
****
Restokafe Danau
Walau di beberapa meeting sering seenaknya sendiri, tapi jika menyangkut hal serius dan berbau kebaikan. Ardi selalu mendengarkan kata papanya. Menghargai waktu dan menghormati tamu.
Pagi itu Ardi tiba di panti pagi, sebelum tamu undangan datang. Ardi memang sempat bertemu Farid. Tapi Farid hanya bertegur sapa dan bilang kalau persiapan sudah siap. Farid pun mengantarkan Ardi bertemu pengurus panti dan calon penanggung jawab resto kafe, dia adalah Pak Niko.
Setelah Ardi berbincang dengan Pak Niko, Farid merasa tugasnya sudah selesai. Farid yang belum tahu kalau Alya istri Ardi dan kembali ke rumah Ardi, segera keluar dari restokafe menjemput Alya ke kos-kosan.
Sementara Ardi berkeliling restokafe. Mengecek persiapan, hidangan apa saja yang dimasak alumni panti Gunawijaya. Melihat masing-masing tempat dengan detail. Ardi juga menyiapkan sambutan sebagai calon owner yayasan.
Saat mengobrol dengan klien, tamu ataupun bawahan, meskipun Ardi atasan dan terhormat. Ardi selalu menghargai lawan bicaranya dengan tidak menyentuh ponsel. Seringkali ponselnya disilent, ditaruh di tas, dipegang Dino atau bahkan dimatikan. Terutama saat Ardi memimpin suatu rapat atau berbicara di depan umum.
Sesuatu yang terpuji untuk dijadikan panutan dalam mengejar karir dan menghormati orang lain. Tapi hal itu menjadi sesuatu yang salah dan menjengkelkan jika dikaitkan dengan kehidupan pribadi apalagi hubungan suami istri. Dimana istri sangat butuh kasih sayang dan perhatian suami. Apalagi saat istrinya hamil.
Jika di perusahaan atau di kantor, Ardi ada Dino yang selalu mendampingi dan memegang ponsel Ardi yang satunya. Jika ponsel pribadi Ardi tidak menjawab, Alya bisa menelpon ke nomer bisnis Ardi.
Tapi untuk urusan yayasan Ardi pergi tanpa Dino. Karena sebenarnya kuasa dan ranah yayasan adalah milik Bu Rita. Pengurus dan orang kepercayaanya juga pilihan Bu Rita. Pagi ini Ardi hanya mewakili Bu Rita.
Dino, Ardi beri amanah untuk menghandle perusahaan, karena hari ini Ardi libur ngantor. Ardi berencana mengajak Alya jalan-jalan setelah berbicara dengan Farid. Ardi juga ke panti tidakbdengan Arlan, karena Arlan bertugas menjemput Ida dan Mia. Ardi pergi diantar Pak Rudi, sopir Tuan Aryo.
****
Kediaman Tuan Aryo
Di kamar megah dan mewah, Alya mondar mandir memegang ponselnya. Karena kesal beberapa kali Alya membanting ponselnya ke kasur. Diambil lagi, dilempar lagi, begitu beberapa kali. Padahal itu handphone mahal banget.
Mulai dari pagi telp dan kirim pesan ke Bu Mirna tidak diangkat, Alya menjadi paranoid. Telpon Bu Rita disalahin katanya dirinya dan suaminya menjadi pasangan yang keterlaluan. Telpon suaminya nggak digubris. Telpon Dino tidak tahu apa-apa. Telpon Arlan apalagi, lebih tidak tahu apa-apa. Emosi Alya becampur-campur tidak bisa dijelaskan.
Alya hanya ingin tanya ke suaminya, sudah jelaskan ke Farid belum. Alya juga cerita kalau Farid mau jemput Alya. Alya juga ijin pergi boleh atau tidak. Kalau tidak alasan apa. Tapi tidak dibaca Ardi. Akhirnya Alya berfikir sendiri.
Alya sudah berniat untuk menolak Farid. Alya juga sudah mengirim pesan ke Farid, kalau Farid tidak usah jemput. Tapi sepertinya setelah tau Alya di rumah Tuan Aryo, Farid langsung tancap gas dan fokus nyetir.
"Huuuuft, tenang Alya. Suamiku yang ganteng dan nyebelin itu pasti sedang sibuk. Tenang tenang tenang, nggak boleh emosi kasian dhedhek utun" Alya berbicara sendiri sambil duduk di balkon kamar dan mengelus perutnya.
"Mas Ardi pasti keluar jiwa serigalanya kalau aku pergi dengan Kak Farid. Aku harus tolak Kak Farid. Ah tapi kasian sekali Kak Farid, udah jauh-jauh, muter-muter. Ya Alloh ampuni suamiku, ampuni aku. Kenapa juga susah banget kasih tau ke Kak Farid" gumam Alya dalam hati sambik duduk melihat ke halaman.
"Kalau dari awal, Mas Ardi ajak nikah baik-baik, kasih tau ke teman-teman baik-baik. Pasti tidak akan begini, benar kata Mama, Mas Ardi memang keterlaluan"
Alya mengingat awal pernikahanya yang menyedihkan menurutnya. Menikah tanpa didampingi teman-teman. Tidak ada kado, tidak ada kue tidak ada hiburan. Dan kini berbuntut panjang menyakiti sahabatnya.
"Ck. Dasar Mas Ardi, tapi kenapa juga sekarang rasanya aku selalu ingin di dekatnya. Padahal kalau dipikir-pikir dia sangat payah dan egois, sekarang aku benar-benar mencintainya" gumam Alya lagi memencet ponsel dan melihat foto suaminya.
Karena berniat tetap tidak pergi meski sangat ingin. Aly tidak berdandan atau memakai baju yang rapi. Alya masih memakai daster pendek setelah mandi tadi pagi. Alyapun memilih rebahan sambil membuka medsos.
Terlalu asik berselancar di dunia maya, waktu berlalu begitu cepat. Alya lupa kalau Farid dalam perjalanan menjemputnya. Bahkan Alya tertidur di kasur sambil memegang ponsel, karena semalam dibangunkan suaminya.
__ADS_1
Farid sampai di rumah Ardi. Farid yang dari SMA sering main, bahkan setelah lulus kuliah setiap bulan berkunjung. Pelayan Tua Aryo sudah hafal Farid. Mereka membukakan pintu gerbang dengan lebar, merasa Farid juga tuan mereka.
"Selamat Pagi Den Farid. Ada yang bisa saya bantu? Tuan Ardi sudah berangat. Nyonya Rita dan Tuan Aryo belum pulang" sapa Bu Siti menyambut kedatangan Farid.
"Saya udah ketemu Ardi kok Bu, Saya mau jemput Alya?" jawab Farid percaya diri.
"Oh Non Alya?" tanya Bu Siti agak kaget.
Den Farid mau jemput istri majikanya? Tapi Bu Siti tau Farid akrab dengan Ardi jadi Bu Siti tidak berfikir jauh. Meskipun agak aneh. Tuanya kan sangat posesif. Tapi Farid bilang sudah bertemu Ardi, mungkin memang Ardi yang menyuruhnya. Apalagi awal-awal Alya datang, Alya juga diantar Farid saat hendak menginal ke Bu Rita.
"Iya" jawab Farid percaya diri.
Farid mengira Alya seperti sebelumnya menginap di rumah tantenya karena berkunjung saja. Bukan karena memang Alya tinggal di situ sebagai Nyonya.
"Baik, saya panggilkan Den, silahkan duduk dulu" jawab Bu Siti.
"Ya Bu, terima kasih"
Bu Siti naik ke atas, ke kamar Tuan Mudanya. Bu Siti mengetok pintunya berkali-kali tidak ada jawaban. Saat gagang pintu diputar ternyata tidak dikunci, Bu Siti pun membuka pintu dan masuk. Ternyata Alya ketiduran.
"Non" panggil Bu Siti dan menggoyangkan kaki Alya.
"Emmm, Bu?" jawab Alya menggeliat dan mengerjapkan mata.
"Di luar ada Den Farid. Nungguin Non" tutur Bu Siti memberi tahu.
"Iya, ditunggu di bawah ya Non"
"Ya Bu"
Alya duduk, membuka matanya dengan sempurna. Lalu bangun cuci muka, mengambil baju panjang sekenanya dan mengambil jilbab sekenanya. Setelah mantap berfikir menolak Alya turun ke ruang tamu.
Mata Farid berbinar melihat Alya datang, bibirnya tersenyum lebar. Alya memang hanya mengenakan gamis polos berwarna hitam dengan tali di pinggang. Lalu jilbab syar'i berwarna keemasan. Wajahnya tanpa make up karena bangun tidur. Tapi entah kenapa menurut Farid Alya terlihat sangat cantik apalagi saat tersenyum, kedua lesung pipinya tampak sangat manis.
"Kak Farid kok kesini?" tanya Alya sopan tapi sedikit mengecewakan untuk didengar Farid.
"Lah kamu, katanya mau datang, kenapa malah di rumah? Ayo ke danau, seru lho" jawab Farid semangat.
Alya menelan salivanya. Meremas ujung jarinya sendiri. Alya memang ingin pergi, tapi suaminya melarang. Alya harus pastikan keputusanya benar.
"Apa Kak Farid udah ketemu Mas Ardi dan ngobrol denganya?" tanya Alya penasaran apa suaminya sudah menyampaikan kebenaran ke Farid.
"Sudah!" jawab Farid mantap karena memang sudah bertemu, dan tidak tahu maksud Alya.
Alya menelan salivanya. "Sudah? Beneran sudah? Beneran udah bilang? Kok ekspresi Kak Farid masih sama, apa dia tidak sakit hati atau sungkan tau aku istri Mas Ardi dan sedang hamil? Dokter Gery saja langsung berubah drastis" gumam Alya dalam hati
"Ehm, Alya nggak bisa pergi Kak, Alya di rumah saja" jawab Alya ramah dan mencoba melawan keinginanya.
__ADS_1
"Kenapa? Sayang lho. Us Zahra datang, Bu Salma juga" jawab Farid menyemangati.
"Mas Ardi bilang, Alya di rumah saja" jawab Alya polos. Karena Alya memang ingin mematuhi kata suami. Alya kira Farid sudah mendengar penjelasan Ardi.
"Ah anak itu, selalu begitu, santai Al. Ardi malah seneng kalau nanti kamu dateng, kamu kan juga keluarga panti" jawab Farid menganggap Ardi hanya terlalu iseng dan tidak mau direpotkan, melarang kerabatnya ikut.
"Emang Kak Farid pergi Mas Ardi tau?" tanya Alya penasaran. Apa suaminya tau Farid menjemputnya.
"Taulah!" jawab Farid jujur juga. Farid memang pamitan ke Ardi untuk keluar sebentar. Tapi tidak bilang jemput Alya.
"Alya takut Mas Ardi marah, Alya di rumah aja Kak" Alya tetap berusaha menolak tidak ingin ambik resiko.
"Nggak lah, kenapa harus marah. Udah siap-siap. Sayang ada acara begini nggak dateng. Sekali - kali seneng-seneng makan-makan kumpul-kumpul" jawab Farid lagi merayu Alya.
Alya menelan salivanya lagi sambil berfikir. "Semoga Farid memang orangnya baik dan lembut, makanya Mas Ardinya percaya dan tidak cemburuan"
"Aku ingin datang, tapi gimana Mas Ardi?" gumam Alya bimbang.
"Ayo, buruan" ucap Farid melirik jam tangan tapi Alya malah melamun dan diam.
Setelah berfikir, Alya mengangguk ikut. Farid tersenyum senang mendapat jawaban Alya.
"Alya siap-siap dulu Kak" jawab Alya memutuskan.
"Siap-siap apa? Udah berangkat gini aja, udah cantik kok" jawab Farid tidak sabar segera berangkat.
"Ambil tas dan handphone Alya Kak" jawab Alya jujur.
Farid pun mengangguk. Alya benar-benar hanya mengambil tas dan handphone tanpa berdandan lagi atau ganti baju. Alya hanya mengenakan gamis biasa tidak mahal dan wah. Jilbabnya juga jilbab panjang biasa. Bahkan Alya terkesan seperti ibu-ibu pengajian. Tapi cantik dan manis.
Meski dengan rasa harap-harap cemas. Alya ikut Farid datang ke danau. Sesekali Alya melihat ponsel, berharap dan menunggu Ardi membaca pesanya dan membalasnya tapi ternyata Nihil.
Alya berpamitan ke asisten rumah tangganya. Bu Siti dan yang lain jug mengguk. Mereka percaya Farid orang baik dan sahabat Ardi. Jadi mereka yakin Alya aman dan selamat.
****
Kosan Anya
Setelah selesai membuang hajat, karena mendengar bel pintu bunyi berkali-kali, Anya keluar. Saat Anya berjalan, karena tirai jendela dibuka, dari dalam Anya melihat punggung laki-laki sedang berbicara di telepon. Anya pun keluar memastikan.
Tapi saat Anya keluar, Farid sudah masuk ke mobil lagi. Karena begitu tau Alya di Istana Tuan Aryo, Farid buru-buru pergi.
"Dari belakang dan dari mobilnya kaya Aa Farid" gumam Anya.
"Untuk apa dia ke sini ya? Kok nggak telpon dulu? Tau darimana dia kosanku di sini? Ah bodo ah. Apa abah sakit? Nggak kok tadi malam juga emak telpon mereka sehat" gumam Anya lagi, lalu menutup pintu kosan.
Anya mencari Bu Dati, ternyata kosong. Teman kos Anya juga lagi kuliah. Karena sepi Anya masuk ke kamar lagi, rebahan lalu mengambil handphoneya. Anya menghubungi Dokter Agung, pacarnya yang sedang menempuh pendidikan spesialis di Jogja. Karena tidak diangkat Anya tidur.
__ADS_1