
Selesai berkunjung mengantarkan undangan ke rumah Gery, Alya dan Ardi segera pulang ke istana Tuan Aryo.
"Dokter Nando ramah banget ya Mas?" tanya Alya ke Ardi di dalam perjalan.
"Semua orang di sekeliling Mas ramah dan baik sayang" jawab Ardi sombong.
"Ish, nggak juga tuh. Dulu Mas sombong dan nggak ramah" jawab Alya.
"Kata siapa?" tanya Ardi.
"Kataku" jawab Alya dengan muka gemas.
"Ya kan ke kamu."
"Emang ke selain Lian ramah? Nggak kok. Anya aja nyumpahin Mas. Katanya Mas itu angkuh sombong nggak bisa ngomong" cibir Alya mengatai suaminya.
"Ya kan itu ke perempuan Sayangku, Mas nggak ramah aja dikejar- kejar perempuan gimana kalau mas ramah, kamu mau suami kamu dikejar- kejar perempuan?"
"Heemmm iyaa yaa, jangan! Senyum Mas cuma boleh buat Lian"
"Laki-laki tidak banyak senyum itu buat jaga image Sayang, biar nggak pada baper cewek- cewek. Kamu beruntung mas jaga diri. Daripada pria yang suka tebar pesona. Emang kamu sama orang lain ramah sama suami nggak"
"Astaghfirulloh, diungkit lagii, kan itu duluu karena mas nyebelin, sekarang kan enggak He. Liaan sayang bangeet sama Mas, pokoknya Lian cintaa banget sama Mas, hee" ucap Alya nyengir dan memelul tangan suaminya erat.
"Hum. Mas nggak ramah aja kamu cemburuan tingkat dewa"
"Ya ya, cemburu kan tanda cinta. Ya udah, udah, nggak usah dibahas" jawab Alya malu wajahnya memerah karena dikatai suaminya. Lalu Ardi mencubit gemas ke pipi Alya.
"Mmm" Alya menepis tangan suaminya.
"Eh Mas. Dokter Nando itu duda yaah?" tanya Alya lagi masih penasaran dengan Dokter Nando.
"Ngapain tanya- tanya Om Nando terus sih?" jawab Ardi tidak suka Alya menyebut laki-laki lain sekalipun itu orang tua. Ardi emang posesif parah.
"Enggak kan Lian baru ngobrol langsung sama beliau, ternyata beliau baik banget, terus Lian kagum juga seorang yang kaya, ganteng baik kaya dia masih setia menduda" tutur Alya panjang kali lebar membaik-baikan Dokter Nando.
"Ck. Kok bahas gitu? duda duda terus. Kamu naksir Om Nando?" tanya Ardi sewot. Ardi mau laki-laki terbaik untuk Alya dirinya saja.
"Astaghfirulloh, Mas. Nggaklah, Lian kagum! kagum aja, catet!" jawab Alya penuh penekanan.
"Ya kagum sama naksir beda tipis sayangku" jawab Ardi lagi.
"Beda Mas" bantah Alya.
"Ck. Parah banget ya selera kamu. Masa mas harus saingan sama Om Nando sih?" ucap Ardi lagi mulai kumat penyakitnya.
"Nggak, iiih. Kesel deh ngomong sama Mas. Lian cintanya cuma sama Mas. Lian cuma pengen tanya. Ibu Dokter Gery kapan meninggalnya" jawab Alya mulai kesal ke Ardi.
"Mas lupa, Sayang. Pokoknya Geri masih SMP kalau nggak salah, beliau dokter juga" jawab Ardi malas.
"Oooh" Alya hanya mengangguk.
"Udah nggak usah bahas Om Nando. Sini peluk Mas" perintah Ardi merangkul Alya.
"Ya"
Alya patuh menghambur ke Ardi senang hati. Alya memang sangat bahagia memeluk suaminya. Merasakan ******* nafasnya, mendengat detak jantunhnya. Ah nyaman sekali memeluk pasangan halalnya itu.
Seperti biasa, saat naik mobil, Alya akan tertidur di bahu Ardi. Dan Ardi sudah mulai terbiasa dengan hal itu. Malah menjadi rutinitas yang kalau Alya tidak melalukan itu akan membuat Ardi marah.
Burung-burung yang bersembunyi di atap-atap gedung beterbangan keluar karena hari sudah mulai sore.
Mereka seperti berpesta mencari mangsa. Kepakan sayapa mereka yang bergerombol enambah keindahan langit senja yang mulai berubah menjadi jingga.
__ADS_1
"Indahnya, Masya Alloh" ucap Alya terbangun mengerjapkan matanya dalam dekapan suaminya. Alya mengagumi banyak burung beterbangam di bawah langit.
"Apa kau suka liat burung-burung beterbangan Sayang?" tanya Ardi membelai kepala Alya.
"Suka sekali Mas"
"Nanti ya kalau agenda kantor udah selow" jawab Ardi penuh arti menjanjikan sesuatu.
"Maksudnya?" tanya Alya spontan.
"Nggak apa- apa" jawab Ardi menyembunyikan niatnya.
"Ish, Mas ini sukanya gitu" jawab Alya manyun Ardi bicara setengah-setengah.
Tidak lama Arlan membelokan mobilnya memasuki pelataran rumah besar Tuan Aryo yang lebih mirip dengan istana. Mereka berhenti di depan pintu masuk ruang tamu.
Arlan membukakan pintu dan mempersilahkan Tuan dan Nyonya Mudanya turun.
"Makasih Pak" ucap Alya berterima kasih dengan senyum tulusnya. .
Itulah kebiasaan Alya. Berbeda dengan Ardi yang pelit senyum.
Ardi mengandeng Alya masuk ke rumahnya. Di ruang tengah Bu Rita dan Bu Mirna tampak asik berlatih make up. Alya tercengang melihatnya.
"Assalamu'alaikum, sore Mah, Bu" sapa Alya menyapa dua perempuan pemilik kunci surga untuk dirinya dan suaminya. Alya mencium tangan kedua perempuan itu diikuti Ardi.
"Waalaikumsalam Sayang" jawab Bu Rita
"Waalaikumsalam Nduk, Le" jawab Bu Mirna.
"Mas ke atas dulu Sayang" bisik Ardi. Alya hanya mengangguk kemudian duduk bergabung dengan ibu dan mertuanya.
"Ibu sama Mamah lagi apa?" tanya Alya heran ada banyak alat kecantikan.
"Empt" Alya menahan ketawa melihat Bu Rita mulai meracuni ibunya.
"Wong udah tua pikir ibu kan ya tinggal mikirin akhirat, ibu nggak pernah rawat wajah, tapi yoweslah daripada ibu bingung ibu ikut aja" jawab Bu Mirna.
"Nggak apa- apa Bu, Alloh kan mencintai keindahan. Hehe ajarin ibu ya Mah, biar cantik kaya Mamah" jawab Alya justru menggoda ibu dan mertuanya.
"Besok mamah ajak ibumu ke skincare_an biar perawatan" jawab Bu Rita lagi tersenyum.
"Opo meneh iku?" tanya Bu Mirna.
"Udah ibu ikut mamah aja" jawab Alya lagi tertawa.
Pokoknya sebulan Bu Mirna di Jakarta penyakit centil Bu Rita pasti menular ke Bu Mirna.
"Oh ya kok baru pulang tumben?" tanya Bu Rita ke Alya.
"Lian sama Mas Ardi abis periksa Mah" jawab Alya.
"Wah gimana? Sehat? Udah tau jenis kelaminya belum? Cucu Mamah udah bisa apa?" tanya Bu Rit antusias.
"Ini hasil USG nya Mah, masih kecil. Doain sehat ya Bu, Mah" jawab Alya menyerahkan hasil print usg. Meski tidak paham bu Rita dan bu Rita tetap antusias melihatnya.
"Kamu kapan periksa USG kaya gini? Mbok ibu diajak, ibu juga ingin liat cucu ibu" pinta Bu Mirna
"Hee iya Bu" jawab Alya tersenyum.
"Periksa di Helathiest kan?" tanya Bu Rita.
"Iya Mah, Mas Ardi ingin yang 4 dimensi"
__ADS_1
"Kapan periksa lagi?" tanya Bu Rita mengulang pertanyaan Bu Mirna.
"Bulan depan"
"Kelamaan" jawab Bu Rita mendengus.
"Iya Ibu ingin lihat juga" sambung Bu Mirna mengutarakan keinginanya.
"Heheha ya nanti ya Bu. Mah! Kalau Lian periksa lagi Lian kabari" jawab Alya mengangguk.
"Bener ya! Kalau Ardi ngelarang kamu harus bela Mamah sama ibumu" tutur Bu Rita.
"He..ya Insya Alloh, ya udah Lian nyusul Mas Ardi ya Mah, Bu" pamit Alya ke kamar.
"Ya" jawab Bu Rita dan Bu Mirna bersamaan.
Alya menyusun suaminya ke kamar. Mata Alya melotot melihat pemandangan di depanya dan segera menutup pintu kamarnya rapat.
"Astaghfirulloh Mas lagi apa?" jawab Alya syok.
Ardi tampak duduk santai di atas kasur tanpa sehelai benangpun. Bahkan junior Ardi berdiri tegak menunggu rumahnya indahnya.
"Mas nunggu kamu" jawab Ardi cemberut.
"Kan semalam udah Mas"
"Ya Mas mau lagi"
"Kenapa nggak mandi aja sih, udah sore? Malah dipamerin gitu, malu Lian liatnya"
"Malu apa seneng?" tanya Ardi menggoda dengan tubuh polos mendekati istrinya dan menelusurkan tangan ke pinggang istrinya.
"Malu lah Mas" jawab Alya dengan suara tertahan karena geli.
"Udah ayo, sekalian mandi apa di sini" bisik Ardi ke telinga Alya
"Mandi aja ya" jawab Alya.
"Kamu nggak kasian sama dia udah kaku begini? Dosa lho nolak" bisik Ardi memajukan senjatanya agar menabrak tubuh Alya.
"Ya Mas Lian mau" jawab Alya lembut.
"Mas capek Sayang, obati capek Mas ya" bisik Ardi lagi.
"Iyah" jawab Alya selalu siap sedia.
Alya kemudian melakukan tugasnya sebagai istri. Dibukanya peniti hijab. Dilepaskan kain penutup kepalanya itu, rambut hitam Alya langsung tergerai indah semakin menegakan senjata Ardi.
Karena tidak sabar Ardi membuka resleting gamis Alya, gamis Alya langsung terjatuh ke lantai. Pemandangan indah yang dinanti Ardi segera muncul.
Buah segar Alya yang seharian terbungkus rapat tampak segar dan matang. Ardi tidak sabar melahapnya. Ardi langsung menggendong Alya, membawanya ke penyatuan mereka.
Sebagai pasangan suami istri yang masih muda dan normal, di situlah tempat Ardi mencharge semangat dan emosinya. Memberikan dan mendapatkan nafkah batin bersama belahan jiwa halalnya.
"Aah" mereka selesai ke puncak penyatuan mereka.
"Mandi Mas, kita belum asharan lho, udah jam 4 lebih" bisik Alya masih berada di bawah kungkungan Ardi.
"Iya Sayang, i love you" jawab Ardi menuntaskan hajatnya.
"I love you more, cup" jawab Alya tersenyum dan agresf mengecup bibir Ardi duluan.
****
__ADS_1