Berlianku Istriku

Berlianku Istriku
45. Bu Mirna


__ADS_3

Meskipun berat dan sakit, sebagai laki- laki dewasa apalagi lulusan Magister Psikologi. Farid berusaha legowo dan menerima, atas jawaban yang diberikan Alya. Setidaknya Farid sudah melakukan cara yang benar, untuk mendekati dan mengungkapkan perasaanya ke Alya.


"Saya turun ya Kak, takut dicariin Tante Rita" pamit Alya ke Farid yang masih duduk melihat pemandangan. Dengan tatapan kosong tidak bisa diartikan.


Farid mengangguk mempersilahkan Alya pergi.


"Ya..Al"


Alya pergi karena Alya tidak nyaman berdua dengan Farid. Apalagi di tempat romantis dan sejuk itu. Alya sangat mengerti kekecewaan Farid. Tapi Alya berfikir itulah jawaban terbaik yang bisa Alya katakan. Alasan lain Alya memilih pergi juga karena dia takut Sinta salah paham ketika melihatnya.


Alya yakin ada banyak perempuan yang mencintai Farid dengan segenap hatinya. Siap menikah dan membina rumah tangga denganya. Meski sejujurnya Alya juga ada ketertarikan dengan Farid.


Kini Farid diam merenungi nasibnya, usianya sudah 30 tahun. Tapi dia belum menemukan perempuan yang membuat hatinya nyaman. Satu bulan ke depan, Farid harus siap menerima perjodohan dari orang tuanya. Farid sendiri belum tahu siapa perempuan yang akan dijodohkan denganya.


"Alya.." panggil Bu Rita saat Alya turun dari tangga.


"Iya Mah"


"Mama sama Om Aryo mau pulang, mampir ke rumah ya?" pinta Bu Rita.


Alya diam sejenak tidak langsung menjawab.


"Maaf Mah, Alya nanti jaga malam. Alya mau istirahat, Alya balik ke apartemen aja".


"Oh ya sudah kalau begitu. Mau dianter?" tanya Mama Rita.


"Alya naik taxi online aja Mah" jawab Alya.


"Baiklah kalau begitu, hati- hati yaa"


"Iya Mah"


"Kalau libur main ke rumah ya"


"Insya Alloh Mah" jawab Alya.


Alya dan Bu Rita berpelukan dan bersalaman pamit. Alya pulang ke apartemen, Bu Rita kembali ke Istana Tuan Aryo.


"Sepertinya Mamah memang harus mengalah dengan takdir Pah" ucap Bu Rita di tengah perjalanan.


"Kenapa Mah?"


"Mamah tidak akan bahas Alya lagi" jawab Bu Rita lesu.


"Apa Alya menerima Farid?" tanya Tuan Aryo.


Bu Rita menggelengkan kepalanya menatap ke Tuan Aryo. "Nggak Pah"


"Terus? Kenapa Mamah sedih, bukankah ini yang Mamah inginkan?" tanya Tuan Aryo sambil mengingat laporan anak buahnya tentang Ardi, meskipun belum ada bukti yang pasti, dan entah apa yang terjadi, sepertinya Ardi sedang mendekati Alya dengan caranya sendiri. Jika Alya menolak Farid itu berarti peluang besar untuk Ardi.

__ADS_1


"Alya tidak mau menikah dengan orang Jakarta, dia juga tidak mau tinggal di sini" jawab Bu Rita lesu.


Mendengar pernyataan Bu Rita Tuan Aryo berfikir dalam hati. Teka-teki kelakuan anaknya semakin membuat Tuan Aryo bingung.


"Bagaimana nasib Ardi, apa yang dilakukan Ardi belakangan ini? Ada hubungan apa antara Ardi dan Alya?


"Kenap papah diam?" tanya Bu Rita melihat suaminya melamun.


"Nggak apa-apa Mah, papa hanya sedikit memikirkan Ardi"


"Mamah ingin Ardi segera menikah Pah, bahkan usianya sudah tidak muda lagi" keluh Bu Rita.


"Besok Papa akan bicarakan dengan dia" jawab Tuan Aryo. Lalu merangkul bahu istrinya untuk menenangkan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari anaknya. Mereka pun melanjutkan perjalanan ke rumah.


Hari ini Tuan Aryo menghabiskan waktu bersama istrinya di rumah. Tuan Aryo juga ingin menikmati masa tuanya bersama istrinya. Tidak lagi disibukan urusan bisnis, apalagi keluar kota atau keluar negeri.


Tuan Aryo ingin segera menyerahkan urusan tentang bisnisnya pada putranya. Tapi sebelum itu, Tuan Aryo ingin memastikan kehidupan Ardi berjalan dengan baik. Termasuk menikah dengan perempuan yang tepat.


Tuan Aryo berencana melantik Ardi menjadi pemilik dan pewaris Gunawijaya Grup setelah Ardi menikah. Meskipun Tuan Aryo belum berbagi dengan istrinya mengenai misteri laporan Ardi berkunjung dan menginap di apartemen. Tapi hal itu selalu mengusik pikiran Tuan Aryo.


Kenapa Ardi menolak dikenalkan dan dijodohkan dengan Alya. Padahal Ardi sudah bertemu dengan Alya, bahkan kata anak buah Tuan Aryo Ardi tidur di apartemen malam itu, berdua dengan Alya. Keesokan harinya Ardi juga datang lagi dengan wajah bahagia.


****


Alya sampai di apartemen dengan selamat. Setelah membersihkan dirinya dan makan siang. Alya merebahkan badanya. Alya meraih ponselnya dan teringat ibunya di Jogja.


"Aku bahkan belum menelfon ibu, apa aku ceritakan semua ke ibu ya?" gumam Alya dalam hati. Lalu Alya menghubungi ibunya.


"Assalamu'alaikum Nduk"


"Wa'alaikumsalam Buuk" jawab Alya.


"Kok baru telepon to? Ibuk kangen Nduuk"


"Alya juga kangen banget sama Ibuk" jawab Alya jadi ingin menangis


"Kamu sehat?"


"Alhamdulillah sehat Bu, Ibu sehat?"


"Sehat Nduk"


"Obat darah tingginya rutin diminum lho Bu"


"Iya Nak pasti, bagaimana kabar Jeng Rita? Apa dia sehat? Gimana tempat kerjamu? Betah? Apa kamu punya teman di sana?" tanya Bu Mirna panjang kali lebar ingin tahu keadaan anaknya.


"Bu Rita baik buk tadi Alya baru pergi denganya. Bu Rita dan Om Aryo memperlakukan Alya seperti anaknya Bu, Alya betah magang di sini, teman-teman Alya juga baik dan ramah, ibu nggak usah khawatir!"


"Alhamdulillah kalau begitu, ingat pesan ibu yo nduk Yo!"

__ADS_1


"Ya bu"


"Pokoknya hati-hati sama laki-laki. Ibu nggak mau kamu kecantol sama orang jauh yang ibu nggak kenal. Harus jaga diri" pesan Bu Mirna


"Iya Bu, Bu Alya boleh cerita?"


"Iya boleh to Nduk!"


"Buk, Alya diajak menikah sama laki-laki di sini"


"Apa? Kok bisa? Siapa dia?"


"Dia anak temanya Bu Rita, Dia dosen Bu, orangnya ganteng baik, kata Bu Rita orang tuanya punya kampus lho Bu" cerita Alya sedikit meninggikan kualitas lelaki yang dia tolak.


"Kamu suka Naak?"


"Sedikit Bu"


"Apa kamu menerimanya? Kamu pacaran sama dia?"


"Tentu tidak bu, Alya manut sama Ibu, katanya Alya disuruh nikah sama orang Jogja aja"


"Apa kamu sedih karena menolaknya?"


"Nggak Bu"


"Pokoknya, yang mau menikah denganmu harus kenal ibu"


"Ya Bu"


"Ya udah salam yo buat jeng Rita, kamu yang manut sama dia"


"Ya bu, Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam".


Alya menutup teleponya. Ada rasa sesal karena sudah menceritakan tentang Farid ke Bu Mirna, yang ujungnya Alya hanya akan diceramahi dengan sesuatu hal yang sudah sangat bosan dia dengar.


Ya. Aturan yang sudah Bu Mirna tanamkan kuat-kuat di otak Alya. Alya tidak boleh pacaran atau dekat dengan laki-laki manapun. Tidak boleh menikah sebelum benar- benar jadi dokter PNS. Dan satu lagi Alya harus cari suami orang daerah. Nggak boleh orang jauh.


Sejujurnya sebagai perempuan normal, Alya ingin protes dengan semua aturan ibunya. Alya ingin merasakan hal- hal seperti yang dirasakan teman-temanya. Hanya saja satu- satunya orang yang Alya punya hanya Bu Mirna. Bu Mirna yang sudah memperjuangkan hidup Alya dengan segenap jiwa dan raganya.


Kata- kata bu Mirna seakan menjadi titah untuk Alya. Dan tidak ada kata tidak untuk setiap perintah dan keinginan Bu Mirna. Ya itulah kenapa Alya selalu menjauhi laki- laki, tidak peduli bagaimana perasaan Alya sebenarnya.


Aku bahkan di Jogja nggak boleh dekat dan berteman dengan laki-laki, di sini juga iya? Apa aku akan jadi perawan tua?


Sejujurnya aku juga ingin mengenal laki- laki Bu, Alya juga ingin merasakan jatuh cinta.


Apa ibu bisa mencarikan jodoh untuku? Dengan siapa memangnya?

__ADS_1


Ah Entahlah".


__ADS_2