
Semakin hari Ardi semakin sibuk, tidak butuh lama bagi Ardi menyesuaikan diri terhadap pekerjaanya. Darah pembisnis dari Tuan Aryo Gunawijaya mengalir di diri Ardi. Bedanya Ardi sedikit lebih santai, tapi di situlah keistimewaan Ardi. Dengan sifat santainya. Dia menjadi lebih mudah mengenali lawan bisnisnya.
Siang itu Ardi menggantikan Tuan Aryo menemui rekan bisnisnya dari Perusahan Adijaya Grup. Perusahaan raksasa yang sama besarnya dengan Gunawijaya. Ardi menyampaikan presentasi dengan sangat bagus dan jelas. Peserta meeting antusias dan mengakui kepintaran Ardi.
"Baik, kami menyetujui proyek ini Tuan" jawab utusan dari perusahaan rekan bisnis Ardi.
Merekapun berjabat tangan. Ardi tampak tersenyum, dia berhasil mendapatkan proyek bernilai milyaran rupiah. Setelah bersalaman dan meeting berakhir Ardi kembali ke ruanganya. Ardi menyandarkan badanya ke kursi kebesaranya.
"Apa jadwalku setelah ini Din?" tanya Ardi ke Dino asisten pribadinya.
"Ada undangan perayaan pembukaan resort Tuan Wira, Tuan"
"Tuan Wira?" tanya Ardi.
"Iya Tuan, beliau pemilik hotel Wiralila"
"Jam berapa?"
"Jam 19.00 Tuan"
"Tunggu dulu, resort yang dekat apartemen Megayu bukan?"
"Benar Tuan"
"Oke saya akan datang" jawab Ardi. "Kembalilah ke ruanganmu, aku ingin istirahat"
"Baik Tuan"
"Tunggu, pesankan aku makanan"
"Baik Tuan" jawab Dino yang sudah paham selera Ardi. Lalu melakukan apa yang diperintahkan tuannya.
Setelah kepergian Dino Ardi masuk ke kamar kecil di ruanganya. Kamar itu hanya berisi kasur dan lemari. Tidak luas tapi desain interiornya sangat rapih, dindingnya dilapisi dengan kaca sehingga terasa lega.
Ardi merebahkan tubuhnya di kasur. Sesaat dia merasakan kehampaan dalam hidupnya. Entah apa yang kurang. Padahal ia mempunyai orang tua lengkap yang sangat menyayanginya, sahabat yang setia, bawahan yang selalu mentaatinya, harta dan jabatan yang tinggi.
Ardi meraih ponselnya. Ternyata banyak sekali pesan masuk dari ibunya.
09.00 "Sayang, pokoknya malam ini kamu harus pulang cepat ya"
10.00 "Kalau sudah tidak ada kerjaan segeralah pulang, mama hanya ingin kamu bertemu denganya"
11.00 "Dia baik, dia cantik mama sayang sama dia, mamah menyuruhnya menginap di rumah"
Belum selesai Ardi membaca pesan mamahnya. Ardi langsung melempar ponselnya ke kasur. Ardi merasa jengkel dengan mamahnya.
__ADS_1
"Kenapa Mamah tidak berubah, dia selalu mengejarku untuk menikah, aku memang ingin menikah tapi dengan perempuan yang membuatku bergetar dan jatuh cinta, menjengkelkan sekali" gumam Ardi.
"Aku tidak bisa melawan Mamah, lebih baik aku menghindarinya" Ardi melanjutkan lamunanya.
"Thok thok! Pesanan sudah datang Tuan" terdengar suara Dino di luar ruangan.
"Ya Din"
Ardi bergegas keluar, mengambil makananya dan menyantapnya. Setelah itu dia menunaikan sholat dzuhur, istirahat sejenak dan melanjutkan pekerjaanya.
****
Apartemen Megayu
Alya yang terlelap karena lelah jaga malam tergeliat bangun. Alya membuka matanya, matanya membulat melihat jam dinding jarum pendek menunjuk di angka 3. Ternyata Alya tidur seharian dari pagi sampai menjelang sore. Untung Alya sedang berhalangan dan tidak sholat. Jadi tidak ada beban.
Alya menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri, merentangkan tanganya.
"Puasnya aku tidur"
Alya merapihi selimutnya dan bangun ke kamar mandi.
"Alhamdullillah sudah hampir selesai tamuku, besok aku keramas dan sholat" gumam Alya di kamar mandi. Lalu Alya mencuci muka.
"Kruyuk kruyuuuk" perut Alya berbunyi karena sejak dari rumah sakit Alya belum makan.
"Ahhh tinggal nonton drakor nih" Gumam Alya menyalakan televisi setelah selesai beberes dan bebersih.
Meskipun Alya tinggal sendiri di apartemen, Alya tidak kesepian. Bahkan cenderung sangat menikmati kesendirianya.
Alya selalu menghabiskan waktu liburnya dengan banyak kegiatan. Mulai dari aerobik sendiri, yoga sendiri, ibadah, beberes rumah, masak, mencuci dan tentunya menyenangkan hati dengan nonton drakor.
Kebetulan pada saat pergi ke Mall bareng Anya dan Dinda. Alya membeli kaset film romantis dan drama korea romantis. Karena Alya belum sholat dan libur kerja, Alya kebablasan nonton sampai larut malam.
"Hoaaam" Alya menutup mulutnya karena menguap. "Ya Ampun sudah jam 11 malam, ck, nonton drakor memang membuatku lupa waktu".
Alya mematikan televisi dan lampu ruang tamu, lalu dia masuk ke kamar. Bebersih ke kamar mandi dan beranjak tidur setelah itu, tidak lupa dia mematikan lampu kamar.
10 menit Alya memejamkan mata. Alam bawah sadarnya berada di tengah -tengah, antara mulai terlelap tapi masih bisa mendengar.
Sayup - sayup Alya mendengar suara pintu depan terbuka. Karena mulai terlelap Alya mengabaikan. Tapi suara itu semakin jelas. Alya mendengar langkah sepatu mendekat.
Jantung Alya berdebar, Alya membuang rasa kantuknya dan memasang telinganya baik-baik. Suara langkah sepatu itu semakin jelas di ruang tv. Ruang di depan kamar Alya. Alya bangkit dari tidurnya bersiap-siap dengan harap cemas. Alya meraih sapu, lalu Alya menempelkan telingnya ke pintu.
Alya mendengar seseorang berjalan ke dapur dan mengalirkan air dari dispenser. Nafas Alya semakin cepat. Hatinya berdegup kencang. Ada siapa di luar? Tidak mungkin Mama Rita tidak mengetok pintu atau memberi salam.
__ADS_1
"Ceklek" pintu kamar terbuka. Langkah itu masuk ke kamar. Perawakan laki-laki tinggi kekar tertangkap Alya di kegelapan kamar Apartemen Megayu.
"Siapa kamu?" teriak Alya langsung memukul laki-laki dari belakang.
"Shittt!!!" teriak laki-laki itu menghindari pukulan Alya.
"Pergi kamu, dasar maling!" teriak Alya memukul badan laki-laki itu membabi buta.
"Stop it! Stop!" teriak laki laki itu.
"Bug bug bug" Alya tetap memukul laki-laki itu dengan sekuat tenaga.
"You're crazy! Stop It" teriak laki-laki itu berusaha mencegah pukulan Alya dan mengambil sapu Alya.
"Kamu yang crazy, maling jahat, keluar kamu!" jawab Alya mempertahankan sapunya.
Lalu mereka terlibat tarik- menarik sapu. Ardi yang berbadan lebih besar dari Alya berhasil menarik sapunya kuat sehingga Alya terjatuh ke pelukan Ardi. Jantung Ardi tiba-tiba berdegup kencang. Aroma wangi dari rambut Alya menyeruak ke hidungnya. Dua benda kenyal terasa menempel di dada Ardi mengeraskan sesuatu di bawah sana.
Menyadari Alya kalah tenaga, Alya ambil nafas, mengumpulkan kembali tenaganya, mendorong kuat tubuh Ardi. Ardi yang saat itu jantungnya berdegup kencang terdorong tidak siap. Ardi jatuh membentur kaki meja.
"Auw.... shitttt!" teriak Ardi.
Melihat lawanya jatuh Alya berlari keluar kamar. Saat di depan pintu keluar Alya berhenti. Alya sadar, kalau dirinya tidak memakai baju panjang apalagi jilbab. Bahkan rambut panjangnya tergerai, Alya hanya memakai piyama pendek di atas lutut. Bahkan separuh paha putih Alya terpampang dengan jelas. Tidak mungkin Alya berlarian dengan baju begitu.
Alya tidak berani kembali ke kamar mengambil baju. Dia juga ragu keluar dengan keadaanya sekarang. Alya melihat telepon di nakas dekat sofa. Lalu alya meminta bantuan ke satpam. Tidak lama satpam datang. Alya bersiap di depan pintu.
"Ada apa Non?" tanya satpam
"Pak di kamar saya ada laki-laki masuk tanpa ijin" ucap Alya ragu menunjuk arah kamarnya yang lampunya masih gelap. "Sepertinya dia orang jahat Pak"
Pak Yon dengan hati-hati menuju ke kamar. Lalu dinyalakan lampunya. Dan betapa terkejutnya Pak Yon, melihat laki-laki terduduk bersandar ke lemari di bawah meja rias. Laki-laki itu memegangi kepalanya, rambutnya berantakan ujung pelipis matanya tampak ada darah.
"Den Ardi" pekik Pak Yon.
"Pak Yon, tolong bantu aku bangun" pinta Ardi merasakan sakit di pinggangnya.
Lalu Pak Yon membantu Ardi bangun ke tempat tidur.
"Pantat dan pinggangku sakit sekali. Sial" keluh Ardi mengelus pantatnya.
Alya di ruang tamu menunggu reaksi pak satpam tidak kunjung keluar. Lalu Alya mencoba mendekati kamar. Alya terhenyak kaget. Pak Satpam bukan menangkap laki-laki itu, tapi justru menolongnya.
"Pak Yon" panggil Alya dibalik pintu kamar.
Pak Yon dan Ardi menoleh ke perempuan berambut panjang dan berbadan sintal dengan kulit putihnya berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Kenapa ditolong, tangkap pria itu! Lapor polisi!" perintah Alya ke Pak Yon.
Pak Yon pun bingung, sementara Ardi menatap tajam dan mengepalkan tangan.