
****
Kafe Serenity.
Setelah merasa persiapan matang. Sinta dan Farid meninggalkan panti. Mereka berdua mempercayakan sisa pekerjaan ke beberapa anak panti yang sudah dinyatakan layak menjadi koki dan siap menjadi pekerja di Restocafe Danau.
Farid meninggalkan danau menuju ke kampus. Menunaikan tugasnya sebagai dosen. Sementara Sinta tampak bersemangat mengendarai mobilnya. Sinta menuju ke kafe Serenity. Kafe kepunyaan Ardi juga, kafe itu berjejer dengan butik. Butik panti juga yang dulu dipasrahkan ke Intan. Untung saja waktu itu Ardi belum jadi mengganti sertifikat kepemilikan atas nama Intan.
Sinta pun segera naik ke lantai dua. Di pojokan ruangan kaca tampak duduk perempuan cantik memainkan ponselnya.
"Sory Sis, nunggu lama ya?" sapa Sinta ke Intan.
"Ada apa lo nyuruh gue kesini?" tanya Intan sambil mengibaskan rambut hitam panjangnya.
"Ah elah, bentar lagi kan juga ni kafe jadi punya lo. Ya sering-sering kesini bolehlah"
"Buru, katakan ada apa?"
"Bentar gue haus. Mau minum dulu"
"Ck. Lo udah baca ini?" ucap Intan menunjukan berita tentang Ardi ke Sinta.
"Udah"
"Gimana menurut lo?" tanya Intan menanyakan ke Sinta, percaya atau tidak.
"Ya lo kan dulu tunanganya. Lo lah yang tau dia nafsu nggak ke lo?"
"Dia nggak pernah nyentuh gue kecuali cium sama peluk"
"Sungguh? Jangan-jangan berita ini bener?" tanya Sinta ikut percaya kalau Ardi beneran ada hubungan dengan Riko.
Secara Intan cantik seperti model. Dia juga desainer terkenal. Seharusnya Ardi dulu sudah melakukan yang lebih ke Intan. Tapi prinsip yang Bu Rita ajarkan ke Ardi begitu tajam sehingga Ardi bisa menahan diri.
"Oke. Ini kesempatan gue buat ambil celah" jawab Intan percaya diri.
"Apa rencanamu?" tanya Sinta ke Intan
"Nyelametin nama baiknya"
"Oke semoga berhasil, gue punya kabar buat lo?"
"Kabar apa?"
"Dua hari lagi launching Restokafe panti yang di danau. Ardi akan dateng"
"Dia dateng? Wow, dia udah bener-bener move on dari gue? Dia beneran udah peduli dengan panti?" tanya Intan heran.
Setau Intan saat Ardi patah hati gara-gara dirinya. Ardi sangat benci segala hal tentang panti. Padahal tanpa sepengetahuan orang-orang Ardi dan Farid masih intens komunikasi dan berbagi informasi, meski Ardi tidak menampakan batang hidungnya.
"Entahlah kita liat aja besok, kata Farid dia akan dateng. Lo mau dateng kan?"
"Oke gue akan datang. Gimana tentang cewek yang lo ceritain?"
"Beberapa hari ini dia ngilang gue juga sibuk, tapi menurutku nggak penting, menurut gue dia bukan saingan lo deh"
"Baiklah. Kalau Ardi beneran sama Si Riko, itu lebih baik buat gue. Gue nggak butuh cintanya, gue butuh dia balik ke gue"
"Emang apa rencana lo?"
"Kalau Ardi masih nolak gue. Gue akan buat Ardi malu di acara launching kafe besok"
"Lo nggak salah? Kalau Ardi tetep nolak lo, lo bakal ancurin masa depan tu panti dong?"
"Bodo amat!"
"Gila lo ya? Lo nggak kasian sama anak-anak panti?"
"Kok lo sekarang jadi mikirin anak-anak panti sih? Bukanya lo masuk ke panti tujuanya cuma Farid. Gimana kemajuan hubungan lo sama dia?"
"Masih di tempat, gue jarang bareng sama dia. Baru tadi itu juga dia sibuk"
"Kemon Baby, jadi lo beneran jadi karyawanya Bu Rita. Beb kita tuh nggak sebaik itu, realistis dong. Ngapain lo buang-buang waktu dan tenaga lo di sana kalau lo nggak dapetin apa yang Lo mau. Yang ada kaya gue sekarang. Out!" tutur Intan meracuni Sinta.
Sinta diam memikirkan perkataan Intan. Intan dulu sangat dekat dengan Bu Rita, sangat dihormati orang-orang panti, lebih dari Farid kedudukanya. Bahkan Ardi selalu bilang kalau Bu Rita udah pensiun, Intanlah yang akan mewarisi yayasan.
Kafe, butik, toko dan perkebunan akan menjadi milik Intan. Tapi begitu Intan ketahuan selingkuh, berbicara saja Ardi sudah tidak sudi lagi. Bahkan Intan diusir dari Panti.
Sementara Sinta, Sinta sekarang hanya guru masak. Dengan gaji yang tidak seberapa. Dengan Bu Rita bisa dibilang dekat tapi nggak pernah ngobrol pribadi. Dengan Farid pun, Farid selalu dingin terhadapnya.
__ADS_1
"Lo bener Tan. Ngapain gue capek-capek di sana kalau Farid masih dingin ke gue"
"Lo udah pernah nyatain perasaan lo belum?"
"Belum"
"Arrgh parah lo, oke gue punya rencana"
"Apa rencana lo?"
Lalu Intan dan Sinta merencanakan rencana jahatnya.
*****
Rumah Sakit
Sepasang suami istri yang sedang beradu pendapat di sebuah ruang rawat kini saling diam. Dua-duanya masih mempertahankan pendapatnya masing- masing. Ardi lebih memilih mengakhiri perdebatanya mengingat sudah siang tapi istrinya belum makan.
"Sudahlah, makan dulu, sini mas suapin" ucap Ardi meletakan burger nya. Mengalah mendahulukan istrinya makan.
"Nggak mau!" jawab Alya menunjukan demo ingin tetap kerja.
"Kenapa kurang enak? Masih mual? Dino bawakan spageti sama burger mau? Atau mas belikan makan di luar?"
"Jawab dulu, iya sayang, sayang boleh kerja gitu" tutur Alya masih berusaha merayu.
"Makan dulu, kita bahas lagi nanti"
"Nggak! Jawab dulu boleh kerja lagi"
Ardi menggaruk kepalanya istrinya ternyata lebih keras kepala darinya. Sebenarnya Ardi tetap tidak tergoda membatalkan keinginanya. Tapi wajah Lian yang cerewet dan merayu justru membuatnya gemas dan ingin melahapnya habis. Sayangnya Lian sedang sakit dan mereka berada di rumah sakit. Ardi hanya diam tidak menjawab.
"Mas, please! Jangan larang Lian bekerja. Ijinin Lian tetap kerja. Waktu Lian selesein intership dan HPL Lian itu deketan. Setelah itu baru Lian putusin lagi mau fokus asuh anak dulu atau kerja?" tutur Lian masih kekeh merayu suaminya.
"Makan dulu, kasian Si Utun kalau mamahnya ngomel terus, lupa makan" jawab Ardi tidak mau merubah keputusanya.
"Mas" panggil Alya mengeluarkan jurus manjanya. Tapi Ardi tetap tidak mau membahas.
"Mas, please. Lian akan ikutiin semua aturan mas kecuali yang berurusan dengan kerja" Alya mengeluarkan jurus terakhirnya. Tapi Ardi tetap tidak menjawab.
"Thok thok" pintu kamar Alya kembali diketok seseorang.
"Siang Dokter Alya, gimana udah baikan? Apa yang dirasa sekarang?" tanya Dokter Siska ramah, tau Alya Dokter magang di rumah sakit pinggiran ini.
"Alhamdulillah udah nggak ada Dok"
"Bagus. Nggak boleh jatuh lagi ya! Makan sedikit-sedikit tapi sering. Dijaga bayinya! Selamat ya udah mau jadi Mommy" ucap Dokter Siska sambil melihat rekam medis Alya.
Dokter Siska mengira Alya sakit karena habis jatuh, karena Ardi hanya menceritakan ke dokter penyebab istrinya perdarahan karena jatuh. Padahal karena tekanan psikis gosip suaminya dan tonjokan suaminya yang salah sasaran.
"Makasih Dok" jawab Alya ramah.
"Dok boleh tanya, mau konsultasi dong" tanya Ardi yang ikut mendengarkan penuturan dokter.
Alya menatap suaminya dheg-dhegan apa yang akan ditanyakan suaminya itu. Jangan sampai Ardi menanyakan sesuatu yang nggak penting dan memalukan.
"Ya Pak Silahkan"
"Kalau istri saya tetap kerja, bahaya nggak buat janinya. Maksudnya apa saja yang harus dihindari biar nggak keluar darah lagi Dok?"
"Untuk bekerja, sebenarnya itu situasional. Kalau sudah tidak keluhan nggak masalah. Tapi Dokter Alya nggak boleh terlalu kelelahan mengingat riwayat perdarahan. Banyakin istirahat, nggak boleh angkat beban berat, pokoknya jangan stress dan kecapekan"
"Kalau berhubungan suami istri Dok?" tanya Ardi lagi membuat Alya terbelalak.
"Mas, kan udah Lian jelasin. Maluu" bisik Alya menarik dan mencubit tangan suaminya.
"Biarin, mas mau denger dari yang udah spesialis kok" jawab Ardi percaya diri. Sementara Dokter Siska yang terbiasa mendapat pertanyaan seperti ini hanya tersenyum.
"Berhubungan suami istri boleh Pak. Tapi nanti yah nunggu aman dulu. Mengingat Dokter Alya masih dalam masa penyembuhan. Sebaiknya nunggu masuk trimester 2. Saya sarankan Dokter Alya ambil cuti dulu, nanti saya kasih obat penguat" jawab Dokter Siska membuat Ardi tersenyum dan mengangguk. Sementara Alya menunduk manyun. Ketahuan sudah membohongi suaminya.
"Terima kasih Dok" jawab Ardi ramah. Lalu perawat dan Dokter Siska berpamitan.
"Ehm!" Ardi berdiri bersedekap menatap istrinya yang duduk menundukan kepala.
"Kok diam?" tanya Ardi siap menceramahi istrinya lagi.
Alya mengangkat wajahnya dan menatap balik suaminya.
"Dengar kan? Sebaiknya ambil cuti" sindir Ardi ke Alya. "Itu artinya kamu nggak usah kerja!"
__ADS_1
"Mas, cuti! Cuti dengan berhenti kerja itu beda!" jawab Alya masih gigih berjuang.
"Hem" jawab Ardi males berdebat.
"Mas please. Mas tahu dong posisi Lian. Lian masih terikat program, 10 bulan lagi magang Lian selesai. Kalau nggak diselesain, kalau Lian ulang dari awal gimana? Kalau nanti penempatan Lian di rumah sakit pelosok di luar Jawa gimana? Atau di puskesmas pelosok gunung? Bersyukur Lian dapet pilihan di sini" jawab Alya menjelaskan mencoba merayu suaminya.
"Mas pikirin lagi. Sekarang yang penting urus cuti kamu!"
"Huft, kenapa kesanya pernikahanku seperti kesalahan sih! Harusnya dulu aku ngekos dari awal! Nggak akan kejebak di pernikahan ini" gerutu Alya karena suaminya masih bersikukuh.
"Kamu nyesel nikah sama mas?" tanya Ardi emosi.
"Ya kalau mas bersikap begini nyesel lah. Kan dari awal emang Lian belum mau nikah. Mas maksa nikahin Lian, dengan cara berbohong lagi. Mas udah sakiti hati ibu dan Lian. Ibu dan Lian udah ikutin mas buat nikah. Tapi apa? Gini kan jadinya! Mas nyakitin hati Lian dan ibu lagi" omel Alya membuat Ardi tidak berkutik karena memang Ardi salah.
"Kalau mas cinta sama Lian dan menghormati ibu, ijinin Lian kerja. Lian kan udah mau nikah sama mas, udah serahin semuanya ke mas, setidaknya selesein magang. Setelah itu kita bahas lagi" lanjut Alya memperjuangkan cita-citanya.
Lalu mereka saling diam. Lian diam menatap suaminya. Berharap Ardi menyadari kesalahanya dan mengabulkan perkataan Lian. Ardi menelan salivanya tampak berfikir dan mulai goyah.
"Trimester dua itu kapan sih?" tanya Ardi mengalihkan pembicaraan.
"1 bulan lagi" jawab Alya menatap heran ke suaminya.
"Berarti satu bulan lagi aman untuk bekerja? Dan junior bisa ketemu itu?" tanya Ardi dengan mimik berubah.
"Ishh? Malah bahas itu? Mesum banget sih" jawab Alya tidak mengira suaminya benar-benar minta ditoyor.
"Mau lanjut kerja nggak?" tanya Ardi mulai berubah pikiran.
"Iya mau"
"Ya udah ambil cuti sebulan! Sayang janji juga, kamu harus senengin junior Mas"
"Haish! Ya nggak bisa mas Lian cuti seenaknya, 1 bulan. Ini rumah sakit pemerintah, status Lian magang. Paling seminggu, tambah ijin sakit 3 hari! Itu juga kalau acc"
"Ya terserahlah, yang penting cuti. Tapi sebulan lagi junior boleh ketemu kan?" tanya Ardi lagi.
"Bahas itu terus, dibilang suruh puasa! Dasar otak mesum"
"Katanya sebulan lagi?"
"Tergantung!"
"Ko tergantung?"
"Tergantung keadaan Lian dan kandungan Lian Mas, kenapa otaknya kesitu terus sih! Ck! Nggak usah dibahas, apa diminta. Kalau Lian sehat Lian tau apa mau mas"
"Bener ya! Ya udah mas minta maaf. Buru makan, makan mas suapi ya? Mau makan apa?" tutur Ardi sudah meleleh.
"Ck, heran! Sebenernya mas cinta nggak sih sama aku? Apa sama tubuhku aja?"
"Kok tanyanya gitu? Ya mas cinta lah sayang, cinta banget malah. Yang harus ditanyain tuh kamu cinta nggak sama mas. Nikah sama mas aja nyesel"
"Ya Mas mikirnya ke situ terus, nggak mikirin Lian sakit, apa janin kita bahaya! Lian nggak nyesel kok nikah sama mas, asal mas baik sama Lian. Perlakuin Lian sebagaimana mestinya"
"Ya mas kurang baik apa sih? Mas pingin kamu di rumah biar kamu sehat. Ya mas minta maaf kalau ternyata itu salah"
"Jangan suka maksa Mas! Segala sesuatu dirundingin dulu! Baik-baik"
"Ya. Ya udah nggak usah berantem terus. Pasangan lain 3 bulan menikah tuh bulan madu. Bukan berantem!"
"Mas, pasangan lain tuh nikah, pedekate dulu, lamaran dan tunangan dulu, ada pengajianya, bridal shower nya. Adain resepsi, undang temen-temen bahagia dapet do'a. Kita? Berasa jadi buronan. Dua bulan Lian harus bohong" omel Lian merasa kesal dengan takdirnya.
"Ya mas minta maaf, udah makan dulu. Aak" Ardi diam tidak berkutik dan mulai menyuapi Alya spageti.
"Lian mau nasi aja mas sama sayur" ucap Lian lebih suka menu Indonesia.
Ardipun mengikuti Alya. Setelah diberi obat, mual Alya berkurang. Alya pun menghabiskan makan siangnya.
"Sayang"
"Hemmm"
"Kamu belum mandi ya?" tanya Ardi curiga melihat baju Alya masih piyama.
"Heeee... gimana dong? Tanyain perawat, Lian boleh turun bed nggak? Udah tinggal flek dikiit kok" jawab Alya tersenyum menyadari dirinya belum mandi.
"Mas aja yang mandiin"
"Ish, tanya dulu!"
__ADS_1
"Nggak apa-apa mas mandiin"