Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
81. Tidak Tahu malu


__ADS_3

Tidak seperti biasanya, hari ini Ardi bangun lebih dulu. Berbeda dengan Lian yang selalu membangunkan suaminya untuk sholat kalau suaminya bangun siang. Ardi membiarkan istrinya terlelap di bawah selimut dengan tubuh polosnya. Ardi tau istrinya kelelahan menghadapi dirinya. Ardi juga tidak ingin Alya mengerjakan pekerjaan rumah seperti hari-hari sebelumnya.


Pukul 05.00 pagi Arlan, Mia dan Ida sudah sampai. Ardi menyambutnya dengan baik. Ida dan Mia salah fokus saat melihat Tuanya pagi-pagi membukakan pintu apartemen dengan rambut basah dan wajah sumringah, berbeda sekali dengan kebiasaan saat berada di rumah Tuan Aryo.


"Ida, Mia" panggil Ardi.


"Iya Tuan"


"Masak menu kesukaan Nonamu. Kemasi barang-barang kalian dari rumah Mamah, mulai hari ini tinggal di sini" tutur Ardi memberi perintah.


"Baik Tuan" jawab Ida dan Mia bersamaan mereka berdua saling pandang dan tersenyum.


"Jaga Nona kalian, lakukan pekerjaan kalian dengan baik!"


"Baik Tuan"


Setelah memberitahu pelayan Ardi kembali ke kamar. Istrinya yang bertubuh mungil tapi berisi itu masih terlelap. Ardi mengambil laptopnya dan memilih menyicil pekerjaanya di samping istrinya.


"Mas" panggil Alya terbangun saat mendengar ponsel Ardi berbunyi.


"Iya sayang, bentar ya mas angkat telp dulu" jawab Ardi pergi ke balkon.


Alya menatap heran suaminya. Tumben sudah segar sudah mandi, sudah bekerja dengan laptopnya sementara dirinya masih berlindung di balik selimut tanpa pakaian.


"Ternyata begini rasanya jadi istri" gumam Alya lalu tersenyum.


Entah sejak kapan Alya mencintai suaminya. Jantungnya berdegub kencang mengingat malam panjang yang dilaluinya, masih teringat jelas setiap sentuhan panas yang Ardi berikan. Alya tidak menolak tapi sangat menyukainya. Bahkan ingin lagi, rasanya masih membekas nyata betapa perkasanya Ardi semalam, membuat Alya terkulai lemas seperti sekarang.


"Rasanya masih ingin tidur" gumam Alya memeluk bantal. "Astaghfirulloh aku blm sholat subuh" Alya tersadar sudah siang dia langsung buru-buru bangun dan berlari ke kamar mandi meski tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Alya segera mandi dan sholat subuh.


"Mau kemana?" tanya Ardi melihat istrinya yang rambutnya masih basah tergerai membuka pintu kamar.


"Ke dapur. Mas mau kerja kan? Biar Alya siapin sarapan" jawab Alya tersenyum ramah ke suaminya.


"Sini aja. Mas maunya bikin sarapanya di kamar" jawab Ardi menyuruh Alya balik duduk di sofa.


"Heh?" tanya Alya heran mengernyitkan matanya berusaha mencerna kata-kata suaminya dan melepaskan gagang pintu.


"Bi Ida sama Mia udah masak, temani mas sini" jawab Ardi menepuk sofa di sampingnya. Alya mengikuti Ardi duduk di sampingnya.


"Sayangku" panggil Ardi mengangkat satu kakinya sehingga duduk menghadap istrinya.


Alya mengangguk dan matanya menatap suaminya.


"Ini, mulai sekarang gunakan kartu ini untuk semua keperluanmu" ucap Ardi menyerahkan kartu gesek.


"Maafin mas nggak bisa temani kamu belanja, kamu boleh ajak Mia atau Ida, atau temanmu, tapi harus sama Pak Arlan" pesan Ardi serius ke Alya.


"Harus yah?" tanya Alya memastikan.


"Wajib! Milih tetap di sini sama sekali tidak pergi atau patuh sama suami!" jawab Ardi tegas.

__ADS_1


"Hmmmm, ya aku pergi bareng Pak Arlan. Tapi boleh ke panti nggak?" tanya Alya menawar.


"Nggak! Mas nggak suka kamu deket Farid!"


"Kan nggak selalu ketemu Kak Farid, ke panti kan ke anak-anak bukan ke Kak Farid" ucap Alya merayu.


Ardi diam tidak menjawab.


"Alya nggak ada perasaan apapun ke Kak Farid, semuanya udah Alya kasih ke mas, Alya juga udah patuh sama mas, masa mas nggak percaya?"


Ardi melihat istrinya yang pandai bicara dengan seksama.


"Sesuka itu sama panti?" tanya Ardi lagi.


"Huum" jawab Alya mengangguk. "Tempat pertama yang Mama kenalin ke Alya tuh panti, Bu Salma dan anak-anak itu sahabat Alya mas, Alya bahagia di sana" Alya meneruskan rayuanya.


"Panti itu akan jadi milikmu" jawab Ardi menatap istrinya. Alya menelan salivanya matanya melotot tidak percaya.


"Maksudnya?"


"Kamu boleh ke panti. Tapi nggak boleh ngobrol sama Farid. Nggak boleh berduaan sama Farid. Nggak boleg deket-deket Farid. Pokoknya nggak ada Farid" jawab Ardi posesif tidak menjawab pertanyaan Alya dengan benar.


"Ck! Iya iya" jawab Alya tersenyum.


"Cium mas!" pinta Ardi menunjuk ke pipi.


"Ish, males!" jawab Alya malu.


"Nggak usah malu, nggak usah jual mahal, semalam aja nggak malu, ini ulah siapa?" jawab Ardi menunjukan tanda ungu di leher Ardi karena Alya.


Ardi tersenyum senang melihat istrinya, setelah Alya mencium pipinya, Ardi langsung membalas mencium bibir Alya. Sarapan yang Ardi inginkan terwujud, sarapan manis dari istrinya.


"Thok-thok"


Ardi melepaskan tanganya dari dagu Alya mendengar seseorang mengetuk pintu.


"Ya siapa?" tanya Ardi dari dalam.


"Dino Tuan"


"Ya. 10 menit lagi!" jawab Ardi ke Dino.


"Baik Tuan!" jawab Dino dari luar. Lalu Dino kembali ke duduk.


"Siapin baju mas sayang" pinta Ardi bangun membereskan laptopnya.


Alya dan Ardi bersiap-siap melakukan aktivitasnya. Ardi sudah rapih dan bersiap ke kantor. Alya berencana belanja baju dan memberikan hadiah pada anak-anak panti.


****


"Tuan siang ini, ada meeting bersama Nona Lila" tutur Dino ke Ardi.

__ADS_1


"Udah mau selesai kan?"


"Ya Tuan"


"Oke, kalau begitu temani aku!"


"Baik Tuan!"


Setelah menyelesaikan pekerjaan kantor. Ardi dan Dino mengendarai mobilnya menuju ke sebuah kafe tempat bertemu dengan rekanya, Tuan Wira dan anaknya Lila. Buat Ardi dan Dino ini pertemuan yang menyebalkan, mengingat pekerjaan mereka hampir selesai, berbeda dengan Lila dan Tuan Wira, ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu.


Kurang lebih 30 menit Dino dan Ardi sampai di tempat tujuan. Mereka menuju ke meja VIP, dan benar saja, ayah anak dan asistenya sudah menunggu. Ardi dan Dino sekertarisnya segera merapat. Mereka pun memulai membahas tentang pertemuan mereka. Bahwa pembangunan gedung hotel2 Wiralila sudah hampir jadi, mereka berniat meresmikan dan melakukan peluncuran beberapa fasilitas unggulan mereka.


Setelah Lila selesai menjelaskan rencananya dan Ardi yang sebelumnya sudah membacanya setuju. Lalu mereka melakukan makan siang. Lila sangat bahagia siang ini bisa makan berhadapan dan satu meja dengan Ardi. Tuan Wirapun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berbosa-basi.


"Tuan Ardi, sepertinya sudah sangat siap untuk menikah" ucap Tuan Wira di sela-sela makan.


"Ehm" Ardi berdehem melanjutkan makanya.


"Kalau boleh saya tau, apa sudah ada rencana ke sana?" tanya Tuan Wira tanpa tahu malu.


"Kenapa anda bertanya begitu Tuan" jawab Dino sekertaris Ardi yang selesai mengunyah makanan.


"Ehm maksud saya, apa Tuan Ardi sudah memiliki pasangan?" tanya Tuan Wira melanjutkan. Sementara Lila hanya menyimak. Ardi melanjutkan makannya. .


"Tuan Ardi sedang berkonsentrasi, bersiap menggantikan tugas Tuan Aryo Tuan" jawab Dino lagi melakukan tugasnya sesuai perintah Ardi seperti sebelum-sebelumnya. Sementara Ardi yang merasa tidak perlu menjawab melanjutkan makanya.


Lila dan Tuan Wira sedikit tersenyum dan bernafas lega mendengar perkataan Dino. Tapi Lila menaruh curiga dan belum puas karena yang menjawab Dino, bukan Ardi sendiri. Lila pun mencuri pandang menatap laki-laki yang dimimpikanya itu.


Ardi yang menyudahi makannya terlihat sedikit melonggarkan dasinya. Sehingga tanpa sengaja Lila melihat hasil karya Alya di leher Ardi. Lila menelan salivanya, sebagai perempuan dewasa Lila tahu betul, warna ungu di leher Ardi yang tidak hanya satu jelas bukan ruam atau luka.


"Tuan, bolehkah saya mengenal anda secara pribadi?" ucap Lila menelan salivanya memberanikan diri.


Tuan Wira sang ayah pun kaget mendengarnya. Terlebih Ardi dan Dino. Mereka berdua tidak menyangka, perempuan seanggun dan tampak intelektual seperti Lila bisa secara terang-terangan menanyakan hal itu.


"Apa maksud anda Nona?" tanya Dino lagi.


"Bukankah kita sama-sama dewasa, Tuan Ardi pria yang masih sendiri, dan saya juga perempuan dewasa, kita dekat dalam urusan berbisnis kenapa tidak kita juga bisa dekat secara pribadi" tutur Lila percaya diri.


"Ehm, maaf Nona" jawab Dino lagi.


"Maaf Tuan Dino jika saya menyela, saya ingin jawaban dari Tuan Ardi sendiri" sahut Lila menyela. Membuat Dino terdiam.


Lila sangat ingin tahu jawaban Ardi karena menurut anak buah Tuan Wira yang memata-matai Ardi, sampai sekarang Ardi tidak pernah terlihat berjalan dengan wanita. Tapi kenapa di leher Ardi ada tanda merah itu? Apa Ardi tipe bos yang suka bermalam bersama perempuan bayaran. Tapi Reputasi Ardi dan Tuan Aryo terkenal dengan pribadi yang bersih dalam hal berbisnis ataupun secara pribadi.


Ardi dan Tuan Aryo terkenal mejauhi alkohol. Aapalagi reputasi yayasan Nyonya Rita yang bergerak untuk sosial. Lila sangat ingin tahu jawaban Ardi langsung, apa Ardi mempunyai perempuan di hidupnya. Apa dia masih ada kesempatan.


"Maaf Nona Lila, apa maksud anda, anda melamar saya?" tanya Ardi dan mengkode Dino untuk diam.


"Saya tidak bermaksud begitu, saya hanya ingin kita bisa berteman, seperti bertukar nomer ponsel, atau jalan berdua, begitu maksudnya" jawab Lila tidak tahu malu.


"Maaf Nona, Tuan saya tidak ada waktu untuk hal-hal seperti itu" jawab Dino spontan. Sementar Ardi hanya tersenyum geli menggigit bibirnya dan bersiap-siap pulang.

__ADS_1


"Nona Lila, anda wanita terhormat, saya senang bekerja dengan anda, semoga anda bisa mendapatkan teman yang lebih baik dari saya. Selamat siang!" ucap Ardi berpamitan ke rekanya.


Wajah Lila memerah menahan marah dan malu begitu juga Tuan Wira. Lila mengepalkan tanganya tidak terima melihat rekanya berlalu meninggalkan mereka. Lila menelan ludahnya merencanakan sesuatu. "Berengsek" ucap Lila geram.


__ADS_2