan sakit.
Yakin Ardi benar-benar sakit, Alya membiarkan Ardi.
"Berdoa lampu nyala mas. Aku pinjami hoody ku biar kamu nggak kedinginan" tutur Alya yang merasa kasian melihat Ardi.
Seperti ada malaikat lewat, doa Alya didengar, listrik menyala lagi. Alya segera memencet angka 7, tidak lama mereka sampai ke apartemen. Ardi masih bisa berjalan meski sempoyongan, Alya memapahnya meski berat. Badan Ardi dipenuhi ruam kemerahan. Ardi juga tidak berhenti bersin. Wajah tampan Ardi hilang beganti wajah dipenuhi bentol-bentol merah.
"Baju kita basah semua mas, langsung ke kamar mandi ya?" ajak Alya membantu Ardi.
"Kepalaku pusing sekali Lian" jawab Ardi.
"Aku bantu mas. Aku ambilkan kursi biar kamu bisa bersandar, aku ambilkan baju dulu ya" pamit Alya meninggalkan Ardi di kamar mandi.
Ardi mengangguk bersandar memegang gagang pintu kamar mandi.
"Aku carikan obat, yang penting sekarang ganti baju dulu mas" tutur Alya. "Mas masih bisa kan ganti pakaian sendiri?" tanya Alya ragu-ragu.
Ardi mengangguk. Lalu Ardi masuk ke kamar mandi di dalam kamar, dan Alya membersihkan diri di kamar mandi dapur. Alya meminjamkan hoody tebal ke Ardi, dan celana 3/4.
Setelah ganti Ardi langsung merebahkan dirinya di kasur, badanya penuh ruam merah. Sementara Alya langsung ke dapur membuatkan minuman hangat dan mengambil obat. Karena Alya dokter Alya bisa memberikan obat alergi Ardi tanpa bertanya.
"Mas, badanmu kemerahan semua? Maaf karena aku sudah mengira kamu berbohong?" ucap Alya merasa bersalah.
"Rasanya gatal sekali Lian, aku tidak tahan, aku pusing, hachiiim" Ardi bersin lagi.
"Minumlah obat ini, dan balurkan minyak ini, ini bisa meredakan gatalmu mas?" tutur Alya memberikan obat, air jahe hangat dan minyak angin.
"Terima kasih" jawab Ardi lemah, "Bantu aku baluri punggungku" pinta Ardi menyerahkan minyak angin.
Meski ragu-ragu, Alya menyanggupi mengolesi minyak ke tubuh belakang Ardi di balik hoody. Benar saja, tubuh belakang Ardi penuh dengan bentol- bentok merah. Pelan-pelan tangan Alya masuk ke balik hoody membaluri minyak. Untung Ardi sedang menahan pusing dan gatal, jadi tidak ada respon apapun.
Selesai membaluri minyak Alya memberikan obat Ardi.
"Minumlah, efeknya membuat rasa kantuk, sebaiknya Mas Ardi menginap di sini atau minta jemput Pak Rudi" tutur Alya menyarankan.
"Jam segini Pak Rudi sudah pulang, kasian hujan-hujan begini" jawab Ardi memilih tidur di apartemen.
"Baiklah, aku tidur di depan, mas tidurlah di sini" Alya memberikan keputusan. Saat Alya hendak pergi, tiba-tiba listrik padam lagi.
"Tidurlah di sini, gue nggak akan apa-apain Lo, percayalah" pinta Ardi kasian terhadap Alya jika tidur di luar. Alya diam tidak bisa menjawab.
"Kenapa listrik padam lagi sih?" gerutu Alya.
"Mungkin genset habis, atau ada banjir, komplek belakang apartemen memang langganan banjir. Jika hujan angin dan deras" jawab Ardi merebahkan badan membelakangi Alya. "Tidurlah" jawab Ardi tidak memperdulikan mati listrik.
Alya diam berfikir. Di luar kamar memang sangat gelap, hanya Ada penerangan dari senter ponsel. Alya hendak bangun mencari lilin dan tidur di ruang tengah. Tapi belum sempat berjalan baterai ponsel Alya lowbat dan senternya padam.
"Astaghfirulloh kenapa harus lowbat sih?"
__ADS_1
Akhirnya Alya memilih tidur di ujung ranjang dengan pembatas bantal. Alya sedikit gugup dan merasa bersalah. Tapi karena sudah mengantuk semua dia tepis, dan tidak lama Alya terlelap.