Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
161. Jack


__ADS_3

Setelah berbincang dengan Alya, Mira segera beranjak. Melangkahkah kakinya membelah lalu lalang orang.


Mira berjalan cepat dengan tatapan kosong. Bahkan beberapa perawat yang menyapanya tidak dihiraukan, apalagi pasien. Jika orang tidak mengenalnya, semua sepakat menyebutnya sebagai dokter jutek.


Mira membuka pintu ruang prakteknya dengan kasar. Meletakan tas nya sekenanya. Kemudian Mira duduk meletakan kedua sikunya di meja. Dan menutup wajahnya dengan kedua tanganya.


"Gery mencintai ku? Cinta? Hah? Cinta macam apa yang kamu berikan untukku Ger?"


"Aku butuh dinikahi bukan di kasihani. Kenapa kamu tidak mencegahku?"


"Kamu memang pernah ada di hatiku Ger. Bukan pernah kamu memang selalu menempati hatiku. Tidak ada yang bisa membuatku bergetar seperti saat bersamamu"


"Tapi kenapa selalu Alya prioritasmu. Bahkan saat Alya sudah bersama Ardi. Kenapa tidak sekalipun kamu memperjuangkanku, kenapa justru kamu mendorongku untuk tetap bersama Tito. Bahkan dulu kamu saling pukul dengan Ardi, kenapa tidak saat tau aku bersama Tito?"


"Lelucon macam apa ini?"


"Fokus Mira. Alya hanya membual. Alya hanya mengasihaniku. Aku akan bahagia bersama Tito"


"Aku tidak akan terlihat menyedihkan, aku bahagia. Aku yakin aku bahagia. Tanpa Gery"


Mira bermonolog sendiri dalam hatinya. Perkataan dan keputusn orang tua Mira selalu terngiang-ngiang di telinga Mira.


Sepulang Mira mencari cincin bersama Lila kemarin, Tito menjemputnya. Tito dan keluarganya meminta pertunangan mereka dipercepat. Tito meminta Mira tunangan mereka dilaksanakan akhir pekan.


Seharusnya selayaknya perempuan yang menantikan pernikahan, Mira bahagia. Tapi kenyataanya hati Mira semakin kacau. Apalagi setelah mendengar ucapan Alya. Niat Mira melupakan Gery, tapi justru Gery selalu muncul di benaknya.


"Dok, apa pelayanan bisa dimulai? Di luar sudah ada 15 pasien yang mengantri" tutur perawat sopan memecahkan lamunan Mira.


"Hah?" Mira membuka tanganya dan mentralkan mimik wajahnya. Di mejanya sudah ada setumpuk rekam medis pasien rawat jalan.


"Sebentar yah, saya mau minum dulu" tutur Mira meminta waktu sebelum memulai praktek. Mira tidak boleh badmood saat menghadapi pasienya.


Mira keluar lewat pintu belakang, mengambil segelas air putih, duduk dan menetralkan pikiranya. Setelah merasa tenang Mira kembali ke meja kerjanya dan bersiap memulai praktek.


Seperti biasa, Mira menunaikan tugasnya dengan baik. Satu persatu pasien dia layani dengan ramah. Sekitar 3 jam berlalu, pekerjaan Mira di klinik anak selesai. Mira berganti menunaikan tugasnya ke bangsal.


"Mir" panggil Gery saat Mira berjalan di depan bangsal rawat inap.


"Kenapa harus ketemu sih?" ucap Mira dalam hati lalu menghentikan langkahnya.


"Ada apa Ger?" tanya Mira menyapa Gery.


Gery terlihat salah tingkah lalu mensejajari langkah Mira.


"Lo masih ketemuan sama Intan?" tanya Gery membuka pertanyaan.


Sebenarnya Gery juga merasa tidak berkepentingan menanyakan urusan Intan. Memastikan Alya dan Ardi baik-baik saja sudah cukup. Tapi Gery hanya ingin sekedar menyapa Mira di hari-hari terakhirnya menjalanlan wkds.


"Ehm" Mira membatin kesal salah paham. "Lo pasti mau nanyain Alya lagi kan Ger. Dasar!" batin Mira dalam hati karena Gery menanyakan Intan.


"Intan temen gue, tentu saja gue masih komunikasi. Kenapa memangnya? Lo masih mau bahas Alya? Sory gue buru-buru" jawab Mira ketus.


"Nggak kok. Gue cuma mau bilang, kita nggak perlu ikut campur urusan mereka biar mereka selesaikan masalah mereka sendiri" ucap Gery menundukan kepala sambil berjalan.


"Ya. Alya udah bilang kok! Gue mang nggak tertarik buat ikut campur, gue cuma kasian sama Intan, selebihnya terserah mereka"


"Ya udah nggak usah bahas mereka. Oh iya. Gimana hubunganmu sama Tito?" tanya Gery bosa basi


"Baik. Kenapa?" jawab Mira ketus.


"Syukurlah" jawab Gery mengusap tenguknya salah tingkah.


"Akhir pekan gue tunangan, lo dateng ya" ucap Mira dingin.


"Oh. Ok" jawab Gery dengan mulut tercekat. Lalu mereka sampai ke depan bangsal anak.


"Ya udah sok, mau visit kan? Gue cabut dulu" ucap Gery menyampaikan salam perpisahan.


"Oke!" jawab Mira berlalu.


Gery berdiri menatap Mira sampai Mira masuk ke bangsalnya. Gery menunduk, memasukan tanganya ke sakunya menelan ludahnya sendiri.


"Kenapa semakin lama, rasanya semakin berat melepasmu Mir?" gumam Gery dalam hati.


Gery masuk ke ruang IBS bergabung bersama perawat. Kebetulan jadwal operasi pagi sudah selesai satu jam lalu.


"Lhoh ini suaminya Dokter Alya bukan sih" ucap salah satu perawat menanggapi berita di TV.


"Lah bener kan gosip doang. Kasian yak Dokter Alya"


"Lah biasa orang kaya mah gitu"


Mendengar percakapan perawat, Gery ikut memperhatikan berita. Di berita disebutkan kalau pihak dari Riko, si artis melaporkan pencemaran nama baik dengan tersangka Lila. Putri dari pemilik hotel Wiralila.


"Hotel Wiralila? Bukankah itu perempuan yang gue ikutin waktu itu? Dia kan calon adik ipar Mira kan?" gumam Gery sambil bersedekap memperhatikan berita di TV.

__ADS_1


"Gue harus pastiin ke Ardi dan Mira kalau begitu. Nggak bisa dibiarin!" gumam Gery lagi bermonolog dalam hati.


"Bang, ada jadwal pasien OP lagi nggak?" tanya Gery ke perawat.


"Ada dok. Dari poli obgyn barusan telpon, katanya ada kiriman ibu hamil dengan Letak Lintang sama satu lagi Pre-eklampsi di IGD sedang menunggu hasil lab" jawab perawat.


"Oke" jawab Gery mengangguk lega


Jika ada operasi melahirkan itu berarti Mira ikut menangani bayinya. Gery tersenyum ada alasan untuknya bertemu Mira.


Sekitar 10 menit Gery duduk, pintu ruang operasi dibuka. Petugas dari bangsal bersalin mendorong pasien siap dioperasi. Gery dan Dokter Siska pun menyiapkan diri.


Setelah Gery selesai menunaikan tugasnya, Gery melepas sarung tanganya, mencuci tangan dan melirik ke ruang resusitasi. Gery mencari seseorang yang mengusik hatinya. Tapi ternyata nihil, tidak tampak ada ataupun terdengar suara Mira.


"Siang Dok" sapa Gery ke Dokter Ana, dokter umum yang bertugas yang melakukan resusitasi siang itu.


"Siang Dokter Gery" jawab Dokter Ana.


"Dokter Mira nggak ikut?" tanya Gery memastikan.


"Oh Dokter Mira tadi selesai visit bangsal kataya langsung pulang Dok" jawab perawat.


"Oh gitu? Oke makasih" jawab Geri mengangguk.


Gery segera mengganti baju scrubnya dengan baju bebasnya. Gery meraih ponselnya segera menghubungi Mira. Tapi ternyata nihil.


"Haish. Angkat Mir, angkat!" gumam Gery mencoba menghubungi Mira lagi tapi tidak berhasil.


"Kalau orang yang bermasalah sama Ardi adalah orang yang sama dengan calon adik ipar Mira. Ini bahaya! Bener kata Ardi gue harus selidiki siapa calon Mira" ucap Gery dalam hati. Lalu Gery mengambil kuncinya.


Gery tidak langsung pulang, tapi Gery mengunjungi rumah gedong yang waktu itu dia ikuti. Gery ingin menyelidiki keluarga calon suami Mira. Apa pantas Gery merelakan Mira begitu saja.


Gery juga akan memastikan apakan Lila yang bermasalah dengan Ardi orang yang sama. Tapi sayang kediaman Tuan Wiralila tampak sepi.


*****


Kantor Gunawijaya.


"Eughh...Egghh.. Hahhh"


Dua sejoli itu, masing-masing berbaring mengatur nafasnya yang terengah-engah. Buliran kecil keringat tampak membasahi kening Alya. Ardi merebahkan badanya di samping Alya.


"Makasih sayang, cup" ucap Ardi mengecup rambut istrinya.


Lalu Ardi membersihkan juniornya, karena dia masih harus menahan untuk tidak memicu kontraksi perut istrinya.


"Nggak apa-apa, mas udah seneng kok, makasih ya. I love you" jawab Ardi lembut tersenyum ke istrinya.


"Love you too"


"Mamah masih 1 jam lagi, kamu bisa istirahat dulu. Mas mandi ya" tutur Ardi bangun lalu masuk ke kamar mandi.


Lian sebenarnya masih ingin tidur. Tapi melihat hari sudah siang dan sebentar lagi harus pergi, Lian memilih ikut mandi. Belum sempat Lian masuk ke kamar mandi ponsel Ardi berbunyi.


"Ini kan ponsel pribadi Mas Ardi" Alya meraih selimutnya dan menggeser tubuhnya mengambil ponsel Ardi.


Layar ponsel Ardi menampilkan nama Riko.


"Riko? Aku angkat nggak ya? Mas Ardi marah nggak ya kalau aku angkat? Aku kan istrinya, aku angkat aja kali ya, tapi ijin dulu deh" gumam Alya ragu meraih ponsel suaminya.


"Mas, ada telpon" ucap Alya memilih tidak mendahului ijin suaminya.


"Angkat aja sayang, bilang Mas lagi mandi" jawab Ardi dari dalam kamar mandi, ternyata Ardi tidak menutup pintunya dengan rapat.


"Oke" Alya mengangguk kemudian mengusap tulisan jawab.


"Halo" ucap Alya mengangkat telp.


"Ar, sory gue sama tim gagal, jadi gue tempuh cara lain" ucap Riko spontan dikira Ardi yang mengangkat.


"Maaf Mas Ardi nya lagi mandi" tutur Alya sopan.


"Oh maaf ini Nyonya Berlian ya?"


"Iyah. Ada apa ya? Biar saya sampaikan ke suami saya"


"Maaf mengganggu waktunya Nyonya, saya kira jam segini Ardi sedang bekerja di kantor"


"Iyah. Kita memang sedang di kantor, ada yang mau disampaikan nggak? Saya matikan dulu atau ditunggu? Sepertinya suami saya mandinya udah mau selesai"


"Mandi? Di kantor? Ehm. Yaya saya tunggu aja Nyonya" tanya Riko sedikit aneh membayangkan sahabatnya jam 1 siang baru mandi di kantor bersama istrinya.


"Oke. Mohon ditunggu" jawab Alya datar dan manyun mengusap tengkuknya. Lalu meletakan ponsel Ardi masih menyala.


"Memang kenapa kalau jam segini mandi di kantor. Ini kan kantor punya sendiri" gumam Alya bangun dan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Siapa Yang?" tanya Ardi sambil mengeringkan rambut keluar dari kamar mandi.


"Buru tuh ditunggu belum aku matiin" ucap Lian melirik ke ponsel.


Ardi segera mengambil teleponya dan berbicara dengan Riko. Sebenarnya Alya tidak mengerti dan tidak ingin tau urusan suaminya. Tapi karena dia sempat mengangkat dan mendengar penuturan Riko, Alya jadi penasaran dan menguping percakapan suaminya.


"Hah, dibunuh?" gumam Alya syok.


"Jack dibunuh?" Alya masih terbengong dan merinding di kamar mandi.


Kenapa seram sekali lingkaran pergaulan suaminya sampai ada acara dibunuh-bunuh segala.


Alya kemudian memilih menyalakan shower dan meneruskan mandinya. Setelah selesai mandi Alya segera keluar. Memunguti pakaianya yang berserakan di lantai.


"Ganti sayang jangan pakai baju itu lagi" ucap Ardi menasehati Alya.


"Nggak ada baju panjang lagi Mas. Di lemari kemeja kerja mas semua! Nggak apa -apa lah, ini masih bersih kok" jawab Alya merasa baru ganti tadi setelah jaga malam.


"Ck. Makanya kalau tidur jangan pake baju panjang, jadi kusut kan? Bilang Risa, suruh beli sekarang!" jawab Ardi merasa tidak pantas, seorang menantu Gunawijaya mengenakan baju yang sudah berserakan di lantai


"Kasian Risa disuruh-suruh gitu"


"Kenapa harus kasian? Dia mas bayar kok"


"Kan tugas dia mengerjakan urusan kantor bukan menyediakan pakain Lian"


"Ya udah pakai yang ada"


"Pakai ini?" tanya Alya mengambil bungkusan baju yang Ardi sediakan.


"Coha dicek. Kayanya ada yang agak panjangan dikit kok" jawab Ardi lagi.


Di situ ada 3 bungkus pakaian semuanya dress. Ada satu dress dengan lengan pendek tapi ke bawah lumayan panjng di bawah lutut.


"Nah pakai itu aja. Nanti pakai jas mas, yang penting jangan pakai baju kotor" ucap Ardi


"Ya"


"Buruan, abis jemput Mamah mas masih ada urusan"


"Ya" jawab Alya mengangguk.


Lalu segera berganti pakaian dan berdandan ala kadarnya. Alya tau wajah suaminya menjadi lebih tegang tidak seperti sebelumnya. Jadi Alya memilih untuk diam dan mematuhi suaminya.


Meski tidak sengaja, tapi style Alya kali ini malah jadi bagus. Jas Ardi berubah menjadi outher ala-ala korea dengan bawahan dress kerut warna pink.


Alya mengikuti Ardi meninggalkan kantor menjemput mertuanya. Sepanjang jalan Ardi tampak diam dengan muka murung. Tangan yang biasanya usil sekarang diam di tempatnya.


Wajahnya sangat serius, rahangnya yang tegas semakin tampak. Aura dingin dan galak yang lama tidak Alya lihat datang lagi. Meski saat tangan Ardi usil Alya suka risih dan malu, tapi ternyata jika Ardi menampakan wajah dingin membuat Alya lebih tidak nyaman.


"Ehm" Alya berdehem dan berusaha mengerakan tanganya meraih tangan Ardi dan menggengamnya.


"Mas baik-baik saja?" tanya Alya lembut.


"Mas pusing sayang" ucap Ardi dingin.


Alya tersenyum berusaha menenangkan suaminya.


"Cerita sama Lian ada apa?" tanya Alya lembut ingin meringankan beban suaminya.


"Nggak apa-apa. Udah nggak usah khawatir" jawab Ardi tidak ingin membuat Alya takut.


Alya yang sempat menguping tau kalau suaminya ada masalah.


"Kita suami istri kan?" tanya Lian menatap suaminya mencoba merayu.


Ardi diam balik menatap istrinya, memastikan apa perlu dia cerita.


"Berbagilah sama Lian. Setidaknya biar lega, kalaupun Lian nggak bisa bantu, jangan dipendam" tutur Lian lagi.


Ardi menelan salivanya, kemudian menceritakan masalahnya.


"Setelah kita pergi kemarin, Jack dibunuh. Ada orang yang mengikuti kita kemarin" ucap Ardi


"Jack?" tanya Alya memastikan.


"Iya. Rencana Mas dan Riko gagal. Tapi Riko menempuh cara lain buat serang Lila. Mas kasian sama Jack. Lila dan pengedarnya harus ketangkep. Tapi susah buat mergokin dia"


Alya menepuk tangan suaminya lembut sambil tersenyum.


"Lian yakin kejahatan akan terungkap Mas. Mas yang tenang. Polisi juga pasti akan bekerja keras. Mas hati-hati yag berurusan dengan mereka"


"Iyah. Setelah jemput Mamah Papah, mas sama Riko mau takziah ke rumah Jack"


"Lian boleh ikut?"

__ADS_1


"Kamu di rumah aja sama mamah. Mamak pasti kangen sama kamu"


"Baiklah"


__ADS_2