Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
77. Hukuman


__ADS_3

Seperti biasanya Alya bangun pagi-pagi, segera mandi wajib sebagai pertanggung jawaban aktivitas bersama suaminya semalam. Alya sengaja tidak membangunkan Anya karena Alya tidak mau Anya banyak bertanya. Setelah sholat sunah dan tadarus Alya keluar menghampiri suaminya.


"Mas, bangun! Bentar lagi subuh" Alya menepuk pipi Ardi tanpa ragu dan canggung lagi.


"Mmmm" Ardi hanya sedikit menggeliat masih memejamkan mata.


"Bangun!" bisik Alya memencet hidung Ardi.


"Mmmm" akhirnya Ardi membuka mata dan menepis tangan istrinya karena merasa nafasnya tersedak.


"Mas belum mandi wajib loh, bangun, mandi sholat" bisik Alya pelan takut Anya bangun. Ardi menyunggingkan senyum, menarik Alya ke dadanya dan memeluknya.


"Mas masih ngantuk" bisik Ardi memeluk Alya.


"Ish" desis Alya memukul dada Ardi dan menolak dipeluk.


"Kenapa nolak terus sih, dosa besar lho nolak suami" jawab Ardi masih bermalas-malasan.


"Bentar lagi subuh, Anya bangun, Lian juga mau masak,cuci piring, cuci baju, siap-siap kerja juga! Apa jadinya kalau ikutin mau mas?"


"Mas cuma mau meluk bentar, badan pada sakit tidur di sofa, dingin juga, sinih" jawab Ardi merentangkan tangan ingin memeluk istrinya. tanya


Alya diam mendengar penuturan suaminya. Ditatapnya suaminya baik-baik. Alya masih ragu dan canggung jika harus bermanja dan memeluk laki-laki berbadan atletis di depanya itu.


"Sini" tarik Ardi lagi. Kali ini Alya diam dan menurut, bahkan Alya mengangkat kaki nya di sofa bed, ikut berbaring di pelukan Ardi.


"Cup" Ardi mencium rambut Alya yang masih sedikit basah. "Kamu udah mandi?" tanya Ardi.


"Udah" jawab Alya memegang tangan suaminya, Alya mulai merasakan rasa hangat dan nyaman dari dekapan suaminya. Sekarang Alya sudah tidak malu lagi, bahkan harta berharganya sudah dia berikan ke Ardi.


"Kalau patuh dan nurut begini kan baik" ucap Ardi lembut


"Apa mas pernah ketemu Anya?" tanya Alya lirih.


"Mungkin pernah, tapi mas lupa, mas nggak pernah inget-inget wajah perempuan, selain kamu" jawab Ardi pelan.


"Mmmm, mas pernah ke rumah sakit?" tanya Alya lagi.


"Sering"


"Ngapain?" tanya Alya heran.


"Beberapa hotel dan Rumah Sakit di daerah sini dulu papa yang pegang" jawab Ardi jujur.


"Ooh, kata Anya pernah liat mas"


"Suamimu kan memang ganteng dan populer, tidak heran kalau mereka tidak asing melihatku"


"Haish, sombong banget" desis Alya mencubit tangan suaminya.


"Ceklek" terdengar suara Anya membuka pintu. Alya langsung bangun melepaskan suaminya. Dan mengambil jibabnya, Alya tidak mau hasil karya suaminya di leher dilihat Anya. Untung lampu kamar dan ruang tivi dimatikan, hanya ada sorot lampu dari dapur yang dibiarkan menyala. Jadi Alya dan Ardi berhasil lolos dari pandangan Anya.


"Susah banget sih pintunya dibuka" keluh Anya berjalan sambil ngucek mata.


"Kamu yang masih belum on aja kali Nyaa," jawab Alya berdiri dan menyalakan saklar lampu.


"Aku mau ambil tasku, dimana yak?" tanya Anya sambil menguap.


"Ini tasmu, baru mau aku bawa masuk" jawab Alya memberikan tas Anya yang di taruh di dekat tv.

__ADS_1


"Makasih" jawab Anya mengambil tas, sambil melirik laki-laki yang tampak berbaring meringkuk di sofabed. Lalu masuk ke kamar lagi.


"Huuuft" Alya menghela nafas lega. Karena Anya tidak melihat Alya bermesraan dengan suaminya.


"Kenapa nggak terus terang aja sih, mas suamimu? Kita udah nikah! Masa peluk istri kucing-kucingan begini" dengus Ardi sambil bangun dan menyibakan selimut.


"Mas nyalahin aku? Terus kenapa mas minta aku buat rahasiain dari Kak Farid?" jawab Alya setengah berbisik.


"Beda sayang"


"Apa bedanya? Bukanya mas deket sama Kak Farid, kenapa mas tega bohongin dia? Lebih nyakitin tau mas" jawab Alya memojokan Ardi.


"Nggak bohongin sayang, cuma perlu waktu buat jelasin, nanti kalau perjodohan Farid udah beres, mas pasti kasih tau, kalau perlu kita adain resepsi"


Alya menelan salivanya tidak mengira suaminya memikirkan resepsi. Tapi Alya tetap tidak mau mengalah.


"Ya sama, Lian juga butuh waktu mas kasih tau ke temen-temen, Lian malu, kita nikah tuh nggak jelas, gimana Lian jelasinya, bahkan kadang Lian ngrasa kaya simpanan Mas?"


"Sssttt, udah nggak usah bahas masalalu, yang penting sekarang! Ya udah terserahlah, mau kasih tau kapan terserah. Jangan sekali-kali bilang kamu simpanan, kamu pilihan orang tuaku dan pilihanku. Kamu satu-satunya. Mas mau mandi, siapin baju mas!"


"Ini udah aku siapin" jawab Alya menunjukan handuk dan pakaian kerja Ardi. Pipi Alya merona mendengar perkataan Ardi.


"Cup" Ardi mencium kepala Alya sambil berlalu ke kamar mandi. Alya mengikuti suaminya pergi ke dapur menyiapkan sarapan dan bersih-bersih.


Pagi itu mereka bertiga sarapan bersama, Anya membantu Alya membereskan apartemen, setelah itu mereka berangkat kerja bareng.Sementara Ardi berangkat kerja lebih dulu, setelah sarapan selesai dia bergegas pergi meninggalkan istri dan temanya.


*****


Kantor Gunawijaya.


Hari itu Ardi bekerja dengan semangat menggebu, terpancar senyum percaya diri di sudut bibirnya. Statusnya sebagai suami sudah hampir sempurna, dia benar-benar sudah tidak perjaka lagi dengan cara yang mulia. Lalu Ardi memberikan tugas ke anak buahnya menyiapkan sesuatu.


"Harus selesai hari ini Tuan?" tanya Dino gelagapan.


"Bagaimana dengan tugas kantor , dan laporan yang belum selesai Tuan?" tanya Risa ragu.


"Bisa diatur, yang penting tugas yang ini, sekarang juga kalian siapin! Harusnya kalian bersyukur ini waktunya kalian jalan-jalan dan refreshing!"


"I-iya Tuan" jawab Dino menggaruk tengkuknya.


"Ya udah sana berangkat!" perintah Ardi tegas. Lalu mereka berdua pergi sesuai dengan arahan bosnya.


****


Rumah sakit.


Setelah pasien gawat darurat tertangani dan laporan selesai ditulis, Alya buru-buru bersiap pulang. Semenjak di IGD Alya hampir tidak pernah sempat ke kantin, ataupun ke ruang operasi sehingga tidak pernah bertemu Gery. Tapi hal itu membuat Alya sangat nyaman bekerja. Berbeda dengan Gery, setiap ada waktu luang datang ke kantin berharap bertemu Alya, tapi ketemunya Mira. Jika hendak ke IGD tiba-tiba selalu sibuk.


"Din pulang dulu yaa" pamit Alya dan Anya.


"Kalian tumben kompak?" tanya Dinda menghentikan langkah Alya.


"Gue semalem nginep di apartemen Alya loh" jawab Anya pamer sambil berpamitan.


"Yah kalian curang nggak ajak-ajak" gerutu Dinda manyun.


Alya hanya tersenyum kikuk, "Bahaya kalau mereka minta nginep lagi, mau ditaruh dimana suamiku?" gumam Alya dalam hati.


"Ya salah sendiri, liburan sendiri nggak ajak-ajak kita" jawab Anya.

__ADS_1


"Emang apartemenmu dimana sih Al?" tanya Dinda. Alnya hendak menjawab ragu tapi Anya udah keburu memberitahu.


"Ya ampun deket banget" jawab Dinda spontan, "Berarti kalau gue pulang kemaleman boleh mampir ya Al" pinta Dinda akrab.


Alya tersenyum menyeringai, bingung mau jawab apa.


"Yang penting kasih tau dulu ya" jawab Alya ragu.


"Ya udah aku pulang dulu Daah" pamit Alya buru-buru pergi. Sementara temanya memandang Alya bingung tumben Alya buru-buru pulang.


Setelah Alya pergi beberapa saat, Gery datang membawa tas hendak pulang. Gery iseng main ke IGD berharap bertemu dokter junior kesayanganya.


"Ehm" Gery berdehem di depan Dinda yang sedang menulis laporan.


"Eh Dokter Gery, apa kabar Dok? Ada yang bisa Dinda bantu?"


"Alya jaga apa?" bisik Gery ke Dinda tidak ingin pegawai lain dengar.


"Baru aja pulang Dok" jawab Dinda memberitahu.


"Duh, telat ya? Udah tau alamatnya?" tanya Gery masih berusaha.


"Ini Dok" jawab Dinda memberitahu alamat Alya. Gery tersenyum senang, berterima kasih dan segera bergegas keluar.


****


"Thin thin" Alya mendengar klakson mobil di mendekat di belakangnya saat berjalan.


Alya menghentikan langkah dan menoleh ke belakang. Alya merasa tidak asing dengan mobilnya. Tidak lama pengendara mobil itu turun.


"Selamat siang Nyonya" sapa pengendara mobil membungkukan badan memberikan salam.


"Pak Arlan?" tanya Alya heran tumben sopir suaminya ada di rumah sakit.


"Silahkan masuk Nyonya" tutur Pak Arlan membukakan pintu mobil.


"Pak, saya nggak perlu dijemput pakai mobil, tuh apartemen suami saya udah keliatan" jawab Alya menolak masuk ke mobil.


"Mulai sekarang saya ditugaskan mengantar jemput Anda, Nyonya" jawab Pak Arlan berdiri di dekat mobil


"Ck" Alya berdecak kesal ini pasti ulah suaminya yang rada gila. "Ehm, sampaikan Tuanmu, saya nggak perlu diantar jemput, saya bisa jalan sendiri" jawab Alya ngotot.


"Mohon maaf Nyonya, saya hanya menjalankan tugas menjemput Nyonya, mohon kerjasamanya Nyonya"


"Heeh" Alya menghela nafas karena kesal. "Baiklah" jawab Alya mengalah lalu masuk ke mobil.


Tapi kali ini Pak Arlan tidak masuk ke apartemen Megayu, tapi melajukan mobil ke arah kota.


"Lhoh Pak, kita mau kemana?" tanya Alya heran.


"Ke apartemen Tuan Ardi Nyonya"


"Lhoh apartemen suamiku kan di depan rumah sakit" jawab Alya sok tau.


"Maaf nyonya, apartemen Tuan bukan di sana lagi, untuk yang di apartemen Megayu sebentar lagi akan berpindah tangan"


"Hah? Kok bisa? Nggak ini nggak bener, tadi pagi Mas Ardi nggak bilang apa-apa kok, masa tiba-tiba gini?" jawab Alya tidak terima.


"Mohon maaf Nyonya, sebaiknya Nyonya bisa tanyakan ke Tuan Ardi langsung" jawab Arlan sopan.

__ADS_1


"Hissh" Alya mendesis membayangkan ingin mencakar cakar wajah suaminya yang gila.


Bisa-bisanya mengambil keputusan sendiri. Sekarang Alya hanya bisa pasrah entah mau dibawa kemana sama sopir suaminya. Tapi jalan yang dilalui juga bukan arah ke rumah mertuanya.


__ADS_2