Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
41. Ardi vs Farid 2


__ADS_3

Malam itu menjadi malam yang menegangkan. Tidak pernah dibayangkan oleh Bu Rita, bertemu dengan situasi semacam ini. Takdir dan Jalan Tuhan memang tidak bisa ditebak dan dilawan. Tapi bukankah Tuhan mengijinkan dan bahkan menyuruh hambaNya untuk meminta dan berencana.


Bu Rita duduk di kursi ruang keluarga setelah Farid berpamitan. Bu Rita memegang pelipis matanya, lalu meminta Ardi mengambilkan air putih dan obat migrain.


"Ini obatnya, Mah" Ardi memberikan obat ke Mama Rita.


Bu Rita meminum obatnya, mengatur nafasnya yang terasa sesak, lalu menatap tajam ke Ardi.


"Apa kamu sayang sama mamah, Naak?" tanya Bu Rita.


"Kenapa mama tanya begitu? Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja Ardi sayang mamah"


"Kamu dengar dan lihat kan apa yang Farid katakan?"


"Dengar Mah" jawab Ardi santai.


"Kamu tau siapa Alya?"


"Nggak Mah" jawab Ardi tanpa merasa dosa.


Lalu bu Rita menghembuskan nafasnya kasar.


"Kamu tau kenapa mamah bilang ke Farid, mamah akan bicarakan dulu dengan Alya dan orang tuanya tanpa langsung setuju?" tanya Bu Rita sedikit emosi.


"Ya karena menurut Ardi itu memang jawaban yang tepat, dan obyektif. Sebelum Mamah memberikan harapan ke Farid, lebih baik disampaikan ke Alya itu" jawab Ardi masih santai.


"Ck ck" Bu Rita berdecak melihat putranya.


"Ardi benar kan mah? Ardi setuju dengan Mamah, jadi Farid sebelum sampai ke rumah si Alya itu, mamah harus pastiin Alya juga, jadi Farid nggak malu nanti"


"Ardi!" Bu Rita membentak Ardi kasar karena gemas.


"Alya itu adalah orang yang mama inginkan jadi anak mantu mamah. Bukan jadi mantu Tuan Handoko" jawab Bu Rita kesal.


"Apa mah?" jawab Ardi kaget tidak bisa berkata- kata.


"Ya, perempuan yang mamah bawa ke sini, perempuan yang mama bawa ke salon itu Alya, dia perempuan terbaik yang pantas mendampingimu Ardi. Hanya Dia! Titik"


"Mah!" bentak Ardi.


"Mama nggak rela Alya jadi mantu Handoko" jawab Bu Rita kekeh.


"Mah, Mamah nggak boleh begini dong Mah! Mamah kan tau, Farid dan Ardi sahabatan sejak kecil. Ardi nggak mau. Titik!"


"Ardi!"


"Mah!"


Ardi dan Bu Rita pun bersitegang dan saling membentak.


"Mah, Ardi sudah dewasa. Ardi berhak tentuin hidup Ardi, Farid mencintai Alya mah. Ardi nggak mau ikutin Mamah titik!"


"Ardi!"


"Nggak Mah. Titik!"


"Bahkan kamu belum pernah mendengarkan apa kata Mamah"


"Ardi tidak akan mendengar apapun! Apapun tentang si Alya itu"


"Sekali ini saja dengarkan kata mamah"


"Nggak Mah. Ardi menyayangi Farid seperti Kakak Ardi Mah, Ardi akan bantu Farid"

__ADS_1


"Ardi!" bentak Mama Rita.


"Ardi minta maaf Mah, Ardi nggak bisa!" .


Lalu Ardi berlalu menuju ke kamar meninggalkan bu Rita. Bu Rita memijat keningnya sekali lagi. Tiba - tiba tuan Aryo datang.


"Sayang, papa pulang" Tuan Aryo masuk ke ruang keluarga mendekati istrinya. Lalu mengecup kening Bu Rita.


"Kenapa wajah mamah ditekuk begitu?" tanya Tuan Aryo, sambil duduk.


"Mamah kesal dengan anakmu, Pah"


"Ardi kenapa Mah? Bukankah dia sudah pulang?"


"Ardi memang sudah pulang, tapi mamah pusing menghadapinya"


"Memang apa yang Ardi lakukan Mah? Bukannya Mamah senang Ardi pulang lebih awal?"


"Iya Mamah seneng Ardi pulang awal, tapi keras kepalanya itu membuat mamah pusing"


"Kan nurun dari mamah" jawab Tuan Aryo membercandai istrinya.


"Apa maksudmu Pah? "


"Nggak sayang" jawab Tuan Aryo lalu merangkul bahu Bu Rita untuk mendekat.


"Ceritakan ke papah apa masalahnya?"


"Tapi janji papah bantuin mamah?" tanya Bu Rita.


"Iya sayang"


"Mamah ingin Alya jadi mantu kita, jadi keluarga Gunawijaya"


"Mama nggak rela Alya jadi keluarga Handoko" lanjut Bu Rita. Tuan Ardi yang mendengarnya langsung kaget. Melepaskan cengkeramanya dari bahu istrinya. Lalu ditatapnya istri cantiknya.


"Maksud Mamah apa?"


"Mamah benar-benar tidak mengerti kenapa mamah melahirkan anak sebodoh Ardi"


"Hush, Mamah nggak boleh bicara begitu, dia anak kita, dia jagoan kita" jawab Tuan Aryo santai.


"Tadi Farid ke sini Pah, bareng Ardi"


"Farid tadi ke sini?" Tanya Tuan Aryo


"Iya. Dengan gagahnya, dia bilang ke Mamah, kalau dia menyukai Alya, dia minta tolong ke Mamah, dia mau melamar Alya"


"Terus apa jawaban Mamah?" tanya Tuan Aryo.


"Mamah belum selesai! Jangan dipotong"


"Ya udah lanjutin dulu"


"Mamah iri pah, kenapa Laras dan Handoko itu beruntung sekali mempunyai Farid. Farid itu bisa tau dan mengerti mana perempuan yang baik dan pantas dijadikan ratunya. Tidak seperti anak kita"


"Ehm...ehm" Tuan Aryo berdehem tersinggung.


"Kenapa Papah berdehem"


"Papah marah lho Mah"


"Kenapa marah?"

__ADS_1


"Ardi kan anak Papah, dia berasal dari benih Papah, apa artinya benih papah ini bodoh?"


"Bukan begitu pah, kenyataanya anak kita itu bodoh. Ibaratkan ada berlian, berlian itu sudah di depan mata, sudah dibawakan untuk dia, dia malah menolaknya, sementara orang lain memperjuangkanya"


"Tapi bukan berarti anak kita bodoh Mah"


"Tuh, gini nih, kalau papah terlalu membela Ardi dan membiarkanya. Ardi jadi seperti itu"


"Mamah jawab apa ke Farid?"


"Mamah jawab, mamah gak janji bantu banyak, tapi mamah akan coba temui Alya dan membicarakanya baik- baik. Walau bagaimanapun Farid anak yang baik, dia juga banyak berjasa untuk panti"


"Papa bangga sama mamah"


"Kenapa papa bilang begitu?"


"Apa Mama cerita kalau Mama mau Alya untuk Ardi?" tanya Tuan Aryo.


"Tentu tidak Pah"


"Bagus"


"Kenapa respon papah begitu sih? Papah tau nggak gimana perasaan mamah?" tanya Bu Rita merajuk. Tuan Aryo tersenyum melihat istrinya. Meskipun sudah tua tapi masih sama seperti ketika muda.


"Mama tenang saja, percaya Mah".


"Papah selalu begitu! Tapi nyatanya malah begini. Mamah takut Alya juga jatuh cinta ke Farid, mamah takut Alya menerima lamaran Farid, Farid kan juga laki-laki yang matang dan baik, tidak seperti anak kita"


"Mah!" panggil Tuan Aryo tidak terima Bu Rita menjelekkan anaknya sendiri.


"Kenapa? Mamah nggak bisa bayangin Pah"


"Ya kalau Alya dan Farid saling mencintai kita bisa apa? Tapi kan kalaupun itu terjadi mamah kan masih bisa dekat dengan Alya"


"Tetap saja, Alya akan melahirkan darahnya Handoko, bukan darahku"


"Segitu berartinya kah Alya untuk mamah?" tanya Tuan Aryo.


"Iya pah, sejak awal ketemu mamah pengen dia jadi mantu kita"


"Mah, Papah akan bantu Ardi"


"Benarkah? Bagaimana caranya?"


"Sekarang Mamah tenang, tetaplah jadi istri Papah yang bijak. Papah akan perjuangin yang terbaik untuk keluarga kita. Besok papa antar mamah ketemu Alya"


"Benar?" tanya bu Rita.


"Iya. Tapi papa minta, Mama jangan buat Alya tertekan, bicara baik-baik dengan Alya, sampaikan maksud Farid dengan baik, jangan ungkapkan keinginan Mamah dulu. Itu akan membuatnya bingung"


"Mamah nggak boleh sampaikan kalau Mamah akan kenalkan Alya ke Ardi?"


"Boleh Mah, tapi nanti. Kita tanya dulu perasaan Alya, meskipun kita menginginkan Alya menjadi putri kita, tapi kita salah jika kita memaksa perasaan Alya, apalagi Farid juga mencintainya"


"Katanya Papah mau bantuin Mamah"


"Mah, Mamah sudah tua lho, masa nggak ngerti maksud Papah? Papa akan tetap membantu Ardi, tapi setelah kita ketemu Alya. Kita salah jika menjadi orang tua yang egois. Itu akan menyakiti Alya, Ardi maupun Farid" Tuan Aryo menjelaskan dengan bijak.


Bu Rita diam mendengarkan dan mencoba mencerna maksud Tuan Aryo.


"Mama mengerti kan?" tanya Tuan Aryo lembut.


"Iya Pah"

__ADS_1


"Ya sudah. Papa lelah. Ayo istirahat"


__ADS_2