Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
212. Sabaaaar


__ADS_3

****


Di rumah sakit.


Kata orang, setiap rumah tangga dan cinta mempunyai ujianya sendiri. Semua akan indah jika masing-masing dari pelakunya menjalaninya dengan penuh syukur dan niat yang murni.


Jika Ardi diuji kesabaranya menghadapi Alya, lain halnya dengan Gery. Meski sudah halal, sah secara agama, boleh toel-toel sedikit, tetap saja ada rasa tidak nyaman di hati keduanya.


Mereka belum punya buku nikah. Padahal Gery dan Mira sama-sama cinta dan saling menginginkan. Harusnya sih mereka langsung tancap gas.


Ujian kesabaran mereka ditambah dengan keadaan Gery yang belum bebas bergerak. Bulan madu Mira masih berkutat dengan obat, jarum dan kassa.


Impian membuka segel kemasan Mira di tempat yang indah dan bertabur bunga juga harus Gery simpan. Tapi tetap bersyukur, yang penting kunci gemboknya sudah ada di genggamanya. Hanya Gery yang bisa dan boleh membuka.


"Bangun My Queen" tutur Gery mengacak-acak rambut Mira yang tidur di samping ranjang Gery sambil memegang tangan Gery yang satunya.


"Empt" Mira bangun, menengadahkan mukanya, dan kemudian menguap lagi.


"Kan udah gue bilang, tidurlah di sampingku. Naiklah! Lo sekarang istri gue , kenapa masih tidur di kursi?" tutur Gery sambil mengelus tangan istrinya.


Mira benar-benar menjadi istri yang setia. Menunggui Gery tanpa lelah dan mengeluh. Dokter Nando kini bisa beristirahat dengan tenang, anaknya sudah ada yang mengurusi.


"Ya gue kan takut Ger, kalau gue senggol kaki lo gimana?" jawab Mira peduli.


Mira rela tidur di bangku, apapun keadanya tidak masalah, semua itu demi suami tercintanya itu. Merawat suaminya, baginya adalah tugas terkeren yang selalu dia impikan.


"Tapi kan tidur begitu nggak baik Sayang, pasti sakit ya pinggangnya?" tanya Gery lagi dengan lembut ke Mira.


"Enggak, lebih sakitan kamu ngarasain semua ini, apalagi kalau gue senggol lo, jadi tambah sakit entar" jawab Mira lagi memandangi jari kaki dan tangan Gery yang terbungkus perban.


Entah berapa lama lagi Gery akan kembali memakai sneaker keren dan berjalan dengan gagah seperti biasanya.


"Nggak ada yang lebih sakit selain dari melihatmu bersama laki-laki lain Mir" jawab Gery lagi.


"Benarkah?"


"Iya, karena kamu obatku, apapun yang terjadi, tetaplah di sisiku, maka aku akan baik-baik saja" ucap Gery lagi dengan senyuman cintanya.


"Janji?"


"Iya, isilah hatiku dengan cintamu, isi hariku selamanya. Pokoknya aku mau hidupku dipenuhi semua tentangmu mulai sekarang. Jangan pernah berfikir untuk pergi" tutur Gery dengan tulus.


Mira mendengarkanya dengan seksama. Ungkapan cinta dari laki-laki pujaannya yang sekarang menjadi miliknya, halal untuknya, sangatlah indah. Hati Mira pun dipenuhi bunga-bunga yang bertebaran.


"Ya lo jangan buat gue pergi. Tahan gue sebisa lo" jawab Mira balik menantang Gery.


"Kenapa gue harus menahan Lo. Apa lo ada niatan ninggalin gue lagi?" jawab Gery cemberut.


"Eemmm tergantung!" jawab Mira meledek suaminya itu sambil tersenyum.


"Tergantung? Ko gitu?" tanya Gery lagi.


"Hehehe. Ya lo harus setia sama gue!"


"Iya itu pasti, lo satu-satunya buat gue, kemanapun pergi lo harus sama gue, jadi ratu gue?" jawab Gery memegang tangan Mira sambil memiringkan badanya. Sehingga mereka berhadapan sangat dekat.


"Uuuluh so sweetnyah" ucap Mira sambil menoel hidung mancung Gery yang selama ini jadi daya tarik untuknya.


Hidung yang selama ini hanya bisa Mira liat dari kejauhan, kini Mira bisa memegangnya dengan leluasa. Memencet, memainkan menyentuh, ah Mira sangat bahagia.


"Mmmtt" Gery hanya menurut saja apa yang dilakukan Mira. Biar sepuasnya, tubuh Gery seutuhnya milik Mira.


"Kita pulang hari ini ya!" ucap Gery tanya ke Mira.


"Ntar nunggu dokter orthopedinya dateng, biar divisit dulu" jawab Mira menasehati suaminya.


Mira meletakan kedua tanganya di atas kasur, dan diletakan dagunya di situ. Mereka berhadapan sangat dekat saling memandang.


"Nggak perlulah, gue tahu kok apa yang terbaik buat gue" jawab Gery lagi.


"Ck. Tetep aja lo sekarang pasien, nggak boleh semau lo! Harus nunggu divisit dokter dulu! Titik" jawab Mira mengancam.


"Emang lo nggak pingin peluk gue, tidur di kasur rumah yang nyaman? Gue nggak mau lo tidur di bangku meringkuk begitu. Please! Pulang ke rumah ya" tutur Gery memohon.


"Gue nggak apa-apa Gery, sabar yang penting sembuh dulu" jawab Mira lagi.


"Kok masih panggil nama, gue suami lo, ubah sih! Kan semalem udah gue ingetin"


"Iya suamiku. Belajar ya. Hehe kebiasan. Tapi suerr gue nggak apa-apa tidur di sini, yang penting lo sembuh dulu, titik" jawab Mira lagi.


"Heemmm" Gery berdehem.


Sebenarnya lebih dari rasa kasian ke Mira, Gery juga ingin merasakan nikmatnya sebagai suami, merasakan hangatnya tidur berpelukan bersama istri.

__ADS_1


Di rumah sakit kan sangat tidak nyaman, meski baru dua hari di rumah sakit, Gery sangat benci dengan jarum infus yang menempel di tubuhnya.


"Bau acem ih" ucap Mira tiba-tiba.


"Hehe. Gue kan emang belum mandi dari kemarin" jawab Gery.


"Hemm" Mira sedikit berdehem ragu-ragu.


"Mandiin ya" pinta Gery dengan senyum smirknya.


Mira mengelus tengkuknya dan tersenyum malu-malu. Mira menelan ludahnya membayangkan lebih dulu isi tubuh yang ada di depanya itu. Tapi kan sudah halal untuk Mira sentuh dan Mira lihat.


"Kok senyum? Nggak mau?" tanya Gery meledek.


"Bukan nggak mau"


"Terus?"


"Malu, hehe"


"Ya udah biar perawat yang mandiin gue" jawab Gery meledek lagi.


"Ish jangan! Ya udah sini gue mandiin" tutur Mira akhirnya mau.


"Bener ya?" jawab Gery bahagia.


"Iya" jawab Mira mengangguk.


"Yang bersih yaa?"


"Iya"


"Mau di sini apa di kamar mandi?" tanya Gery.


"Emang udah bisa jalan?" tanya Mira lagi.


"Dikit-dikit, bantu pegangan ya!"


"Oke" jawab Mira.


Mira masuk ke kamar mandi, menyiapkan kursi, mengisi air dan mendekatkan peralatan mandi.


Lalu dengan penuh kasih sayang, Mira membantu Gery duduk, merapihkan selimutnya dan membantunya turun.


Gery berlatih berdiri tegak memegangi istrinya, dijulurkan tanganya ke bahu Mira. Mira sendiri menelusurkan tanganya ke pinggang Gery yang kekar. Gery bisa kembali berjalan meski pelan-pelan.


Setelah yakin Gery duduk dengan nyaman Mira berdiri di depanya. Gery meraih tangan Mira untuk tetap berdiri di depanya. Gery menatap Mira dengan tatapan berbeda.


Saat mata mereka bertatapan, kini susananya berubah. Dada Mira berdegub kencang saat Gery menatap Mira tajam. Seperti tatapan tuntutan, bahkan sorot matanya sedikit memerah.


"Ehm" Mira sedikit gugup.


Gery menarik Mira, meminta Mira duduk di pangkuanya. Mira menurut pasrah, naik ke pangkuan Gery. Kini mereka beradu dalam pangkuan Gery.


Dengan lembut dikalungkanya tangan Mira ke leher Gery begitu sebaliknya. Tidak menunggu aba-aba, Gery menyalurkan cintanya. Melahap bibir Mira yang seksi. Kemudian mereka saling bertukar rasa, menyatukan dua gelora cinta yang memadu jadi satu.


Lama mereka berciuman, Gery memang berpengalaman dalam hal itu. Mira sendiri menginginkan hal itu dan menyambutnya dengan baik.


Mereka saling melepaskan saat nafas Mira mulai tersengal. Berhenti sejenak, tapi kemudian Mira kembali memulai mencium suaminya dengan agresif.


Gery menyambut keinginan istrinya, bahkan tangan Gery mulai menuntut ke arah lain. Bergerilnya mencari sesuatu yang sebelumnya hanya dia lihat di ruang operasi dengan balutan kain hijau, tanpa ada rasa.


Kini Gery memegang benda itu. Sesuatu yang membuatnya ingin memakanya dan menghabiskanya. Gery berhasil membukanya dan mengabulkan keinginanya.


Mira tidak menolak, bahkan membantu Gery melepaskan pembungkusnya. Dengan muka yang sudah merah padam, merasakan hawa panas yang begitu nikmat. Dengan senang hati Mira menyajikan dua hidangan indah itu ke suaminya.


Gery langsung melahapnya dengan rakus. Sampai Mira mengeluarkan suara, sebagai ungkapan rasa nikmatnya. Saat asik dengan hidangan itu. Gery terpaksa berhenti. Mira pun menahan Gery untuk menyudahi.


Karena di luar kamar mandi terdengar suara perawat.


"Permisi Dok" sapa Perawat.


"Iya Sus" jawab Gery dari dalam kamar mandi dengan ekspresi kesal. Sementara Mira menetralkan nafas dan suaranya.


"Injeksi pagi Dok" jawab perawat


"Ya tunggu bentar!" jawab Gery.


"Baik Dok"


"Tinggal aja dulu, nanti kita panggil" jawab Gery lagi.


Lalu Mira dan Gery sepakat menyudahi aktivitas peregangannya itu. Mira turun dari pangkuan Gery. Menangkupkan kancingnya lagi. Lalu membersihkan tubuh Gery.

__ADS_1


Melepaskan satu persatu pakaian suaminya.


Dan untuk pertama kalinya, mata Mira dibuat melotot, meski sakit, semua otot dan hormon Gery bekerja dengan baik. Dengan jelas Mira melihat pedang kokoh yang berdiri tegak di pangkal tengah kedua paha Gery.


Mira menelan salivanya, ada hasrat melanjutkan kegiatan yang tadi, menunaikan tugas sebagai istri.


Gery pun mengisyaratkan keinginannya agar Mira memperlakukan pedangnya sebagai mana mestinya sebagai istri. Tapi Mira tetap menahanya.


"Udah ditunggu perawat, nanti lagi ya" tutur Mira melanjutkan memilih mendekatkan air dan gayung. Lalu menngguyur tubuh Gery dan mengoleskan sabun ke tubuh suaminya.


"Ck" jawab Gery berdecak kesal.


"Sabar.. " jawab Mira lagi.


"Tapi nanti janji ya"


"Kita masih punya banyak waktu kok. Tunggu buku nikah jadi ya!"


"Aiissh kelamaan, kita kan udah halal" jawab Gery protes.


"Berbalik, angkat tanganya!" ucap Mira mengalihkan pembicaraan dan membersihkan ketek Gery.


"Pokoknya nanti sore pulang ke rumah!" ucap Gery ngotot.


"Hemm, yakin udah sembuh?"


"Udah, pokoknua pulang, titik!"


"Ya, tapi tunggu divisit lho ya" jawab Mira mengalah.


Setelah semua bersih, Mira membuka perban yang basah. Lalu kembali menuntun Gery ke ruang rawat.


Setelah Gery rapih, Mira memanggil perawat. Mira duduk tenang di samping Gery, membiarkan perawat melalukan pekerjaanya. Melakukan perawatan luka, memberikan injeksi antibotik dan memeriksa tanda-tanda infeksi.


Semua hasil pemeriksaan aman. Bahkan beberapa obat sudah dihentikan. Hanya tinggal menunggu visit dokter yang melakukan operasi jari Gery.


****


Istana Tuan Aryo.


"Mbaa Ida" panggil Alya panik dan berjalan tergopoh mencari asisten rumah tangganya.


Setelah masuk ke ruang tamu lagi, tempat sampahnya ternyata sudah diambil asisten rumah tangganya.


Alya tidak melihat dan menegur, karena itu terjadi saat Alya mengantar keluarganya ke mobil.


"Iya Non! Ada apa?" tanya Mia menyambut dari dapur.


"Tempat sampah warna biru yang di dekat sofa kemana?" tanya Alya panik.


"Itu dibawa Ida, Non" jawab Mia menunjuk Ida sedang memegang sampah hendak dikumpulkan.


"Idaaaa....stop! Jangan!" panggil Alya teriak sekuatnya dengan wajah histeris sampai semua Asisten rumah tangganya terbengong kaget.


Alya segera berlari ke arah Ida.


"Non hati-hati!" tegur Mia melihat Alya sampai berlari.


Tidak mendengar perkataan Mia, Alya langsung merebut tempat sampah itu. Alya langsung menuangkan isinya di tanah dan dicarinya potongan-potongan kertas yang Tuan Aryo buang.


Ida, Mia dan yang lain menelan salivanya. Nyona Mudanya sangat aneh. Pagi-pagi sudah ngacak-acak tempat, untung isinya sedikit dan sampah bersih, tisu dan kertas saja.


"Hooh, alhamdulilah" ucap Alya lega menggenggam sampah dan meletakan di dadanya.


"Kenapa kalian liatin aku gitu?" tanya Alya ke para asisten rumah tangganya yang berdiri mematung.


"Non Alya nyari apa sih?" tanya Mia.


"Rahasia! Jangan bilang ke mamah, apalagi papah! Mengerti?" perintah Alya mengancam.


Asisten rumah tangganya menelan salivanya mengangguk.


"Bagus! Awas kalau ada yang mengadu. Kalian akan, hekh" ucap Alya lagi dengan menggerakan tangan ke leher isyarat siapa yang melawan akan berakhir.


Itu pertama kalinya Alya mengancam. Meskipun mengangguk, sesungguhnya asisten rumah tangganya tidak takut, mereka malah tertawa dalam hati, karena cara mengancam Alya bukan seram tapi sangat imut.


Lalu Alya berlenggang masuk ke kamarnya.


"Aku harus temukan teka-teki ini!" gumam Alya mulai meletakan kertas-kertas itu dimeja.


Lalu Alya menyusunya. Tapi ternyata, tak semudah bermain puzzle seperti di game hp. Tuan Aryo merobeknya dengan sangat baik. Sudah 30 menit Alya membolak balik tapi belum tersusun.


"Aiiisssh" gerutu Alya kesal mengacak-acak rambutnya sendiri dan menghentakan kaki.

__ADS_1


Lalu Alya melirik ke jam dinding.


"Ya Tuhan, astaghfirulloh, aku kan jaga pagi" ucap Alya lalu bangun dan bersiap kerja lagi.


__ADS_2