
****
Rumah Sakit.
Dengan langkah tegap dan seragam snelinya, Mira berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Melewati jalan yang terdapat garis triase hitam di tengahnya.
Mira menepis bayangan apa yang sudah dia lakukan ke Alya. Apapun yang terjadi pilihan Mira adalah yang terbaik. Sebagai perempuan dan sebagai sahabat. Begitu fikirnya.
Mira berhenti di satu gedung dengan walpaper tembok aneka gambar dan karakter. Tempat yang di desain terasa imut dan menyenangkan. Meski saat memasukinya tetap saja tercium bau obat. Mira memasuki bangsal rawat anak.
Suara tangisan anak-anak balita mulai terdengar. Merengek meminta perhatian. Beberapa terbaring tenang dengan infus menggantung di sampingnya, beberapa lagi menggelayut manja dalam gendongan ibunya.
Mira masuk menyapa beberapa perempuan berseragam rapi. Perempuan yang menjadi rekan kerjanya, melaporkan detail perkembangan setiap pasien Mira.
Ya mereka perawat yang melaksanakan semua perintah Mira. Seperangkat program yang Mira tuliskan dalam setiap lembaran putih kertas yang tersusun pada map rekam medis.
"Siang Sus" sapa Mira ke perawat ruangan.
"Siang dokter" jawab perawat, salah satu dari mereka sudah siap dengan setumpuk rm di tangan dan didekap dengan dadanya.
"Ada berapa pasien yang dirawat hari ini?" tanya Mira.
"20 Dok!"
"Okey"
Mira meraih stetoskop dengan ujung bernetuk karakter kucing lucu berwarna coklat. Mira mengalungkan di lehernya. Memasuki pintu demi pintu. Menebarkan senyum ke setiap pasienya. Mendengarkan setiap keluhan dari mereka.
"Udah mau makan Ibu anaknya?" tanya Mira ramah ke salah satu wali dari pasienya.
"Belum dokter, susah banget makanya"
"Sayang, anak pintar, mau sepatu ini dilepas nggak? Makan yah!" tutur Mira ramah menyentuh spalek yang terbalut kasa melindungi jarum infus di kaki anak usia 6 tahun.
"Ais mau ketemu ayah Dok, Ais mau makan bareng ayah" rengek balita itu.
Mira menatap sendu ke anak itu kemudian beralih ke ibunya.
Bibir ibu balita itu tampak gemetar menahan sesuatu. Kemudian mendekat ke anaknya, mendekapnya. Jelas sekali ibunya memendam kesedihan.
Mira menghela nafasnya mencoba menebak, mengurai kisah dibalik adegan di depanya. Kenapa balitanya tampak kurus, mukanya pucat, bahkan sempat dehidrasi.
"Anak pintar dengerin dokter ya!" tutur Mira membelai rambut anak usia 6 tahun yang bernama Ais.
"Iya Doktel" jawab anak itu dengan tatapan polos mengharap pertolongan Mira.
"Memang ayah nya Ais kemana?"
"Ayah pelgi Dokter, ayah pelgi baleng tante jahat" jawab anak kecil polos itu lalu menunduk memegang selimut.
Mira menelan salivanya iba menatap perempuan di depanya. Mungkin dia seumuran Mira. Tapi badanya sedikit lebih melar dan tidak terawat, sehingga terlihat lebih tua darinya.
Sorot matanya memancarkan kesedihan. Mira menangkap anak ini korban broken home. Broken home dari ayah yang memilih mencari kesenangannya sendiri dan tidak peduli anak istrinya.
Mira mengeratkan rahangnya. Kemudian memasang wajah ramah lagi.
"Kamu ingin temuin ayah kamu kan?"
"Iya Doktel" jawab Ais mengangguk lesu.
"Kalau kamu sakit begini, tidak mau makan gimana caranya temuin ayahmu. Ayahmu akan pergi lebih jauh dengan tante jahat itu. Jadi kamu harus sehat dan kuat. Nanti kamu bisa berlari dan kejar ayah kamu!"
"Tapi Ais nggak tahu kemana ayah pelgi"
"Makanya Ais harus makan yang banyak biar tumbuh besar, nanti kalau Ais tumbuh besar, Ais bisa cari sendiri kemana ayah pergi, oke?"
"Oh gitu ya?"
"Iya. Ais nggak mau kan kalau Ais terbaring di sini. Ais nggak bisa ngapa-ngapain. Kuman-kuman nyakitin Ais karena Ais nggak makan. Nanti ayah malah nggak mau ketemu"
"Iya"
"Sayang nggak sama ibu?"
"Sayang"
"Ais harus sehat biar nggak repotin ibu ya, kasian ibu kan rawat Ais begini"
"Iyah"
"Mau makan?"
"Mau"
"Janji?"
"Janji Doktel"
"Oke besok pagi Dokter kesini lagi kamu harus sehat ya" ucap Mira tersenyum ke Ais.
__ADS_1
"Ya Doktel" jawab Ais bersemangat.
Mira mengangguk tersenyum lagi, kemudian menatap ibunya. Kemudian Mira meraih catatan dari perawat membacanya sekilas kemudian menepuk lengan ibu pelan.
"Ibu demam Ais udah turun. Hasil laboratnya juga sudah membaik. Motivasi adek untuk mau makan dan minum yah! Kalau dia besok bisa makan dan minum bisa segera pulang, semangat ya!" tutur Mira pelan ke ibu pasien.
"Baik Dok, terima kasih" jawab Ibu Ais terharu.
Mira dan perawat keluar berganti memeriksa pasien lain dengan keluhan berbeda.
"Dok perlu kolaborasi Dokter Jiwa nggak? Soalnya kalau malam anaknya suka nangis-nangis gitu" tanya perawat masih membahas pasien yang tadi.
"Observasi malam ini dan hari ini ya! Kita lihat perkembanganya besok"
"Baik Dok" jawab perawat.
Mira melanjutkan pekerjaanya. Memeriksa keadaan dan perkembangan setiap pasien rawatanya. Setelah itu melakukan evaluasi dan rencana tindak lanjut.
Beberapa pasien ada yang Mira perbolehkan pulang. Beberapa lagi ada yang Mira tambahkan teraphy, beberapa lagi ada yang tinggal menunggu evaluasi perkembangan sehari lagi.
Setelah selesai, Mira meletakan senjata hebat yang menggantung di lehernya. Berpamitan ke pada para rekan kerjanya. Menitipkan para pasienya dengan senyum ramah, agar para perawat bisa melaksanakan setiap program yang dia tuliskan dengan baik.
"Makasih Dokter" sapa perawat ramah.
"Sama-sama Sus" jawab Mira meninggalkan ruangan.
Mira tersenyum membalas ucapan terima kasih perawatnya. Padahal sebenarnya kalau dipikir-pikir, Miralah yang berterima kasih ke para perawat. Karen perawat yang berjaga 24 jam, merawat pasien dan melaksanakan program dari Mira.
Gaji Mira jauh lebih tinggi dari gaji perawat, padahal tugas Mira memeriksa beberapa menit saja.
Tapi memang dari segi tanggung jawab, Mira yang bertanggung jawab penuh atas pasienya. Mira standbye 24 jam, menerima laporan setiap ada perkembangan dari pasienya, meski lewat sambungan seluler.
Ya begitulah kerja tim. Semua mempunyai peran, harus saling menghargai dan berhubungan. Perawat juga berterima kasih terhadap dokter penanggung jawab. Dengan ilmu Mira, perawat mendapat banyak ilmu. Perawat juga mempunyai landasan merawat pasiennya dengan baik.
Mira berjalan dengan tatapan kosong entah kemana. Sesekali Mira mengambil ponsel dan menatap layarnya, kemudian memasukanya lagi. Akhirnya Mira memutuskan mampir ke kantin sebelum pulang.
"Maafin gue Al, gue nggak bermaksud hianatin lo, dan sakiti lo. Intan juga temen gue. Gue nggak tega liat anak Intan tidak mendapatkan kasih sayang ayahnya"
Intan berbicara sendiri sambil menunggu pesanan jus alpukat dan soto betawinya datang. Paduan yang cukup aneh, tapi itulah makanan kesukaanya.
Mira menghela nafasnya. Semoga Intan menyampaikan niatnya dengan baik. Begitu juga Alya, semoga Alya dengan bijak bisa menerima kenyataan. Kalau Ardi mempunyai anak dari perempuan lain. Begitu fikir Mira.
Pesanan Mira datang. Setelah mencuci tangan, Mira mulai melahap sesendok demi sesendok makanan di depanya.
"Ehm" sapa seseorang sudah duduk di depan Mira.
"Gery? Ada apa?" tanya Mira menghentikan makanya.
"Habiskan dulu makan mu" jawab Gery bersedekap menunjuk ke makanan Mira.
"Lo nggak makan?" tanya Mira ke Gery
"Gue udah makan tadi pesan online"
"Oh oke, gue lanjutin makan gue dulu" jawab Mira mengangguk dan menyelesaikan makanya.
"Ngapain Gery nemuin gue lagi sih" gumam Mira sambil mengunyah makanan di mulutnya.
Setelah selesai, Mira meraih tisu membersihkan mulutnya, memncuci tangan dan membayar tagihanya.
"Ada apa?" tanya Mira menatap Gery.
"Pekerjaan lo udah selesai?"
"Udah. Kenapa?"
"Naik mobil sendiri atau diantar laki-laki itu?"
"Tito Ger, namanya Tito, bukan laki-laki itu" jawab Mira sedikit kesal dan tersinggung.
"Ya maksudku itu"
"Gue bawa mobil sendiri" jawab Mira dingin.
"Oke ke kafe estela naik mobil lo, gue mau sampaiin sesuatu"
"Nyampaiin apa sih Ger. Kenapa nggak di sini aja sih?" jawab Mira tidak nyaman jika harus pergi berdua dengan Gery.
Mira mantap move on dari Gery. Kenapa Gery justru makin hari makin peduli. Tentu saja itu hal yang membuat Mira jengkel dan merasa dipermainkan.
"Ini penting Mir, di sini banyak orang" jawab Geri menekankan.
"Ya di kafe banya orang kali"
"Tapi kan beda" jawab Geri ingin ngobrol di tempat yang lebih nyaman.
"Udah lo pilih mana? Gue pulang sekarang atau lo ngomong apa tujuan dan maksud lo?"
"Oke. Gue ngomong di sini" akhirnya Gery mengalah.
__ADS_1
"Ya udah buru, apa?" tanya Mira sedikit ketus.
"Lo serius sama Tito?" tanya Gery hati-hati.
"Serius lah, kenapa emangnya?"
"Lo terima dia bukan karena lo mikirin umur lo doang kan?"
"Maksud lo apa? Lo nuduh gue terpaksa terima dia? Keterlaluan lo ya Ger?" Mira merasa tersinggung mendengar kata-kata umur.
"Gue bukan nuduh lo Mir. Gue nggak mau lo salah langkah buat terima dia" jawab Gery menunduk. Sebenarnya Geri ingin bilang, gue nggak mau kehilangan lo.
"Terus apa urusan lo?" tanya Mira masih tersinggung tapi sedikit berharap. Ternyata Gery peduli sama hidup Mira.
"Oke gue kemarin pergi ke bar kaselo"
"Lo minum lagi lo gila ya. Lo sekarang Dokter Ger" tanya Mira masih peduli Gery. Mira tau bar kaselo tempat orang-orang minum alkohol.
"Oke. Gue salah, gue belum sempet minum. Tapi gue liat Tito di sana. Dan dia bareng sama perempuan dan gue ikutin mereka. Mereka sama-sama masuk ke rumah gedong"
"Jadi lo mau bilang lo mata-matain Tito gitu? Terus gue percaya?"
Mira bertanya sedikit ketus tapi sebenarnya Mira dheg-dhegan. Gery memata-matai Tito untuk dirinya? Apa ini?
"Oke kalau lo nggak percaya lo liat foto ini!" jawab Gery mengbil ponselnya.
Mira menghela nafasnya. Menahan rasa penasaran apa yang di dapat Gery. Tapi lebih dari itu Mira lebih dheg-dhegan mengetahui fakta Gery mencari tahu tentang Tito untuknya.
Mira mengambil ponsel Gery. Mira menatap baik-baik perempuan di foto Gery. Mira juga memperhatikan latar rumahnya.
Mira sedikit kecewa, karena foto itu tidak menunjukan kesalahan pada Tito. Tapi kemudian Mira tertawa merasa konyol dengan tingkah Gery. Apa Gery benar-benar mengkhawatirkanya?
"Ah, Hahaha. Gery, Gery. Dia itu adeknya. Dia Lila, adik Tito. Rumah ini kediaman rumah Tuan Wiralila, Ck" jawab Mira terus terang mengenal perempuan itu.
Mira menangkap basah ekspresi Gery menunduk dan malu. Seperti ekspresi mengalami kegagalan. Apa sebenarnya isi otak Gery, kenapa Gery tidak terus terang.
"Hah. Lo bener-bener ya? Apa sih maksud lo nglakuin semua ini?" tanya Mira lagi ingin tahu jawaban Gery.
Mira berharap mendengar Gery memintanya tinggalin Tito. Menikahlah denganku.
"Maaf gue nggak tahu! Syukurlah kalau itu adeknya" jawab Gery tulus tapi tidak sesuai mau Mira.
"Lo nggak suka gue mau nikah dan punya cowok? Heh?"
"Tentu saja gue seneng lo bahagia. Gue cuma khawatir"
"Oh. Kalau lo mau khawatirin seseorang, bukan gue, buat apa? Bukankah ini yang lo mau. Gue pergi dari hidup lo dan nggak nguntit lo lagi"
"Ehm, oke gue salah. Gue cuma berharap lo bahagia Mir. Gue takut lo terpaksa nikah gara-gara gue!"
"Nggak usah GR, gue bahagia. Lo kalau mau cemasin seseorang bukan gue tapi Alya. Gue nggak tahu gimana perasaan Alya sekarang saat tahu suaminya laki-laki brengsek"
"Maksud lo apa?" tanya Gery kaget tiba-tiba bahas Alya.
"Gue buat Intan ketemu Alya"
"Mir. Lo waras kan?"
"Ya gue waras lah. Makanya karena gue waras, gue lakuin ini. Alya harus tau siapa suaminya. Dan anak Intan berhak dapet kasih sayang ayahnya"
"Mir. Lo tau Intan kan? Lo kenal Intan lo kenal Ardi"
"Ya, justru itu. Gue harus lakuin ini"
"Mir lo nglakuin ini sadar nggak sih lo bisa lukain hati Alya, bahkan lo bisa hancurin rumah tangga mereka!"
"Segitunya ya perasaan lo ke Alya, lo nggak mikirin gimana Intan dan anaknya?"
"Mir. Lo nggak tahu apa-apa tentang hubungan mereka. Lo nggak tahu apa yang terjadi kenapa Ardi mutusin Intan?"
"Ger. Gue nggak peduli secinta apa lo sama Alya, sedekat apa lo sama Ardi. Tapi gue memperjuangkan nasib anak yang ditinggalkan ayahnya. Demi ambisi dan cita-citanya, egois!"
"Mir. Ardi nggak mungkin ninggalin Intan hanya karena mau kuliah Mir. Gue kenal Ardi. Nggak ada bukti itu anak Ardi"
"Ger. Intan melahirkan 6 bulan setelah mereka putus. Itu berarti 3 bulan mereka sebelum melahirkan mereka masih tunangan. Gila ya lo masih belain Ardi!"
"Gue nggak bela Ardi Mir. Kalau emang lo mau perjuangin hidup anak Intan lo bisa negur langsung dan tanya ke Ardi bukan ke Alya. Ardi yang berhak kasih tau masalalunya ke Alya"
"Gue perempuan Ger. Gue dokter anak. Kelak gue juga punya anak. Gue cuma ingin selametin hak-hak anak dan selametin psikisnya di masa depan. Dan lo belain Ardi laki-laki yang udah biarin Intan melahirkan dan merawat anaknya seorang diri?Hah"
"Mir. Ardi bukan ayah yang ninggalin anaknya. Tapi Intan yang sengaja memisahkan anak dengan ayahnya"
"Lo percaya banget sih sama Ardi!"
"Gue tau Ardi, gue. Dia bukan anak Ardi"
"Pusing gue ngomong sama Lo. Udah cukup kan apa yang mau lo sampaiin. Jangan urusi kehidupan gue"
"Oh iya bulan depan gue tunangan!"
__ADS_1