
Sudah beberapa hari Alya tidak datang ke Panti, memang tidak berpengaruh besar buat kehidupan panti. Apalagi anak-anak panti yang sudah beranjak SMP dan SMA. Semua kehidupan dan kegiatan panti berjalan sebagai mana mestinya.
Sinta juga semakin bahagia, merasa menang karena sudah mengalahkan Alya. Akan tetapi berbeda dengan Farid, rasanya seperti ada yang hilang. Semangat Farid pun turun, Farid jadi jarang ke panti apalagi dia sedang mengerjakan proyek kafe.
Terakhir, anak-anak panti usia tk dan sd. Mereka sangat merindukan Alya. Apalagi Us Zahra belum kunjung datang. Meski hanya sebentar anak-anak merasa dekat dan nyaman dengan Alya.
Hari itu jadwal ngajar Farid sudah selesai, Farid berniat menjenguk anak-anak di panti. Karena beberapa hari lalu Farid tidak datang ke panti.
"Kak Fariiid" sapa anak-anak panti mendekat ke Farid.
"Hai...kawan, kalau ketemu ucapkan apa?" tanya Farid
"Assalamu'alaikum Kak Farid" jawab anak-anak panti lalu bersalaman bergantian.
"Bagus, wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh adek-adekku" jawab Farid semangat.
"Kak Vivi sakit" ucap salah satu anak panti.
"Sakit? Apa bu Salma dan bu Asrama sudah tau? "
"Sudah, sudah dibawa ke dokter juga kak" jawab anak panti.
"Vivi kangen Kak Alya katanya, Kak" jawab salah satu anak panti lagi.
"Dimana Vivi?
"Di kamar, Kaak"
"Ayo kesana" ajak Farid.
Farid dan beberapa anak panti bergegas ke kamar Vivi. Vivi terlihat murung, sedih, badanya kurus dan wajahnya pucat.
Farid langsung menghampiri Vivi, Farid menyentuh kening Vivi dengan punggung tanganya.
"Kamu panas sayang" ucap Farid.
"Vivi nggak mau makan Kak Farid" ceplos salah satu anak panti.
"Apa benar Vivi tidak mau makan? Kenapa sayang?" tanya Farid pelan.
"Kenapa Kak Alya jahat sekali?" jawab Vivi tiba-tiba.
"Kenapa kamu bilang begitu?" tanya Farid.
"Apa aku nakal sampai kak Alya nggak mau ke sini lagi?" tanya Vivi.
Farid tersenyum, lalu mengelus rambut Vivi lembut.
"Vivi, Kak Alya bukan tidak mau ke sini lagi, tapi kak Alya ada keperluan lain, yang lebih penting"
"Itu berarti Vivi sudah tidak bisa bertemu Kak Alya lagi?"
"Masih dong sayang, kak Farid janji Kak Alya besok kesini" ucap Farid.
"Benarkah?" tanya Vivi
"Kak Farid akan berusaha. Tapi Vivi harus janji sama Kak Farid"
"Janji apa?" tanya Vivi.
"Jangan buat Kak Alya marah dan sedih, buat Kak Alya seneng"
"Apa Vivi buat Kak Alya marah?" tanya Vivi polos
__ADS_1
"Tentu saja, kalau Vivi sakit Kak Alya sedih, kalau Vivi tidak mau makan dan minum obat Kak Alya marah. Makanya Vivi buat seneng Kak Alya. Vivi harus sehat, mau makan dan minum obat nya yaa!"
"Iya Kak" Vivi mengangguk.
Faridpun dengan telaten menyuapi Vivi dan memberikan obat. Setelah Vivi tidur Farid pergi dari panti. Farid menelfon Ardi. Farid bertekad untuk menemui Alya.
"Ar, lo dimana?" tanya Farid.
"Gue masih di kantor, gimana?"
"Gue mau ketemu sama nyokap lo, di rumah nggak?"
"Lo mau ketemu sendiri apa nunggu gue?"
"Lo lama nggak pulangnya?"
"Jam 7 paling"
Farid melihat jam tanganya sudah jam setengah 7.
"Lo tanyain nyokap lo deh, gue mau ketemu. Gue takut nggak ketemu"
"Telfon sendirilah, lo kan anak nyokap gue juga"
"Gue juga pengen cerita ke lo" jawab Farid.
"Cerita apa sih? Ya gue nanti pulang cepet"
"Ya udah gue otewe ke rumah lo"
Lalu Farid mengakhiri teleponya. Farid mengendarai mobilnya menuju istana Tuan Aryo.
Karena jarak panti ke rumah Ardi lebih jauh dan jarak kantor Ardi ke ke rumah lebih dekat. Meskipun Farid berangkat duluan, mereka tiba di rumah hampir bersamaan.
"Iyah, cepet juga lo nyusul gue"
"Yuk masuk" Ajak Ardi yang sudah disambut oleh pelayan Ardi untuk membawakan tas Ardi ke ruang kerja.
Mereka berdua duduk di ruang tamu.
"Lo mau cerita apa?"
"Gue mau bilang ke nyokap lo, kalau gue suka sama Alya. Gue juga pengen langsung nanyain ke dia mau nggak jadi istri gue" jawab Farid tegas.
"Hah, secepat itu? Lo mau langsung lamar dia? Lo kan baru kenal dia?" jawab Ardi
"Bokap gue nyuruh gue nikah, dalam satu bulan ini kalau gue nggak bawa calon istri gue. Gue harus nikah sama pilihan bokap gue"
"Semangat bro! Gue panggil nyokap gue dulu" Ardi menyemangati Farid. Ardi bergegas naik ke lantai tiga ke kamar nyokapnya. Setelah mendengar cerita Farid. Ardi berfikir dengan dirinya sendiri.
"Nama cewek yang ditaksir Farid Alya, nama cwe yang dibawa mama ke apartemen kan Lian, berarti bukan dia. Apa gue tanya ke mamah sekalian ya tentang Lian? Tapi gue nggak mau mamah ribet, biar dulu deh gue kenal sama Lian. Gue akan cari tau sendiri".
Ardi tiba di lantai 3, terlihat mamanya sedang duduk di balkon sambil memegang majalah.
"Malem mah" sapa Ardi.
Bu Rita menoleh ke Ardi lalu memalingkanya ke arah luar.
"Mamah ko diam, nyuekin Ardi?" tanya Ardi ke Bu Rita yang tampak murung.
"Mamah marah sama kamu" jawab Bu Rita.
"Kok marah sih mah?" jawab Ardi.
__ADS_1
"Pagi-pagi sekali meninggalkan rumah kamu kemana? bahkan selalu pulang malam. Nggak ada waktu buat mamah" jawab Bu Rita merajuk.
Ardi yang mengenal sifat Bu Rita sangat manja langsung mendekat. Ardi merangkul Mamahnya yang sedang duduk dari belakang. Lalu mencium rambut Mamahnya. Bu Ritapun menyambut tangan Ardi dengan hangat, lalu mencium tangan Ardi.
"Maafin Ardi Mah, Ardi sibuk" jawab Ardi singkat masih menyembunyikan pertanyaanya tentang Berlian.
"Janji, mau ikutin kata mamah?" tanya Bu Rita tidak menyia-nyiakan kesempatan berusaha merayu Ardi untuk mau dikenalkan dengan Alya. Padahal memang sudah ketemu.
"Di bawah ada Farid mau ketemu Mamah" jawab Ardi mengabaikan pertanyaan Bu Rita. Lalu Ardi melepaskan pelukan mamahnya.
"Farid?" tanya bu Rita menoleh ke anaknya.
"Iya Mah, kita tunggu di bawah ya" jawab Ardi.
"Apa ada masalah di panti?" tanya Bu Rita
"Mamah tanya Farid aja, Ardi ke bawah duluan ya" pamit Ardi.
"Ayuk turun bareng" Mama Rita berdiri menggandeng Ardi turun lewat lift. Tidak lama mereka sampai.
"Malem Tante" sapa Farid menyalami Bu Rita.
"Malem, sudah lama nunggunya?"
"Belum Tante, Farid bareng Ardi"
"Apa ada masalah di panti?" tanya Bu Rita.
"Saya ingin ketemu Alya tante" jawab Farid terus terang.
"Alya?" tanya Bu Rita lalu melirik ke Ardi.
"Pertama, karena Vivi sakit Tante"
"Oh, sudah dibawa ke dokter?" tanya bu Rita.
"Sudah, dia tidak mau makan, dia ingin ketemu Alya"
"Baiklah besok tante akan bi... " omongan Tante Rita terpotong..
"Saya juga ingin menyampaikan sesuatu Tante" lanjut Farid ragu-ragu, memotong Bu Rita.
"Apa itu? "
"Saya mau minta tolong ke Tante?"
"Minta tolong?"
"Iya Tante"
"Katakan Nak.... "
"Saya tertarik dengan Alya Tante, saya ingin langsung melamarnya" jawab Farid terus terang. Membuat Mama kaget.
"Apa? Sungguhan?" tanya Bu Rita lalu menoleh ke Ardi yang terlihat diam dan santai.
"Iya Tante"
"Apa yang membuatmu yakin mau melamar Alya Naak?" tanya Mama Rita.
"Farid yakin Alya gadis yang baik, dari tutur katanya, penampilanya, Farid bisa ngrasain Alya anak yang baik Tante"
"Hemmmm" Bu Rita tersenyum getir, lalu melihat ke Ardi lagi.
__ADS_1
Bu Rita bingung mau jawab apa ke Farid. Bagaimana menjelaskanya, bu Rita sendiri sangat ingin Alya menjadi miliknya, menjadi pendamping Ardi. Melahirkan penerus keluarganya. Menjadi anggota keluarganya secara utuh dan diakui. Tapi justru Ardi menolak dengan mentah-mentah diajak bertemu dengan Alya.