Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
242. Bocah Tua


__ADS_3

Sambil menunggu dokter datang, tidak nyaman karena sudah ada Tuan Aryo yang mendampingi Bu Rita. Bu Mirna berinisiatif  ke kamar mengambil minyak angin.


Ardi sendiri mengambil jaketnya ke kamar sebelum pergi. 


Karena kamar mereka berdampingan, Ardi berjalan mengekori Bu Mirna mempersilahkan ibu mertuanya berjalan lebih dulu, sebagai bentuk penghormatanya.


“Hati- hati ya Nak! Semoga Alya ketemu, ibu sangat khawatir, ibu percaya padamu” tutur Bu Mirna dengan lemah. 


“Iya Bu, maafin Ardi Bu, Ardi tidak becus jaga putri ibu” jwab Ardi hancur perasaanya.


Kehilangan Alya seperti kehilangan dunianya. Apalagi ada buah cinta mereka di perut Alya, Ardi tidak tau akan bagaimana jika tidak bisa menemukanya. Mungkin lompat kelaut atau lompat dari rooler coster tertinggi di dunia.


“Tidak begitu, Nak. Ini ujian, Alloh pasti jaga Alya” tutur Bu Mirna menguatkan, meski hatinya juga hancur sebagai orang tua, Bu Mirna harus bersikap mengayomi dan menenangkan. Bagaimana isi hatinya hanya Tuhan yang tau. 


Yang pasti bu Mirna lebih hancur dari Ardi. Tiidak ada yang bisa mengungkapkan bagaimana perasaan Bu Mirna saat  ini.


Anak semata wayangnya, yang dia lahirkan dengan bertaruh nyawa, yang dia besarkan dengan perjuangan sepenuh jiwa, saat ini nyawanya dalam bahaya. Ada orang yang mengincar nyawa dan keselamatan bayi di dalam perutnya.


Itu semua bukan kehidupan yang dibayangkan Bu Mirna. Bahkan terpikirkan pun tidak. Apalagi mereka selalu berusaha besikap baik terhadap semua orang. Selalu berhati- hati dalam berkata- kata.  Selalu berprinsip biarlah orang jahat yang penting kita selalu baik.


“Apa salah Alya sampai orang ingin menyelakainya, apa dosa dirinya dan suaminya sampai Alya menemui hidup seperti ini” begitu pikir Bu Mirna.


Mereka berdua kemudian masuk ke kamar masing- masing. Ardi mengambil jaketnya. Bu Mirna berjalan dengan gontai, seperti tak bertenaga. Seakan urat sarafnya putus, semua terasa lemas, tapi Bu Mirna paksakan, karena hidup harus tetap berjalan.


Bu Mirna menyalakan lampu kamar, kemudian membuka lemari, mencari tas bersejarahnya yang dia bawa dari Jogja.


Meski tidak sebagus yang Bu Rita berikan, tapi tas itu yang sudah menjadi sahabat setia Bu Mirna selama bertahun-tahun, karena prinsip Bu Mirna sebelum barangnya rusak tidak akan ganti lagi. Di tas bersejarah itu pula tersimpan banyak benda berharga Bu Mirna seperti minyak angin. Hehe.


Saat Bu Mirna mencari minyak angin itu, Bu Mirna duduk di kasur. Membuka resleting tasnya pelan. Saat pandangan Bu Mirna fokus ke isi tas, Bu Mirna merasakan sesuatu gerakan mengenai pantatnya. 


Dheg 


Bu Mirna kaget, apa iya ada hantu? Atau hewan?


Bu Mirna diam sejenak memperjelas perasaanya. Hanya halusinasi atau benar ada yang bergerak di bawah kain tebal dan mahal yang menutup kasur tempat istirahatnya itu.


Ternyata bergerak lagi.


Sudah pikirannya kacau, ditambah menemui sesuatu yang tidak biasa. Bu Mirna tambah dheg- dhegan. Bu Mirna kemudian menoleh ke bed cover yang dia duduki itu. 


Dan saking pulesnya Alya, Alya menggeliat tidak sadar, tanganya menggeliat menggaruk asal ke benda sekenanya di dekatnya sehingga selimut bed cover itu sedikit tersingkap dan menampakan rambut Alya.


“Astaghfirulloh, Alyaa !!!” pekik Bu Mirna setengah berteriak. 


Alya justru menggeliat membuka selimut dengan muka bantalnya tanpa dosa. Alya kadang memang suka tidut tanpa bantal sehingga benar-benar tersamarkan saat berbaring di bawah selimut tebal.


“Apa sih Bu? Alya ngantuk” ucap Alya memiringkan badanya dan memeluk guling dengan nyamanya menghindari ibunya.


Sontak saking keselnya Bu Mirna memukulkan tas ajaibnya ke Alya dengan keras tanpa ampun. Padahal isinya ada banyak benda keras seperti parfum dan balsem.


“Benar- benar kamu ya, udah mau jadi ibu, masih saja! Kelakuan” omel Bu Mirna gemas merasa dikerjai anaknya.


Ya begitulah ibu, kalau tidak ada ditangisi dikhawatirkan, giliran ketemu dimarahi. 


“Auuh, Ibuuk! Apa sih Bu? Sakit?” jawab Alya lagi masih merem mengusap bagian tubuh yang terkena tas Bu Mirna. Pedas dan pegal memang. Tapi karena masih sayang dengan mimpinya Alya tidur lagi.


Tidak menghiraukan Alya bu Mirna berlari keluar memanggil Ardi, menantu tampan kesayanganya.

__ADS_1


Ternyata Ardi  sudah berjalan sampai parkiran. Di ruang tengah dokter keluarga juga baru datang, tampak mengeluarkan alat medisnya hendak memeriksa Bu Rita. 


Tuan Aryo dan Dokter keluarga mereka heran melihat Bu Mirna berlari tergopoh- gopoh memanggil Ardi. Tapi tidak dihiraukan mereka ka fokus ke Bu Rita.


“Nak Ardi berhenti” panggil Bu Mirna menghentikan mobil pajero Ardi dengan nafas terengah- engah dan menunduk memegang lututnya. 


“Siiit” Ardi kemudian menginjak rem sehingga mobilnya berhenti di depan Bu Mirna tepat. 


“Ada apa Bu?” tanya Ardi membuka jendela.


“Hah.... hah..” Bu Mirna masih mengatur nafas dan dengan gerakan tangan, Bu Mirna menyuruh Ardi turun mendekat dan  ikut denganya. 


Ardi mendekat ke Bu Mirna, memapahnya dengan meraih pundaknya,  menegakkan badan Bu Mirna dengan pelan. Perempuan ini adalah ibu dari istri berharganya, jadi Ardi memperlakukanya dengan baik.


“Tenang dulu Bu, ada apa? Ardi akan temukan Alya dengan selamat” ucap Ardi menenangkan.


“Ra sah lungo!” ucap Bu Mirna spontan dengan bahasa Jawa. 


“Heh? Apa Bu?” tanya Ardi tidak begitu paham bahasa Jawa.


“Rasah lungo, ra sah nendi nendi?” tutur Bu Mirna lagi semakin membuat Ardi bingung. 


“Maaf Bu, Ardi belum bisa bahasa Jawa lancar, maksud ibu apa?” tanya Ardi.


“Udah! Balik! Matikan mobilmu itu, nggak usah pergi- pergi, udah malam!” tutur Bu Mirna bicaranya mulai tenang. 


Ardi langsung syok dan kaget kenapa mertuanya menyuruhnya nggak usah cari istrinya. Alya kan anaknya Bu Mirna. 


“Memang kenapa  Bu?” tanya Ardi.


“Kelakuan bocah itu memang. Dia nggak kemana- kemana, sana! Marahi istrimu! Bocah kurang ajiar, nggawe wong tuo jantungen!” tutur Bu Mirna mengeluarkan emosinya dengan nada mengumpati Alya anak kandungnya sendiri. 


“Maksudnya Alya di rumah?” tanya Ardi mempertegas.


“Yoh!” jawab Bu Mirna mengangguk. 


“Astagah!” jawab Ardi spontan sambil mengusap wajahnya kasar. Senang tapi gemas sendiri. Betapa bodohnya Ardi.


“Sudah masukan mobilmu! Alya di kamar ibu!” tutur Bu Mirna lagi. Lalu masuk ke dalam lebih dulu.


“Ya Bu!” jawab Ardi lalu memarkirkan mobilnya lagi. 


Bu Mirna masuk dengan langkah pelan merasa sangat malu pada besanya. Bu Rita tampak mulai membuka mata, tapi seperti masih pusing. Tuan Aryo duduk di samping Bu Rita, mengelus rambut istrinya lembut dan khawatir. Dokter tampak meresepi obat. 


“Ada apa besan? Kenapa kamu berlarian?” tanya Tuan Aryo. 


Bu Mirna merasa tidak enak mau menjawab karena masih ada Dokter. 


“Biar Bu Dokter dulu menjelaskan obatnya dulu. Nanti saya cerita setelahnya” jawab Bu Mirna melihat Bu Dokter hendak memberikan obat dan menjelaskanya. 


Dan benar saja. Dokter kemudian memberikan obat menjelaskan dan berpamitan. 


Bu Mirna menggaruk pelipisnya dengan tatapan ragu, malu dan kasian ke Bu Rita. Bu Rita sampai pingsan.


“Bagaimana keadaanmu? Sudah enakan? Aku ambilkan air putih ya untuk minum obat” tutur Bu Mirna pelan. 


“Iya terima kasih” jawab Bu Rita mengangguk lemas. Bu Mirna kemudian beranjak ke dapur mengambil minum. 

__ADS_1


Dapur tampak sepi, karena pembantu mereka berkumpul di belakang dengan ketegangan berita Nyonya mudanya hilang. Padahal seharusnya makan malam siap dihidangkan. 


Setelah memarkirkan mobil, dengan langkah lega, seperti habis mengangkat besi 300 kg lalu dilemparkan lagi. Ardi berjalan sambil bersiul dan bertemu Bu Mirna di dapur karena Ardi lewat pintu samping. 


“Ibu mau apa?” tanya Ardi.


“Maafkan anak ibu yo Nak!” ucap Bu Mirna sekarang sudah kembali sangat tenang.


“Minta maaf kenapa Bu?” 


“Kelakuan anak ibu, buat ibumu sakit dan buat kamu khawatir” tutur Bu Mirna merasa sangat bersalah.


Bu Mirna memang sebaik itu, yang berbuat Alya yang tidak enakan Bu Mirna padahal Alya sedang bermimpi indah tidak peduli. 


“Yang penting Berlian dan  anak kami selamat Bu, itu lebih dari apapun, ibu santai aja. Mamah juga bentar lagi baikan” jawab Ardi menepuk bahu Bu Mirna.


Ardi memang sudah dekat dan akrab dengan Bu Mirna. 


Lalu Ardi berjalan setengah berlari tidak sabar memeluk istrinya, dan menciumnya dengan gemas. 


Bu Mirna sendiri mengambilkan air minum untuk Bu Rita. 


“Ini airnya, diminum dulu Jeng obatnya” tutur Bu Mirna pelan.


Tuan Aryo kemudian membantu Bu Rita meminum obat. 


“Saya lihat Ardi tadi masuk ke lift? Dia tidak jadi pergi?” tanya Tuan Aryo. 


“Nggak!” jawab Bu Mirna malu.


“Lhoh kenapa?” tanya Bu Rita setelah selesai minum obat. 


“Alya ternyata di rumah, maafkan aku, maafkan anakku, sudah buat ramai” tutur Bu Mirna.


“Hooh leganya, astaghfirulloh, ya Alloh jantungku mau copot rasanya” ucap Bu Rita menghempaskan nafas sangat lega. Begitu juga Tuan Aryo.


“Dia ketiduran, di bawah bed cover, aku kira guling” cerita Bu Mirnal lagi.


“Lhoh emang di kamar Jeng Mirna?” tanya Bu Rita.


“Iya” 


“Hmm, ini yang payah Ardi ini, sukanya buat geger heboh-heboh, ngurus istri nggak bener. dasar anak itu. Kerjaanya bikin mamahnya senam jantung tidak tau mamahnya udah tua” umpat Bu Rita kesal menyalahkan Ardi. 


“Tapi kok bisa Alyadi kamar besan?” tanya Tuan Aryo memecah kekesalan Bu Rita.


“Aku juga ndak tau. Kan kita dari tadi di sini” jawab Bu Mirna. 


“Tapi  tetap saja Mamah khawatir Pah, kita masih harus bahas masalah Mang Adi dan Mia” tutur  Bu Rita lagi.


“Ya Mah. Papah percayakan pada Ardi, Mah, biar dia yang urus!” 


“Ah papah, anak papah tuh sukanya biang kerok, ngerjain mamahnya terus. Sudahlah mamah mau ketemu Alya, mamah mau denger cerita dari Alya” ucap Bu Rita mendadak sehat, menepis tangan suaminya dan ingin segera menemui Alya menantu kesayanganya. 


****


Hehe makasih buat yg masih sayang sama keluarga mereka. Sll dukung author tinggalin koment like favorit dsb ya.

__ADS_1


Author nulis apa yg author suka. Maaf kalau konfliknya receh. hihi. sambil nunggu ide buat konflik berat.


__ADS_2