Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
199. Cemburu.


__ADS_3

Lampu apil menyala merah, satu persatu pengendara mematikan laju kendaraan sejenak. Tidak terkecuali mobil merek honda mobilio berwarna hitam. Sang Sopir memperlambat kecepatanya, kemudian mematikan sejenak mesinnya.


Sesakali Farid menoleh ke perempuan cantik di sampingnya. Farid tersenyum sendiri, beberapa minggu dia akan menyusul sahabatnya, menjadi seorang suami.


Pokoknya nanti pas lamaran, Farid mau meminta calon mertuanya untuk mempercepat pernikahanya. Farid tidak sabar menanti hari itu, Gery saja bisa, dia juga harus bisa nikah cepet.


"Ehm" Farid berdehem memancing Anya.


Anya tampak diam memperhatikan kendaraan yang berjajar menunggu lampu berubah warna.


"Gery beruntung ya dapet Mira" pancing Farid membuka percakapan.


Maksud Farid, Gery beruntung Mira mau dinikahi kapan saja dan selalu setia. Farid ingin Anya juga begitu.


Anya mendengar perkataan Farid menoleh sinis ke Farid.


"Maksudnya Aa nggak beruntung dapet aku?" batin Anya salah mengartikan ucapan Farid.


"Iyalah Dokter Gery ganteng, Dokter Mira yang beruntung" jawab Anya ketus.


Dan omongan Anya balik membuat Fardi tersinggung dan mimik mukanya berubah melempem.


"Emang Aa nggak ganteng apa Neng? Aa juga ganteng Neng, Neng juga beruntung kan dapet Aa?" tanya Farid ke Anya terus terang.


"Nggak!" jawab Anya spontan.


"Ehm" Farid kalah telak lagi.


Sebenarnya Farid ganteng hanya saja Farid hampir selalu diam dan berpakaian batik atau kemeja tua jadi terkesan tua. Anya juga gengsi memuji Farid.


"Tapi Eneng mau kan nikah sama Aa'?" tanya Farid lagi, setelah berfikir dan menahan kesabaranya.


Anya tidak menjawab dan memalingkan wajahnya lagi ke jalan. Di waktu yang bersamaan lampu menyala hijau.


Sambil menyalakan mesin lagi, Farid tersenyum melirik ke Anya.


"Sabar sabar" batin Farid.


"Kita beli baju couple sekalian ya Neng!" ucap Farid lagi tidak lelah mengajak Anya ngobrol.


"Buat apa? Kemarin kan kita udah belanja"


"Ya nggak apa-apa, kan beda acara. Buat kondangan ke Gery" jawab Farid mengingatkan.


"Ish... nggak!" jawab Anya ketus merasa tidak perlu couple_an


"Norak" batin Anya kesal.


"Bener nggak? Alya sama Ardi biasanya kompakan lho!" tanya Farid memancing.


Maksud Farid, Farid menyebut Alya biar Anya juga berfikir ada temenya yang couplan sama pasanganya.


"Oh gitu? Aa Farid mau couple-an sama Anya karena Alya couplean sama Kak Ardi iya?" jawab Anya salah paham mengartikan.


Anya mengira, Farid hanya menjadikanya pelarian dan buat saingan dengan temanya itu.


"Kok gitu, ya bukan gitu Neng"


"Terus? A', Aa kalau masih cinta sama Alya, masih cemburu, bilang aja! Anya tinggal bilang kok ke abah buat batalin, beres" jawab Anya marah-marah.


"Aduh Neng, bukan gitu. Aa sama Alya sama Ardi itu udah kaya saudara, liat sendiri kan orang tua Ardi gimana ke Aa. Maksud itu Aa itu" tutur Farid mau menjelaskan.


"Halah alesan!" jawab Anya menyela.

__ADS_1


"Neeng" sambung Farid menenangkan Anya.


"Kalau masih cinta itu bilang, Anya nggak mau ya, nikah sama orang yang hatinya buat orang lain"


"Bukan gitu maksud Aa Neng, Aa nggak ada perasaan lagi sama Alya, suer!"


"Aa kan tadi bilang, Aa mau couple-an gara-gara Alya sama Ardi kompakan juga, Aa iri dan cemburu kan sama mereka?"


"Dengerin Aa dulu makanya"


"Hhhh"


"Gini maksud Aa. Kan nanti foto-foto tuh. Anggap lah kita jadi bridesmaid ala-ala anak muda gitu. Biar fotonya itu bagus gitu Neng. Alya sama Ardi, Aa sama Eneng, foto pasanganan pasangan gitu, kan cakep"


"Hemm" jawab Anya cemberut malu sudah salah paham.


"Jadi biar orang itu tau, kalau Neng itu pasanganya Aa. Gitu Neng"


"Hemmm"


"Mau yah!"


"Ehm ehm" Anya berdehem gengsi menjawab iya.


"Kan nggak lucu kalau Neng pakai baju merah. Aa pake baju ijo, sementara yang lain seragaman. Setuju yah" sambung Farid masih merayu.


"Anya mau wa Dinda" jawab Anya mengalihkan pembicaraan, padahal nggak ada hubunganganya wa Dinda dan pertanyaan Farid.


"Ya ya" jawab Farid mengangguk, lebih mengalah.


"Sabar Farid, sabar, yang penting Anya nurut dulu, yang penting Anya nggak kabur dan pacaran sama orang lain. Yang penting nanti abis nikah sikat abis" batin Farid dalam hati melirik Anya.


Anya menundukan kepala sambil pencet-pencet hp. Anya terlihat sangat imut di matanya, saat manyun karena malu.


Lalu Farid dan Anya menuju ke mall. Mereka menuju ke toko perhiasan, mencarikan maskawin buat Mira.


"Nggak apa-apa Neng pahala. Pernah denger nggak? Hadist Riwayat Ibu Majah. Bagian dari seutama-utamanya pertolongan adalah, menolong kedua belah pihak dalam pernikahan, katanya lagi lebih utama dari menolong dalam jihad" tutur Farid mengeluarkan ilmunya.


"Hemmm" jawab Anya mendengarkan, Farid jauh berbeda dengan mantanya yang nggak tau apa-apa tentang agama.


"Itulah utamanya menikah, yang bantu aja dapet pahala. Apalagi yang nikah, makanya kita cepet nikah juga ya?" lanjut Farid lagi.


"Hoh?" jawab Anya terbengong dan berdecak, ternyata ada modus dibalik ceramah.


"Gery kan sahabat Aa, Mira dan Gery juga sahabat Neng kan?" tanya Farid lagi.


"Ya"


"Jadi jangan mengeluh, anggap ini kado dari kita"


"Ya" jawab Anya menurut.


"Jadi istri Aa, juga harus ikut anggap saudara, saudara Aa saudara Neng juga. Liatlah Alya, belajar sama dia" tutur Farid salah omong lagi.


Niat Farid adalah memberitahu Anya, jadi istri Farid nanti Anya juga bisa bikin geng istri trio koplak. Tapi Anya salah paham lagi. Anya yang tadi meluluh sekarang cemberut lagi.


"Alya lagi, Alya lagi" batin Anya.


"Ck males amat sih! Aa kalau mau bantu temen Aa, sook weh pilih sendiri! Anya capek mau beli eskrim" jawab Anya ngambek lalu pergi meninggalkan Farid menuju penjual eskrim di depan toko perhiasan.


"Neng" panggil Farid tidak peka sambil menghela nafas bingung kenapa tiba-tiba Anya ngambek.


Farid garuk-garuk kepala di depan berbagai kalung dan liontin yang terpajang.

__ADS_1


Akhirnya Farid asal memilih, Farid memilih liontin berwarna putih mutiatara. Setelah membayarnya, Farid menyusul Anya ke geray es krim.


"Nyebelin banget sih! Alya, Alya, Alyaaaa terus. Emang apa baiknya Alya sih! Alya kan cerewet, ngambekan. Pundungan gitu juga, apa aku kurang cantik dibanding Alya. Kenapa semuanya berpatok sama Alya?"


Anya memakan eskrimnya sambil emosi.


"Pak Farid" panggil beberapa gadis cantik yang tampak belia dengan tas punggung unyu-unyu menempel di tubuhnya.


Mendengar nama orang yang dikenalnya disebut, Anya menoleh. Farid tampak berjalan ke arahnya, dan berhenti saat ada dua gadis cantik menghampiri Farid. Satu berjilbab gaul, satu berambut panjang tergerai.


"Eh kalian, lagi nyari apa nih?" sapa Farid ke mahasiswanya ramah.


"He.. mau nonton bioskop Pak. Pak Farid sendirian?" tanya salah satu mahasiswa Farid.


Farid garuk-garuk kepala, melihat ke arah eskrim mencari Anya. Belum Farid menjawab mahasiswanya menyaut lagi.


"Kalau sendirian, nonton bareng kita aja Pak!" ajak mahasiswa Farid centil.


*****


Anya mendengar dan melihat semua adegan itu. Anya semakin merah padam dan mencengkeram gagang es krim sampai meleleh dan belepotan membasahi celananya.


"Siapa lagi mereka. Dasar, keganjenan! Tampangnya aja kalem, ternyata keganjenan" batin Anya kesal.


****


"Maaf ya, lain kali saja, Bapak mau pergi ke tempat lain, jangan lupa tugas yang kemarin kerjain ya!" jawab Farid sopan ke mahasiswanya


"Siap Pak! Dah Pak Farid" sapa kedua mahasiswa Farid sambil memberikan tanda hormat.


Farid membalasnya ramah. Setelah itu Farid mendekat ke Anya. Melihat Farid mendekat Anya segera mengalihkan badan dan menyadari eskrimnya belepotan.


"Iyuuuh, kenapa jadi begini" gerutu Anya berusaha membersihkan eskrim di celananya.


"Nih pakai saputangan Aa" ucap Farid tiba-tiba sudah di belakang Anya memberikan sapu tangan.


"Ehm" Anya berdehem malu menyembunyikan wajahnya ketahuan cemburu.


"Mau Aa bantuin bersihin nggak?" tawar Farid ingin menyentuh Anya.


"Nggak usah!" jawab Anya ketus.


"Dia mahasiswa Aa, nggak usah cemburu!" ucap Farid tersenyum.


Anya hanya menggerakan bibirnya manyun seakan menolak dikatai cemburu, padahal memang cemburu banget.


"Bu, buatkan eskrim lagi dua ya, yang rasa coklat sama durian, pake cup?" ucap Farid ke tukang eskrim.


Lalu mereka berdua menikmati eskrim bersama, di geray es krim dekat tebing mall. Meski saling diam, Farid dan Anya duduk santai melihat lalu lalang orang dari lantai 3 itu.


Saat eskrim Anya belepotan, Farid menyentuh pipi Anya dan membersihkanya.


"Kenapa aku jadi dheg-dhegan gini" batin Anya menatap Farid.


"Pelan-pelan makanya" tutur Farid lembut.


"Ehm" Anya berdehem menundukan wajahnya mengusir rasa dheg-dhegan.


"Abis ini kita ke butiknya Ardi ya!" ajak Farid ke Anya.


"Ngapain?" tanya Anya menoleh lagi.


"Kok ngapain? Kak mau beli jas, terus baju couplean kita" tutur Farid mengingatkan.

__ADS_1


"Nggak beli di sini?"


"Nggak, lebih bagusan produk Gunawijaya. Nanti kamu pasti suka" jawab Farid yang lebih bangga memakai produk dalam negeri.


__ADS_2